Changes in Life

changesinlife

Changes in Life

story by  Rosé Blanche

Jeon Wonwoo [Seventeen] & Park Myungeun [Lovelyz]

Fluff, Friendship, Slice of Life

T

Oneshot

.

Karena lebih baik memanfaatkan waktu yang tersedia dan menikmati kebersamaan, daripada terlalu sibuk mengurusi perubahan yang dapat berujung pada salah paham.

.

Park Myungeun mengangkat kepala, menyipitkan kedua manik guna memperjelas arah mana jarum jam tengah menunjuk. Ia kesal, lantaran kegiatan tidurnya guna membuang waktu ternyata sama sekali tidak berpengaruh. Baru sepuluh menit terlewat, dan masih ada tiga jam lagi sebelum bel pulang sekolah berbunyi.

Entah sejak kapan, namun akhir-akhir ini jam pelajaran kosong selalu menjadi momok bagi Myungeun lantaran gadis itu bosan setengah mati. Kelas gaduh berisikan gadis-gadis dengan dandanan menor yang bergosip sepanjang waktu, beberapa lelaki yang berkumpul di sudut belakang kelas hanya untuk membahas hal-hal tak senonoh, bonus beberapa anak kutu buku sama sekali bukanlah tipikalnya.

Tetapi, rasanya lebih mengerikan bila ia hanya duduk diam dan tak melakukan apa pun.

Memilih untuk tidak mati kebosanan, Myungeun melangkahkan tungkai ke bangku kosong di sudut depan kelas. Lantaran tak mungkin ia bergabung untuk membicarakan hal-hal sampah bersama dengan gadis-gadis centil itu apalagi dengan sekelompok laki-laki mesum yang dapat membuatnya bergidik, duduk berhadapan serta mengobrol bersama dengan anak kesayangan guru sepertinya harus menjadi pilihan terakhir.

Jeon Wonwoo.

Si kutu buku pendiam dengan kacamata bulat yang terus menerus bertengger di hidung, lebih suka menyendiri dan bercumbu dengan novel mitologinya ketimbang berkumpul bersama sekelompok orang.

Hanya karena mempunyai penampilan layaknya orang polos, bukan berarti lantas Wonwoo adalah lelaki lugu yang sama sekali tidak doyan mengoceh.

“Tidurmu nyenyak sekali. Kutebak kau pasti ngiler.”

“Tidak, kok!”

Kedua pipi laki-laki itu tertarik ke atas bersamaan dengan dengus tawa yang keluar. Tatap matanya yang sama sekali tidak terlepas dari buku membuat Myungeun menghela napas, lantaran sikap itu bukanlah sikap yang sepatutnya diberikan bila ada yang mengajak bicara. Orang lain bisa tersinggung, bukan?

Tetapi ini adalah Myungeun, yang telah mengenal Wonwoo selama belasan tahun hingga cukup hafal dengan gerak-gerik lelaki itu meskipun jika ditilik, kedekatan mereka akhir-akhir mereka tak cukup akrab untuk disebut sebagai sahabat.

Mungkin iya, tetapi dulu.

Myungeun tak punya topik pembicaraan, dan sepertinya Wonwoo juga tak berniat untuk membuka obrolan. Maka, mulailah Myungeun mengedar pandang mencari-cari. Hanya butuh lima sekon, dan pada akhirnya novel yang digenggam Wonwoo menjadi tempat perhentian.

“Novel mitologi lagi?”

“Kisah kepemimpinan seorang dewi akan kerajaannya di bawah laut.”

Myungeun tersenyum. “Kau tidak berubah, Wonwoo-ya.”

“Kenapa aku harus berubah?”

Pertanyaan itu sukses membuat Myungeun bungkam sejenak, tepat ketika pikirannya melayang ke satu hal. Sebuah fakta yang tak ingin diingatnya, namun tentu usaha tersebut tidak bisa mengubah keadaan.

“Teman-temanku berubah.”

“Berubah? Berubah jadi power rangers?”

