[Flowers of Life] Elderflower

elderflower.jpg

Elderflower

series by Rosé Blanche

 Choi Seungcheol [Seventeen] & Kim Sowon [GFriend]

Fluff, Slice of Life

G

Oneshot

Previous :
A | B | C | D

.

Compassion is not a sign of weakness, but strength.
-Dalai Lama XIV-

.

Berdasarkan pengamatanku selama ini, seiring dengan berkembangnya dunia, semakin sedikit pula rasa empati manusia. Hanya peduli terhadap diri sendiri, yang merasuki benak pun selalu menjadi ‘bagaimana diriku bisa bertahan’ saja, dan bukannya lagi ‘bagaimana kami bisa bertahan’.

Berbelas kasih pun menjadi sesuatu yang semakin sedikit dimiliki, bahkan dianggap menyebalkan bagi sebagian orang. Kalau ditilik lebih jauh, kurasa akar dari ini semua adalah keangkuhan dan rasa egois. Bukan berarti aku menyalahkan keadaan ataupun dua sifat negatif yang baru saja kuucapkan, namun orang-orang itu sendiri.

Termasuk diriku, misalnya?

Ironisnya begitu. Aku pun tak jauh berbeda.

Sebuah dalih tentang tak ingin mencampuri urusan orang lain selalu menjadi senjataku. Terkadang pula aku berpikir, apa gunanya menyelamatkan orang namun sekaligus menjebloskan diri ke dalam resiko? Aku pun punya masalah sendiri yang harus diselesaikan.

Sadar diri bahwa tak ada lagi yang bisa kulakukan tentang itu, hidupku pun berjalan seperti biasa. Masih sederhana saja, yaitu tetap fokus terhadap diri sendiri.

“Kenapa kau terlambat pagi ini? Tak seperti Sowon yang biasanya, huh?” tanyaku di suatu siang, di sebuah ruang pribadi kantor tempatku bekerja sebagai direktur utama. Seseorang yang sedang kuajak bicara saat itu adalah bawahanku, Kim Sowon.

“Ma—Maafkan aku,” jawabnya terbata. “Tadi pagi, saat aku sedang menunggu bus, entah bagaimana ada seorang anak kecil yang menyeberangi jalan sembarangan. Ia tak melihat jika ada mobil yang melaju, sampai pada akhirnya … ia tertabrak.”

“Ah, jadi anak itu mengalami kecelakaan?” Sebuah lirikan tajam kembali kulemparkan padanya, tak peduli bila itu akan membuatnya merasa tidak nyaman.

Sowon mengangguk. “Lukanya cukup parah, terutama di bagian perut dan rusuk. Nadinya juga sobek, jadi banyak sekali darah yang keluar. Aku hanya berusaha membantu secara aku tahu sedikit soal urusan medis, setidaknya agar anak itu bisa bertahan sampai ambulans datang.”

Tak tahan lagi dengan alasannya, aku pun beranjak berdiri. Beralih dari belakang meja kerjaku ke bagian depan, membuat Sowon otomatis mundur satu langkah takut-takut. Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengubah posisiku menjadi setengah duduk dan setengah bersandar pada meja.

Gaya yang tidak sopan sekali bagi seorang direktur, aku tahu.

“Dengarkan aku, Sowon. Kaupikir aku peduli?”

Pertanyaan itu sukses membuatnya melebarkan mata, tampak bodoh sekali.

“Kaupikir aku akan peduli dengan tindakan sok heroikmu itu, sedangkan presentasi tadi pagi kautelantarkan begitu saja?! Kau tahu sendiri presentasi tadi menentukan apakah perusahaan Amerika itu mau menjalin hubungan kerja sama dengan kita, yang tentu saja berpotensi menghasilkan keuntungan jutaan dolar. Apa alasanmu tadi masuk akal?!”

“Maaf, bukan begitu maksudku, Sajangnim. Sama sekali tidak terbesit niat untuk menelantarkan presentasi tadi. Hanya saja, tadi anak itu benar-benar sudah—”

“Biarkan aku bertanya satu hal. Apa kau mengenal anak kecil yang dari tadi kausebut-sebut itu?” potongku cepat.

