[Flowers of Life] Hyacinth

hyacinth.jpg

Hyacinth

story by Rosé Blanche

 Hong Jisoo [Seventeen] & Myoui Mina [Twice]

Fluff, Slice of Life

PG

Oneshot

Previous :
A | B | C | D | E | F | G

.

 Forgiveness liberates the soul. It removes fear. That is why it is such a powerful weapon.
-Nelson Mandela-

.

Jika dilihat dari segi resmi atau tidak, kurasa jalinan relasi ini belum sepenuhnya kandas.

Aku belum meminta Jisoo untuk mengakhiri hubungan kami, begitu pula dengannya. Namun, kurasa perbuatan yang telah kulakukan sudah cukup untuk menjelaskan semua ini. Kata ‘putus’ pun tak perlu lagi terlontar, cukup dengan pertemuan terakhir kami dalam sidang pengadilan dan semuanya akan selesai begitu saja.

Ya, begitu saja.

Tinggal nyawa diganti nyawa, dan Jisoo tak akan melihat wajahku lagi untuk selamanya.

Memang benar aku ingin menyerah. Pengacara yang duduk di sampingku sekarang ini barangkali juga sudah pasrah menghadapiku yang sama sekali tak punya semangat untuk memenangkan sidang.

Lagi pula buat apa menang?

Meski nantinya lolos dari hukuman mati, tak akan ada lagi orang yang mau menerima seorang yatim piatu sepertiku. Terlebih lagi Pierre—kepala organisasi perenggut nyawa tempatku bekerja—sedang melarikan diri entah ke negara mana. Kalaupun kami bertemu, sudah dapat dipastikan kalau ia akan menghabisiku.

Dengan begitu, sia-sialah perjuanganku untuk memenangkan sidang.

Mencari pekerjaan lain dan membiayai kelanjutan hidupku sendiri? Jangan bercanda, mana ada yang mau menerima seorang mantan pembunuh bayaran sepertiku? Organisasi lainnya pun juga pasti enggan menerima seorang amatir yang gagal dalam sekali kerja praktek.

Jadi, di sinilah kami.

Belum putus hubungan secara resmi, namun seakan telah berada pada dua dunia berbeda. Aku tak ingin menatapnya, barangkali ia juga sama. Radius jarak beberapa meter pun telah menghalangi kami saat ini. Meski begitu, aku pun tak ada niatan apa pun selain menatap lurus sang hakim sembari menunggu surat dakwaanku selesai dibacakan.

“Bahwa Terdakwa, Myoui Mina pada hari Jumat tanggal 14 Juli 2017 jam 05.00 KST dengan sengaja dan direncanakan terlebih dahulu melakukan Tindak Pidana Pembunuhan terhadap Korban atas nama Hong Jiyeon, dengan cara antara lain ….”

Menggelikannya lagi, aku selalu teringat akan wajah Jisoo tiap kali nama itu disebutkan. Bagaimana tidak? Bahkan saat kali pertama kami dipertemukan dalam acara makan siang kecil-kecilan di sebuah kafe, bohong kalau aku tidak tercengang.

Wajah mereka benar-benar sama persis.

“Sana, perkenalkan kakakku, Hong Jiyeon.”

“Ah, senang bisa bertemu denganmu. Namaku Minatozaki Sana, kekasih Jisoo.”

Minatozaki Sana, huh?

Sejauh ini, mungkin si jelita kawanku itu masih tidak tahu jika aku menggunakan namanya sebagai penyamaran. Entah apa jadinya bila ia tahu nanti. Baiklah, lupakan soal ini. Kalaupun dia tahu, toh paling-paling aku juga sudah menjalani eksekusi.

Dengan artian, ketiadaan telah menjemputku.

“… menyatakan adanya luka tusukan pada dada kiri sebanyak lima kali dengan kedalaman sembilan senti dan panjang enam senti, serta luka tusukan pada dada kanan korban sebanyak sati kali dengan kedalaman delapan senti dan panjang enam senti.”

