[Flowers of Life] Dandelion

dandelion

Dandelion

series by  Rosé Blanche

Jeon Wonwoo [Seventeen] & Jung Eunha [GFriend]

Fluff, Hurt/Comfort, Slice of Life

PG

Oneshot

Previous :
A | B | C

.

She has a heart filled with hope, and prays for wind to carry it’s dandelion wishes in search of a fertile soul.
-Alfa-

.

Namanya Jung Eunha.

Bukannya apa, tetapi cobalah lihat keadaan di sini. Dari seantero Juilliard, mana ada yang tak mengenal gadis itu?

Gadis berambut pendek dengan kulit seputih pualam, berwajah manis dan selalu menjadi yang nomor satu dengan tarian balet klasiknya, sehingga membuat mahasiswi tari yang lain terkadang iri. Gadis itu menjadi incaran banyak lelaki juga, omong-omong. Seperti halnya—

Hey, dude. Jangan melamun terus. Pasti memikirkan Eunha lagi, ya?”

—diriku. Well, memang begitulah kenyataannya. Mungkin bukan ‘mengincar’, lebih tepat bila mereka menyebutnya ‘suka secara diam-diam’. Hubungan kami hanya sebatas senior-junior, dan itu tak akan berarti apa-apa bila dibandingkan dengan sahabat-sahabatnya atau pun … kekasihnya.

“Tidak juga.”

“Jangan bohong.”

Ya Tuhan, bolehkah aku menendang makhluk asing ini kembali ke tempat asalnya? Mendengar ocehan Jun sepanjang hari memang sudah menjadi kebiasaan buatku, meskipun pada awalnya kami sempat tak akur karena perbedaan sifat kami. Sudah jelas, bukan? Aku pendiam, ia berisik.

“Diamlah, Jun. Urus saja Xiao-mu itu.”

Tungkaiku berjalan menjauh, namun Jun segera menyusul dan menyeimbangi langkah kami. Sebelah tangannya merangkulku, dan posisi ini sepertinya agak aneh lantaran aku sedikit lebih tinggi dari dirinya.

“Kau jahat sekali, sih.”

“Hei, kau itu laki-laki atau pe—”

“Ya, ya, sudahlah. Ayo cepat, kelas akan dimulai sebentar lagi.”

-oOo-

Menilik ke arah teater balet, lagi-lagi aku tak menemukan sosok itu. Ke mana ia pergi? Satu-satunya alasan mengapa akhir-akhir ini aku semakin sering memikirkan Eunha, yaitu karena atensinya yang sudah benar-benar jarang sekali nampak.

Entah sudah berapa lama aku tidak tahu, lantaran aku bukan tipikal yang setiap harinya mengunjungi kelas balet demi melihat gadis itu. Well, bukannya ingin menyombongkan diri, tapi bagaimana jika tahu-tahu ada gosip yang beredar, menyatakan bahwa seorang senior modern dance di Juiliard merupakan penguntit anak-anak kelas balet?

Bisa mampus aku.

“Cari Eunha lagi, kan?”

Hell, siapa yang telah mengagetkan—

Oh, tolong katakan di gedung Juiliard bagian mana aku tidak akan berjumpa dengan kunyuk satu ini.

“Kau sedari tadi mengikutiku?”

Jun yang baru saja sempat berpaling kini kembali menatapku, menyiratkan tatapan mengejek yang membuatku benar-benar ingin melemparnya dengan sepatu. “Mengikutimu? Tch, dasar sok tahu.”

Belum sempat mulutku melontarkan protes, tahu-tahu saja ia sudah melambai ke arah panggung, yang langsung mendapat balasan juga dari salah satu gadis di sana.

Ah, baiklah.

“Cheng Xiao!”

Sang pemilik nama pun berpaling sembari mengulas senyum lebar, lantas berlari-lari kecil menghampiri kami.

“Oh? Tumben kau mengajak Wonwoo?”

“Bukan, dia memang sering ke sini sendirian demi menengok pacar— Aduh, sakit, Won!”

“Pacar apa, huh?!”

Jun mengusap tulang keringnya yang baru saja kutendang, lantas mencebik. “Pacarnya Jeon Jungkook! Aku benar, kan?”

“Kau ….”

Serius, aku kehabisan kata-kata. Demi apa aku berkawan dengan orang macam dia ini?

“Ah, maksudmu Jung Eunha?”

Aku menunduk, tentu saja malu setengah mati akibat perlakuan Jun yang telah menjatuhkan harga diriku. Ketahuan menyukai seorang gadis tidak apa-apa, tapi kalau gadis milik orang?

Mau ditaruh mana mukaku sekarang?

Tatapan penuh tanya Xiao sama sekali tidak kubalas, lantaran aku benar-benar tidak sanggup. Pada akhirnya hanya anggukan kecil yang dapat kuberikan.