Sekon berlalu dan wanita itu membiarkan pertanyaanku menggantung di udara. Ia bungkam untuk sesaat, sebelum menunduk dan mengeluarkan helaan napas pelan. Kelopaknya terpejam, seiring dengan jawaban yang keluar. “Tidak, Sajangnim.”

Tanpa kusadari, sebuah dengus tawa sarkatis lolos dari bibirku. “Kau bahkan tidak mengenalnya, Nona. Baiklah, mungkin aku akan sedikit memaklumi bila orang itu adalah keluargamu, teman dekatmu, atau sejenisnya. Tapi, kau mengorbankan perusahaan tempatmu bekerja demi nyawa anak kecil yang bahkan tak kauketahui seluk-beluknya? Kau ini gila atau apa?”

“Tapi, Sajangnim, anak itu bisa mati kalau tidak segera ditangani—”

“SUDAH KUBILANG AKU TIDAK PEDULI!” Spontan diriku berteriak, membuat wanita itu tersentak.

Ah, mungkin aku sedikit keterlaluan. Kurasa, suaraku yang menggelegar itulah penyebab mata berlinangnya sekarang. Kendati aku cukup sering melontarkan amarahku padanya saat masa pelatihan, bagaimanapun juga hubungan kami selama ini pun bisa dibilang cukup baik. Kuakui, ia cerdas, bisa diandalkan dan juga jujur. Intinya, dia tipikal pekerja idaman setiap perusahaan.

Hanya saja, aku tidak tahu apa yang salah dengannya hari ini.

Sedikit hatiku tergerak, membuatku lantas mengarahkan langkahku pada Sowon. Aku menepuk bahunya pelan, kemudian berujar, “Kau harus belajar untuk bisa membedakan mana yang lebih penting. Lagi pula, bukan salahmu kalau anak itu sampai tertabrak, bukan?”

Sowon tetap bungkam, tak menjawab barang satu kata pun.

“Kau bisa menyalahkan anak itu sendiri yang kelewat bodoh, atau orang tuanya karena tak menjaga anak itu baik-baik. Bukan kau yang harus bertanggung jawab. Berhentilah mencampuri urusan orang lain, kau punya urusan sendiri yang juga penting, Sowon. Jangan mudah mengasihani orang juga, secara itu hanya akan membuatmu kian lama makin lemah dalam segala hal. Prioritaskan dirimu sendiri, itu lebih penting, oke?”

Sedikit kini Sowon melirikku. Entah kenapa, jelas sekali ada sebuah kesedihan yang terpancar di sana. Rautnya masih saja murung. Tanpa sempat aku menanyakan lebih lanjut, tahu-tahu saja ia berkata, “Maaf, Sajangnim. Masih banyak pekerjaan yang harus kutuntaskan, terlebih urusan dengan pihak dari perusahaan Amerika itu. Jadi … uhm, permisi sejenak?”

Aku tak mengerti ia ingin menghindar atau apa, namun mau tak mau sebuah anggukan pun kuberikan.

Setelah membungkukkan badan, sosoknya pun keluar dari ruanganku dan langsung hilang dari pandangan mata dalam sekejap. Entah ia memang akan meneruskan pekerjaannya atau barangkali justru menangis di suatu tempat tersembunyi, aku tidak benar-benar tahu.

Aku pun tak terlalu memikirkannya dan kembali larut kepada beberapa urusan pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelum petang berkunjung. Detik berganti menit, menit pun berganti jam. Tak begitu terasa waktu yang sudah terlewat bersama komputer dan segala berkas-berkas.

Saat itulah, bencana tersebut datang.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Mungkin karena terlalu lelah menatap komputer, aku memejamkan mata sejenak alih-alih langsung beranjak pulang. Belum sampai terlalu lama, tahu-tahu ada bunyi pelan yang mengusik runguku. Entah mungkin karena efek mengantuk atau apa, aku tak begitu paham.

