Of Friendship and Those Feelings

offriendshipandthosefeelings.jpg

Of Friendship and Those Feelings

story by Rosé Blanche

Park Jaeseok [Golden Child] & Lucia Jung [OC]

Fluff, Friendship, Hurt/Comfort

G

Vignette

.

Satu hal yang dapat ia tangkap, gadis itu hanya takut kehilangan.

.

Banyak yang mengatakan, kalau persahabatan sejati di antara laki-laki dan perempuan itu tidak pernah ada.

Bohong kalau Jaeseok peduli. Namun jika menilik dari masa-masa yang terlewat sepanjang setahun ini, mungkin ketidakpercayaan Jaeseok akan kalimat itu perlahan akan sirna. Memang, awalnya tidak ada apa-apa. Perkenalan kala itu pun biasa saja, sebuah hal yang wajar dilakukan antar teman satu kelas di sekolah dasar.

Namun, yang namanya perasaan itu bisa bermetamorfosis, kan?

Begitu pula Jaeseok. Entah sejak kapan, perhatiannya tak pernah lepas dari si gadis pirang. Fokusnya seringkali enggan berpaling, terlebih-lebih bila sang gadis memasang wajah merenung atau berkonsentrasi. Bahkan malaikat pun kalah cantik, pikir Jaeseok. Belum kalau sebuah ulasan senyum sudah terukir di bibirnya, Jaeseok tak dapat mengendalikan debaran itu.

Ah, Jaeseok merasa hampir gila dibuatnya.

Baiklah, berteman dekat dengan seorang gadis itu hal biasa. Tertarik, menyukai, ataupun tergila-gila itu wajar. Namun, yang tidak wajar adalah ketika perasaan yang timbul itu merusak hubungan pertemanan mereka. Well, mungkinkah?

“Jadi …, bagaimana?”

Setelah sekian lama hening tercipta, akhirnya Jaeseok memutuskan bersua terlebih dulu. Memberi tatapan lurus pada sang gadis, yang hanya disambut oleh tertunduknya kepala dan mulut bungkam.

“Lu?”

Masih tak ada balasan.

Sebenarnya, inilah satu hal yang Jaeseok tidak sukai dari wanita. Mengapa harus selalu diam yang ia pasang? Setahu Jaeseok, diam wanita merupakan pertanda dua hal, jika ditilik dari pertanyaan yang ia sempat lontarkan. Wanita itu kurang memahami pertanyaannya, atau mungkin juga ada sesuatu yang buruk akan terjadi.

Haruskah Jaeseok memastikannya dengan bertanya ulang?

“Lu, biarkan aku bertanya sekali lagi, oke?” Tanpa menunggu jawaban karena Jaeseok juga yakin itu adalah sebuah hal yang sia-sia, ia melanjutkan, “Kau memahami perasaanku, kan?”

Lucia mengangguk.

“Dan kau tentu juga tahu betapa Sungyoon menyukaimu, meskipun dalam hati kau tidak bisa menerimanya.”

Terjadi jeda sesaat, sebelum sekali lagi sang gadis termanggut-manggut.

Suara embusan napas berat seketika mendominasi, diikuti dengan kelopak yang terpejam sejenak. Untuk beberapa saat, Jaeseok kembali melempar tatapan pada Lucia, memakunya dalam sunyi walaupun pada nyatanya keadaan dalam kafe tidak sehening itu.

Apa ini karena suasana melankolis yang tahu-tahu tercipta, atau memang terasa demikian kalau berbicara berhadapan dengan wanita pujaan hati?

Oh, apa yang sebenarnya kau pikirkan ….

“Tetapi kau sendiri adalah teman dekat Sungyoon, haruskah kau melakukan semua ini?”

Demi apa pun itu, kendati terasa berlebihan, setidaknya Jaeseok lega mengetahui kalau gadis ini tidak kehilangan kemampuannya berbicara.

Tapi, Jaeseok juga menyadari kalau ada kebenaran dalam ucapan Lucia.

Ia sendiri bersahabat dengan Sungyoon maupun Lucia. Ialah yang membantu Sungyoon mendekati Lucia. Ialah yang selalu menghibur Sungyoon di saat sedih tatkala Lucia tak kunjung membalas perasaannya. Ia pula yang selalu menyemangati Sungyoon kapan pun.

Kendati Jaeseok tidak yakin usahanya seratus persen berhasil, namun setidaknya itulah yang dinamakan kesetiaan kawan, bukan? Ia pun hanya bisa berharap bahwa menjadi dinding sandaran bagi Sungyoon akan membantu.

Namun, keadaan sama sekali tidak membantu ketika Jaeseok mulai terjebak oleh perasaan itu juga, tentunya pada wanita yang sama.