Tahu-tahu saja aku merasakan sentuhan ringan dibahuku, yang ketika kulirik ternyata merupakan jemari lentik milik Cheng Xiao. Perlahan aku mengangkat wajah, dan kudapati raut sang gadis yang telah berubah cemas.

“Won, kau belum dengar kabarnya?”

“Kabar apa?”

“Tentang Eunha.”

Aku yakin seratus persen bahwa kerutan telah terbentuk di keningku, begitu pula dengan Jun.

“Memang Eunha kenapa?” tanya Jun menimpali.

“Ah, sebenarnya wajar saja kalau kalian tidak tahu, secara hal ini memang agak dirahasikan. Hanya anak-anak balet saja yang tahu. Ya … permintaan Eunha sendiri,” ujarnya mengedikkan bahu. “Jangan bilang siapa-siapa, ya? Aku tidak mau kalau sampai kasusnya ramai.”

Aku dan Jun spontan mengangguk, sedang fokus kami teralih sepenuhnya pada Xiao.

Gadis itu menoleh ke kanan-kiri, seakan memastikan bahwa di lorong tidak ada siapa pun selain kami. Setelah dirasanya keadaan aman, barulah ia berbisik.

“Hampir lima bulan yang lalu, Eunha mengalami cedera parah saat melakukan fouette* dalam ujian.”

-oOo-

Setelah kejadian itu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tiga puluh hari berlalu sudah, dan beruntungnya ada libur musim panas sekaligus pergantian semester. Sesudah Xiao memberitahuku soal Eunha, nilaiku menurun drastis, sampai-sampai Joanne—pelatihku—mengomel habis-habisan.

Hendak berkilah karena masalah mengenai Eunha? Jangan konyol, bahkan kami tak punya hubungan sedekat itu. Mungkin aku memang menaruh hati pada Eunha, menjadikannya sebagai wanita pujaan.

Namun, bagaimana dengan sebaliknya? Memangnya ada kemungkinan—

Ah, sudahlah. Memangnya apa yang kuharapkan ….

“Kukira kau baru datang besok?”

Tanpa sadar, rupanya tungkaiku telah melangkah memasuki pekarangan luas. Pandangan kualihkan ke belakang, dan rupanya jalan setapak memutar—yang tadinya sempat kukira akan memakan waktu minimal satu jam untuk menelusurinya—telah kulewati.

Kutengadahkan kepala, dan pemandangan desa serta padang rumput luas seketika menyambutku. Beberapa rumah pertanian dan peternakan terletak di beberapa sisi, lengkap dengan ladang mereka. Sejauh ke mana pun aku memandang, hanya hijau alam dan keindahanlah yang kudapati.

Aku menarik napas dalam-dalam, dan rupanya udara di sini tak pernah berubah sedari dulu. Tetap terasa bersih, kendati musim panas sedang terik-teriknya.

Well, udaranya memang terasa jauh berbeda bila dibandingkan dengan New York, tapi aku juga tidak bisa mengelak kalau sinar mataharinya benar-benar panas, kendati awan sedang berarak di angkasa biru. Aku juga baru sadar, bagian belakang kausku sudah basah terkena keringat. Terlebih harus menggeret koper sambil berjalan bermil-mil dari stasiun, rasanya seperti orang yang sudah tersesat berminggu-minggu di gurun—

“Hei, kau mau berdiri di situ sampai malam atau masuk?”

Fokusku kembali beralih pada sosok gadis berambut hitam arang yang berdiri di ambang pagar. Sebelah tangannya mencangking keranjang berisikan telur-telur. Ah, rupanya keluarga kami baru memanen hasil ternak.

“Aku sengaja memajukan harinya.”

“Kenapa?”

“Karena aku merindukanmu, adikku sayang.”

Tch,” ia mendecak, namun tak lama senyumnya mengembang. “Kalau begitu kita sama.”

Ia merentangkan tangannya lebar, yang langsung kubalas dengan sebuah dekap.

“Ternyata kau tetap pendek ya, Na.”

“Umurku sudah sembilan belas tahun, kau mau berharap aku tambah tinggi bagaimana, huh?”

Tawa pun lolos dari bibir kami berdua. Setelahnya Nana memanggil Liz, juru masak yang sudah bekerja pada kami selama belasan tahun, untuk membawa koperku ke kamar.

“Ayo masuk. Nenek baru saja pulang dari kios, dan coba tebak apa yang ia beli? Sekotak es krim! Tentunya kau tidak akan bisa menolak kan kalau panasnya sudah seperti ini?”

-oOo-

“Nenek mana?”

Setelah tungkaiku menapak pada lantai kayu rumah, aku mengedar pandang ke sekeliling demi mencari sosok yang selama ini telah membesarkanku dan Nana. Aku merindukannya, sungguh. Dua tahun sudah kami tak bersua.

