The Porcelain Shop

theporcelainshop.jpg

The Porcelain Shop

story by Rosé Blanche

Choi Seungcheol, Yoon Jeonghan, Xu Minghao [Seventeen]

AU!detective, Riddle

PG

Vignette

.

.

Sebuah mobil melaju kencang melewati perempatan kawasan Myeongdong, tepat setelah beberapa menit lalu Seungcheol mendapatkan informasi dari kepolisian. Di sebuah jalan sempit daerah sana pula, ditemukan sebuah jasad seorang pria setengah baya dengan luka bentur di kepala.

Sayangnya Seungcheol mengenal sang korban, sehingga air matanya tak berhenti mengucur di sepanjang perjalanan.

“Oh ayolah, kita masih tidak tahu apa yang terjadi, kan?” ujar Jeonghan—rekan sekerja Seungcheol—tanpa melepas konsentrasi dari kemudi. “Jangan sampai emosimu merusak semuanya nanti. Aku tahu Tuan Kim itu seniormu yang paling berharga, tapi—”

“Aku sudah bilang agar ia tidak pergi sendirian, Han, karena itu adalah daerah tanpa kamera pengawas. Well, aku tahu dia detektif handal yang sudah memecahkan hampir ratusan kasus, tapi sekarang kau bisa lihat sendiri kalau … kalau ….”

“Ya, aku tahu, aku tahu ….” Sebuah helaan napas meluncur dari bibir Jeonghan. “Aku tahu, jadi tenangkan dirimu, oke? Fokuslah seperti Seungcheol yang biasanya, jangan biarkan detail sekecil apa pun terlewat. Dengan begitu, kita bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan Kim.”

Seungcheol mengangguk sekilas, berusaha meredakan isakan. Setelah itu, Seungcheol kembali buka suara. “Menurutmu, apa kematian Tuan Kim berhubungan dengan penyelidikan rahasianya subuh tadi?”

“Penyelidikan toko milik Xu Minghao maksudmu?” Ketika Seungcheol kembali termanggut, Jeonghan melanjutkan, “Bisa jadi, secara tubuh Tuan Kim terletak tepat di depannya. Jujur, semenjak Tuan Kim merasa curiga pada toko porselen itu, aku pun diam-diam juga ikut mengamati Xu Minghao, meski sebenarnya Tuan Kim belum memberi tahuku ini kasus apa. Beberapa kali aku berkunjung ke sana dan bertemu dengan pemuda itu. Bisa dibilang, aku tidak suka gelagatnya sih.”

“Oh ya?” sahut Seungcheol spontan. “Memang kenapa?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu,” jawab Jeonghan. “Mungkin karena sikapnya yang angkuh? Ia terus menyuruhku untuk berhati-hati dengan barang bawaanku, karena bisa saja berpotensi menyenggol dan memecahkan barang-barang antiknya. Kuakui memang semua benda itu bernilai tinggi, tapi ia membuatku merasa seolah melewati satu ruangan yang penuh dengan sensor laser akan lebih mudah daripada memasuki tokonya.”

Kening Seungcheol berkerut. Sedikit ia mengingat tentang obrolan empat matanya bersama Tuan Kim di sebuah malam tentang toko porselen itu. Ia sudah hendak kembali berucap, namun  tidak jadi karena mereka telah sampai di tempat kejadian perkara.

Garis kuning melintang beserta kerumunan orang telah mendominasi lokasi. Seungcheol bergegas menuju ke jasad yang tergeletak di tengah lingkaran, terasa perih di hati ketika melihat tubuh itu sudah tak mengembuskan napas. Di kening milik jasad terdapat sebuah luka hantam yang cukup parah, sedangkan bagian belakang kepalanya mengeluarkan banyak sekali darah. Sempat ia merasa geram, namun tepukan Jeonghan di bahu membuatnya tersadar.

Tahu-tahu, kedua manik Seungcheol bersirobok dengan seseorang, hingga ia memanggil rekannya sambil berujar, “Han, uruslah jasad Tuan Kim. Aku ingin bicara dengannya.”

Sadar akan arah tatapan Seungcheol, Jeonghan pun mengerti. Sementara dirinya mengobservasi korban, Seungcheol beranjak dan melangkah ke sebuah toko tak terlalu besar yang hanya berjarak lima meter dari tempatnya semula. Di depan toko itu, seorang pemuda kurus tengah berdiri.