Sebenarnya, semua ini bermula tiga bulan yang lalu.

Masa pelatihanku telah usai. Pierre menerima sebuah tawaran dari klien setianya—Im Nayeon—dan kali ini wanita itu bersedia membayar berkali-kali lipat dari harga biasa. Kalau tidak salah, ia rela memberikan puluhan juta won asalkan targetnya dapat dipastikan tewas.

Target itu ialah Hong Jiyeon, orang yang lahir delapan menit lebih awal sebelum Jisoo, sekaligus wanita yang dianggap Nayeon sebagai seorang perusak hubungan.

Sejujurnya, bila aku diperbolehkan untuk ikut campur dalam urusan mereka, kurasa bukan Jiyeon yang patut disalahkan, secara ia pun tak pernah tahu menahu soal hubungan pria itu dengan Nayeon. Ia hanyalah wanita baik-baik yang sayangnya kurang cerdas dalam menghadapi pria akibat terlalu dimabuk cinta.

Salahkan saja pria berengsek bermulut manis itu, juga jiwa psikopat Nayeon.

Tapi pada kenyataannya, aku bukan siapa-siapa di antara mereka. Ketika pun aku harus melakukan hal yang berada di luar naluriku, aku tak dapat mengelak karena bagaimana-bagaimana juga ini adalah pekerjaanku.

Pekerjaan yang membuatku pura-pura mendekati Hong Jisoo. Pekerjaan yang membuatku menjadi kekasih kepercayaannya supaya aku lebih mudah menjangkau Jiyeon. Juga, pekerjaan yang tentunya gagal kulakukan secara tuntas, sehingga aku berakhir sebagai tergugat pada ruangan ini.

Dendam Nayeon memang pada akhirnya terbalaskan, namun akulah yang tidak berhasil lolos dari kejaran para polisi.

Berdasarkan apa yang kuamati selama pengadilan terakhirku ini berlangsung, jaksa penuntut umum sepertinya tak ingin lagi memberikan pertanyaan lebih lanjut setelah pengakuan habis-habisan kulontarkan. Mungkin karena baru kali ini ada seorang terdakwa yang terlampau pasrah sepertiku?

Tidak seperti terdakwa lainnya yang akan mengajukan eksepsi ataupun juga banding sebagai pembelaan, barangkali di matanya aku terlihat seperti seorang wanita yang ingin sidang ini segera berakhir dan langsung dihukum mati saja.

Maka dari itu, pada akhirnya sang hakim ketua mengatakan, “Baiklah, dengan demikian dinyatakan bahwa hasil persidangan perkara dengan terdakwa Myoui Mina, adalah pidana mati. Sidang ini kami nyatakan telah selesai, dan—”

“Tunggu sebentar!”

Tahu-tahu saja, sebuah seruan datang dari sisi sebelah ruang.

Keadaan menjadi senyap sesaat, semua orang membisu, diikuti dengan perhatian berpasang-pasang mata yang beralih. Aku pun ikut menoleh ke arah sumber suara, lalu mendapati Hong Jisoo yang kini tengah berdiri di antara tempat duduk saksi dan pengunjung sidang.

Memotong kata-kata hakim itu tidak sopan, namun pola pemikiran itu sepertinya telah terlempar jauh-jauh tepat saat Jisoo melanjutkan, “Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah bersikap tidak layak, namun, sebagai saudara dan satu-satunya keluarga yang dimiliki Saudari Hong Jiyeon, dapatkah saya mengajukan pendapat dan permohonan sebentar saja?”

Semua yang berada di dalam ruang pun penasaran. Gumaman-gumaman samar kini telah menyerbu runguku, diikuti dengan beberapa lirikan yang tertuju pada Jisoo dan juga diriku.

Ya ampun, aku tidak suka ini.

“Silakan.”