“Di dapur, kurasa sedang membuat pie. Duduklah dulu, kurasa kita harus memberinya kejutan, secara ia berpikiran kalau kau baru akan kemari besok,” jawab Nana sambil terkikik.

Aku pun melempar senyum ke arahnya, dan memilih untuk mengistirahatkan kaki dengan duduk di sofa ruang tengah. Pandangan ku alihkan ke arah dapur yang terbatas oleh sekat, dan dari celahnya dapat kulihat bayangan dua wanita yang sedang mengobrol.

Kukira Nenek sedang bertukar cengkerama dengan Liz, sampai tahu-tahu saja juru masak itu menampakkan diri, masuk ke dalam rumah lewat pekarangan belakang.

Lalu, siapa yang ….

“Oh? Wonwoo?”

Belum sempat aku memikirkannya lebih lanjut, mendadak sosok berwajah penuh kerut namun ramah itu sudah berada pada ambang dapur. Sepasang manik biru terangnya membola, diikuti dengan lengkung bibir mengembang yang semakin membuat keriput itu mendominasi.

“Oh, ya ampun! Kenapa tidak bilang kalau pulang hari ini?!”

Spontan tubuhku berdiri, dan wanita itu langsung menghambur ke arahku layaknya seorang anak kecil. Dalam hitungan sekon, kami sudah berpelukan. Saling mendekap, melepas rindu yang menyelimuti kami selama ini.

Masih dalam posisi yang sama, tahu-tahu saja di ambang dapur muncul sesosok gadis—

Tunggu dulu.

Aku tidak tahu apakah aku sedang berhalusinasi atau memang ada yang salah dengan indra penglihatanku, namun berapa kali pun aku mengerjap, tetap saja wajah gadis itu tak kunjung berubah. Cukup lama kami berpandangan, hingga gadis itu membuka suara.

“Wonwoo?”

Ah, jadi memang benar.

Dia orang yang kukenal.

-oOo-

Lebih dari setengah tahun kami tak  bertemu.

Sosok gadis yang katanya mengalami cedera dan menghilang begitu saja, tahu-tahu muncul di kediaman milik nenekku. Bila kutilik dari cara berjalannya yang sedikit timpang, mungkin berita tentang cedera itu memang benar.

Sekarang, di sinilah kami berdua. Duduk bersebelahan di sebuah padang rumput luas yang berbatasan langsung dengan sebuah sungai, letaknya tak jauh dari rumah Nenek.

“Jadi … sekarang sudah masuk libur musim panas?” Sebuah senyum kikuk dipasangnya,terlebih ketika aku tak menyahutkan jawaban. “Ah, tidak terasa, ya?”

Jujur saja, ada banyak hal.

Ada banyak hal yang ingin kupertanyakan pada Eunha.

Perjumpaan ini adalah sesuatu yang tidak disangka, dan tentunya kegugupan ini bukanlah sesuatu yang dapat kusembunyikan baik-baik. Mungkin diam ini juga bukan sebuah pilihan bagus, lantaran paras Eunha jelas sekali memampangkan bingung.

“Won? Kau tidak apa—”

“Kenapa kau bisa di sini?”

Ugh, dasar bodoh.

Itu sama sekali bukan kata-kata yang tepat untuk membuka konversasi. Namun, Eunha hanya melebarkan kedua manik kelerengnya sejenak, sebelum kurvanya mengukir lengkung.

“Rumahku ada di sana, di balik pepohonan itu, kaulihat?” ujarnya seraya menunjuk ke satu arah, ke sebuah rumah mungil berpagarkan kayu. “Rumah itu sengaja dibeli ayahku, jika sewaktu-waktu kami berlibur ke sini. Sejak beberapa bulan lalu, aku memutuskan untuk menempatinya sementara. Karena cukup sepi di sini, aku mencoba berbaur dengan tetangga-tetangga yang ada.”

“Seperti nenekku?”

“Lebih tepatnya Nana,” jawabnya kembali mengulas senyum. “Barulah setelah itu Nana mengenalkanku pada nenekmu. Sejak itu, aku sering datang berkunjung, entah untuk sekadar menghabiskan waktu atau membantu sekalian.”

Panjang lebar Eunha menjelaskan, namun aku tak dapat menemukan kata balasan yang tepat selain, “Oh, begitu.”

Setelah itu suasana kembali canggung, tak ada dari kami yang kembali mengajukan topik untuk membuka percakapan. Hening kembali datang, sementara awan juga mulai menyelimuti hangat cahaya mentari. Kami pun masih terduduk di tanah berlapiskan rumput hijau tebal, dengan bunga-bunga kecil yang mencuat di beberapa titik serta pemandangan jernihnya air sungai.

Meskipun seindah itu, aku tak dapat berhenti memikirkan perkataan Xiao waktu itu soal Eunha. Pantaskah aku bertanya, jikalau hal itu memang benar adanya dan telah menorehkan luka pada perasaan Eunha?

