Rapunzel

rapunzel

Rapunzel

story by Rosé Blanche

Boo Seungkwan [Seventeen] & Lexy Wu [OC]

Fluff

G

Ficlet

.

Demi Lexy, Seungkwan rela melakukan semua itu.

.

Seungkwan tahu, dirinya memang benar konyol. Lelaki mana yang langsung menjadikan seorang gadis sebagai pujaan hati, tatkala mendengar suara gadis itu untuk yang kali pertama?

Mungkin macam lelaki tersebut hanya disandang Seungkwan seorang diri. Dan lebih parahnya lagi, Seungkwan semakin jatuh cinta tatkala netranya bersitatap dengan gadis itu.

Benar-benar cantik.

Pertama kali Seungkwan mendegar nyanyian sang gadis adalah ketika dirinya sedang berjalan menelusuri sebuah taman yang masih terasa begitu asing. Ia sedang mencari Soonyoung, sang sahabat yang berjanji akan menemuinya di sana. Karena lelaki itu tak kunjung menampakkan diri, maka bosanlah Seungkwan.

Seungkwan bersandar pada sebuah pohon, tepat ketika suara itu mulai terdengar. Sebuah nada merdu disenandungkan, seiring dengan nyanyian-nyanyian samar nan indah.

Ia mencari-cari, penasaran dari manakah gerangan suara itu berasal. Hingga beberapa sekon kemudian, tibalah kedua maniknya pada sebuah jendela.

Lebih tepatnya, sosok di depan jendela tersebut.

Sebut saja Si Putri Cantik. Karena bagaikan seorang putri kerajaan, sosok seorang gadis berparas bak malaikat dengan rambut panjangnya yang dapat memukau siapa pun sedang berdiri di atas sana.

Cukup lama fokus pandang Seungkwan terpaku pada kecantikan itu, hingga ia tak sadar bahwa mereka tengah bersitatap.

Ya, pandangan mereka bertemu, sampai-sampai Seungkwan merasa ingin pingsan saja.

“Hai. Kau sedang apa?”

Hanya empat kata.

Hanya empat kata, demi mata segaris milik Soonyoung! Empat kata pada dasarnya terhitung sedikit, namun sudah cukup untuk membuat jantung Seungkwan hampir meledak karena senang setengah mati.

Sebuah awal pertemuan yang sempurna menurut Seungkwan, dan beruntung perjumpaan itu dapat mengantarnya sampai ke momen-momen bahagia yang dilaluinya selama ini bersama dengan sang putri.

Ia masih senang, kendati semua itu harus dilakukannya secara diam-diam. Begitu tertutup, agar tidak ada yang tahu jalinan rahasia di antara mereka.

“Seungkwan ….”

Seungkwan merasa sudah gila karena dimabuk cinta.

Lihatlah gadis di hadapannya ini. Hampir setiap hari Seungkwan bersusah payah memanjat juntaian panjang itu demi bertemu dengan sang putri. Memanjat dengan ketinggian beberapa kaki, seperti yang tengah dilakukannya sekarang. Jujur saja, ini adalah hal tersulit yang pernah Seungkwan lakukan seumur hidup.

Tapi kalau untuk sang putri, apa sih yang tidak?

Meski begitu, rahasia terlarang ini tak boleh sampai ketahuan oleh siapa pun, terutama oleh penyihir itu.

Penyihir jahat nan kejam, yang ledakan amarahnya dapat membuat bencana bagi siapa saja. Tamatlah riwayatnya kalau sampai ketahuan.

“Boo Seungkwan!”

“Eh? A—Apa?”

Seungkwan yang sudah hampir menggapai tempat sang putri hampir saja terpeleset jika tak segera berpegangan. Salahkan otaknya yang terlalu banyak melantur. Padahal, ia sendiri tahu, waktu mereka tak banyak.

“Hati-hati, tolonglah. Kalau kau sampai jatuh bagaimana?”

Ah, benar-benar.

Seungkwan merasa paling bahagia di saat-saat seperti ini. Waktu yang terlewat selalu akan terasa begitu cepat bila kehadiran sang gadis telah dirasakannya. Jujur, ia tidak puas bila pertemuan mereka cuma sampai sekitar tiga atau empat kali dalam seminggu.

Sebenarnya, menginginkan hubungan lebih lanjut dengan sang putri juga bukan hal yang mustahil. Tetapi, apakah ia bisa?

Terlebih jika …

“Boo Seungkwan! Jangan melamun terus!”

… jika mereka tak berada dalam negeri dongeng itu?