Jika saja balasan yang didapat Wonwoo bukan sebuah lirikan tajam membunuh, lelaki itu tentu tidak akan lekas berdeham dan membatalkan sebuah tawa yang tadinya hendak keluar. Pasalnya, Myungeun benar-benar terlihat sedang tidak ingin diajak bercanda.

“Iya, iya. Kenapa teman-temanmu?”

Myungeun memilih menarik napas sejenak dan membuangnya cepat, kemudian menjawab, “Entahlah, aku merasa mereka tidak seperti orang-orang yang kukenal lagi, tak tahu kenapa.”

“Maksudmu?”

“Contohnya saja Soonyoung dan Jisoo. Aku tahu Soonyoung sudah menyukai Jisoo sejak dulu, dan aku pun turut senang ketika laki-laki sipit itu berhasil mendapatkan hati sahabatku setelah sekian lama penantiannya. Hanya saja setelah mereka jadi kekasih … aku cukup sadar diri kalau sudah ada garis batas yang tidak boleh kulewati.”

“Kau merasa canggung?”

“Bisa dibilang begitu, karena aku benci menjadi obat nyamuk,” jawab Myungeun cepat. “Aku dan teman-teman sepermainanku—kami berlima sudah dekat sejak tahun pertama SMP, dan mereka menjadi kawan tetapku sejak itu. Selama itu tak ada masalah, mungkin hanya muncul beberapa konflik sepele yang dapat diselesaikan dalam satu jentikan jari. Sampai ….”

“Sampai dua minggu yang lalu mereka resmi menjadi sepasang kekasih?”

Myungeun terdiam. Sebuah kenyataan yang tak ingin ia akui baru saja terucap, dan itu membuatnya muak setengah mati. Myungeun tidak menyalahkan kedua sahabatnya, dan bahkan ia tak tahu siapa yang patut disalahkan. Hak mereka untuk menjalin hubungan lebih dari teman, dan kewajiban Myungeun untuk tahu diri.

Namun, pada akhirnya Myungeun mengangguk.

“Benar.”

“Lalu, bagaimana dengan Mingyu dan Jihyo?”

Mendengar nama itu, Myungeun memutar bola mata.

“Mingyu?” Myungeun mencebik. “Aku tidak mengerti apa yang salah dengan otaknya, tetapi coba lihatlah.” Myungeun melirik ke belakang kelas, lebih tepatnya ke arah segerombol laki-laki yang sedang tertawa-tawa dengan berpasang-pasang mata yang tak lepas dari sebuah tab (yang sudah jelas sekali menampilkan apa) dan membuat Wonwoo langsung paham dalam hitungan sekon lantaran pemuda yang disebut merupakan salah satu dari mereka.

“Oke, kalau Jihyo?”

“Lupakan soal Jihyo, Won.”

“Kenapa?” tanya Wonwoo heran, menyadari bahwa sang gadis pemilik nama merupakan teman terdekat Myungeun selama ini.

“Entah bagaimana jalan pikirannya sekarang. Beberapa kali ia bersikap aneh, dan emosinya sering naik tanpa alasan. Aku sudah berusaha bicara, dan … ia berkata kalau ia tidak bisa terus-terusan terikat dengan kami. Oh entahlah, aku tidak tahu, Wonwoo. Apa aku yang berlebihan? Kenapa semuanya jadi rumit begini?”

Pertama kalinya sejak Myungeun mengajak Wonwoo berbicara beberapa saat yang lalu, lelaki itu akhirnya melepas pandang dari novel mitologi itu dan menatap Myungeun lurus di mata.

“Kalau kau bertanya kenapa, bukankah itu semua wajar?”

“Apa?”

“Wajar saja, kan? Semua perubahan-perubahan yang terjadi pada teman-temanmu?” ujar Wonwoo mengulang. “Kau harus tahu bahwa di dunia ini, perubahan seperti itu sama sekali tidak aneh. People change, don’t they?”

