Cemara

cemara

Cemara

original fiction by Rosé Blanche

G

±1400 words

.

Pohon cemara itu percaya pada tubuhnya sendiri bahwa ia bisa bertahan, dan ia pun pada akhirnya bertahan.

.

Ethan turun dari mobil sedan hitamnya yang baru saja ia parkirkan secara paralel. Bersamaan dengan kedua kaki yang menapak di atas aspal, aroma bunga-bunga bermekaran langsung menyeruak memenuhi hidungnya. Bau tanah basah dan rerumputan segar pun tak kalah mendominasi.

Sembari melangkahkan kaki melewati sebuah pagar, ia mengedar pandang. Fokus pandangnya menangkap berbagai macam jenis bunga yang berjajar rapi memenuhi kebun. Masih belum cukup, pot-pot tanaman hias pun terlihat menggantung di mana-mana.

Tipikal feminim sekali, pikir Ethan.

Kendati bukan untuk yang pertama kali ia melihat pemandangan itu karena telah menghabiskan sepanjang hidupnya di sana, Ethan tetap tidak bisa berhenti terkagum.

Netranya pun tak bisa lepas dari sosok yang tengah terduduk di teras, menatapnya dengan seulas senyum menawan meskipun terlihat memaksa.

Wanita berparas ayu itu pun berdiri, menghampiri Ethan yang masih terpaku di tempatnya.

“Kau sudah pulang?”

Ah, pertanyaan monoton.

Namun tidak apa-apa. Kendati demikian, Ethan masih mencintainya dengan sepenuh hati.

Namanya Cemara.

Wanita tercantik yang pernah Ethan kenal selama ini. Berasal dari keluarga berpendidikan, sehingga etika pun tak pernah lepas dari kehidupannya sehari-hari. Belum lagi segala tawa dan canda yang seringkali ia lontarkan, membuat Ethan selalu merasa hari-harinya terasa lebih baik.

Ethan pun tak akan pernah bosan mengatakan pada wanita itu bahwa ia mencintainya.

Tetapi, satu hal yang membuat Ethan bimbang.

Kemana perginya senyuman manis nan tulus itu beberapa hari terakhir?

“Ethan?”

“Ah, iya.” Panggilan itu sukses membuyarkan lamunan Ethan, diikuti dengan kepala yang termanggut-manggut kecil serta ulasan senyum kikuk. “Sudah makan?”

“Belum, aku menunggumu,” jawab Cemara. “Aku membuat sup daging pedas kesukaanmu. Ayo.”

Mereka berdua memasuki kediaman itu, dan seketika aroma khas sup itu tercium. Membuat Ethan tergiur mengingat perutnya yang belum diisi sejak pagi lantaran ada beberapa hal yang harus diurusnya untuk persiapan hari esok.

Setelah meletakkan ponsel dan dompetnya di atas meja, tungkai Ethan segera melangkah menuju meja makan, bersama dengan Cemara pula tentunya.

“Aku ingin bertanya, kenapa akhir-akhir ini kau sangat baik?” Mendapati kerutan di kening sebagai respon, Ethan menyadari bahwa ucapannya masih terlampau tidak jelas. “Maksudku, akhir-akhir ini kau seringkali memasakkan makanan—”

“Makanan-makanan favoritmu, begitu?”

Alis Ethan terangkat sebelah, kemudian ia mengangguk. Diseruputnya sup itu perlahan dengan tatapan mata yang masih tak lepas dari sang wanita.

“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan hal itu?”

“Tidak juga, hanya saja ….” Ethan menggigit bibir, cukup ragu dengan pendapatnya sendiri. Memilih untuk tidak melanjutkan kata-katanya, Ethan berujar, “Entahlah, jujur saja aku merasa kau agak aneh belakangan ini.”

“Benarkah?” Seakan memasang raut wajah datar tak peduli, wanita itu tak membalas tatapan Ethan.

“Aku juga tidak tahu, tetapi kuperhatikan kau jadi murung akhir-akhir ini. Apa sedang ada masalah?” Ethan mengetuk-ngetuk jarinya pelan pada meja menunggu jawaban, tetapi bibir itu tetap bungkam, sehingga Ethan melanjutkan, “Kalau ada, setidaknya ceritalah. Bisa kita selesaikan bersama, bukan? Masalahmu adalah masalahku juga.”

