Arti Sebuah Penantian

artisebuahpenantian copy.jpg

Arti Sebuah Penantian

story by Rosé Blanche

Kim Mingyu [Seventeen] & Choi Yunha [OC]

Fluff, Hurt/Comfort, School-life

T

Ficlet

.

I’ll wait.

.

Kata orang, menunggu adalah hal yang paling menyebalkan di dunia. Butuh kesabaran ekstra, terlebih kalau hal yang ditunggu tak kunjung memberi respons baik. Intinya, sebuah penantian yang terkadang sudah susah payah dilakukan, punya kemungkinan berujung pada kesia-siaan.

Bahkan untuk sekadar bersabar pun ada rintangannya, entah cobaan faktor luar atau internal yang mampu membuat otak terasa hampir gila. Memperkukuh sebuah harap agar suatu saat nanti yang ditunggu akan menghadap balik. Sayangnya, kata ‘nanti’ itu pun tak punya signifikansi yang jelas.

Memangnya ‘nanti’ itu kapan?

Pepatah mengatakan, hanya Tuhan yang tahu.

Sebenarnya, ini semua tentang gadis itu. Sang manajer basket yang setiap minggu dengan sukarelanya membawa setumpuk seragam penuh keringat anak-anak klub ke tempat laundry, membereskan peralatan mereka usai berlatih, juga repot-repot memberi kecaman pada anggota yang tidak disiplin satu persatu.

Tidak ada yang mengatakan tugasnya merupakan perihal gampang. Tapi rupanya ia tidak keberatan, secara aku juga baru tahu kalau gelutan pekerjaannya itu dapat terbayar oleh atensi Jang Doyoon.

Ah, benar-benar.

“Seragam jerseymu mana? Cepat kemarikan, hari ini aku buru-buru.”

Aku yang sudah tak punya niatan beranjak usai latihan, hanya bisa terduduk di sudut lapangan yang sudah sepi sambil meluruskan kaki. Entah memang pelatihan yang hari ini lebih berat dari biasanya, atau karena segala kalut yang berhasil menyita pikiranku sejak kemarin?

Entahlah, yang jelas kini di hadapanku tengah berdiri sosok gadis bermandikan siluet senja, dan dapat memandanginya saja sudah membuatku merasa lebih baik.

“Hei, dengar tidak?!”

Sebuah decakan lolos dari bibirku. Spontan tanganku meraih jersey yang sudah basah total akibat keringat itu dan lekas melemparnya pada—

Oh, tidak.

“KENAPA HARUS KAULEMPAR KE MUKAKU, HUH?!”

Jujur aku tidak sengaja, tetapi pada akhirnya aku pun membalas, “Salah sendiri pendek.”

Berang itu sangat jelas terpatri, namun bungkam rupanya menjadi pilihan. Sebuah dengus sebal pun lolos seiring dengan tangannya yang memasukkan jerseyku pada sebuah kantung besar. Sambil menjinjing kantung hitam itu, tungkainya melangkah berbalik, diikuti dengan lontaran lirikan tajam yang mampu membunuh siapa pun.

Siapa pun terkecuali diriku, karena faktanya perasaan geli yang menggelitik hati ini tak pernah tertahankan kerap kali melihat gadis itu merajuk.

“Oi, pendek! Seisi lapangan belum kaubereskan, kenapa sudah mau pulang?”

Tanpa kusangka ia membanting kantung besar itu di dekat ring, kemudian kembali menatapku malas untuk beberapa sekon. Setelahnya, barulah ia memunguti bola-bola yang tergeletak di sana-sini.

“Panggil Yunha saja tidak bisa, ya? Ini aku juga baru mau bersihkan, dasar sok tahu!”

Kini kedua tangannya telah menenteng tiga bola sekaligus, lalu dilanjutkan dengan tungkai yang melangkah masuk ke gudang peralatan olahraga. Entah dari mana, tahu-tahu sebuah insting datang dan membuatku mengambil keputusan untuk membuntuti Yunha.

Sepasang kaki Yunha terhenti di hadapan sebuah rak berisikan macam-macam bola permainan. Ia meletakkan tiga bola basket itu di lantai, mengambilnya satu lantas menjunjung bola itu tinggi-tinggi sambil berjinjit. Susah payah ia berupaya meletakkan bola itu pada bagian teratas, dan aku pun tak mampu tinggal diam lantaran usahanya tak kunjung berhasil.

“Apa kau selalu kesusahan seperti ini?”

Spontan aku merebut bola itu dengan sebelah tangan dan lekas meletakkannya pada rak teratas dengan gampangnya.

Untuk sejemang mata lebar itu menyorotiku, membuatnya mau tak mau harus menengadah sebisa mungkin secara kesenjangan tinggi kami sudah benar-benar jelas.

