L’Acte D’Aimer Un Vampire

lacte-daimer-un-vampire-limmy-ya-1.png

L’Acte D’Aimer Un Vampire

poster by Limmy-ya

story by Rosé Blanche

Hwang Inho [BOYS24] & Crimson Boudreaux [OC]

Dark, Fantasy, Romance

PG

Oneshot

.

warning!SELF-CANNIBALISM

 .

Semua bermula dari sebuah malam. Malam yang dipenuhi oleh tangis duka penduduk, akibat putra mahkota kerajaan yang tewas mengenaskan dengan leher tercabik bersimbah darah.

“Pasti ulahmu! Siapa lagi yang akan mengisap darahnya sebrutal itu kalau bukan kau?!”

Tentu Crimson sempat mengelak. Sayang sekali, sang ayah tak percaya. Memang bukan sepenuhnya salah pria tua itu menuduh Crimson atas kematian orang penting kerajaan mereka, lantaran dugaan warga pastilah sama.

Tentu hal itu akan membawa marabahaya bagi kaum mereka apabila tidak cepat bertindak. Ribuan penduduk yang mengamuk bisa menjadi sangat mengerikan.

Terlahir dalam kelompok makhluk bertaring pemangsa darah memang tidak menguntungkan. Ditambah lagi, kaumnya selalu menjadi kambing hitam nomor satu tiap kali ada warga yang tewas secara abnormal.

Sialan.

Tangis Crimson pecah, beradu dengan suara hujan dalam gulita malam. Terusir dari kediaman, kehilangan lelaki yang selama ini menjadi tempatnya diam-diam menaruh hati, tidak lagi dipercaya oleh sang ayah, semuanya bersatu padu menimbulkan pilu.

Crimson hanya berlari dan terus berlari, menerjang rintik-rintik air yang tak kunjung berhenti.

Kini, Crimson benar-benar tak tahu apa yang harus ia perbuat. Ayunan tungkainya berangsur-angsur melambat akibat kelelahan, tubuhnya pun menggigil. Tak heran bila tubuhnya begitu lemah, lantaran selama ini Crimson hanya memangsa darah hewan.

Mengingat-ingat semua itu membuat Crimson tersenyum pahit, lantas bergumam, “Dasar bodoh.”

Memutuskan untuk berhenti mengonsumsi darah manusia setelah jatuh cinta dengan pangeran merupakan hal terkonyol, lantaran cintanya sama sekali tak berbalas. Kini, bahkan mereka telah berada pada dua alam yang berbeda.

Semuanya toh berakhir menyedihkan.

Tiba-tiba angin berembus kencang, membuat tubuh Crimson oleng dan kehilangan keseimbangan.

Akh!”

Pekikan tersebut disusul dengan tubuhnya yang menghantam pohon. Crimson mengaduh kesakitan, tepat ketika kedua maniknya menangkap sinar cahaya kecil.

Ah, rupanya sebuah rumah.

Tahu-tahu saja, daun pintu rumah itu terbuka. Belum sempat Crimson melihat jelas wajah sosok itu, tiba-tiba pandangannya memudar.

Lalu gelap.

-oOo-

“Jadi … namamu Crimson?” tanya sang pemuda dengan raut penuh selidik. “Bagaimana? Sudah merasa baikan?”

Crimson berhenti menyeruput tehnya yang masih panas usai siuman. “Tentu. Terima kasih untuk bantuannya, Inho.”

Setelah berkenalan, pemuda itu terus menatap Crimson lekat-lekat, seakan tak berniat untuk mengalihkan pandang barang sekali pun.

Dibuatnya Crimson salah tingkah, lantaran senyum sang pemuda begitu memikat. Kalau saja ada yang mengatakan padanya bahwa senyuman itu telah meluluhkan hati ratusan gadis, Crimson akan percaya dengan mudah.

Tunggu sebentar, apa yang ia pikirkan?

“Jadi, apa yang membawamu ke sini, Crimson?”

Tak ingin masalahnya dikorek-korek, ia bergumam, “Hanya tersesat.”

“Kenapa bisa tersesat?”

“Karena aku berlari tanpa arah setelah diusir dari rumah oleh ayahku, dan tolong jangan bahas ini lebih lanjut. Kumohon?”

“Ah, maaf.”

Crimson menggeleng pelan. Sebagai usaha mengalihkan pikiran, Crimson memandangi sekelilingnya. Sebuah ruang yang dipenuhi oleh jajaran rak berisikan beraneka ragam toples, dengan berbagai isi yang berbeda pula.

Tiba-tiba sebuah ingatan muncul, tentang bagaimana Inho membubuhkan obat tabur pada bahunya beberapa menit lalu.