Karena Myungeun tak merespons, Wonwoo lantas melanjutkan, “Hidup tak mungkin berjalan sedatar itu, Myungeun. Misalnya saja Jihyo. Aku paham kenapa ia berkata seperti itu.”

“Kenapa?”

“Karena ia menyadari bahwa punya banyak teman itu penting.”

Myungeun bungkam. Beberapa sekon ia memutar otak, dan tak lama kemudian ia menemukan bahwa perkataan Wonwoo benar adanya.

Ia mengerti. Toh mereka tidak akan terus-terusan duduk di bangku sekolah, bukan? Dunia kerja yang menanti begitu membutuhkan banyak koneksi, dan kini Myungeun agaknya sedikit memahami kawannya itu.

“Ah, aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Hanya saja mungkin, Jihyo tidak mempunyai maksud yang salah, namun ia tak tahu harus bagaimana lagi kalau ia tidak bersikap demikian. Kurasa ia hanya takut terkekang dalam pertemanan yang sempit, tapi bukan berarti lantas ia ingin berhenti jadi temanmu.”

Dengan sebuah gerakan pelan, Myungeun termanggut kecil.

“Aku tahu ini sulit, tapi setidaknya cobalah untuk memahami perubahan di sekitarmu. Terkadang kau memang harus menerimanya, suka tidak suka.”

Sebuah senyum lirih terukir di bibir sang gadis, akibat sebuah kesadaran yang baru saja menghantam pikirannya. Sadar akan realita dalam hidup yang tak akan bisa diubah, membuatnya cuma bisa menerima dan menghadapi.

Benar. Ia harus bisa menerimanya. Toh ia bukan anak kecil berkepala batu lagi.

Sebuah embusan napas panjang lolos, seiring dengan sepasang manik yang mulai menatap sang lelaki lamat-lamat. “Well, setidaknya dalam situasi sekarang ini, aku masih bisa bersyukur jika melihatmu.”

“Memang kenapa?”

“Karena kau tetaplah Jeon Wonwoo yang kukenal.” Myungeun tertawa kecil melihat mata Wonwoo yang melebar hingga menyebabkan kacamatanya melorot, membuat wajah polos lelaki itu tampak lucu sekali. “Memang jelas kalau kau bertambah dewasa, dan perubahan fisik itu juga sudah sangatlah pasti, namun maksudku adalah … jika aku mengobrol denganmu, aku sama sekali tidak merasa bahwa kau adalah orang lain.” Ia menelengkan kepalanya, kemudian kembali melanjutkan, “Tidak seperti—well—teman-temanku.”

Terjadi jeda sejenak, ingin dipakai Wonwoo demi mencari kata untuk memberi tahu  Myungeun bahwa gadis itu hanya berasumsi sendiri sebelum mencari kebenarannya, namun diurungkan karena merasa kalau itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan sekarang. Terlebih, suasana hati sang gadis sudah dapat dipastikan tidak dalam kondisi baik.

Memilih jalan aman, akhirnya Wonwoo berujar, “Bagaimana kalau kaucoba membicarakan ini dengan mereka?”

“Membicarakan bagaimana?”

“Ya … maksudku kau mengutarakan segala pikiranmu tentang mereka. Pikiran-pikiran yang sudah membuatmu resah belakangan ini, seperti yang tadi kausebut.”

Sebuah lirikan bingung Myungeun lemparkan. “Kau yakin situasinya tidak akan bertambah buruk?”

Untuk pertama kalinya sejak obrolan dimulai, Wonwoo mengulas senyum. “Tidak apa-apa, Myungeun. Tapi ya … bicaranya yang baik-baik, jangan pakai solotan seperti tadi. Kalian toh selama ini bersahabat, tidak mungkin mereka akan mengacuhkanmu sama sekali.”

Bak mantra, Myungeun seakan tersihir dengan kata-kata Wonwoo. Entah karena efek senyum langka Wonwoo yang dapat meluluhkan gadis mana pun atau apa, namun ledakan rasa lega kini benar-benar memenuhi dirinya. Menimbulkan rasa tenang dan hangat yang selama ini ia rindukan, bahkan sepasang maniknya pun sampai terbungkus lapisan bening.