“Selamat pagi, apakah Anda yang bernama Xu Minghao?”

“Ya,” ujar pemuda itu termanggut-manggut.

“Ah, jadi Anda informan yang menelepon kepolisian pukul lima pagi tadi, benar?” Ketika yang ditanya kembali mengiakan, maka Seungcheol memaksakan sebuah jungkitan di bibirnya sembari melanjutkan, “Kalau begitu, perkenalkan. Aku Detektif Choi, dan kalau Anda tidak keberatan, bisakah aku mengajukan beberapa pertanyaan?”

“Tentu.”

Tipikal hemat bicara sekali, pikir Seungcheol. “Bisa tolong ceritakan bagaimana Anda menemukan korban?”

Uh, itu ….” Sang pemuda menarik napas sejenak, kemudian menatap ke arah korban. “Tadi pagi ketika aku hendak membersihkan depan toko, tahu-tahu saja tubuh itu sudah tergeletak di sana. Penyebab tewasnya apa aku tidak tahu, tapi kurasa ia tergelincir.”

“Tergelincir?”

“Ya, secara yang dilewati korban adalah bagian depan dari pabrik es rumahan yang penuh dengan boks berisikan es pula,” tutur Minghao sambil mengarahkan telunjuknya pada tumpukan kubus yang dimaksud. “Lagi pula, ini musim dingin dan jalanan di sekitar sini cukup membeku. Tidak jarang ada kasus seperti itu.”

“Jadi, Anda mengatakan bahwa ini adalah kecelakaan dan bukannya pembunuhan?”

“Benar,” jawab Minghao mantap.

“Kalau memang tergelincir, wajar bagian belakang kepalanya mengeluarkan darah, tapi bagaimana dengan luka bentur pada keningnya?”

Minghao terdiam sesaat. Namun sela beberapa sekon, ia kembali menjawab, “Mungkin saja sebuah batu di ujung atap itu terjatuh karena goncangan dan menimpanya? Maaf, aku juga tidak tahu.”

Tangan Seungcheol sibuk menulis di notes, namun kernyitan itu juga nampak sering muncul ketika pemuda bermarga Xu itu menuturkan jawaban. Seungcheol membuka mulut ingin menyudahi pembicaraan, tepat ketika sebuah teriakan menghantam rungunya.

“Choi! Kemarilah!”

Sekilas ia menoleh kepada sang pemilik suara, kemudian memasukan notesnya ke dalam saku sambil berujar pada Minghao, “Permisi sebentar.”

“Silakan.”

Buru-buru Seungcheol menghampiri Jeonghan yang sedang berjongkok di dekat korban, tepat di depan sebuah lekukan dinding yang agak menjorok ke dalam. “Ada apa?”

“Coba lihat ini,” ujar rekannya sambil menunjukkan sesuatu pada tembok, terlihat sangat kecil hingga Seungcheol terpaksa ikut merendahkan tubuh. “Menurutmu, ini apa?”

Lamat-lamat Seungcheol memerhatikan, kemudian tersentak tatkala otaknya menyadari sesuatu. Rupanya bekas darah, namun bukan berupa bercak biasa. Darah tersebut membentuk untaian beberapa angka dan huruf.

23UT4T2 3HT 3D12N1

“Apa ini pesan kematian dari Tuan Kim?” bisik Seungcheol.

Jeonghan pun mengangguk. “Menurutku juga begitu. Apa mungkin dia ingin memberi tahu sesuatu pada kita? Mungkinkah beliau menulisnya di tempat tersembunyi seperti ini supaya sang pelaku tidak menemukannya?”

Perlahan, Seungcheol menggeleng. “Menurut Xu Minghao, dari tadi pagi jasad sudah tergeletak di sini, dan ada kemungkinan juga kalau ini bukan kasus pembunuhan tetapi kecelakaan. Mungkin Tuan Kim hanya tergelincir di atas es saat melewati daerah ini dan— Oh, entahlah, Han. Kepalaku sakit.” Seungcheol mendengus kasar sembari berdiri dan membalikkan badan. Kini, ia menghadap sebuah kaca besar toko roti yang memampangkan etalase, menatap pantulan dirinya sendiri yang tampak menyedihkan.