“Tidak ada masalah, Ethan. Sudahlah, makan saja supmu itu sebelum nanti jadi dingi—”

“Kalau begitu setidaknya beritahu alasan kenapa kau bersikap seperti ini sejak kemarin-kemarin.”

Pergerakan Cemara terhenti, diletakannya sendok itu perlahan. Lantas, ditatapnya Ethan lurus-lurus. “Apa salah bila aku berusaha memberikan sedikit hadiah perpisahan sebelum kau menikah dengan gadis itu?”

Mendengar itu, kening Ethan langsung berkerut. Apakah ini jawaban dari pertanyaannya selama ini?

“Jadi hanya karena itu? Hanya karena aku akan menikah lagi besok?”

Tak ada jawaban. Cemara kembali meletakkan sendoknya yang sempat hendak ia angkat, namun tidak jadi lantaran pertanyaan yang terlontar. Lantas ia menjawab, “Bagiku itu tidak ‘hanya’, Ethan.”

“Tapi kita sudah membicarakan ini berbulan-bulan yang lalu, bukan?” Suara Ethan sedikit meninggi, namun ia juga berusaha menahan sebisa mungkin. Ia tidak mau terbawa emosi lantas berteriak-teriak di hadapan wanita itu. “Aku yakin seratus persen kalau waktu itu kau mengiakan keputusanku. Kau mengatakan bahwa kau akan merelakan—”

“Tidak semudah itu, Ethan!”

Detik berikutnya, wanita itu terisak. Air mata itu mengalir turun membanjiri pipinya, tak dapat menahan lagi gundah yang telah menyelimuti selama beberapa waktu ini. Napasnya menjadi tersendat-sendat, dan ia tak sadar bahwa dirinya telah membuat Ethan dilanda kepanikan setengah mati.

Sang lelaki pun tak tahu harus berbuat apa. Apakah ia telah menyakiti perasaan wanita itu? Ethan bingung. Namun mengingat bahwa seorang wanita akan selalu mengutamakan perasaan ketimbang pemikiran logis, Ethan mengalah.

Ia berpindah kursi dan memposisikan dirinya di sebelah Cemara, lantas merangkul wanita itu erat-erat. Sebelah tangannya berusaha menghapus jejak air mata itu dengan tisu, kemudian berujar pelan, “Maafkan aku.”

Cemara menggeleng cepat, lalu disekanya likuid bening itu lekas-lekas. “Tidak, maafkan aku. Aku sendiri yang tidak konsisten. Aku hanya takut kejadian yang sama terulang lagi, itu saja.”

Ethan tersenyum tipis, mencoba untuk diam selagi wanita itu berusaha menenangkan diri. Sebelah tangannya masih merangkul Cemara, sembari menepuk-nepuk bahunya perlahan.

“Dengar,” ujar Cemara tiba-tiba. “Kau harus menikahinya, Ethan. Sudah waktunya kau mendapatkan pendamping hidup yang baru, yang jauh lebih layak.”

“Apa kau takut bila kutinggal sendirian?”

Spontan Cemara menggeleng.

Sang lelaki bergeming, akibat kebingungan dengan situasi yang kini ia hadapi. Mungkin memang bukan itu masalahnya.

Tetapi, ia juga bukan lelaki dengan sejuta kata-kata manis yang bisa menenangkan hati perempuan mana pun, bukan pula hakim yang dapat bertutur bijak sepanjang waktu.

Namun, sebuah ingatan yang melintas secara tiba-tiba membuatnya tersenyum. Memori yang ia simpan semenjak dirinya menduduki bangku sekolah dasar.

“Pada suatu hari, ada beberapa jenis tumbuhan yang berdiri di tengah-tengah salju.”

Tak dapat dipungkiri bahwa Cemara-lah yang sekarang kebingungan, namun ia memilih untuk membiarkan Ethan melanjutkan kata-katanya.

“Tak lama kemudian, badai salju datang. Semua tanaman kecil pun roboh, bahkan beberapa pohon besar tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan karena daunnya yang rontok semua.”

“Lalu?” Rupanya, kini Cemara mulai tertarik dengan cerita Ethan.

“Salju pun tampak puas dengan hasil perbuatannya. Namun, salju melihat ada satu tumbuhan yang masih bertahan kokoh, tetap tegak seperti sedia kala meskipun ia cukup yakin bahwa badai yang baru saja dibuatnya cukup kencang.”