Rasa kuriositas ini memang menyebalkan rupanya.

“Jadi …, apa berita soal cedera kakimu itu … memang benar?”

Aku berusaha memelankan suara, takut-takut bila Eunha terkejut dengan lontaran pertanyaanku atau tersinggung. Memang untuk sesaat ia terbelalak, mengajukan pandangan layaknya, ‘Kenapa kau bisa tahu?’

“Apa … beritanya menyebar luas?”

“Oh, tidak, tidak!” jawabku buru-buru. “Xiao sudah mewanti-wantiku supaya tetap tutup mulut, dan tentu saja aku menurut secara aku tahu tidak ada orang yang suka dijadikan bahan gosipan.”

Eunha mengembuskan napasnya yang sempat tertahan, pertanda bahwa ia merasa lega. “Terima kasih, kalau begitu.” Sambil mematok pandang pada sungai di depan kami, ia melanjutkan, “Well, kurasa untuk ukuran cedera, enam bulan itu bukan waktu sebentar juga, kan?”

Aku mengangguk, cukup membenarkan ucapan Eunha. “Hanya saja kalau memang sudah menyangkut kesehatan, bukankah itu wajar? Um, maksudku … bukankah istirahat adalah pilihan yang terbaik?”

“Begitulah.” Pandangan Eunha berubah kosong dalam sekejap, seakan ada sesuatu yang tiba-tiba menggeluti pikirannya.

Mencoba untuk tidak berpikiran negatif, aku kembali bertanya, “Kapan kau akan kembali?”

“Ke Juilliard maksudmu?” Terjadi jeda sejenak, sebelum akhirnya Eunha melanjutkan, “Kalau itu … kurasa aku tidak akan kembali lagi.”

Aku tahu kalau mataku ini hanya segaris, semua orang pun berkata demikian, namun aku yakin kali ini bentuknya telah berubah menjadi bulat sempurna. “Ke—Kenapa?”

“Apa kau selalu banyak bertanya seperti ini?”

“Bukan begitu maksudku, hanya saja ….” Buru-buru aku berusaha menimpali, namun sialnya tak kutemukan jawaban yang tepat.

“Apa?”

“Bagaimana dengan … cita-citamu? Impianmu selama ini?”

Raut Eunha berangsur murung, seiring dengan terpejamnya kelopak mata dan helaan napas yang lolos. “Kumohon hentikan—”

“Berkali-kali kau menerima penghargaan sebagai penari balet kontemporer terbaik, itu berarti kau memiliki bakat—”

“Bakat, huh?” Tahu-tahu vocal Eunha meninggi, disertai dengan pandangan menusuk yang jelas terarah padaku. “Sekarang aku ingin bertanya padamu, apa gunanya bakat itu bila sudah tak ada lagi alat untuk mengembangkannya?”

Sejemang kami berdua bungkam. Aku masih tak dapat menerka apa maksud dari kata-katanya itu, hanya dapat menatap sang gadis yang tiba-tiba beranjak dan melangkah menjauh. Spontan, aku pun ikut berdiri dan mengejarnya.

“Apa maksudmu? Tidak ada alat …?”

Langkah Eunha terhenti. Tubuh gadis itu berbalik kemudian menjerit, “I can’t dance anymore, okay?!”

Sekon berikutnya, terisaklah ia. Air mata terus mengalir turun dari kedua pelupuk Eunha, membanjiri pipinya tanpa henti. Kentara sekali kalau gadis itu berusaha menahan tangis, secara tangannya berkali-kali mengusap likuid itu.

“Kau tahu apa yang terjadi setengah tahun yang lalu? Kukira itu hanya cedera biasa, Won. Kukira, aku hanya butuh waktu untuk rehat sejenak agar kondisiku bisa pulih. Tapi … tapi ….” Kata-kata Eunha terhenti sejenak. Napasnya kini telah berubah tak beraturan.

Ya ampun, apa yang telah kuperbuat?

“Tapi …?”

“Tapi, kenyataannya kakiku akan menjadi cacat permanen ….”

Jelas sekali terdengar nada pilu saat Eunha mengucapkan kalimat terakhir.

Dalam beberapa sekon saja, keheningan telah mengambil alih kembali. Bohong jika kini aku tak dilanda rasa panik habis-habisan. Aku ingin menenangkan, namun bibirku seolah terkatup rapat dan bahkan aku tak dapat menemukan suaraku di mana.

Akhirnya, ia berlari.

Mungkin, aku memang sudah keterlaluan karena banyak mengungkit soal hal-hal yang menyebabkan kepahitan dalam hatinya. Terbukti dengan sosoknya yang menjauh dan meninggalkanku sendirian, lengkap dengan air mata yang menyertai kepergian—

Oh, tunggu.