Aku terus membiarkannya, sampai-sampai bunyi itu kusadari sebagai suara dari sirene yang menguar memenuhi ruang. Bahkan ketika ada dering nyaring yang ikut menyahut, aku masih tidak paham dengan situasi yang ada.

Bodohnya, waktuku malah habis untuk menerka bunyi apa yang sedang berkoar-koar itu. Sampai pada akhirnya kudengar beberapa teriakan dan hiruk pikuk yang menjadi satu, serta bayangan kerumunan yang berdesakan di satu sudut.

Aku masih tidak mengerti, hingga ada sesuatu yang menyerbu indra penciumanku.

Asap.

Menyadari apa yang sedang terjadi, lekas aku membereskan semua perlengkapanku ke dalam tas. Tak memilih untuk berayal-ayal lagi, segera kuayunkan tungkai menuju pintu keluar. Dengan sebuah sentakan cepat pintu itu terbuka, dan aku langsung cepat berlari menuju ke tangga darurat.

Sama sekali tak kusangka bila api itu menyambar begitu cepat. Keadaan kantor saat aku membuka pintu tadi sudah tak karuan, semuanya telah dilahap oleh nyala bara. Entah mengapa tak ada yang memanggilku, mungkinkah karena efek letak ruanganku yang berada di sudut ujung lorong? Atau mereka tidak mengetahui keberadaanku di sana?

Bila kulihat dari keadaan yang berubah sebegini pesat, rasa-rasanya penyebab semua ini adalah ledakan. Namun, aku tak punya lagi waktu untuk memikirkan itu semua. Sekujur tubuhku telah basah terkena keringat, dan bahkan aku masih harus berlari menuju ke pintu tangga darurat.

Sayang sekali, sebuah rak besar terjatuh tepat di depan pintu itu, membuat orang dengan kaki sejenjang apa pun tak akan dapat melewatinya. Memilih untuk tidak mati mengerikan sebagai ‘Seungcheol panggang’, tangga biasalah jalan satu-satunya.

Seperti seekor kelinci yang berlari secepat kilat dari kejaran pemangsa, begitu pula diriku yang berusaha kabur dari lahapan api. Menuruni tangga dari lantai delapan menuju dasar bukan perkara mudah juga, omong-omong.

Sebenarnya, jujur saja … di sini yang dinamakan kelinci tidak cuma seekor. Karena pada nyatanya, kelinci yang sedang diserbu bukan hanya aku saja, namun masih banyak.

Ya, masih banyak.

Terbukti dari teriakan dan jeritan yang kujumpai di lantai kelima dan ketiga, membuatku tersadar bahwa ada yang terjebak di sana. Sayangnya, kelinci satu ini adalah kelinci egois yang lebih peduli terhadap keselamatan dirinya sendiri.

Aku pun seolah menutup telinga, bahkan tak menghentikan langkahku barang sedikit pun. Lagi pula, toh nanti ada tim pemadam kebakaran yang dapat menyelamatkan.

Menyebalkan, ya?

Aku tahu aku menyebalkan. Tetapi satu hal lagi yang kuketahui namun kulupakan pada saat itu ialah … hukum sebab-akibat.

Nama lainnya adalah karma.

Aku telah tiba di lantai dasar. Perasaan menggebu pun seketika memenuhi, terlebih ketika pintu utama telah berada di depan mata. Hal itu membuatku semakin cepat ingin keluar dari panas ini hingga tanpa sadar tak berhati-hati.

BRAK!

Tak sengaja kakiku menyandung kayu meja yang telah ambruk. Tubuhku pun terjungkal, namun bukan di situ masalahnya. Tepat di mana tubuhku terjatuh, ada pecahan kaca jendela pula yang memenuhi lantai.

AKH!”

Sial.

Rasa sakit dan perih mulai menjalari seluruh tubuhku, terlebih di bagian kaki. Kulihat sekilas, likuid merah itu mulai mengucur membasahi lantai dan pakaianku. Aku mencoba untuk bangun, namun gagal. Terlalu sakit. Terlalu perih.