“Kau dokter?”

“Bukan, aku meramu obat-obatan dan menjualnya. Terkadang keluarga kerajaan membayarku untuk bekerja pada mereka, namun bukan sebagai peramu obat tetap istana.”

“Orang-orang memberi tahu penyakit mereka padamu dan kau merekomendasikan obat yang tepat?”

“Ya.”

Crimson mencebik. “Itu namanya dokter.”

“Apoteker, Nona,” balas Inho tertawa pelan. Tahu-tahu, pemuda itu beranjak dan melangkah mendekat pada Crimson. “Ini sudah malam, sebaiknya kau menginap.”

Crimson mengangguk, kemudian mengikuti Inho yang hendak menunjukkan letak kamarnya.

“Aku hanya mempunyai satu kamar, jadi kau saja yang tidur di sana. Apa kau keberatan tidur di kamar pria?”

“Tidak,” jawab Crimson cepat. “Kau tidur dimana?”

“Ruang tengah.” Inho membuka sebuah pintu yang terletak di ujung ruangan, menyuguhkan pemandangan sebuah kamar sederhana pada Crimson. “Istirahatlah. Panggil saja kalau butuh bantuan.”

Sekali lagi Crimson mengangguk, dan melangkah masuk ke dalam ruangan usai mengucapkan terima kasih.

“Omong-omong, besok kau mau sarapan apa?”

Darah.

Konyol, Crimson tahu itu bukan jawaban yang tepat lantaran pemuda itu bisa saja lari pontang-panting bila tahu bahwa ia telah membiarkan seorang vampir menginap di kediamannya.

“Apa saja boleh,” ujar Crimson, lebih memilih jawaban aman.

-oOo-

Crimson tidak tahu bahwa dua bulan bisa terlewat begitu cepat. Pemuda itu mengatakan bahwa ia bisa menetap selama yang ia mau. Orang yang baik, pikir Crimson.

Omong-omong soal menetap di rumah Inho, di hari pertama Crimson mendapati bahwa perkiraannya selama ini salah.

Makanan manusia ternyata tidak seburuk dugaannya. Malahan, ia merasa lebih baik ketimbang harus mati-matian berburu di hutan namun tubuhnya tetaplah lemah. Maka, kebiasaan keluar saat tengah malam untuk memutari belantara gulita demi mencari darah pun telah lenyap.

“Crimson?”

Sang pemilik nama berpaling, memasang wajah bertanya pada Inho yang tengah merapikan buku-buku jurnal pada nakas usai membaca.

“Sore ini aku kedapatan tugas lagi. Jadi pagi ini kau bisa sarapan tanpaku karena aku harus mengunjungi Paman Lee untuk berdiskusi, karena jujur saja aku belum pernah menangani kasus pneumonia.”

Crimson mengangguk, lalu Inho melanjutkan, “Aku tidak akan pulang malam ini, mungkin paling cepat besok. Oh, dan satu lagi, jangan lupa—”

“—kunci pintunya. Ya, aku mengerti.”

Inho tertawa sekilas melihat Crimson yang mengulum senyum, kemudian mengambil tas kulitnya. “Kalau begitu aku pergi dulu. Sarapanmu sudah kusiapkan di meja makan.”

Bersamaan dengan menghilangnya Inho di balik pintu, Crimson beranjak dari tempatnya, berjalan menuju ruang makan dan melahap seisi mangkuknya dalam hitungan menit hingga habis tak bersisa.

-oOo-

Entah karena takdir yang sedang tak berpihak atau apa, pagi ini Crimson serasa mendapat petaka baru yang seakan menyambarnya bagai petir dari badai terhebat sepanjang masa.

“Kenapa kau syok sekali? Tutuplah mulutmu, Nona. Tidak pantas seorang wanita menganga lebar seperti itu.”

Mendengar itu, emosi Crimson melonjak. “Bagaimana aku bisa tidak syok jika kemarin aku berpikiran bahwa kau turun ke desa, menyembuhkan orang yang sekarat namun pada akhirnya kau yang pulang dengan keadaan sekarat?”

“Aku tidak sekarat, aku baik-baik sa—”

“Baik-baik saja?” tanya Crimson sarkatis. “Kau bilang kau baik-baik saja sedangkan kakimu hilang satu akibat diserang beruang ….”

Kalimat Crimson menggantung bersamaan dengan munculnya kilauan di mata, membuat satu helaan napas lolos dari bibir Inho.

“Sudahlah, jangan menangis. Lagipula saat itu aku beruntung karena ada Paman Lee. Ialah penyelamatku, dan kakiku juga sudah dirawatnya dengan baik. Kau tidak usah khawatir, dan sekarang lebih baik kita sarapan.”