“Kau tidak apa-apa, Myungeun?”

Sang gadis tergelak sesaat, kemudian menyahut, “Ah, kau benar-benar membuatku terpesona, Wonwoo-ya.” Sebelah tangannya mengusap sebulir air mata yang tak berlanjut itu. “Haha, aku jadi menyesal, kenapa di sekolah menengah ini kita tidak sedekat dulu, ya?”

“Sejak dua tahun yang lalu kita kan tidak pernah sekelas. Baru sekelas lagi waktu tahun kedua SMA ini.”

“Memang sih, tapi ….”

Saat itu pula, Myungeun ingin merutuki dirinya sendiri.

Kenapa baru sadar sekarang?

Kenapa ia baru tersadar, bahwa ia tak menjaga persahabatannya dengan Wonwoo? Yang dilakukannya selama dua tahun lebih hanyalah mencoba berbaur dengan kelas, berusaha menemukan kawan baru namun tanpa sadar telah meninggalkan kawan lama.

Myungeun merasa kalau keempat kawannya itu telah berubah, namun bagaimana dengan dirinya sendiri? Bukankah ia sama saja?

Dasar bodoh.

“… tapi … well, maafkan aku.”

“Kenapa minta maaf?”

Pertanyaan Wonwoo semakin menyayatnya. Ia tahu, lelaki itu tidak terlalu pandai berbaur. Bukannya besar hati atau apa, tetapi selama dua tahun ini, dengan atensinya yang begitu jarang di hadapan Wonwoo … apakah lelaki itu mengalami banyak kesulitan? Apa ia menjalani masa-masa tidak mengenakan dengan teman sekelasnya? Apa ia … kesepian?

Secara Myungeun adalah satu-satunya sahabat Wonwoo sejak usia mereka menginjak angka tiga, mungkin 99% jawabannya adalah ya.

“Maaf karena telah bersikap tidak tahu diri.” Sebuah kekehan kecil bernada miris lolos dari bibirnya. “Aku terus mengeluh karena teman-temanku berubah, padahal aku sendiri pun tak ada bedanya. Jadi ….” Myungeun menunduk, tak berani menatap balik pandangan Wonwoo. “… maafkan aku, untuk dua tahun terakhir ini.”

Ia telah berubah.

Dulu, ia selalu menemani Wonwoo saat pergi maupun pulang sekolah. Dulu, seringkali mereka belajar bersama di rumah Wonwoo tepat satu hari sebelum ujian, hingga sistem kebut semalam pun harus menjadi pilihan. Dulu juga, tak pernah sekalipun ia melewatkan makan siang bersama dengan Wonwoo di atap sekolah.

Namun kini, semua sudah tidak lagi seperti itu.

Ah, kenapa rasanya menyakitkan?

Mendadak, rasa sentuhan di dagu membuyarkan segala pikirannya. Sang gadis mengangkat kepala, melihat Wonwoo menarik jari telunjuknya kembali. Sekon berlalu, dan kedua pasang mata itu pun bertemu.

“Kau terlihat seperti penjahat yang sedang mengaku dosa, Myungeun-ah.” Wonwoo terkekeh, diikuti dengan senyum lemah sang gadis. “Tapi tidak usah kaupikirkan lagi, lagipula itu semua sudah terlewat. Percayalah, aku tidak apa-apa, oke?”

“Astaga ….” Spontan Myungeun mengerang. “Kau benar-benar tidak berubah, Won. Serius, sampai sekarang pun hatimu masih seperti malaikat.”

Tawa lepas kini melingkupi mereka berdua, suasana pun telah mencair. Rasanya seperti nostalgia akan masa kanak-kanaknya dulu, menurut Myungeun.

“Jujur saja, Myungeun, kau sedari tadi terus mengatakan kalau aku masih sama seperti dulu, tapi padahal sebenarnya tidak juga kalau kupikir-pikir.”