Tunggu dulu.

Apa aku baru saja melihat Eunha berlari setelah tadi ia menunjukkanku cara berjalan yang timpang?

-oOo-

Dua hari terlewat semenjak kejadian itu.

Selama itu pula aku tak merasakan eksistensi Eunha, kendati menurut Nana akhir-akhir ini Eunha hampir setiap hari berkunjung. Namun setelah peristiwa itu terjadi …, jangankan berkunjung, menampakkan wajah pun tidak.

Aku tidak akan bertanya pada diri sendiri apakah aku telah berbuat salah, apakah presensiku sudah mengusik ketenangannya atau tidak, walaupun sejujurnya aku pun tak tahu. Satu hal kupikirkan selama dua hari berturut-turut, benarkah Eunha berkata jujur kala itu?

Maksudku, apa kakinya sungguh ….

Ah, sudahlah. Tak ada gunanya juga larut dalam kecemasan berlebih, terutama tujuanku kemari adalah benar-benar untuk liburan sekaligus melepas penat dari kesibukan kuliah.

Merasa bosan tatkala tak ada satu pun hal untuk dikerjakan, kakiku menapak keluar dari kediaman. Sudah dua hari sejak aku tiba di tempat ini, namun belum kujelajahi setiap keindahan lingkungan ini. Maka dari itu, berkeliling selama satu dua jam kukira merupakan pilihan yang bagus untuk sekarang.

Sepasang kakiku terus berayun tanpa arah, tak peduli ke mana aku melangkah. Sebenarnya, pikiranku tertuju pada sungai yang sempat kudatangi kemarin. Mungkin tak ada salahnya bila mengikuti alur sungai, siapa tahu bisa membawaku ke tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya.

Namun ketika langkahku hendak membelok, penglihatanku menangkap sesuatu di antara pohon-pohon. Bukan, bukan pepohonan menjulang itu yang kumaksud, melainkan sebuah pergerakan. Dan … apa aku baru saja melihat sepasang tungkai yang tampak meloncat dari sela-selanya?

Lagi-lagi, kuriositas ini mendominasi.

Alih-alih berjalan turun menuju sungai, aku mengambil langkah cepat menyusuri jalan bebatuan di hadapanku. Tanpa ada keraguan lagi, aku terus mendekat dan mendekat. Sedikit mulai tampak sang penghasil gerakan, dan kujamin bahwa mataku sama sekali tak sanggup berkedip.

Hingga pada akhirnya, satu langkah lagi kutambahkan. Kini, ia telah terlihat sepenuhnya.

Dari kejauhan, di beranda luas sebuah rumah berkayu, terlihat tubuh sosok itu memutar cepat, sempat melompat dan kemudian melakukan pendaratan yang semulus bulu jatuh. Teknik baletnya sempurna, halus, dan terkendali. Setiap langkahnya pun detail, bahkan tak ada cela pada gerakan tangan dan kakinya.

Padahal, sama sekali tak ada musik yang mengalun. Tetapi, harus kuakui bahwa emosinya jelas sekali tersampaikan. Emosi hatinya. Jiwanya. Perasaannya.

Gadis itu bergerak begitu saja, seolah mengikuti kebebasan yang memaksa untuk keluar dari kungkungan belenggu.

Tidak heran kalau ia selalu menjadi yang nomor satu, bukan?

Tanpa keraguan, tungkaiku membawa tubuhku semakin mendekat. Yang menjadi fokus pandangku masih tak sadar akan keberadaanku, hanya terus menari dan menari. Sampai pada akhirnya kuputuskan untuk buka suara, karena aku telah mengetahui satu hal yang pasti.

You can’t dance anymore, eh?”

Ia tak mengatakan yang sebenarnya pada waktu itu.

-oOo-

Kami berakhir duduk kembali pada rerumputan tebal di tepi sungai, persis seperti dua hari yang lalu.

Suasananya pun masih sama, hanya saja kali ini goresan jinggalah yang menguasai langit. Matahari telah berada di ufuk barat, hendak menuntaskan pekerjaannya selama satu hari penuh.

Kulirik Eunha yang berada di sampingku, wajahnya terkena paparan sinar senja hingga mengukirkan sebuah siluet yang membuatnya tampak cantik sekali.

“Maafkan aku karena tidak jujur,” ujarnya hampir berbisik, masih mempertahankan tatapan kosongnya. Mungkin karena sadar telah diperhatikan, maka dari itu tahu-tahu ia bersuara.

“Aku juga minta maaf karena hampir membuatmu terjungkal tadi.”

Ini benar-benar konyol, lantaran aku tak punya maksud untuk membuat Eunha mengalami cedera untuk yang kesekian kali. Beruntung tangannya sigap, sehingga ia dapat berpegangan pada pembatas kayu beranda.