Pada akhirnya, aku pun hanya bisa berucap dalam hati, apakah hari ini adalah hari terakhirku hidup? Mau berteriak minta tolong pun, di sini sudah tak ada lagi siapa-siapa.

Aku benar-benar yakin itu, sampai tahu-tahu saja kudengar suara derap kaki. Atau mungkin lebih tepatnya, mirip dengan suara alas sepatu pantofel yang berantuk-antuk dengan lantai. Kukira itu adalah tim penyelamat yang datang, meskipun aku cukup heran mengapa yang kudengar adalah suara sepatu pantofel dan bukannya decitan karet sepatu.

Namun, aku tetap saja meneriakkan kata ‘tolong’ keras-keras. Begitu keras dan berulang-ulang, hingga suara pantofel itu kian mendekat. Semakin dapat kudengar suara itu, semakin keras pula aku berteriak. Hingga di depanku terpampang sepasang sepatu hitam dan—

Sajangnim?”

Bohong kalau aku tidak terkejut.

Suara itu, adalah suara yang sangat kukenali. Melatihnya selama berbulan-bulan, enam tahun bekerja pada bidang yang sama, kemudian bertukar tatap setiap hari …. Mana mungkin aku tidak mengenalinya?

“Sowon, aku—”

“Maaf, tapi Sajangnim tidak keberatan kan kalau kutinggal sebentar saja?”

Kupaksakan kepala ini untuk berpaling ke arahnya, kendati susah sekali.

Dan yang terpampang di sana, benar-benar membuatku tak bisa berkata.

Wajah Sowon memang penuh dengan keringat dan goresan abu hitam, namun bukan di sana letak permasalahannya. Baru kusadari, ternyata Sowon tidak sendirian.

Di punggungnya, berbaring seorang wanita yang bertubuh lebih kecil dari Sowon, yang kukenali sebagai seorang pekerja magang. Gadis itu tak sadarkan diri, kurasa akibat terbentur sesuatu. Terbukti dari pelipisnya yang mengucurkan darah, mengalir membasahi pipi tirusnya hingga ke kemeja Sowon.

Aku pun mengiakan.

“Baiklah, aku akan mengeluarkan gadis ini sebentar, setelah itu aku akan kembali. Di dalam sana masih banyak yang tidak bisa keluar jika tidak dibantu.”

Tanpa aba-aba lagi, gadis itu berlari menjauh dariku.

Yang kulakukan saat itu tak lain dan tak bukan hanyalah menunggu. Sempat beberapa kali Sowon berlari bolak-balik melaluiku, katanya ia akan lebih mendahulukan pegawai-pegawai yang terjebak di lantai atas.

Setidaknya ada sekitar lima atau enam kali ia berjalan mondar-mandir, barulah setelah itu ia menghampiriku.

Kutatap wajahnya, dan ia terlihat begitu pucat. Tentu ia lelah, secara Sowon bukanlah gadis tangguh berotot yang mampu mengangkat setiap orang dengan mudahnya. Namun, kurasa itu semua tak menjadi batu sandungan bagi niatnya untuk menolong.

“Di mana Sajangnim terluka?”

Aku menjelaskan bahwa kaki dan tanganku tertusuk pecahan kaca. Aku juga memberitahukan kalau aku tak tahu seberapa parah luka itu, yang jelas aku tak dapat berdiri karenanya.

“Tahan sebentar,” ujar Sowon, kemudian membalikkan tubuhku perlahan.

Aku bersumpah, bahwa inilah pertama kalinya aku merasakan sakit luar biasa dengan keadaan kaki begitu mengerikan. Sempat aku mengerang, terlebih ketika Sowon mencabut pecahan itu satu persatu.

Kulihat wajah Sowon yang mengernyit ketika tangannya juga ikut berdarah. Sementara itu, ia bertanya, “Sajangnim bisa berdiri?” Aku menggeleng, sehingga ia melanjutkan, “Kalau begitu, kemarikan tangan yang lebih sedikit lukanya. Rangkulkan pada leherku, dan aku akan membantu Sajangnim berjalan.”