“Tumbuhan apa itu?”

Sambil menyunggingkan sebuah senyum penuh makna, Ethan lantas berujar, “Pohon cemara.”

Kedua mata Cemara membola, membuat Ethan terkekeh pelan. Kemudian ia melanjutkan, “Ketika musim dingin datang dan badai salju menerpa, pohon cemara tetap berdiri tegak. Ia begitu kuat, tetap bertahan dalam dinginnya hawa yang berhasil membuat tanaman lainnya sulit bertahan hidup. Sang salju pun bertanya, apa rahasia dari kekuatannya itu. Coba tebak apa jawaban sang pohon cemara?”

Sang wanita menggeleng karena tidak tahu, sehingga Ethan menjawab, “Pohon cemara itu percaya pada tubuhnya sendiri bahwa ia bisa bertahan, dan ia pun pada akhirnya bertahan.”

Hening pun melanda. Cemara menatap Ethan lekat-lekat, kemudian tahu-tahu berujar, “Apa masuk akal bila salju bercakap-cakap dengan sebuah pohon?”

Tanpa butuh waktu lama, sebuah gelak tawa pun lolos dari bibir Ethan. “Jangan salah fokus, itu hanya perumpamaan!” Setelah Ethan berhasil menenangkan diri, ia kembali berujar, “Kau mengerti apa maksudku. Kau tidak perlu khawatir ataupun takut sampai murung begitu. Aku yakin kali ini, dia adalah wanita yang tepat, bukan hanya pengeruk harta seperti Jane dulu. Percayalah padaku.”

Wanita itu mengerti. Ethan tidak meminta banyak, hanya ingin agar dirinya tetap kuat seperti pohon cemara, yang tak akan goyah hanya dengan kekhawatiran tak berbukti.

Ethan hanya memintanya untuk percaya padanya, sama seperti cemara yang mempercayai akar, batang, serta daunnya dalam menghadapi salju.

Begitu saja sudah cukup.

Perlahan, diusapnya pipi Ethan dengan sebelah tangan. “Ya, kau benar. Kau pasti tidak akan salah memilih lagi. Dan aku juga pasti akan baik-baik saja. Lagipula tinggal sendirian bukanlah masalah, secara aku ini adalah ‘Cemara’ yang kuat. Benar?”

Ethan terkekeh, kemudian merengkuh wanita itu erat. “Hei, kau tidak akan takut bila kutinggal sendirian, kan? Kau berujar seakan aku bakal meninggalkanmu selamanya.”

“Memangnya tidak?”

“Tentu saja tidak!” sergah Ethan tanpa melepaskan dekapannya. “Paling tidak aku akan mengunjungimu setiap akhir pekan, secara kau adalah wanita nomor satuku.”

“Wanita … nomor satu?”

“Kau tidak melahirkanku agar aku bisa menomorduakanmu dengan wanita lain, bukan? Ayolah, tidak usah pura-pura polos begitu.”

Cemara kini tersenyum. Bukan senyum yang dipaksakan, melainkan sebuah senyum tulus penuh makna. Bukan lagi muram yang mengisi hatinya, melainkan kehangatan dari sang anak lelaki.

Oh, setelah perceraiannya dengan Jane, Ethan benar-benar berubah menjadi dewasa rupanya.

“Habiskanlah sisa supmu itu. Aku juga tidak melahirkanmu agar kau bisa membuang-buang masakanku, kaudengar?”

“Ya ampun, tidak usah pura-pura galak.”

Seketika itu juga, lontaran tawa dari mulut mereka berdua menguar memenuhi seisi ruang. Ethan memang sudah lama merindukan tawa manis yang terpatri pada wajah sang ibu, dan setidaknya hari ini ia dapat melihatnya sampai puas sebelum ucapan sakral itu ia ucapkan besok pagi.

Setidaknya, waktu berharga ini akan ia gunakan sebaik mungkin bersama dengan Cemara, wanita yang paling ia sayangi di dunia.

“Ethan, mau tambah?”

Uh, tapi kalau sudah begini, kenapa Ethan yang jadi tidak rela, ya?

fin.
-oOo-


a special-made fic for a person with initial HK 🙂
yang merasa kesindir, jangan lupa tinggalkan jejak dan kritik saran ya♥

rachel.

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s