[Flowers of Life] Carnation

carnation

Carnation

series by Rosé Blanche

 Cha Eunwoo [Astro] & Karen Choi [OC]

Family, Friendship, Hurt/Comfort, Slice of Life

G

Vignette

Previous :
A | B

.

I have an Angel watching over me. I call her Mom.
-Michelle Russell-

.

Satu pagi kembali datang sehabis malam, entah pagi musim gugur ke berapa yang telah Eunwoo lewati dalam setahun. Langit cukup cerah, memang—namun sangat berkebalikan dengan suasana hatinya.

Dengan tungkai mengayun cepat, Eunwoo melangkah menyusuri jalan bertaburkan dedaunan kuning kecokelatan setelah membanting pintu rumahnya sendiri dengan sekali sentak. Sebuah makian tak diinginkan pun lolos dari bibirnya.

Sebenarnya Eunwoo tak pernah bermaksud untuk sekasar itu. Eunwoo bukan macam orang dari keluarga tak berpendidikan. Namun, apa daya bila sang perasaan sudah tak sanggup menerima keadaan? Rasanya terlampau sakit.

Kebebasan yang dimilikinya seolah tersita begitu saja. Seakan segala aspek hidup itu telah terikat oleh sebuah peraturan, yang membuatnya merasa terkucilkan dari kehidupan sosial.

Menyebalkan.

“Kau tidak bisa membaca waktu?! Mengapa ponselmu tidak aktif?!”

“Ayolah, aku hanya bersenang-senang, Bu.”

“Bersenang-senang? Bagus sekali. Terlalu senang sampai baru pulang subuh, begitu?!”

“Bu! Ibu tidak bisa seperti ini! Aku juga butuh kebebasan!”

“Setidaknya tahu dirilah, Eunwoo! Bahaya berada di luar rumah pada jam—”

“Bagaimana dengan ibu? Kau sendiri juga sering lembur sampai pagi, Bu! Ibu juga jarang ada di rumah, lantas kenapa aku tidak boleh bersenang-senang dengan teman-temanku sendiri? KENAPA IBU SANGAT EGOIS?!”

Dalam benak Eunwoo terus terngiang kata-kata yang telah terlanjur ia lontarkan. Ia marah, sangat marah. Kepalanya sakit. Hatinya pun pilu.

Kakinya terus melangkah dan melangkah tanpa tujuan. Hingga ia merasa telah cukup jauh dari rumah, ia memutuskan untuk memerhatikan sekeliling. Syukurlah, daerah tersebut masih dapat dikenalinya.

Sebuah taman kota yang sering Eunwoo kunjungi ketika masih kecil.

Eunwoo memilih untuk duduk di sebuah bangku panjang lantaran otot tungkainya mulai kelelahan. Namun, rasa lelah itu tak terlalu menjadi masalah, akibat terobatinya rasa rindu menggebu pada suasana taman itu.

Terasa seperti nostalgia, pikirnya.

Semua fasilitas layaknya taman bermain anak, bangku, lampu jalan, dan pepohonan pun tak berubah. Hanya toko-toko di beberapa sudut dan para penjual makanan kelilingnya saja yang tergantikan sebagian.

Saat fokus pandangnya tertuju pada sebuah toko kecil, pergerakan matanya terhenti. Kedua bola itu menangkap sesuatu—atau lebih tepatnya seseorang yang sepertinya ia kenal. Eunwoo tak yakin pasti, namun entah mengapa kakinya bergerak secara otomatis, melangkah mendekat ke arah sang gadis.

Eunwoo memasuki sebuah toko bunga kecil, terlihat cukup sederhana. Aroma wangi campur aduk itu langsung menyerbu hidungnya.

Ia tak perlu waktu lama untuk melihat-lihat, karena tak selang lama kemudian kedua matanya sudah terpaku kembali pada gadis yang sedang berdiri di depan meja pembayaran. Rasa kuriositasnya pada sang gadis lebih tinggi ketimbang jenis-jenis bunga itu.

Sang subjek masih juga belum menyadari kendati Eunwoo telah berada tepat belakangnya, berdiri sambil memicingkan mata dan berusaha menerka.

“Karen?”

Sang gadis lantas terdiam sejemang setelah menoleh, lantaran otaknya dilanda kebingungan—antara mengenal atau tidak mengenal lelaki yang sedang beradu tatap dengannya.

“Kau … Cha Eunwoo?”

Merasa cukup senang karena tak dilupakan, Eunwoo lantas menganggukkan kepalanya semangat. “Sudah empat tahun, ternyata kau sama sekali tidak berubah,” ujarnya setengah tertawa.

Eunwoo masih ingat kala empat tahun yang lalu, gadis bernama Karen Choi tersebut memutuskan untuk pergi ke Amerika demi melanjutkan studi. Selama itu pula, dirinya dan gadis itu belum bertukar kabar sekali pun.

“Kapan sampai?”