Saat itu pula, aku pun tersadar.

Kim Sowon, dialah malaikat pelindungku.

Semua itu adalah kejadian kemarin. Beritanya menyebar begitu cepat di media, dan setelah diselidiki ternyata penyebab kebakaran itu adalah ledakan gas dari dapur. Seharian beritanya terus muncul di televisi rumah sakit, dan aku hanya bisa berharap kalau perusahaan ini dapat cepat pulih.

Yang menarik bagiku dalam insiden kali ini, tidak ada korban jiwa sama sekali. Tim penyelamat telah menelusuri tiap sudut dan ruang, dan mereka tak menemukan satu pun tubuh tak bernyawa.

Untunglah.

Sajangnim?”

Suara pintu yang digeser membuatku mengalihkan tatap, dan di sana berdirilah seorang malaikat yang baru saja turun dari surga.

Astaga, apa yang kaupikirkan ….

“Sudah merasa lebih baik?” Sowon kembali berbalik untuk menutup pintu kemudian berjalan mendekat ke arahku. Di genggamannya, terdapat seikat kecil bunga yang entah bernama apa, yang jelas warnanya putih dan terlihat cantik sekali. Kurasa itu bunga elder, sama seperti yang ibuku tanam di pekarangan rumahnya.

“Kata dokter, mungkin aku bisa pulang besok atau lusa. Luka-luka akibat tusukan kaca itu cukup dalam rupanya, dan tentu saja sebagian dagingku—well, begitulah. Silakan duduk, omong-omong.”

Sowon menyeret sebuah kursi ke samping kiriku, kemudian langsung duduk di sana. “Maaf, tadi aku buru-buru dari kantor polisi sehabis diinterogasi, jadi aku tak sempat membawakan Sajangnim apa-apa. Uhm, maksudku ….” Ia melirik ke arah bunganya sejenak, kemudian berganti kembali menatapku.

Melihat itu, sebuah senyum simpul terpatri di bibirku. “Seikat bunga sudah cukup, terima kasih banyak.”

Sowon pun meletakkannya di atas meja, kemudian setelah itu suasana kembali canggung. Tidak ada yang mempunyai topik untuk dibicarakan lagi, sementara kami berdua saling membuang muka tak berani bersitatap.

Hei, ada apa ini?

“Apa kau selalu berbuat demikian?” tanyaku tiba-tiba.

“Berbuat apa?”

“Penyelamatan habis-habisanmu itu. Apa kau selalu begitu jika menghadapi situasi seperti kemarin?”

Terjadi jeda beberapa sekon, sebelum pada akhirnya Sowon berujar, “Kalau aku bisa menyelamatkan mereka, kenapa tidak?”

“Meskipun itu semua beresiko pada nyawamu?”

Dengan mantap, Sowon mengangguk.

“Kenapa? Belas kasihanmu itu dapat mengancam keselamatanmu sendiri, Sowon-ah. Bukankah rasa kasihan selalu membuat kita menjadi lebih lemah?”

“Ke—Kenapa?” ujar Sowon mengulangi pertanyaanku. “Uhm, kalau ditanya kenapa, sebenarnya sederhana saja. Aku hanya membayangkan bagaimana jadinya bila diriku adalah mereka. Pernah dengar istilah ‘berjalan menggunakan sepatu orang lain’?”

“Apa itu?”

Seulas senyum pun terpatri di bibirnya. “Artinya yaitu menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain. Seperti mencoba berpikir, bagaimana perasaan kita bila mengalami hal yang serupa, atau apa yang kita rasakan jika kita menjadi orang tersebut. Aku selalu belajar berempati dari pepatah itu, omong-omong.”

Detik itu pun, mulutku bungkam. Sowon pun melanjutkan, “Intinya, jangan pernah memperlakukan seseorang bila tak ingin diperlakukan seperti itu juga. Maaf, bukannya aku bermaksud apa, hanya saja bisakah aku mengambil contoh kasus kemarin pagi?”

“Yang mana?”

“Seorang anak yang tertabrak.”