Nah, sekarang siapa yang patut disalahkan?

“Dengar,” ujar Jaeseok pada akhirnya. “Aku minta maaf. Aku berjuang mati-matian untuk menahannya, tapi gagal. Kau tahu istilah makan teman? Aku sama sekali tidak pernah punya maksud seperti itu, Lu. Kau mengenalku, kan?”

I know, Jae. Tapi, simpanlah kata-katamu itu untuk Sungyoon, bukan untukku.”

Lagi-lagi hening.

Jaeseok memaksa untuk membuat sudut bibirnya sedikit berjungkit sebelum menimpali, “Baiklah, kalau begitu Sungyoon akan kuurus belakangan. Sekarang, bisakah aku bertanya satu hal?”

Kendati sorot matanya masih nampak ragu bercampur tak yakin, Lucia memberanikan diri untuk mengiakan.

“Baiklah.” Jaeseok berdeham sedikit, baru kemudian melanjutkan, “Jangan lihat keadaaan sekitarmu. Jangan pedulikan apa reaksi atau kata orang, termasuk Sungyoon juga. Karena jawaban yang kubutuhkan di sini adalah murni dari hatimu, oke?”

Jaeseok tahu, terperangkap seperti ini merupakan kesalahan. Tetapi kalau Lucia sudah memutuskan jawaban, apakah ini semua masih patut disebut sebagai suatu kesalahan? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Dan semuanya bergantung pada gadis itu sekarang.

“Menurutmu, haruskah aku melanjutkan perasaanku ini … atau justru berhenti?”

Kini, fokus pandang Lucia beralih sepenuhnya pada Jaeseok. Menatap sang lelaki dengan manik biru lebarnya, seakan terkejut dengan ucapan yang barusan terlontar meskipun nyatanya tak terlalu demikian. Jujur, ia bahkan dapat menebak sebelum kata-kata itu meluncur dari bibir Jaeseok.

“Biar kuberi tahu sesuatu, Lu. Kalau aku yang mendapat pertanyaan itu ….” Ucapan Jaeseok menggantung, memberi ruang sejenak baginya untuk menarik napas. “… my answer is definitely ‘yes’. Now, what’s yours?”

Tak seperti biasanya, pandangan lurus Lucia cukup tertahan lama. Jaeseok dapat menangkap sinar matanya yang redup, dan Jaeseok mulai menyadari ada sesuatu yang tidak benar ketika kilau bening itu tahu-tahu melapisi.

“Lu?” Tepat ketika wajah gadis itu mulai tertunduk, spontan Jaeseok meraih tangannya. Menggenggamnya tak terlalu kuat, takut-takut karena tak tahu apa penyebab isakan sang gadis. “Lu, kenapa menangis?”

“Aku … aku ….” Isakannya tertahan, membuat kalimat yang terlontar menjadi tersendat pula. “Aku … maafkan aku, Jae …. Aku minta maaf …. Aku benar-benar … minta maaf ….”

So …, you’re answer is ‘no’?”

Untuk yang kesekian kalinya dalam hari ini, Lucia mengangguk.

Ah, Jaeseok mengerti sekarang.

Serius, tidak usah ada yang bertanya pun, pasti semua tahu kalau rasanya sakit. Cinta mana yang tidak terasa pilu bila tak berbalas? Namun, sejak awal pun Jaeseok telah membangun mental, karena setiap kemungkinan itu bisa saja terjadi, dari yang paling baik sampai yang paling buruk.

Seperti saat ini contohnya.

Namun, masih ada sebuah keganjalan yang memacu kuriositas Jaeseok. Ia pun berpindah tempat duduk ke sebelah Lucia, mengusap-usap punggung gadis itu perlahan tuk berusaha menenangkan.

“Kenapa, Lu? Please just tell me the reason why you’re crying like this?

Untuk beberapa sekon, lontaran tanya Jaeseok tak kunjung terjawab. Gadis itu masih berusaha menghentikan tangisannya, pun dengan meredakan isakan. Setelah ia merasa sedikit tenang, barulah ia berujar, “Aku … aku hanya takut ….”

“Takut apa?”

Uhm, … should I tell you everything?”

Sambil memasang sebuah ulasan senyum terpaksa, Jaeseok berkata, “Kau bisa menumpahkan semuanya padaku, apa pun bebanmu itu.”

Lucia pun berdeham, kemudian mengusap bekas air matanya dengan tangan. Sebelah tangannya mengambil segelas air untuk diminum, demi melegakan rasa tercekat yang sedari tadi mendominasi. Barulah setelah itu, ia kembali membuka suara.

“Jae, kita berteman sejak kecil, dan kau tahu kan kalau aku lebih suka berteman dengan laki-laki ketimbang perempuan?”