“Tidak apa-apa, itu sama sekali bukan kesalahanmu.”

“Eh?”

Sebuah senyum simpul ia lontarkan, kemudian diikuti dengan ucapan, “Akulah yang terlampau menjadi pengecut.”

Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku. Aku tidak tahu ini semacam firasat atau apa, namun aku takut berbicara. Lebih tepatnya, aku takut salah bicara, seperti yang terjadi tempo hari. Jujur, isakan itu sempat membuatku panik setengah mati. Pikiranku dilanda kebingungan hebat, hingga tak ada lagi yang dapat kulakukan selain diam dan bungkam layaknya patung.

“Apa tadi kau sudah berdiri di sana cukup lama?” Ketika sebuah anggukan pelan kuberikan, tawa getir pun lolos dari bibirnya. Lantas Eunha melanjutkan, “Aku benar-benar minta maaf karena sudah berteriak padamu. Sebenarnya, aku sendiri pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku, secara semua ini terjadi begitu cepat. Aku … aku merasa ….”

Sedikit kutolehkan kepalaku ke arahnya, kemudian menyahut, “Merasa apa?”

“Mungkin … benci terhadap diriku sendiri?”

“Apa?”

“Aku tak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya,” ujarnya kembali. “Bahkan orang yang paling kupercayai sekalipun, ia meninggalkanku dengan begitu mudahnya usai kecelakaan dalam ujian itu terjadi.”

Seketika terbentuk kerutan di keningku, kemudian kembali memelankan suara dan bertanya dengan hati-hati, “Apakah dia … keluargamu?”

Sembari menekuk dan memeluk kedua lututnya, ia menjawab, “Aku tidak punya keluarga, Won.”

“Eh? Tapi … kemarin kau mengatakan kalau rumah itu ….”

“Dibeli oleh ayahku?” Eunha menatapku sejemang, kedua alisnya terangkat. “Memang benar, tetapi ia bukan ayah kandung. Lagi pula, ia tak pernah benar-benar menjadi sosok seorang ayah bagiku. Hidupnya penuh dengan kerja, proyek dan bisnis,” ucapnya lancar, seakan kalimat itu sudah benar-benar terpaku pada benaknya. Kedua sudut bibir Eunha berjungkit kecil, kemudian ia melanjutkan, “Yang kumaksud di sini adalah Jeon Jungkook, Won.”

“Oh, Jeon Jung— Eh? Apa?” Bagaikan orang bodoh, aku hanya bisa menganga lebar saat lontaran Eunha menggapai runguku.

“Ya, setelah cedera itu, dokter mengatakan kalau kemungkinan besar kakiku akan menjadi cacat permanen. Jungkook adalah orang pertama yang kuberi tahu soal ini, namun coba tebak apa responsnya?”

“Ia langsung … meminta untuk mengakhiri hubungan kalian saat itu juga? Uh …, maafkan aku kalau salah, aku tak bermaksud—”

“Tidak, tidak apa-apa,” sahutnya buru-buru. “Aku malah akan merasa lebih baik jika ia seperti itu. Sialnya, ia memilih cara yang lebih sadis, kau tahu?”

“Maksudmu?”

“Saat aku memberitahunya, ia memelukku erat. Ia berkata, semuanya akan baik-baik saja. Ia berkata, ia akan selalu berada di sisiku. Namun, sebulan kemudian, aku mendapati bahwa semua kata-kata manisnya itu hanyalah bualan belaka. Omong kosong dengan janjinya yang tak akan meninggalkanku, eh? Itu pun karena aku memergokinya berkencan dengan gadis lain. Saat itulah ia baru mengaku, kalau ia tak tahan bila harus hidup dengan seorang penyandang cacat.”

Oh, luar biasa sekali.

Sangat luar biasa, sehingga aku tak dapat menahan dengus kesal ini lagi, lengkap dengan letupan amarah yang telah meledak-ledak di dadaku. Laki-laki macam apa dia itu?

Sejujurnya, jika saja tak ada lapisan bening yang tahu-tahu menyelimuti bola mata Eunha, sudah kupastikan kalau sekarang aku sudah naik kereta kembali ke New York untuk mendatangi apartemen Jungkook dan mengahabisi pemuda itu di tempat.

Ah, tidak. Itu berlebihan.

Maksudku, kurasa emosi terhadap lelaki satu itu sudah tidak penting untuk sekarang, karena nyatanya Eunha kembali terisak. Lagi.

Jeon Jungkook dan diriku sendiri yang tak dapat berbuat apa-apa tatkala Eunha menangis, aku benar-benar membenci keduanya.

Pada akhirnya, aku hanya bisa mendaratkan tepukan ringan beruntun di punggungnya. Berusaha menenangkan kurasa menjadi satu-satunya pilihan untuk saat ini, meskipun aku tak pernah yakin bahwa cara ini akan berhasil. Namun beruntung, isakan Eunha agak mereda setelahnya.