Crimson kesal, tapi memilih tak melawan. Sembari berusaha menenangkan diri, Crimson mulai menyendok supnya tanpa ingin menatap Inho.

Entah mengapa Crimson menjadi secemas ini, dan rasanya begitu pedih ketika ia mengetahui fakta tentang kaki pemuda itu.

“Sup dagingnya enak?”

Crimson mengangguk, membuat sang koki tersenyum. Namun, mendadak Crimson tersentak.

Kedua maniknya melebar, dan ditatapnya sekali lagi sup itu. Disendoknya sepotong daging yang telah masak, sedang fokus pandangnya mengamati. Crimson memasukkan daging itu ke dalam mulut.

Detik itu juga, ia benar-benar tersadar. Kendati kebiasaan ini sudah ia tinggalkan sejak lama, seharusnya ia tidak lupa. Meski lidahnya lama tak menyentuh, seharusnya ia masih mengenali rasanya.

Ini darah dan daging manusia.

Napasnya kini sesak, akibat rasa takut yang tiba-tiba datang.

“Inho, ini apa?”

Yang ditanya terdiam sesaat menatap Crimson, kemudian berpaling dan melanjutkan kegiatan menyeruput supnya. “Daging domba, kudapatkan saat berburu kemarin.”

Crimson memicingkan mata, ia tidak percaya. Ia tak bisa lagi menahan diri, setelah memikirkan semua yang sudah pasti terjadi selama  dua bulan terakhir. Diletakkannya sendok di samping mangkuk, lalu bangkit berdiri dengan sebuah sentakan.

“Berhentilah berbohong.”

“Apa?”

“Masa bodoh dengan beruang hitam khayalanmu itu! Juga, daging domba kaubilang, huh? Kalau begitu jelaskan padaku sejak kapan dirimu bertransformasi menjadi domba.”

Pemuda itu hanya dapat memandang Crimson dalam diam, membuat gadis itu semakin yakin bahwa semua perkiraannya tepat.

Tidak ada yang namanya diserang beruang hitam. Tidak ada pengobatan oleh Paman Lee. Semua itu hanyalah bualan Inho belaka.

Likuid bening yang tadinya tak jadi turun kini telah lolos. “Kenapa kau melakukannya?!”

Sepertinya sikap Inho menandakan bahwa dirinya tak memiliki niat untuk menjawab barang satu kata pun membuat emosi Crimson semakin memuncak.

“Jelaskan padaku sekarang, untuk apa—”

“CUKUP!”

Tanpa Inho sadari, sebuah bentakan meluncur begitu saja dari bibirnya.

Akhirnya, Inho berdiri. Menyeret tungkainya dengan susah payah ke hadapan Crimson, lantas merengkuh gadis itu dalam kesunyian.

“Maaf karena telah menyentakmu. Dan juga, lihatlah siapa yang bicara di sini. Selama ini kau juga berbohong.”

“Berbohong? Berbohong apa—”

“Tidak usah mengelak, aku tahu kau itu vampir, Crimson!”

Sontak, kedua mata Crimson membulat. Bagaimana bisa?

“Aku tidak sebodoh itu. Aku orang medis, aku bisa membedakan mana yang manusia dan mana yang bukan. Aku pun bisa mengatakan kalau kau sudah lama sekali tidak mengonsumsi darah manusia hanya dari betapa pucatnya wajahmu saat itu.” Sebuah senyuman pun tahu-tahu terulas di bibirnya tanpa sadar. “Dan percayalah, kau pasti akan muntah bila makananmu selama ini tidak kucampur dengan darah.”

Crimson terdiam.

Perlahan rengkuhan itu melonggar, mempertemukan kedua pasang mata yang beradu. Inho melihat jauh di dalam mata gadis itu, terdapat rasa keingintahuan yang sangat besar. Sang gadis ternyata belum sepenuhnya mengerti situasi.

“Dengar, aku minta maaf.” Inho berdeham sejenak, kemudian melanjutkan, “Jujur, aku tahu alasan dibalik tersesatnya kau malam itu di hutan. Malam ketika kau terusir dengan malam tewasnya pangeran adalah sama, benar?”

Crimson mengangguk perlahan, masih tak mengerti.

“Aku minta maaf atas tuduhan yang dilayangkan padamu. Karena pada nyatanya, akulah penyebab tewasnya sang pangeran.”