Jaeseok tak perlu waktu lama untuk mengingat, karena pada nyatanya ia memang tahu betul kalau Lucia memang tipikal seperti itu meskipun ia tidak tomboy. Bahkan, sampai sekarang pun masih tetap demikian.

Katanya, laki-laki itu tidak merepotkan.

“Ya, aku tahu.”

Well, sayang sekali aku bukan orang yang sebegitu mudahnya bisa berbaur. Bisa dibilang, ada butuh sedikit perjuangan bagiku dalam soal pertemanan. Tapi, aku terus berusaha. Aku terus berusaha, hingga pada akhirnya akulah yang selalu berusaha mendekati lebih dulu.”

“Ya, aku tahu. Kau yang selalu mulai duluan. Termasuk … berteman dengan diriku juga, benar?”

Lucia termanggut kecil. “Dan untuk yang laki-laki, memang butuh usaha lebih besar ketimbang mendekati perempuan. Tapi kalau nantinya sudah menjadi teman dekat, pasti ada satu titik dimana aku akan bersyukur karena mempunyai teman seperti dirinya. Punya teman laki-laki itu menyenangkan, kau tahu? Tapi … sayangnya kurasa persahabatan di antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang berjalan semulus itu.”

Ah.

Jaeseok tidak mengerti ini takdir atau apa, tetapi bagaimana bisa Lucia juga mengucapkan hal yang sama? Mungkin Jaeseok bisa mengatakan bahwa ia bodoh karena masih tak ingin percaya kendati dirinya sendiri sudah mengalami.

Menyebalkan.

“Aku selalu berusaha menjaga persahabatan itu, namun semuanya sia-sia ketika orang itu terbawa perasaan. Dan ketika aku tidak bisa menerima—lebih tepatnya saat aku terpaksa harus mengatakan ‘tidak’ untuk perasaannya, maka ….”

“Maka kau kehilangan satu temanmu yang berharga. Benar apa kataku?”

Di sini, diam milik Lucia bukan suatu hal yang perlu dipertanyakan lagi, karena diamnya ini sudah pasti adalah jawaban.

Jaeseok mengerti.

Jika menilik dari keadaan di sini, Lucia merupakan gadis cerdas berparas ayu yang berhasil memikat hati banyak lelaki. Jadi, sudah dapat dipastikan, berapa kali ia mengalami kejadian serupa? Gagal membangun pertemanan serta kehilangan teman dekat berkali-kali pastinya bukan hal yang mudah, dan syukur saja kalau ia bisa melupakan kesedihannya barang sejenak.

Namun, bagaimana kalau semua itu menjadi trauma?

Satu hal yang dapat ia tangkap dari setiap kata-kata Lucia barusan, gadis itu hanya takut kehilangan.

Jaeseok tahu, ini bukan salah siapa-siapa. Wajar saja jika Lucia berharap orang tersebut tidak meninggalkan sisinya, secara teman adalah satu hal yang sulit didapat. Namun, juga wajar bagi sang kawan untuk pergi menjauh. Bagi pihak laki-laki, pastinya bertahan dalam posisi itu bukan pilihan yang tepat jika ingin berpaling dari sang penolak hati.

Perasaan memang bisa jadi serumit ini rupanya.

Ya, semuanya telah kelihatan jelas, terlebih ketika Lucia kembali menundukkan wajah. Menyembunyikan raut murungnya, sekaligus menahan agar likuid itu tak lolos kembali. Sayang sekali, ia gagal.

Melihat Lucia yang seperti itu, mau tak mau Jaeseok memberikan sebuah rengkuhan dalam diam. Mengusap kepala sang gadis perlahan, berusaha meredakan kesedihan sang gadis kendati hatinya sendiri telah hancur dalam bentuk kepingan.

Kalau sudah begini, Jaeseok hanya bisa mengatakan satu hal. Meskipun ia tahu risiko yang ia terima akan cukup besar, namun itu semua tak dapat menghentikan niatnya. Sungguh, semua ini dapat berujung pada dua akhir. Kebahagiaan apabila Lucia menyambut penantiannya selama ini, atau patah hati yang mendalam karena harapannya tak berujung dengan ekspektasi.

Namun, ia tak peduli.

Masalah perasaannya itu belakangan. Setidaknya untuk sekarang, ia dapat mengembalikan senyum manis milik Lucia seorang diri.

Begitu saja sudah cukup, karena toh di depan sana masih ada jalan panjang yang terbentang. Entah bagaimana akhirnya nanti, namun yang terpenting adalah keadaan sekarang, yaitu bagaimana Jaeseok memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk selalu mendampingi sang gadis serta mencintainya dengan segenap ketulusan.

.

.

“It’s okay, dear. You’ll never lose me, anyway.”

.

fin.
-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s