“Ha? Serius?” Myungeun menyunggingkan senyum tertarik, rasa kuriositasnya datang seketika.

Wonwoo mengangguk. “Aku tidak tahu apa yang salah, atau di mana letak kesalahannya, tapi … um, jangan bilang siapa-siapa, ya?”

“Tentu.”

Lantas lelaki itu mencondongkan tubuh, atau lebih tepatnya menempatkan wajah di samping telinga sang gadis. Ia berbisik, “Kita sudah berteman lama, kan? Dulu waktu masih kecil, aku selalu merasa baik-baik saja kalau bersamamu. Malah kalau ada kau, bisa dibilang menyenangkan. Tapi kalau sekarang ….”

“Sekarang kau tidak menyukai keberadaanku, begitu?”

Mereka bersitatap dalam jarak sangat dekat, membuat Wonwoo tak bisa menahan tawa lantaran mata gadis itu membola sempurna. Belum lagi ucapan sang gadis yang konyol. “Bukan … bukan begitu.”

“Terus?”

Tawa Wonwoo berhenti, digantikan dengan senyum canggung malu-malu yang sengaja dibuatnya.

Well, kalau sekarang entah kenapa pipiku selalu memanas jika melihatmu tersenyum. Jantungku juga berubah menjadi tidak bisa tenang tiap kali bersamamu, sampai-sampai rasanya mual—ah, bukan. Maksudku seperti ada … kupu-kupu yang berterbangan di sana?”

“A—Apa?”

Melihat wajah Myungeun yang masih penuh akan rasa heran nan kebingungan, Wonwoo menghela napas panjang, kemudian menarik tubuhnya kembali duduk.

“Kau selalu menyebutku polos, tetapi aku tidak menyangka kalau kau sendiri selugu ini, Myungeun-ah. Kode begitu saja masa tidak ngerti?” Karena Myungeun tak menjawab, Wonwoo pun melanjutkan, “Sudahlah, lupakan saja hal-hal tadi. Satu-satunya yang ingin kusampaikan hanyalah ….”

Ucapan Wonwoo menggantung.

Terjadi jeda, tanpa sadar digunakan Myungeun untuk menatap sorot mata tajam sang lelaki, kendati yang terpancar dari sana hanya ada ketulusan.

Aduh, kenapa Myungeun jadi berdebar-debar begini?

“… mungkinkah rasa sukaku padamu yang dulunya hanya sebagai teman, telah berubah menjadi rasa suka lelaki terhadap seorang gadis?”

Hening.

Bibir Myungeun tetap bungkam, kendati yang ada di pikirannya sudah sama saja seperti benang semrawut. Napasnya tertahan, terlebih karena tatapan Wonwoo yang tak kunjung berhenti menyorotinya.

Belum sempat Myungeun menyahut, tahu-tahu suara dering bel memenuhi seisi sekolah.

Ah, bel sialan.

“Sudah ya, aku pergi dulu.”

Wonwoo beranjak berdiri, sebelah tangannya mengeluarkan sebuah kotak bekal dari ransel. Tungkainya mengayun santai mengarah pada pintu kelas, tepat ketika Myungeun baru menemukan suaranya yang sedari tadi hilang.

“Mau ke mana?”

“Makan siang di atap, seperti biasa,” sahut Wonwoo tanpa menoleh, tanpa menghentikan langkahnya pula.

Myungeun bergeming, rasanya sudah ingin banjir air mata saja kendati tak dapat.

Kebiasaan itu, kebiasaan makan mereka semenjak dulu. Selalu saja atap sekolah yang menjadi destinasi, baik ketika masih berada di tingkat dasar sampai sekarang ini. Bedanya hanya terletak di Myungeun yang kini sudah tidak lagi berada di sana.

Tujuan Myungeun berubah menjadi kantin atau bangku taman sekolah, yang menemani pun bertambah menjadi empat orang. Kendati begitu, bukan berarti ia melupakan memori-memori di atap yang telah lalu.