“Apa?!” pekik Crimson. “Tapi, bagaimana—”

“Karena aku adalah seorang kanibal yang sewaktu-waktu bekerja menjadi peramu obat istana, yang bisa dengan mudah menggapai pangeran kapan saja.” Dengan lembut, diusapnya sebelah pipi Crimson. “Tetapi setelah bertemu denganmu, seorang vampir yang awalnya kupikir konyol karena tidak ingin membunuh manusia … aku mulai mengubah kebiasaanku.”

“Dengan tidak lagi menjadi kanibal?”

“Itu satu hal, lain lagi ketika aku memilih untuk menjadikan diriku sendiri sebagai mangsamu ketimbang mencarikan darah orang lain.”

Crimson mengernyit. “Kau ….”

“Aku frustasi melihat seorang vampir yang begitu lemah hanya karena punya belas kasih terhadap manusia, yang merelakan hidupnya sendiri daripada mengambil sekian banyak hidup orang. Kuakui memang sangat bodoh bagi seorang vampir, tetapi justru itulah yang membuatku tertarik.”

Crimson tak dapat berkata-kata lagi.

“Jujur, aku ingin kau menetap di sini. Tinggal seatap denganku, bertemu setiap hari dan menjalani kehidupan bersama. Namun, aku juga sadar kalau itu egois.”

“Inho ….”

“Mengertilah, ini bukan soal perasaan.”

Alis Crimson berkerut, membuat Inho pada akhirnya melanjutkan, “Dengar, aku masih kanibal. Tetapi, aku tidak mau lagi melukai penduduk, sehingga memangsa apa yang ada pada tubuhku sendiri bukanlah pilihan namun keharusan. Entah sejak kapan kebiasaan ini menjadi kesenangan tersendiri buatku, secara aku juga bisa memberimu asupan sekaligus. Apa sekarang kau paham?”

“Kau gila.” Crimson mengeluarkan tawa pahit tak percaya.

“Ya, aku memang sudah gila. Tetapi setidaknya aku masih punya hati. Aku senang bisa memberikan tubuhku untukmu, namun di satu sisi aku juga tidak mau kau menemukanku tewas suatu pagi nanti akibat terlalu banyak melukai diri sendiri serta kehabisan darah. Karena itulah aku bimbang, apakah harus membuatmu menetap di sini atau pergi.”

Kini, ganti Crimson yang menatap Inho lurus di mata. Memang, untuk sesaat ia sempat ragu. Namun setelah mengingat segala hal yang pernah pemuda itu lakukan padanya, Crimson menepis jauh-jauh perasaan mengganjal itu.

“Aku akan lebih sedih jika meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini.”

“Kenapa?”

Crimson tertawa lirih. “Aku adalah seorang vampir aneh yang tak ingin melukai manusia. Apa menurutmu aku akan meninggalkan seseorang yang sudah memberikanku tempat tinggal saat aku kehilangan rumahku? Seseorang yang telah memberiku makan dengan darahnya setiap hari agar aku bisa bertahan hidup? Seseorang yang … menjadi gila karena diriku sendiri?”

“Aku memang sudah tidak waras sejak awal, itu bukan salahmu.”

“Aku tidak peduli,” sergah Crimson. “Meski pada akhirnya kau akan mengembuskan napas terakhir dalam keadaan mengenaskan, biarkan aku mendampingi sisa-sisa hidupmu. Aku akan menetap di sisimu, Inho, sampai kapan pun.”

Bukan sebuah pertanyaan lagi bila Crimson kini telah luluh. Crimson tahu pemuda itu tidak normal, manusia yang terikat dalam sebuah kebiasaan mengerikan. Tetapi, Crimson juga tahu, Inho adalah orang yang baik.

Kini, ganti Inho yang tak mampu menahan air mata. Membuat Crimson yang melihatnya tertawa, dan langsung membawa pemuda itu ke dalam pelukan.

Tak ada lagi yang perlu disembunyikan.

“Aku mencintaimu, Crimson.”

Bagi Crimson, Inho adalah pemuda gila teraneh yang pernah ia temui. Seorang kanibal yang di saat bersamaan memiliki pekerjaan untuk menyembuhkan orang-orang. Seseorang yang memiliki cara-cara paling tak masuk akal untuk mencintai seorang vampir seperti dirinya.

Tetapi, tetap saja Crimson menyukainya.

Karena dia adalah Inho, manusia dengan mental sadis namun berhati malaikat yang berhasil memikat seorang vampir seperti Crimson dengan pesonanya tersendiri.

fin.
-oOo-

.

.

.

*Self-cannibalism :
kondisi
yang sangat langka, dimana seseorang akan menyakiti atau memakan bagian tubuhnya sendiri

*L’Acte D’Aimer Un Vampire :
The Act to Love a Vampire

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s