“Terima kasih,” ujar Jisoo sambil mengulas kurva pada sang hakim ketua. Ia pun melanjutkan, “Saudara-saudara sekalian, saya bukanlah seorang pembicara yang baik. Saya tidak terbiasa berbicara di muka umum, seperti apa yang saya lakukan sekarang ini. Jadi, saya ingin berbicara singkat saja.”

Tiba-tiba, Jisoo menghadap ke arahku. Untuk beberapa detik manik kami bersirobok, saling bersitatap dalam keheningan. Kulihat pandangannya yang kini berpaling kepada sang hakim, kemudian kembali berkata, “Saya hanya ingin memohon kepada Anda, atas perwakilan dari saudari saya ….”

Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mungkinkah Jisoo ingin hukumanku diperberat? Kendati aku tak yakin seratus persen bila Jisoo adalah tipikal orang seperti itu, namun kurasa wajar saja kalau Jisoo memang benar menginginkannya. Itu menandakan bahwa ia masih berjiwa normal, secara setiap orang pasti merasa sakit hati bila dikhianati.

Well, kurasa tak mengapa. Mungkin aku memang pantas menerimanya.

“… saya mengajukan permohonan, agar hukuman pidana mati atas Saudari Myoui Mina dicabutkan.”

Hening.

Tak ada yang dapat berucap maupun berkata.

Termasuk diriku yang kini gagal menahan bibirku ternganga, sekaligus membolakan kedua mata atas apa yang baru saja terlontar. Kuperhatikan keadaan sekitar, dan suasana dalam ruang sidang berubah riuh.

Astaga, apa Jisoo sudah kehilangan kewarasannya?

“Apa yang mendasari permohonan Anda, Tuan Hong?” timpal sang hakim ketua, kening dikerutkan. Terpancar sekali raut keheranan di sana.

Lagi-lagi Jisoo tersenyum serta berujar, “Karena saya telah memaafkannya. Hanya itu.”

Suasana pun menjadi semakin ramai akibat keriuhan yang sudah ada bercampur dengan kecamuk tidak terima dari beberapa pihak.

Aku sendiri pun tak kalah beda. Mungkin dari luar kini aku hanya terdiam. Tetap bungkam, tetap hanya menatap Jisoo dari kejauhan dengan pandangan penuh kesima. Sebuah helaan napas yang sedari tadi kutahan pun keluar, diikuti dengan kepalaku yang tertunduk seiring terpejamnya mata.

Namun, dalam hati aku menjerit.

Ini dia.

Ini dia satu hal yang membuatku gagal dalam menjalankan misi pertamaku.

Sosok Hong Jisoo yang sama sekali tak mengenal berang maupun marah, selalu dapat menerima dan menjalani setiap langkah hidupnya kendati hal seburuk apa pun terjadi. Ia tak pernah menyalahkan siapa pun, bahkan selalu mengatakan bahwa semua hal di dunia ini terjadi atas kehendak Tuhan.

Barangkali banyak yang berpikir bahwa manusia seperti Jisoo adalah tipikal yang mudah sekali dicurangi karena sifatnya yang tak mengenal dengki. Tak akan ada yang merasa takut padanya.

Tapi, pada kenyataannya tidak semudah itu.

Buktinya di sinilah aku, duduk sebagai seorang pembunuh yang tertangkap basah saat berlari meloloskan diri dari tempat perkara kejadian. Hanya karena di benakku terus terngiang-ngiang tikaman beruntun itu, maka wajah Jiyeon—maksudku, Jisoo—ikut merasuki pikiranku.

Orang-orang mengenal seorang pembunuh sebagai manusia berhati dingin yang tak kenal rasa ampun. Namun, tak dapat kupungkiri bila aku menangis malam itu.

Aku menangis sejadi-jadinya sambil berlari, hingga aku tak dapat berkonsentrasi dan akhirnya tergelincir pada satu titik ketika melompati gedung.

Saat itu pula, aku merasa segenap hidupku akan berakhir.

