At the Lighthouse

atthelighthouse.jpg

At the Lighthouse

story by Rosé Blanche

Lee Chan [Seventeen], Lee Ra [OC], Lee Byul [OC]

Ficlet-Mix

.

.

.

Summer Holiday

 “Chan, cepat sedikit!”

Sambil menyeka keringat, Lee Chan memandang sebal pada Lee Ra yang berjarak beberapa meter di depannya.

Jujur, ia terlampau lelah. Aroma laut yang segar pun sama sekali tak membantu, lantaran saat ini sebuah tanjakan sedang berusaha ia lewati.

Omong-omong, semua ini bermula dari usul Lee Byul untuk menghabiskan liburan musim panas di pertanian milik kakek mereka. Letaknya dekat dengan laut, di daerah pedesaan yang jauh dari kata ramai.

Pria itu pun berjanji akan menjemput mereka hari ini. Namun mendadak mobilnya bermasalah, hingga rencana menjemput itu kandas sudah. Ini pun daerah pedalaman, maka transportasi umum susah ditemukan. Alhasil, mau tidak mau mereka harus berjalan kaki dari stasiun sembari menyeret koper.

Kalau jaraknya dekat sih tidak apa-apa, tapi kalau empat mil?

“Dasar payah,” celetuk Ra.

Lee Byul pun ikut terkikik, kedua maniknya melirik sang kakak lelaki yang tertinggal di belakang.

Chan mengabaikan, secara ia tahu kalau berdebat dengan kedua gadis yang memiliki wajah persis itu tak akan ada gunanya.

“Ra, ini jaraknya masih jauh? Aku sudah tidak kuat—”

“Kita sudah sampai.”

Detik itu pula, pandangan Chan menangkap pasangan tua yang memeluk Ra dan Byul secara bergantian, tepat di depan sebuah rumah pertanian besar bergaya tradisional.

.

.

.

Odd Story

Sehabis makan siang, mereka bertiga nyaris tidak bisa bergerak, lantaran menu yang dihidangkan benar-benar fantastis secara rasa maupun porsi. Sambil masih terduduk melingkari meja makan, sang kakek pun tersenyum melihat ketiga cucunya yang kini telah bertumbuh.

“Kalian mau ke mana setelah ini?” tanyanya memulai percakapan.

“Istirahat.”

“Berkeliling pantai.”

“Kau gila? Kakiku masih mati rasa, tahu!” sergah Chan sembari mendelik ke arah Ra.

Gadis itu mencebik tak peduli. Fokusnya berpaling pada pemandangan laut yang terlihat dari jendela ruang makan, nampaknya tidak begitu jauh bila berjalan kaki dari rumah. Indah sekali, warna birunya pun bukan main.

Tahu-tahu, sebuah bagunan menjulang tinggi yang terletak agak di sebelah barat mengalihkan pandangan Ra. Agak tersembunyi memang, secara ada beberapa karang tajam yang menutupi.

“Kakek, itu bangunan apa?”

Sang pria tua berusaha melihat ke arah yang ditunjuk, dan untuk sesaat kedua matanya melebar. Buru-buru ia kembali menatap Ra, rautnya berubah cemas.

“Jangan sekali-sekali pergi ke sana. Itu menara mercusuar kuno yang sudah tidak dipakai lebih dari seratus tahun, beberapa sisinya sudah runtuh dan lapuk. Di daerah sana ada banyak karang tajam pula.”

“Karang tajam?” kini Byul ikut heran. “Masa di sekitar mercusuar banyak karang? Bukannya mercu menuntun kapal-kapal supaya selamat?”

“Memang seharusnya begitu. Di tengah badai pada malam hari, biasanya sinar lampu mercu itu akan membuat kapal berlayar ke arahnya, kemudian menyusuri pantai untuk menjauhi beting karang. Namun, mercu itu palsu, Nak. Mercu yang asli letaknya agak ke selatan. Jadi, suar palsu itu dinyalakan pada saat malam-malam cuaca buruk, supaya kapal yang lewat terjebak dan terdampar di karang-karang itu. Dulu malah sempat, salah seorang kenalan ayahku menjadi korban di sana.”

Ketiga bersaudara itu pun melongo mendengar penjelasan sang kakek. Untuk beberapa saat mereka terdiam, hingga Chan lebih dulu menemukan suaranya.