“Kalau mengingat-ingat soal perasaanmu Jang Doyoon, berarti secara logika kau rela melakukan semua ini demi dia. Apa aku benar?”

“Tidak juga, kok.”

Fokus pandang yang langsung teralih tatkala Yunha mengelak membuatku sadar diri, kalau perasaan suka Yunha pada Jang Doyoon itu memang benar adanya.

“Tak mengapa jika kau memang sudi bersusah-susah begini demi Doyoon, tapi setidaknya bilang-bilang kalau butuh bantuan.”

Seketika hening melanda.

Ada kemungkinan ia merasa aneh dengan ucapanku, secara aku lebih sering mengusilinya sampai mengamuk. Sedikit ia menunduk, dan tanpa kusangka nada suaranya berubah memelas.

Ini bukan seperti Choi Yunha yang biasanya.

“Aku kan cuma berusaha jadi manajer yang baik.”

“Kau manajer yang baik, kok. Sayangnya pendek, begitu sa— Aduh!”

“BERHENTI MENYEBUTKU PENDEK, DASAR TIANG LISTRIK!”

Ah, sepertinya aku berhasil mengembalikan Yunha ke wujud asal, kendati tulang keringku harus menjadi korban dari ujung sepatunya.

“Memangnya kenapa? Jadi pendek itu tidak buruk-buruk amat, kok.”

Pekerjaan memindahkan bola ke rak telah rampung, sehingga kini aku dapat menghadap ke arah Yunha. Masih dengan kepalanya yang terangkat, ia mengerutkan kening.

“Apanya yang tidak buruk-buruk amat? Buktinya kau selalu mengataiku—”

“Memang, aku tahu. Tapi, aku juga beranggapan kalau jadi pendek itu ada untungnya.”

“Apa?”

“Kalau pendek, dipeluk kan lebih enak.”

Tak berselang sampai satu sekon, sebuah tepukan keras mendarat di lenganku, membuatku yakin akan ada bekas biru lebam yang tertinggal setelah ini.

“Memang siapa yang mau dipeluk tiang gosong sepertimu, huh?!” Wajah Yunha jelas merah padam. Tungkainya yang mengambil langkah memutar, mengayun cepat ke arah pintu pembatas antara gudang dan lapangan.

Ah, ia mudah sekali tersipu rupanya.

“Siapa juga yang bilang kalau aku mau memelukmu?! Aku cuma bilang kalau orang pendek itu lebih enak dipeluk, barangkali kau kepingin Jang Doyoon—”

“TIDAK TAHU, AH! MASA BODOH!”

Jeritan samar itu menguar dari lapangan, dan gaungnya bahkan masih bisa terdengar beberapa sekon kemudian.

Ketika aku melangkah keluar dari gudang, dapat kulihat sosok Yunha yang memanggul kantung besar itu di bahu layaknya kurcaci. Lekas, ia berlari-lari kecil meninggalkan lapangan. Perawakan Yunha yang tergesa membuat rambut kuncir kudanya berayun lucu, dan tentu saja aku tak dapat menahan ulasan senyum ini lagi.

Benar sekali.

Dialah Choi Yunha, gadis manis yang menjadi objek penantianku selama ini.

Dari hasil pengamatanku, setiap orang punya cara mereka tersendiri dalam meraih sesuatu. Kalau Yunha ingin mendekati Doyoon dengan cara menjadi manajer basket, aku pun bisa melakukannya dengan menggoda Yunha habis-habisan sampai ia berpaling.

Ya, sejauh ini yang dapat kulakukan hanya menggodanya, terlebih ketika aku mengerti kalau mata gadis itu masih tertuju penuh pada Jang Doyoon.

Menggoda adalah satu hal, namun lain cerita lagi bila semua itu dilakukan demi mendapat atensi seseorang. Kekanakan, memang. Namun barang sedikit, dengan cara ini aku berharap ia akan menghadap balik ke arahku.

Jujur, tentu ada kemungkinan suatu saat ia terlampau jengah akan perlakuan usilku yang bisa saja tanpa sengaja menoreh hatinya. Well, siapa tahu? Belum lagi kalau jawaban dari penantian dan harapanku ini tidak sesuai dengan ekspektasi.

Aku tahu, semua ini cukup berisiko. Tetapi, aku juga tahu kalau butuh perjuangan untuk memperoleh apa yang diinginkan, bukan?

Jadi, bagiku tidak apa-apa.

Bagi kebanyakan orang, sebuah penantian seperti ini mungkin merupakan bentuk kesetiaan, sekaligus sebuah sikap yang menunjukkan kebodohan.

Tetapi untuk kali ini saja, biarkan aku menanti seorang Choi Yunha, sampai ia benar-benar dapat melihatku sebagai lelaki yang mencintainya dengan sepenuh hati.

fin.
-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s