Ketika diriku masih berusaha mencari kata-kata yang tepat, tiba-tiba Eunha berkata, “Apa aku keterlaluan karena menangisi lelaki berengsek sepertinya?”

“Menangis karena patah hati itu wajar, Eunha-ya, tapi alih-alih menangis, kenapa kau tidak bersyukur saja? Maksudku, setidaknya lewat ini semua kau jadi tahu kalau lelaki yang awalnya kaupercayai itu ternyata cukup sialan juga, dan pastinya itu juga merupakan tanda bahwa ia bukanlah orang yang cukup baik untukmu.”

Sontak Eunha membelalak ke arahku, dan aku yakin kalau wajahku juga serupa. Hei, dari mana kudapatkan kata-kata tadi?

Namun tanpa disangka, aliran likuid itu terhenti seketika, digantikan dengan sebuah dengus tawa. Memang tidak terlalu kentara, tetapi barang sedikit dengan senyumnya yang mengembang, aku bisa tahu kalau perasaannya telah membaik.

“Terima kasih, Wonwoo-ya,” ujarnya.

Setelahnya, terjadi jeda di mana kami berdua sama-sama terdiam. Baru setelah lewat beberapa sekon, aku kembali melirik Eunha sambil berujar, “Well, jadi kurasa kau tidak perlu sampai membenci dirimu sendiri hanya karena masalah lelaki itu, kan?”

Senyuman itu tahu-tahu luntur. Sempat ia mengulum bibir sejenak, sebelum pada akhirnya termanggut kecil sambil melanjutkan, “Ya, kurasa begitu.”

“Lalu … bagaimana dengan … Juilliard? Apa kau telah memutuskan untuk kembali, atau ….”

“Kalau itu, aku masih tidak tahu,” jawab Eunha cepat. “Entah mengapa, sejak dokter menyatakan ada kemungkinan bahwa aku akan menjadi cacat permanen, rasanya … seakan ada sesuatu dalam diriku yang membuatku tak dapat merasakan ketenangan hidup. Seolah tak ada kedamaian lagi dalam kamus harianku, terlebih karena aku tak dapat melawan monster yang tinggal dalam otak ini. Entah kenapa, aku hanya … hanya ….”

Butuh hampir satu menit penuh bagi Eunha untuk menemukan kata-kata yang tepat. Hingga satu menit tepat terlewat, ia mengembuskan napas panjang dan menyerah. Barangkali, benaknya memang sudah terlalu lelah untuk berpikir, sehingga mengalihkan fokus terhadap sesuatu yang lain bukan lagi merupakan pilihan, namun bisa jadi ketidaksengajaan karena terbuai.

“Apa kau takut?”

Seketika, netra Eunha yang melebar mengarah kepadaku. Dilanjutkan dengan menelengkan kepala dan munculnya sebuah kernyitan pada dahi, ia pun menimpali, “Mung—Mungkinkah?”

Aku tidak menyalahkannya kalau ia tidak tahu. Pada nyatanya, memahami diri sendiri memang tak selalu semudah yang terlihat.

“Kau takut, Eunha-ya ….”

Sedikit ia menunduk, bola matanya kini berpindah fokus pada rerumputan di sampingnya. Pandangan Eunha terlihat kosong, tepat ketika ia mengedikkan bahu singkat. “Barangkali kau benar, secara dokter juga mengatakan hal yang bisa membuat siapa pun mengalami depresi akut.”

Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Aku mengerti. Aku benar-benar mengerti sekarang.

“Eunha?”

“Hm?”

“Kaulihat padang yang penuh dengan bunga dandelion itu?”

Eunha lekas mengangkat kepala, kelopaknya menyipit ke arah yang kutunjuk. Perlahan namun pasti, ia termanggut-manggut. “Ya, memangnya kenapa?”

“Menurutmu, bunga dandelion itu seperti apa?”

“Eh?” Sejemang terbentuk kerutan di antara kedua alisnya. Mencoba tuk menerka, akhirnya Eunha menjawab, “Um, bunga yang rapuh?”

“Kenapa kau bisa berkata begitu?”

“Karena jika kepala bunganya ditiup atau terkena terpaan angin, maka benih yang awalnya melekat di sana akan terbang semua, kan?”

Mendengar jawaban Eunha, aku pun mengangguk. “Memang benar. Terlihat sangat rapuh malah. Namun, apa kau tahu kalau dibalik kerapuhannya, ada setitik kekuatan yang tersembunyi?”

