A Daughter’s Heart

adaughtersheart

A Daughter’s Heart

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan [Seventeen] & Yoon Yoomi [OC]

Family, Fluff

G

Vignette

.

Whatever she has done, she’ll always be a little princess to her father.

.

Di dunia ini, Jeonghan yakin seratus persen bahwa semua orang tua pasti ingin membahagiakan anak-anaknya. Melihat tawa merekah terpasang pada wajah sang buah hati kendati harus mengorbankan diri, bukankah dambaan setiap orang tua seperti dirinya?

Namun, dalam kasus kali ini sepertinya ia agak kehilangan akal.

“Pokoknya Yoomi mau dibelikan itu! Nggak mau main Barbie lagi!”

Ya Tuhan, tabahkanlah hati Jeonghan. Awalnya memang ia tak kunjung mengerti apa yang salah pada Yoomi, lantaran seleranya berubah seratus delapan puluh derajat.

Tetapi, kebingungan itu sepertinya tak perlu bersinggah dalam pikirannya terlalu lama.

“Yeol dan Young saja bisa dapat dari Paman Seungcheol! Masa Yoomi tidak Ayah beri?”

“Apa?”

Keterkejutan Jeonghan spontan membuat keningnya berkerut.

Dapat dari Paman Seungcheol, huh?

Untuk saat ini, jujur saja Jeonghan berada dalam fase yang entah apa namanya. Terasa seperti ingin tertawa, tetapi tidak bisa lantaran mengingat curahan hati Seungcheol—karibnya—tepat beberapa jam yang lalu.

“Mentang-mentang ia dinikahi pengusaha kaya raya, lantas mengirim hadiah mainan seperti itu untuk Yeol dan Young. Dia pikir aku senang putri-putriku diberi mainan berbahaya begitu?!”

Jeonghan juga tak lupa umpatan apa saja yang lolos dari bibir Seungcheol terhadap kakak perempuannya yang sekarang tengah berbulan madu di Paris. Masalah tidak terletak pada harga mainan itu sehingga Seungcheol lantas dapat mengomel karena kelakuan kakaknya terlampau boros, namun pada jenis mainannya.

Sebuah mainan pesawat jet berukuran hampir sepanjang lengan orang dewasa, dikendalikan oleh remote control dan dapat terbang dengan kecepatan tinggi. Sudah pasti pula sanggup memecahkan semua kaca jendela dalam kediaman Seungcheol.

Tidak, tidak. Jeonghan masih rasional, dan ia tak mau menghabiskan gajinya selama sebulan penuh hanya untuk sebuah mainan yang beresiko membuat seisi rumahnya hancur. Belum lagi kalau Yoomi bosan dan menelantarkan benda itu di sudut ruang hingga bersatu dengan jaring laba-laba dan debu.

Itu lebih miris lagi.

Tetapi, apalah arti menerangkan itu semua pada gadis kecil yang bahkan belum dapat mengerti apa gunanya uang?

“Anak perempuan tidak pantas main pesawat-pesawatan seperti itu, Yoomi.” Jeonghan mencoba bertutur selembut mungkin. “Mainan itu hanya cocok untuk anak laki-laki yang sudah besar. Lagian, bukannya Yoomi itu seorang princess?”

“BUKAN!”

“Eh?!”

Jawaban tak disangka-sangka itu membuat Jeonghan membelalak untuk kesekian kalinya. Ia tak habis pikir bagaimana seorang gadis berumur lima tahun dapat berubah sifat sebegini cepat, mengingat gelar princess adalah favorit Yoomi selama ini.

Melihat wajah Yoomi yang masih tertekuk seakan tak ingin mengalah, Jeonghan memilih untuk mengambil tindakan.

“Yoomi-ah, dengarkan Ayah.” Nada Jeonghan seketika berubah tegas, kemudian melanjutkan, “Mainan itu berbahaya, Yoomi. Kalau sampai Yoomi nanti terluka bagaimana?”

“Pokoknya Yoomi mau main itu! Yoomi—”

“Kalau Ayah sama Bunda yang terluka? Yoomi masih mau main?”

Bibir kecil itu bungkam seketika.

Jeonghan hampir saja mengulas sebuah senyum kemenangan, namun tidak jadi akibat raut wajah putrinya yang bertambah kusut. Wajah tertekuk itu kini menampakkan sudut-sudut bibir yang semakin tertarik ke bawah, kemudian diikuti oleh pipi dan kedua bola mata yang memerah.

Oh, tidak.

Tampaknya Yoomi kecil milik Jeonghan akan menangis sebentar lagi.

“Yoomi-ah—”

“Ayah jahat!”

Sebuah pekikan meluncur dari mulut Yoomi, disusul oleh tungkai-tungkai kecilnya yang berlari menjauh dari Jeonghan. Tubuh itu menghilang di balik sekat dinding, dan suara gebrakan pintu pun terdengar ke seluruh penjuru ruang.

-oOo-

Jeonghan menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan, perihal gugup akan rencana yang dibuatnya sendiri. Kalau sampai tidak berhasil, sia-sialah usahanya beserta sang istri selama dua jam terakhir.

Sejak perdebatan tadi, Yoomi sama sekali tak mau keluar dari kamar. Dipanggil pun tidak ada jawaban. Maka satu-satunya cara hanyalah membujuk sang tuan putri.

“Yoomi?”

Jeonghan membuka pintu perlahan, mengintip dalam ruang remang. Fokusnya langsung menangkap sosok yang sedang terbungkus selimut memunggungi pintu. Kemudian, ia mengayunkan tungkai mendekat, mencoba semampu mungkin untuk tidak menimbulkan suara derap yang dapat mengejutkan Yoomi hingga terbangun—itu pun kalau dia benar-benar terlelap.