Bukan karena aku tertangkap. Bukan karena Pierre akan membuangku dari organisasinya. Bukan juga karena hukuman mati yang akan menantiku.

Namun, karena aku jatuh cinta pada Hong Jisoo.

“Sekali lagi, apa maksud dari permohonan Anda dapat diperjelas, Tuan Hong?”

Kalimat dari sang hakim membuyarkan lamunanku. Kutatap kembali Jisoo, dan lelaki itu pun menjawab, “Maafkan keputusan mendadak saya, namun setelah dipikir-pikir lagi, saya hanya merasa jika hukuman mati tersebut tidak terlalu diperlukan. Mungkin ini terdengar konyol, tapi maksud saya di sini, sudah cukup kakak saya saja yang terbunuh dan Myoui Mina tidak perlu menyusul. Toh saya juga tidak begitu menginginkan kematiannya. Saya hanya merasa tidak berhak untuk membenci, menghakimi, apalagi menyimpan dendam sebesar itu.”

“Apakah Anda yakin dengan keputusan Anda?”

“Ya, secara saya percaya kalau Saudari Mina adalah wanita baik-baik. Hanya saja, pada saat itu ia terikat oleh pekerjaannya yang menuntut. Namun sekarang, karena ia sudah keluar dari organisasi itu, maka saya percaya padanya. Kalaupun suatu hal kembali terjadi dengan Mina sebagai tergugatnya, saya yang akan bertanggung jawab nanti.”

Detik itu pula, semakin hebohlah seisi ruang sidang. Jaksa penuntut umum sampai-sampai tak dapat berkata lagi, hanya dapat memandangi sang hakim ketua yang kini memutuskan untuk berunding dengan beberapa hakim anggota.

Sekitar tiga menit berlalu, dan diskusi para majelis pun telah usai. Sang hakim ketua berdeham sejenak, diikuti dengan diamnya seluruh penjuru ruang.

Semua orang kini menanti sebuah putusan akhir.

“Berdasarkan keputusan hakim yang dialaskan pada permohonan keluarga korban tersendiri, dengan demikian dinyatakan bahwa terjadi perubahan hasil persidangan perkara dengan terdakwa Myoui Mina …”

Oh, tidak.

“… yaitu terdakwa tidak akan dijatuhkan hukuman mati, melainkan pidana penjara selama delapan tahun.”

Dapat kurasakan, ada amarah yang melonjak dari arah para pengunjung sidang.

“Sidang ini kami nyatakan telah selesai, dan dengan demikian sidang ini ditutup.”

Suara ketokan palu pun terdengar sebanyak tiga kali.

Serius, aku tidak tahu.

Aku tidak tahu perasaan apa yang tiba-tiba membuncah hingga membuat sekujur tubuhku menjadi lemas ini. Perasaan senangkah? Atau lega? Aku juga tidak mengerti pantaskah aku mendapatkan ini semua. Rasa-rasanya tidak adil bagi Jisoo, bukan?

Namun, seperti itulah Hong Jisoo. Ia memang pernah bilang padaku, jika saja Tuhan mau mengampuni, apakah kita berhak tidak memberi ampun pada orang lain? Hanya saja, aku tidak menyangka bila ia akan berpatok pada perkataan itu sampai sejauh ini.

Astaga, bisa-bisa aku jadi gila karenanya.

Kulihat majelis hakim yang kini berjalan meninggalkan ruang sidang. Kulihat juga para pengunjung sidang yang kini semakin gaduh akibat tak dapat menerima putusan akhir hakim, dan satu persatu dari mereka pun mulai meninggalkan ruang pula dengan raut muram bercampur kecewa. Tetapi, rupanya ada juga yang rupanya menitikkan air mata. Kurasa penyebabnya adalah tindakan Jisoo.

Ah, benar.

Hong Jisoo.

Kualihkan tatapanku cepat ke tempat semula pemuda itu duduk.