“Ah, maafkan aku.”

“Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting barangnya. Kau bawa pesanan kami minggu lalu, tidak?”

.

.

.

Menyadari keberadaan Seungkwan, seketika seorang gadis lain yang berada satu ruangan dengan sang putri langsung mendekati mereka dengan tatapan berbinar.

“Ya. Tentu aku membawanya.”

Seungkwan merogoh tas ranselnya, lantas mengeluarkan sebuah kotak berbungkuskan kertas coklat.

“Ini pesananmu minggu lalu. Tas kulit keluaran terbaru yang kauperlihatkan di majalah itu, kan? Ketahuilah, aku mendapatkannya meskipun ini limited edition.”

Daebak! Kalau punyaku? Kau dapat juga, kan?” sahut kawan sang putri menimpali.

“Tentu. Ini kubawa, kalung dengan batu kristal Swarovski rancangan Hera Park.”

“Sungguh?!” Gadis berambut pendek itu membelalak dan menjerit kegirangan, seakan tak percaya dengan kata-kata Seungkwan. “Bagaimana bisa? Aku bahkan sudah mengantre selama berminggu-minggu tetapi selalu saja—”

Ssstt! Jangan keras-keras, Sooyoung. Nanti kalau ibu penyihir itu dengar, bagaimana?”

Yang diperingati oleh Si Putri Cantik hanya meringis sambil mengeluarkan kata ‘maaf’ tanpa suara.

“Sekarang bayaranku,” tagih Seungkwan.

“Berapa totalnya?”

Tatkala Seungkwan menyebutkan jumlah uang yang harus kedua gadis itu serahkan, sontak Sooyoung membelalak.

“Mahal sekali! Kau gila?”

Seungkwan mendengus. “Kaupikir mudah bagiku untuk menjadi penjual barang gelap di asrama seperti ini? Tentu saja bayaranku harus lebih mahal dari harga aslinya, Nona. Belum lagi harus berebut dengan sejumlah wanita di toko, lantas dipandang sebagai lelaki aneh oleh mereka. Dan apa kau tahu betapa susahnya bersembunyi dari para penjaga? Bagaimana dengan ibu asrama yang selalu kausebut penyihir galak itu? Satu lagi, memanjat untaian kain tirai emas itu bukan hal gampang. Ototku sakit semua, tahu.”

“Itu sepreiku, omong-omong.”

Whatever, Sooyoung. Yang jelas, ini sudah tidak bisa ditawar—”

“Baiklah, baiklah! Ini bayaranmu,” ujar Lexy—Si Putri Cantik—yang sudah malas mendengar omelan Seungkwan. Ia memasukkan sejumlah uang ke dalam amplop dan menyerahkannya pada lelaki itu. “Cepatlah pergi sekarang, sebelum ibu asrama menemukanmu. Jangan sampai ada yang melihat, nanti kau dikira penguntit karena  berkeliaran di asrama perempuan malam-malam.”

Dengan sebuah senyum merekah setelah menerima amplop dari sang pujaan hati, Seungkwan segera meraih ranselnya.

“Oke. Pesanan untuk minggu depan, kabari saja besok-besok. Tidak usah sungkan.”

Setelah itu, Seungkwan langsung meloncat dari balkon sambil berpegangan erat pada juntaian seprei Sooyoung, menuruni menara asrama tersebut perlahan sambil sesekali melihat keadaan sekitar—memastikan bahwa tak ada yang mengawasi.

Ketika tungkainya telah menapak tanah, Seungkwan segera menggoyangkan kain itu keras-keras, sebagai kode agar gadis-gadis itu segera menariknya kembali.

Sambil berjalan kembali ke kamarnya dalam gulita, sunggingan senyum itu kembali terulas.

Mungkin hubungannya dengan Lexy memang tak seromantis yang ada di buku dongeng. Hanya sekedar hubungan dagang di sebuah asrama yang cukup ketat peraturannya.

Seungkwan tahu, ini beresiko tinggi. Tetapi, mungkin juga memang harus berkorban banyak bila ingin menggapai sesuatu yang diinginkan, bukan? Demi Lexy, Seungkwan rela melakukan semua itu.

Di sini, Seungkwan mengetahui satu fakta.

Memulai hubungan dengan gadis itu memanglah tidak mudah. Namun setidaknya lewat jalinan ini, ia masih bisa berharap.

Yaitu berharap menjadi sang pangeran berkuda putih, terkhusus untuk seorang putri bernamakan Lexy Wu saja.

fin.
-oOo-

 

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s