“Jadi karang itu sudah banyak memakan korban dari kapal-kapal yang pecah, begitu?” Ketika kakeknya memberi anggukan, lantas ia bertanya kembali, “Untuk apa?”

Pria itu tak langsung menjawab, kelopaknya terpejam seiring dengan napas berat yang keluar. Perlahan ia membuka mulut, dan apa yang terlontar selanjutnya membuat Chan, Ra serta Byul terkejut setengah mati.

“Perampokan. Komplotan suar palsu itu akan merampok habis seluruh harta para penumpang kapal yang sudah tidak berdaya.”

.

.

.

Disallowance

Chan tak habis pikir.

Ia kira setelah mendengar kisah mengerikan itu, Ra dan Byul akan ketakutan dan tak akan berani macam-macam. Namun, perasaan was-was langsung timbul ketika penglihatannya menangkap Ra yang berbisik antusias pada Byul saat melangkah keluar dari ruang makan.

Chan tahu benar kalau Ra punya keberanian dan rasa kuriositas kelewat tinggi, sedangkan Byul mudah sekali terbujuk. Maka, tidak salah kalau ia khawatir.

Bagaimana kalau diam-diam mereka pergi ke mercusuar itu?

Chan jadi panik sendiri. Karena tidak tahan lagi, lantas buru-buru ia keluar dari kamar tidurnya dan menghampiri kamar Ra serta Byul, lantaran jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Diketuknya pintu kayu itu perlahan, dan tak perlu waktu lama untuk menunggunya terbuka. Sebuah kepala pun tersembul dari balik pintu, membuat Chan semakin dilanda keheranan.

“Ada apa?”

“Kenapa kau harus sembunyi-sembunyi begitu, Ra?”

“Tidak apa— Aduh!”

Chan mendorong paksa pintu itu, dan benar saja.

Didapatinya Byul yang sedang terduduk di atas kasur sembari memasukkan beberapa barang ke ransel, sedangkan Ra berdiri di ambang pintu, sebelah tangannya memegang obat masuk angin. Pakaian lengkap beserta sepatu dan jaket yang menempel pada tubuh mereka pun semakin membuat Chan yakin bahwa prasangkanya tidak salah. Sebuah langkah cepat diambilnya, kemudian ia raih ransel Byul dengan sekali sentak.

Di dalamnya, Chan menemukan senter, botol air minum yang telah terisi penuh, kompas, beberapa baterai cadangan—

Ah, ia memang benar ternyata.

“Mau ke mana kalian malam-malam begini?”

Raut wajah Ra terlihat panik, sedangkan Byul tak berani menatapnya.

“Ka—Kami mau ….”

“Tidak usah banyak alasan. Aku tahu kalian berinisiatif mendatangi mercu itu, kan?” Suara Chan meninggi, membuat Ra semakin mati kutu. “Terutama kau, Ra. Tolong jangan lagi ajak Byul melakukan hal yang aneh-aneh. Sekarang cepat ganti pakaian dan lekas tidur. Lupakan rencana gila-gilaan kalian.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi-tapian, Ra! Sadarlah, aku begini juga untuk kebaikan kalian. Kalau sampai kalian kenapa-kenapa bagaimana? Kau tidak tahu betapa gelapnya pantai malam-malam begini? Bagaimana kalau nanti tergelincir atau—”

“Ya, ya, ya. Baiklah, kami tidak jadi pergi,” potong Ra, tak ingin memulai pertengkaran maupun membuat keributan di malam hari. Karena sang lelaki masih menatapnya tak percaya, ia pun melanjutkan, “Aku berjanji, oke? Kau bisa memegang ucapanku.”

.

.

.

The Lighthouse

Tengah malam, Chan terbangun karena ingin ke toilet.

Sekembalinya dari kamar kecil, ia pun tak langsung tidur. Entah apa yang membuatnya menyempatkan diri untuk melihat ke luar jendela. Saat itu pula, langit cerah bertaburkan bintang pun menyambutnya. Kendati indah, fokus Chan tak bersinggah lama di sana, melainkan ke sebuah menara di antara karang yang ternyata merupakan suar palsu itu.

Ah, jadi lebih kelihatan kalau dari sini, batinnya.