Masih berkutat dengan tulisan tersebut, Jeonghan menimpali, “Kenapa kau percaya sekali dengan orang tak tak kaukenal, huh? Jangan karena ini menyangkut Tuan Kim, lalu mentalmu berubah menjadi seperti detektif tahun pertama lagi, Cheol-ah.”

Um, aku ….”

“Lagi pula, apa mungkin kalau Tuan Kim sempat menulis pesan di tempat tersembunyi seperti ini bila kejadiannya memang kecelakaan? Maksudku, kalau seseorang tergelincir dan kepalanya terbentur, bukankah ia seharusnya langsung tak sadarkan diri?”

“Maka dari itu aku juga tidak tahu, Han,” ujar Seungcheol tanpa mengalihkan pandang dari kaca. “Lagi pula, dari mana kau yakin kalau itu tulisan Tuan Kim? Dan kalau pun memang tulisannya, untuk apa ia memberi kita kode yang sudah jelas tak akan kita pahami meskipun membacanya berkali-kali?”

Jeonghan menghela napas. Sembari menatap Seungcheol sekilas, ia berkata, “Ingatlah, Tuan Kim selalu ingin agar kita lebih pintar dari penjahat mana pun.”

Seungcheol terdiam.

Benarkah itu tulisan Tuan Kim? Apa mungkin Tuan Kim memang punya alasan tersendiri untuk menuliskan kata-kata itu di sana? Memikirkan semua itu semakin membuat kepala Seungcheol semakin terasa seperti dirajam batu.

Netra Seungcheol masih tak lepas dari bayangannya sendiri pada kaca. Entah apa yang merasuk ke dalam benaknya hingga ia menghabiskan waktu dengan bercermin, namun tahu-tahu saja sebuah penglihatan membuatnya terbelalak.

Ia maju selangkah, lantas berujar, “Jeonghan, bisa tolong geser sedikit? Jangan tutupi tulisannya.”

Jeonghan lantas berdiri, kemudian menghampiri kawannya yang masih setia memusatkan pandangan lurus ke depan. “Kenapa?”

“Coba lihat,” ujar Seungcheol sembari mengarahkan telunjuknya.

Pandangan Jeonghan mengikuti, dan seketika ia pun terkesiap. Hanya sejenak, karena sekon berikutnya, ia kembali mengerutkan kening. “Tunggu dulu. Apa maksudnya?”

Seungcheol menoleh seiring dengan bibirnya yang mulai mengulum senyum. “Kurasa barangkali aku mengerti apa maksudnya. Sekarang, ikutlah aku dan siapkan borgol. Tapi, usahakan jangan terlihat publik.”

“Eh? Tapi ….” Belum sempat Jeonghan melontarkan tanya, Seungcheol telah mengayun tungkai terlebih dulu, menuju ke arah toko porselen Minghao untuk yang kedua kali. Sang pemilik masih berada di depan, masih tetap melempar senyum pada kedua detektif yang bertugas.

“Permisi, Tuan. Bolehkah kita masuk ke toko Anda sejenak?”

Alis pemuda itu sempat berjungkit sejenak, tampaknya kebingungan. Namun, pada akhirnya ia mengangguk. “Tentu, silakan saja. Tapi, tolong berhati-hati agar tidak menyenggol barang-barangku.”

Jeonghan sempat melirik Seungcheol sebelum membuntut di belakang. Ia menatap sekeliling, sedikit terkagum dengan susunan benda-benda mengilap yang terpajang. Mulai dari vas, guci, berbagai patung serta piringan juga mendominasi ruangan tersebut.

Sementara itu, langkah Seungcheol terhenti di sebuah rak berisi jajaran patung dengan beragam bentuk. Sebagian memiliki bentuk layaknya makhluk mitologi Cina dan para dewa-dewi.

“Berapa harga yang Anda pasang untuk patung-patung ini?” tiba-tiba Seungcheol bertanya.

Sekali lagi Minghao menaikkan kedua alisnya, kemudian menjawab, “Um, untuk satu patung bisa sampai jutaan won, namun aku minta maaf karena ini semua sudah terjual. Jadi hanya ditaruh sebagai pajangan saja di sini sampai pembelinya datang mengambil.”

“Begitukah?” tanya Seungcheol penuh selidik. “Kalau aku mau membeli satu saja apa tidak bisa? Aku sangat tertarik dengan patung dewi ini, dan aku berani membayar lebih dari harga yang Anda patokkan. Mungkin sepuluh juta won pun tak akan jadi masalah. Bagaimana?”