Jujur saja, Myungeun sebenarnya tidak suka akan perubahan meski kini ia mencoba menerima. Berubah tak mengapa, asalkan perubahan itu membawa kebaikan. Berubah dalam beberapa aspek pun bisa dikatakan sangat penting, karena di dunia memang tidak ada yang bisa hidup tanpa adanya perubahan sedikit pun.

Tetapi kalau sudah menyangkut soal teman … well, sepertinya ia sendirilah yang harus memutuskan.

Kini, tekadnya pun bulat. Lekas-lekas, ia melangkah keluar dari kelas. Pandangan ia edarkan, mencari-cari sosok jangkung yang mencangking kotak bekal berwarna hitam. Tepat ketika bayangan itu tertangkap penglihatannya, tanpa menahan lebih lama lagi tungkai itu langsung berlari menghampiri.

Myungeun kini sudah tak peduli lagi. Ada yang berubah atau tidak itu satu hal, tetapi bukankah yang terpenting adalah kebersamaan? Mau berubah atau tidak, kalau masih tetap bisa bersama, itu saja sudah lebih dari cukup.

Karena lebih baik memanfaatkan waktu yang tersedia dan menikmati kebersamaan, daripada terlalu sibuk mengurusi perubahan yang dapat berujung pada salah paham. Toh terkadang juga bukan pribadi orang-orang yang sepenuhnya berubah, namun hanya prioritas mereka saja.

“Tunggu!”

Tangannya meraih lengan sang lelaki, membuat pemiliknya lantas menoleh dan memandangnya penuh tanya.

Melihat tatapan itu, kini Myungeun merasa tak ragu lagi. Sekarang ini, sudah tiba waktunya untuk membayar dua tahun berharga yang terbuang. Ia hanya bisa berharap, bahwa keputusannya untuk memulai kembali ini tidak salah.

Ya, semoga.

.

.

.

“Mau makan siang berdua denganku … seperti dulu lagi?”

fin.
-oOo-

Advertisements

3 thoughts on “Changes in Life

  1. Btw aku udah tau ff ini di svtffi tapi gak sempet komen dan cuma baca beberapa kalimat, habis itu ditunda bacanya. Tapi ditundanya lama banget hehe, maaf ya ❤ ❤ ❤ //dirajam//

    Ah, bang Wonu bisa aja deh :'v Terus pas baca "Contohnya saja Soonyoung dan Jisoo." = Anjir kirain Jisoo si Joshua pacaran sama Hoshi. Akutu selalu gitu, sering gk peka dan lupa kalau Jisoo ada 2. Dan entah kenapa pas bagian ini “Makan siang di atap, seperti biasa,” = Kok Wonwoo kesannya mengingatkan momen dulu secara halus ke Myungeun. Aku hampir nangis baca dialog itu, kayak Wonwoo berasa emang kesepian :')

    Plus-nya, banyak pelajaran di ff ini yg patut dikutip (y) Dabesh pokoknya buat Rachel 😀 Maaf ya baru baca sekarang. Efek bawaan labil xD

    Liked by 1 person

  2. Haha it’s okaayy nyantai ajah^^

    Sering lupa kalo yg namanya Jisoo itu ga cuman om Josh? FIX KITA SEHATI❤ kadang” sering bingung sendiri deh akhirnyaxD

    Sebenernya ini ff based on pengalaman pribadi sih:”) dan serius ngalamin sendiri itu rasanya nyesek juga /kok malah curhat

    Thanks udah mampir ya Ji!❤❤❤
    Btw, aku juga tertarik loh baca ffmu:3 boleh nggak minta rekomendasi ffmu sendiri, karena ini aku lagi mood baca-baca hehehe^^

    Liked by 1 person

    • Idiih rekomendasi ff apaan Chel, ff-ku masih belum sebagus ff-mu soalnya. Jadinya malu xD Tapi ya gapapa deh, kalau menurutku sih Bercanda, Kiss, dan Tetangga baru 😀 //soalnya diambil dari kisah nyataku sendiri uhuk// gk tanya -_-//pulang ji//

      Like

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s