Ia masih berada di sana, masih terduduk di barisan bangku paling depan. Ia tertunduk sambil memainkan sebuah gelang perak pemberianku yang melingkar di pergelangannya, barangkali sedang menunggu jalur pintu keluar berubah lengang.

Kemudian, detik berikutnya, dua orang petugas kepolisian datang dan mencengkeram lenganku untuk dibawa keluar dari ruang persidangan.

Di satu titik ini, entah mengapa aku merasakan seperti … apa aku layak disebut sebagai manusia jika meninggalkan ruangan ini tanpa melakukan apa-apa?

Memang, aku tak punya muka untuk menghadapinya. Bahkan presensinya saja telah membuat harga diriku seakan dibanting dari langit tingkat kesekian.

Namun, barangkali aku tak perlu memikirkan soal harga diri lagi. Toh aku memang sudah menjadi bahan hinaan di mata banyak orang. Semuanya sudah terlanjur.

Karena itulah, aku tidak peduli lagi.

Tubuhku spontan meronta, diikuti dengan tungkai yang lekas berlari ke arah sang lelaki. Tak kuhiraukan teriakan dan kejaran kedua polisi itu. Berpasang-pasang mata pun mulai menatapku bingung, termasuk Jisoo yang lekas beranjak dari duduknya akibat melihat aksiku.

Aku hanya terus berlari sekencang mungkin, menaiki tangga memasuki area tempat duduk para pengunjung sidang. Dengan begitu, sampailah aku pada lelaki itu.

Kini berdirilah aku di sini, berhadapan dengan seorang Hong Jisoo. Saling bertatapan, saling bertemu muka.

Belum sempat aku membuka suara, kedua polisi itu telah kembali menarikku secara paksa. Namun, Jisoo segera mengangkat sebelah tangannya dan membuat pria-pria itu melepaskan cengkeraman mereka.

“Kenapa, Mina?”

Coba lihatlah. Bahkan ia masih bisa memasang sebuah senyum di saat-saat seperti ini, kendati kurva itu tampak sedikit dipaksakan.

Sebenarnya, aku juga bukanlah orang yang pintar berkata. Untuk sekarang pun, jujur saja aku tidak mengerti hal macam apa yang ingin kusampaikan pada Jisoo. Tetapi jika kutilik kembali pelajaran masa kecilku, setiap orang yang menerima kebaikan dari orang lain haruslah mengucapkan setidaknya terima kasih ataupun membalas jasa mereka.

Namun alih-alih berterima kasih, aku justru tidak sanggup lagi menahan jatuhnya likuid bening ini. Air itu lepas begitu saja dari pelupuk mataku, mengucur deras seakan sudah lama tertimbun di sana. Aku tak dapat menghentikannya. Atau barangkali, aku memang tak berniatan untuk menghentikannya.

Aku menangis begitu keras, tarikan napasku pun berubah tersendat-sendat. Rasanya begitu sakit. Begitu pilu. Bahkan, kakiku sampai terasa lemas. Merasa tumpuanku goyah, aku pun membiarkan diriku terjatuh berlutut di hadapan Jisoo. Kepalaku sangatlah tertunduk, benar-benar tak sanggup untuk menatap wajahnya.

Ia membungkuk tergesa sambil spontan menjulurkan tangannya, mungkin sedikit terkejut.

Tetapi sebelum ia mengeluarkan suara lebih lanjut, aku pun lebih dulu membuka mulut. Bukan rasa terima kasihlah yang kuucapkan, melainkan …

“Maaf ….”

“Eh?”

“Maafkan aku …. Aku benar-benar minta maaf, Jisoo-ya ….”

… satu kata yang seharusnya tak patut kudapatkan bila dilogika dengan pemikiran manusia.

Beberapa sekon pun berlalu.

Aku masih terisak begitu keras, masih tidak memedulikan keadaan sekitarku. Aku tidak tahu pandangan macam apa yang orang-orang berikan padaku, aku juga tidak tahu bagaimana reaksi Jisoo secara ia menjadi bungkam sejak kata ‘maaf’ beruntun itu lolos dari bibirku.