Seungcheol mengangkat patung tersebut dan mengamatinya dengan tatapan penuh ketertarikan, sementara Minghao menganga lebar-lebar.

“Se—Sepuluh juta won?”

Sekali lagi Seungcheol mengangguk. “Ya. Apa Anda tak berniat menjualnya kepadaku? Aku bisa membayarnya sekarang juga, omong-omong.”

Minghao masih tak melepaskan ekspresi terkejutnya, namun tahu-tahu saja rautnya berubah murung. Sambil menyunggingkan sebuah kurva yang kentara sekali dipaksakan, Minghao berujar, “Maafkan aku. Semua patungnya sudah terjual.”

“Oh, begitu,” Seungcheol termanggut-manggut kecil, sengaja memasang ekspresi kecewa sembari membolak-balik patung tersebut demi melihat setiap ukirannya.

Uh, uhm ….”

“Kenapa? Ada masalah?” Seungcheol melirik Minghao yang menatap cemas patung tersebut, lengkap dengan tangannya yang sedikit terangkat.

“Tidak, hanya saja …,” Minghao masih tak mengalihkan tatap dari patung itu. “… tolong berhati-hatilah. Aku tidak ingin Anda menjatuhkan patung itu, karena porselen mudah sekali pecah.”

Dahi Seungcheol kembali berkerut, namun kepalanya termanggut-manggut perlahan. “Baiklah, kalau begitu. Omong-omong, terima kasih untuk bantuan Anda tadi. Terima kasih sudah memanggil pihak kepolisian, dan terima kasih karena sudah memberi kami informasi yang benar-benar berguna. Setidaknya, kami sekarang tahu kalau Anda adalah orang yang cerdik sekali dalam menyembunyikan sesuatu, Tuan Xu.”

“Sama-sam— Eh?”

“Han, borgol dia.”

“Huh?” Bukannya lekas bertindak, Jeonghan malah melongo. Namun ketika dilihatnya Minghao hendak berlari kabur, ia cepat-cepat meraih pemuda itu dan menghimpitnya pada dinding. Dibekuknya Minghao selekas mungkin, kendati ia masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Tunggu dulu! Ada apa ini?!” Minghao berusaha protes, namun semua itu lekas digantikan dengan raut wajah lesu tak berdaya tepat ketika Seungcheol membanting sang patung dewi ke lantai.

PRANG!

Untuk yang kesekian kalinya pada hari ini, Jeonghan menganga lebar-lebar. Sebuah dengus tawa singkat ia loloskan atas perasaan kagumnya yang bercampur dengan heran. “Astaga, kau benar-benar berhutang penjelasan padaku, Cheol.”

Sembari melangkah keluar dari toko, Seungcheol tersenyum balik ke arah rekannya. “Maaf, tadi saat perjalanan kita ke sini, aku sudah hendak mengatakannya padamu. Hanya saja bersamaan dengan saat itu, kita tiba di lokasi.”

“Jadi …? Kenapa kau bisa langsung mengerti saat kau menemukan arti tulisan Tuan Kim?”

Seungcheol bersedekap, tersenyum melihat wajah putus asa Minghao yang kini telah dimasukkan ke dalam mobil polisi. Sambil kembali menatap Jeonghan, ia berkata, “Kau tahu sendiri kan kalau awalnya kita hanya mencurigai toko Tuan Xu ini? Cerdiknya, ia mengalihkan perhatian kita pada kasus pembunuhan, yang justru sayang sekali akan menambah catatan kejahatannya, Han. Kurasa ia tahu kalau Tuan Kim berhasil membongkar rahasianya, karena itu ia membunuh beliau.”

“Lalu, bagaimana dengan tulisan Tuan Kim?”

“Ah, itu sederhana saja. Beberapa malam yang lalu, aku sempat berdiskusi dengan Tuan Kim soal penyelidikan rahasianya. Saat itu ia berkata, ini adalah kasus penyelundupan narkotika.”

fin.
-oOo-


Lagi-lagi riddle, lagi-lagi riddle:”)

Buat yang sudah baca, yuk coba bantu jelasin biar Jeonghannya ngerti :”) /padahal chel sendiri juga ga ngerti mau jelasin model gimana

Intinya, coba jelasin apa yang terjadi di atas dan juga apa sebenarnya isi pesan kematian Tuan Kim?:)

rachel.

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s