Hening melanda, dan tak ada sepatah kata pun yang Eunha lontarkan. Karena ia masih memampangkan raut kebingungan, maka aku melanjutkan, “Jika dilihat dari luar, bunga dandelion itu indah dan rapuh, Eunha. Namun, sebenarnya ia juga kuat. Kuat dalam mengikut arah angin, juga kuat dalam menghidupi dirinya sendiri di tempat-tempat yang telah ditentukan oleh angin. Tidak sedikit dari benih-benih itu yang jatuh di tempat ekstrim dan hanya mendapat beberapa tetes air hujan, namun mereka tetap berjuang untuk tumbuh. Pada akhirnya pun, mereka benar-benar tumbuh dan memulai kehidupan yang baru.”

Raut Eunha masih tak berubah. Manik kelerengnya tetap memandangku penuh tanya, kemudian tahu-tahu ia menimpali, “Apa kau sedang membuat sebuah analogi?”

Dengan seulas senyum yang spontan terpasang, aku mengangguk. “Ya, karena kau bisa menjadi dandelion itu, Eunha-ya. Kau terus mengatakan bahwa kau takut. Tetapi, kau masih menari, kan? Kau masih hafal setiap detail yang kaupelajari, bahkan setiap gerakanmu terlihat menakjubkan, kau tahu? Apa lagi yang kautakutkan?”

“Dokter mengatakan kalau ada kemungkinan kakiku akan cacat perma—”

“Itu hanya kemungkinan, bukan sesuatu yang pasti,” tegasku. “Lagi pula, kenapa kau harus memercayai kemungkinan itu ketika nyatanya kau dapat menari dengan sempurna? Masih ada juga kemungkinan bahwa kakimu akan baik-baik saja, kan? Barangkali presentasenya tak besar, tapi harapan itu tetap masih ada, Eun. Kau bisa percaya pada dirimu sendiri, sama seperti dandelion yang selalu percaya kalau ia akan bisa bertahan ke mana pun angin membawanya.”

“Lalu bagaimana kalau aku jatuh ke dalam lubang yang sama? Bagaimana kalau aku tidak lulus ujian lagi, atau cedera lagi dan kakiku menjadi semakin parah?”

“Kalau begitu, berusahalah sebisa mungkin agar kau tidak mengalaminya lagi, Eunha-ya,” timpalku. “Masa lalu adalah pelajaran, bukan halangan untuk terus maju dan meraih impianmu.”

Suasana yang melingkupi kami kembali hening. Hanya ada semilir angin yang menerpa kulit, diikuti dengan bunyi gemerisik ringan pepohonan.

Namun yang terjadi setelahya, adalah bulir air mata yang turun dari pelupuk Eunha. Kepalanya menunduk, seiring dengan isakan yang kembali menguar. Kali ini lebih keras, namun tak mengapa. Setidaknya aku tahu, bahwa isakan ini bukanlah isakan kesedihan, melainkan karena adanya rasa lega yang membuncah.

Tanganku mengusap kepalanya pelan, dan kembali berujar, “Aku tahu kalau menari itu adalah hidupmu. Aku tahu kalau kau menghabiskan sepanjang masa kecilmu untuk menari, bahkan sampai sekarang. Maka dari itu, jangan pernah menyerah, Eun. Jangan pernah, oke?”

Isakan Eunha tak berhenti, namun anggukan mantapnya berhasil membuatku terkekeh. Kalau sudah begini, aku tak dapat berbuat apa-apa selain merangkul Eunha erat serta mengusap-usap bahunya.

Aku tahu, mungkin Eunha masih belum sekuat dandelion. Mungkin juga, setelah ini akan masih ada beberapa ketakutan yang harus dihadapinya.

Namun, tidak mengapa. Karena aku, Jeon Wonwoo, telah mengatakan kalimat-kalimat tadi bukannya tanpa alasan. Aku tidak hanya menceramahinya soal ini dan itu, kemudian membiarkannya berjalan sendirian di tengah bebatuan runcing.

Aku akan menuntunnya.

Aku akan melindunginya.

Kendati kata ‘cinta’ tak akan sebegitu mudahnya terucap dari bibirku (apalagi Eunha), namun yang terpenting gadis itu terlepas dari belenggu kecemasannya. Ia akan menjelajah angkasa bagaikan benih dandelion yang dibawa terbang oleh angin, serta bertahan melalui setiap rintangan yang ada. Maka, saat itulah ia akan menjadi gadis kuat yang tak kenal menyerah, yang dapat meraih impian terbesarnya selama ini.

Dengan begitu pun, aku bisa menatapnya bangga tatkala kebahagiaan itu telah ia raih.

“Terima kasih, Wonwoo.”

Karena pada dasarnya, sederhana saja.

Eunha bahagia, aku pun bahagia.

fin.
-oOo-


Dandelion means happiness and a promise of total faithfullness.

*Fouette : berputar dengan satu pijakan kaki di lantai

Advertisements

2 thoughts on “[Flowers of Life] Dandelion

  1. Pingback: [Flowers of Life] Elderflower | ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: [Flowers of Life] Forget Me Not | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s