Jeonghan menyentuh bahu Yoomi pelan, lalu menengok ke arah wajahnya.

“Sudah Ayah duga Yoomi tidak tidur.”

Yang diajak bicara tetap tak bergeming. Raut cemberut itu masih nampak jelas.

“Seorang princess tidak boleh ngambek begitu, dong.”

“Yoomi bukan princess, Yah!” seru Yoomi yang masih enggan membalikkan tubuh.

“Kenapa begitu?” tanya Jeonghan bernada heran. “Padahal Ayah bisa mengubah Yoomi jadi princess sungguhan.”

“Benarkah?!”

Jeonghan benar-benar berupaya keras untuk tidak menyemburkan tawa tatkala tubuh mungil itu melonjak bangkit dalam waktu sepersekian detik, bonus sepasang mata yang berbinar dan mulut ternganga.

“Masa Ayah bohong? Sini, duduk dekat Ayah.”

Bak tersihir mantra, kali ini Yoomi langsung menurut meskipun tanpa adanya celotehan.

Jeonghan mengatur posisi, kemudian menempatkan tangannya pada surai arang milik Yoomi. Dengan cepat, jemari Jeonghan memilah serta memilin, mengubah tatanan rambut yang awalnya lurus menjadi jalinan kepang yang manis.

“Sekarang Yoomi berdiri di kasur. Tunggu sebentar, ya.”

Jeonghan melangkah cepat ke luar, dan kembali setelah beberapa detik dengan beberapa potong kain yang telah susah payah ia rangkai.

“Sekarang pegang pundak Ayah, masukkan kaki Yoomi di sini.”

“Ini apa, Yah?”

Sembari memasangkan  hasil karyanya pada Yoomi, Jeonghan menjawab, “Gaun untuk Yoomi.”

“GAUN?!” Satu lagi pekikan berhasil lolos. “G—Gaun untuk Yoomi?! Gaun seperti punya Cinderella?!”

“Ya, ini gaun untuk Yoomi, dan jauh lebih bagus dari punya Cinderella.”

Seketika itu juga Yoomi melompat-lompat kegirangan di atas kasur, membuat Jeonghan kesusahan memasangkan kancing bagian belakang.

Sesudahnya, Yoomi lantas turun dari kasur dan langsung menempatkan dirinya tepat di hadapan sebuah cermin. Mata yang sejatinya sudah bulat itu kini kian membola berkali lipat.

Jeonghan mengulum senyum. Setidaknya kini ia tahu, usahanya dengan sang istri yang telah bersedia membantu membongkar lemari demi mencari potongan kain perca layak pakai serta mengajarinya menggunakan mesin jahit pun dapat terbayar.

“Bagaimana? Suka?”

Kali ini Yoomi mengangguk antusias, dan ulasan senyum semringah pun tak dapat ia sembunyikan.

“Sebenarnya kurang sedikit lagi,” tutur Jeonghan. Ia mengambil sebuah rangkaian bunga yang telah dibentuk menjadi lingkaran, kemudian memasangkannya pada kepala Yoomi.

“Begini lebih manis.”

“Apa Yoomi sudah secantik princess Cinderella?”

Jeonghan memegang kedua bahu Yoomi, kemudian menatap putrinya lekat lewat cermin. “Bagi Ayah, Yoomi adalah princess Ayah yang paling cantik.”

Jeritan kegirangan kembali terdengar, dan kali ini diikuti oleh sebuah rengkuh yang melayang ke leher Jeonghan.

“Terima kasih, Ayah!” Mendengar itu, Jeonghan kembali mengulas senyum dan balas mendekap putrinya. “Maaf karena tadi Yoomi bilang kalau Ayah jahat.”

Jeonghan melonggarkan lengan, memberi jarak di antara mereka. “Yoomi harus janji, lain kali jangan bilang begitu lagi, ya? Seorang princess yang baik tidak mengatai hal-hal buruk pada orang lain.”

Yoomi mengangguk mantap tanpa menghilangkan senyuman lebarnya sedikit pun.

Nah, benar kan pemikiran Jeonghan? Mau selera Yoomi jungkir balik sampai seberapa pun, toh seorang anak perempuan tetaplah seorang anak perempuan. Tulus dan berhati bersih, pula dengan pemikiran polos yang tak pernah bisa berbohong.

“Kalau begitu …”

Jeonghan mengubah posisinya dari berjongkok menjadi berlutut. Berlutut di hadapan Yoomi, persis seperti yang dilakukannya bertahun-tahun lalu saat melamar Nyonya Yoon menjadi pendamping hidupnya. Bedanya, kali ini ia tidak menyematkan cincin, melainkan mengulurkan tangan kanannya.

“… bersediakah Tuan Putri untuk berdansa?”

Tentu saja tak ada yang dapat menolak uluran tangan itu, bahkan Yoomi yang sedang merajuk sekalipun.

Karena pemiliknya adalah Jeonghan, seseorang yang semenyebalkan apa pun itu, ia akan tetap menjadi ayah terkeren sepanjang abad bagi Yoomi.

Dari luar kamar, Nyonya Yoon pun mengintip sambil terkekeh geli.

Ah, dansa.

Omong-omong soal berdansa, Nyonya Yoon teringat akan latihan di kelas tari yang diikuti Yoomi terakhir kali. Melakukan gerakan dasar saja masih tidak seimbang, lalu bagaimana ia bisa berdansa?

“Aduh! Jangan injak dong, Yah! Sakit!”

Apalagi ayahnya.

fin.
-oOo-


akhirnya bisa nulis lagi habis slesai unas:”)

if you mind, don’t forget to leave your thoughts below, and also thanks a lot for kakdita buat OCnya, maaf kalo dd Yoomi kubikin rewel di sini:”)

rachel.

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s