Bola mataku terasa sakit, bahkan wajahku pun mulai pegal. Karena tak ada respons yang kunjung datang bahkan sampai tangisanku sedikit mereda, aku pun sedikit mengangkat wajahku.

Namun tanpa disangka, tahu-tahu diriku merasa tertarik ke dalam sebuah rengkuh.

Jisoo berjongkok dan melingkarkan lengannya pada tubuhku, mendekapku dengan cara yang sama seperti dulu saat kami masih menjalin relasi pura-pura itu. Mau tak mau aku pun membenamkan wajah di bahu sang lelaki, kembali terisak habis-habisan atas perlakuannya.

Serius, dari ratusan atau bahkan ribuan lelaki yang pernah kutemui, tiada satu pun yang seperti Jisoo. Seperti sebuah kepingan emas di antara bebatuan, mungkin memang ialah satu-satunya.

Kurasakan jemari yang menelusuri setiap helai rambutku, kemudian diikuti dengan bisikan yang berkata, “Kau tahu aku dan Jiyeon telah memaafkanmu, jadi sekarang sudah tidak apa-apa.” Jisoo memberi jarak di antara kami sedikit, lalu mengusap pipiku pelan. “Hei, berhenti menangis, oke? Toh kau sudah mau mengakui kesalahanmu, dan itu saja sudah cukup, Mina.”

Isakan ini masih belum dapat kukendalikan. Entah dengan kondisi raut muka yang sudah seberantakan apa, aku pun berujar tepat di depan wajah Jisoo, “A—Adakah yang—yang bisa kulakukan untukmu sebagai ra—rasa terima kasihku?”

Sederet ucapan terbata itu mengundang senyuman Jisoo kembali. Sudut-sudut bibirnya berjungkit sedikit, kemudian ia menangkup pipiku yang satu lagi serta berujar, “Delapan tahun dihitung dari sekarang, saat kau dibebaskan dari tahanan, apa kau mau mengingatku dan … kembali padaku sebagai satu-satunya wanita dalam hidupku?”

Barangkali satu pertanyaan itu tidak akan kujawab dengan sebuah anggukan pasti, namun setetes air mata bahagiaku ini telah menjadi bukti.

Mungkin juga tidak ada salahnya bila aku menaruh harap sebesar ini pada sosok seorang Hong Jisoo, meskipun ia dikenal sebagai sosok yang seringkali dianggap terlalu baik juga terlampau mudah untuk dibodohi.

Namun aku tidak merasa itu adalah sebuah masalah, karena toh di sini aku sudah tahu.

Kuakui ia memang sangat berhati baik, namun bukan berarti lantas orang-orang dapat membodohinya sesuka hati. Alih-alih melakukan perbuatan busuk yang menikam, kurasa mereka semua lebih memilih untuk menjadikan Jisoo sebagai orang yang disegani dan dicintai.

Sama seperti diriku yang akan selalu menghormati dan mencintainya, mulai sekarang dan bahkan sampai kapan pun.

“Delapan tahun terlalu lama. Sering-seringlah berkunjung, daripada saat keluar dari penjara nanti aku terlanjur gila karena merindukanmu.”

Lewat senyuman tulus Jisoo yang kembali terukir, aku pun menyadari satu hal lagi, bahwa memaafkanku, atau bahkan setiap orang yang pernah meninggalkan luka padanya, tidak akan membuatnya menjadi lemah layaknya manusia yang penuh dengan rasa pasrah dan keputusasaan.

Karena pada nyatanya, lewat senyuman itu saja aku dapat dengan jelas melihat bahwa …

“Oke, empat kali dalam seminggu?”

“Setiap hari, dong!”

.

.

.

… ia telah terlepas dari dendam dan rasa pahit yang membelenggu.

fin.
-oOo-


Hyacinth means forgiveness.

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s