Tahu-tahu, mata Chan menangkap sebuah pergerakan. Bukan camar terbang ataupun hewan lainnya, melainkan sosok manusia. Bukan hanya satu orang pula, tetapi dua. Kalau dilihat dari rambut panjang mereka yang sama-sama diikat, kemungkinan besar keduanya adalah perempuan.

Chan tidak tahu penglihatannya bermasalah atau apa, namun bagaimana bisa penampilan kedua gadis itu terlihat sama persis?

Kedua sosok itu sedang berjalan di atas karang dekat mercu, salah seorang membantu yang lainnya untuk menaiki pijakan.

Tahu-tahu saja, wajah orang itu menghadap ke arah Chan.

Ia tahu kalau ini sudah gelap. Ia tahu kalau matanya tidak setajam burung hantu. Rupa gadis itu pun nampak samar. Namun barusan, Chan benar-benar yakin kalau gadis itu dapat melihat sosoknya di ambang jendela.

Karena yang terjadi selanjutnya, gadis itu segera menarik kawannya lekas, kemudian terburu-buru meninggalkan tempat itu dan bersembunyi di balik mercu.

Kini, Chan mengerti apa yang sedang berlangsung. Kendati dalam hati ia berdoa semoga saja tidak terjadi malapetaka, ia juga tak bisa menahan untuk tidak mengumpat.

Awas saja kalian nanti kalau pulang!

.

.

.

What’s Wrong, Chan?

Keesokan paginya, Chan terlambat bangun.

Gara-gara langsung teringat kejadian semalam, ia pun buru-buru beranjak dari kasurnya. Secepat kilat ia memakai sandal tidur, kemudian tanpa berganti pakaian lagi ia lekas menuruni tangga dan berlari menuju ruang makan.

Semoga saja Ra dan Byul ada di sana. Semoga saja. Semoga ….

Harapan Chan pun terkabul.

Kedua gadis itu memang berada di sana, telah berpakaian rapi dan sedang bercakap dengan kakek mereka.

“Oh, sudah bangun, Chan? Cepat duduk, dari tadi kami belum sarapan karena menunggu—”

“Maaf, Kek. Bisa aku bicara dengan mereka berdua sebentar?” ujar Chan memotong kata-kata Byul.

Kakeknya pun mengizinkan, kendati raut bingung itu nampak kentara sekali ketika Chan menarik paksa kedua pergelangan tangan saudarinya.

Baik Ra maupun Byul ia seret keluar dari ruang makan. Setelah keadaan dirasanya cukup aman, barulah ia siap menumpahkan seluruh rasa kesalnya meskipun harus berbisik.

“Hei, semalam kalian ke mana, huh?!”

Melihat Chan yang melotot, Ra pun tidak terima. “Apa? Ke mana apanya? Tentu saja tidur. Kau sendiri yang melarang kami pergi, kan?!”

“Memang benar aku melarang, tapi pada akhirnya kalian tetap mendatangi mercu itu, kan?! Jangan coba-coba membohongiku, Ra!”

“Tunggu sebentar, Chan.” Byul yang sedari tadi berdiri di belakang Ra mulai maju selangkah, menatap Chan lekat-lekat. “Ra benar, kami tidak ke mana-mana. Ayolah, kau tahu aku tidak akan pernah bisa bohong padamu.”

Kening Chan mengernyit, masih mencari kepastian dari ucapan kedua kembarannya. “Oh ya?” tanyanya bernada sarkastik. “Lantas kenapa aku melihat sepasang gadis kembar berjalan-jalan di atas karang tadi malam?”

Kini, Ra dan Byul pun sama-sama bungkam. Beberapa sekon terlewat, keheningan pun melanda. Tak ada yang menjawab, hingga perlahan raut mereka berubah panik, terlihat jelas sekali.

Chan pun yakin, bahwa asumsinya benar. Kedua gadis pembangkang ini memang telah mengabaikan ucapannya.

Ya, sudah pasti.

“Chan, apa kau ingat cerita Kakek kemarin soal kapal pesiar pribadi milik kenalan ayahnya yang menabrak karang? Seorang kenalan itu adalah konglomerat bermarga Kim yang sedang mengadakan pesta privat. Barusan kutanya lagi ke Kakek, dan katanya malam kecelakaan itu adalah malam perayaan ulang tahun kedua putri kembar Tuan Kim.”

.

.

.

fin.
-oOo-


inspired from Five Go down to the Sea by Enid Blyton.

 

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s