Karena aku mengangguk, Sowon kembali berkata, “Kalau Sajangnim yang berada pada posisi anak itu, tentu Sajangnim berharap bahwa akan ada seseorang yang menolong, bukan? Memangnya siapa yang ingin ditelantarkan di tengah jalan dan hanya menjadi bahan tontonan?”

“Maksudku saat itu, bukankah di sana ada banyak orang lain? Bukan kau yang harus membantu kan, secara kau punya urusan penting—”

“Satu-satunya orang di sana yang dapat menyelamatkan anak itu hanyalah aku, Sajangnim.

“A—Apa?” tanyaku tak percaya.

“Setelah tabrakan itu, sempat kuhitung bahwa terjadi jeda selama satu menit. Selama satu menit itu pula, aku menunggu bila ada seseorang yang berusaha memberikan pertolongan pertama, secara aku tahu bahwa aku tidak bisa terlambat ke kantor. Namun, aku hanya mendapati telepon genggam yang secara serentak memanggil ambulans di saat jalanan sedang begitu padat, tanpa ada seorang pun yang berani menyentuh anak itu kecuali ibunya. Jadi, apalagi yang bisa kuperbuat? Membiarkan malaikat pencabut nyawa segera menjemput anak itu? Aku tidak akan mungkin melakukannya, Sajangnim.”

“Jadi kau berusaha mendatangi anak itu sebagai malaikat penyelamatnya? Sama seperti ketika kau menyelamatkanku saat kebakaran kemarin?”

“Ya, begitulah— Eh? Apa?”

Raut kebingungan Sowon serta kedua maniknya yang membola sempurna sukses membuatku terkekeh. Namun, toh perkataanku ada benarnya, secara Sowon memang terlihat seperti malaikat. Well, maksudku secara rupa maupun hati.

Tanganku yang tidak diperban spontan terangkat, kemudian meraih kepala Sowon dengan satu gerakan cepat. Mengusapnya perlahan, membuat gadis itu tampak semakin dilanda bingung. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan terima kasih untuk tindakanmu kemarin, Sowonie.”

“Ah, begitu,” ujarnya sembari termanggut-manggut kecil. “Sama-sama, Sajang— So—Sowonie?” Raut itu kembali terpasang, kini lengkap dengan kerutan yang terbentuk di antara kedua alisnya. Terlihat lucu sekali.

“Omong-omong, jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu lagi. Bertahun-tahun kita sudah saling mengenal, dan kurasa itu terlalu formal.”

“Lalu aku harus memanggil apa?”

“Menurutku Oppa adalah pilihan bagus,” ujarku seraya tak lupa memasang kurva lebar. “Atau kalau mau panggil Sayang juga—”

“Tolong hentikan bercandanya, Sajangnim.”

Uh-oh.

Rasa-rasanya aku lupa, bila Sowon memang bisa menjadi sosok gadis yang kelewat dingin.

Haha, tapi semua itu tak mengapa. Kurasa aku mulai menyukai Sowon, dan entah akan bagaimana kelanjutannya setelah ini. Namun untuk sekarang, setidaknya aku mengerti, mengapa rasa empati Sowon tidak menjadikannya lemah namun kuat.

Dengan empati itu, ia menolong tiap-tiap orang tanpa membedakan. Dengan kelemahlembutannya, ia berhasil membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Dengan rasa belas kasihan, ia telah menjadi malaikat pelindung bagi semua orang, bahkan termasuk mereka yang sama sekali tak mengenal Sowon.

Jadi, sekarang siapa yang berani menyebut seorang malaikat pelindung itu lemah?

fin.
-oOo-


Elderflower means compassion.

Advertisements

5 thoughts on “[Flowers of Life] Elderflower

  1. Pingback: [Flowers of Life] Forget Me Not | ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: [Flowers of Life] Gardenia | ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: [Flowers of Life] Hyacinth | ROSÉ BLANCHE

  4. Pingback: [Flowers of Life] Iris | ROSÉ BLANCHE

  5. Pingback: [Flowers of Life] Juniper | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s