“Baru saja kemarin,” jawab Karen, seulas senyum pun terpatri di bibirnya. “Bagaimana kabarmu? Kuliah lancar?”

“Kuharap begitu.” Eunwoo setengah tertawa lantaran tiba-tiba saja teringat nasib nilai-nilainya yang tidak bisa dikatakan baik sama sekali. “Omong-omong, kau sedang libur? Karena itu pulang ke Seoul?”

Karen mengangguk. “Selain itu, juga karena aku ingin mengunjungi seseorang.”

“Siapa?”

Baru saja Karen membuka mulut hendak menjawab, sang pemilik toko menyentuh punggungnya memanggil, seraya menyerahkan sebuket bunga yang telah ia pesan. Setelah membayar, barulah gadis itu melangkah keluar diikuti oleh Eunwoo.

“Mau mengunjungi pacar, ya?” Tanpa Eunwoo sadari, mulutnya menyeletuk begitu saja. Namun pada akhirnya, ia mengulas sebuah senyum juga untuk menggoda Karen.

“Bukan, kok. Jangan sok tahu.” Sebuah jitakan pelan pun mendarat di kening Eunwoo. “Lagipula aku ini perempuan. Kenapa harus aku yang memberi bunga?!”

“Tidak usah protes begitu, menurutku wajar saja, kok,” Eunwoo dengan santainya berucap. “Lalu untuk apa beli bunga? Ini bunga anyelir, kan? Bukannya bunga anyelir itu melambangkan cinta? Selain mawar dan tulip, maksudku.”

“Memang iya.”

“Lalu?”

“Ibuku berulang tahun hari ini, jadi aku ingin mengunjunginya. Mau ikut?” tawar Karen sembari menggerakkan kepala ke arah sebuah mobil sedan hitam. Tanpa Eunwoo sadari, sedari tadi kakinya terus melangkah mengikuti Karen hingga sampai ke mobil gadis tersebut.

“Memangnya tidak apa-apa?”

“Aku tidak punya alasan untuk melarangmu,” ujar Karen terkekeh. “Lagipula, bukankah kalian sudah lama tidak bertemu? Barangkali ibuku juga rindu.”

Alhasil, Eunwoo pun setuju.

-oOo-

Sudah Eunwoo duga sejak beberapa menit lalu, ada yang tidak beres.

Sejak Karen melewati jalur yang begitu asing bagi Eunwoo, lelaki itu pun tahu mereka tidak menuju tempat yang sedang tertera dalam benaknya. Eunwoo benar-benar mengenal lokasi kediaman itu, dan ia tahu kalau ada yang salah.

Tetapi, peduli apa dirinya? Yang penting ia bisa berada di suatu tempat asalkan tidak dengan rumahnya.

Suasana hening dalam mobil yang mendominasi, terus berlanjut sampai beberapa menit kemudian mobil Karen memasuki daerah yang cukup sepi. Eunwoo bahkan tidak dapat melihat orang lain selain mereka berdua.

Firasat buruk Eunwoo disepanjang jalan langsung terjawab tatkala sebuah pintu gerbang putih besar nan menjulang ia jumpai, dan saat itu pula Karen memarkirkan mobilnya di dekat sana.

Karen lantas turun dari mobil dengan kedua tangan yang tak lupa membawa buket, diikuti dengan Eunwoo yang masih ternganga.

“Ini rumah ibuku yang baru. Ayo masuk.”

Benar saja.

Sang gadis melangkah melewati gerbang yang setengah terbuka, meninggalkan Eunwoo yang masih kalut dengan pikirannya sendiri.

Perkiraan Eunwoo yang tadinya sempat lewat sekilas dan mengatakan bahwa ibu Karen berpindah rumah langsung kandas seketika. Karena daripada rumah, tempat ini lebih tepat jika dinamai pemakaman.

Eunwoo menghela napas sejenak, kemudian berlari-lari kecil masuk ke dalam pemakaman. Dilihatnya Karen yang telah berdiri di hadapan sebuah batu nisan, dan Eunwoo pun menghampirinya.

“M—Memangnya sudah berapa lama? Kenapa … aku tidak diberi tahu?”

“Setahun yang lalu,” ujar Karen pelan, sendu. “Maaf, waktu itu benar-benar sangat mendadak. Saat itu aku masih berada di California, saat adikku menelepon dan mengatakan bahwa ibu kami telah tiada. Jadi, keesokannya aku langsung terbang ke sini. Bahkan ketika aku sampai, acara pemakaman sudah dimulai. Semuanya berlalu begitu cepat, Eunwoo.”

Gadis itu menyunggingkan sebuah senyum getir, membuat Eunwoo dapat merasakan pula kesedihannya.

“Aku turut berduka.”

Masih dengan senyum yang sama, Karen mengangguk pelan. Ia menekuk kedua kakinya berlutut, dan meletakkan seikat bunga anyelir yang dibawanya. Sebuah tatapan lirih ia berikan pula pada batu nisan yang mengukirkan sebuah nama—nama yang dimiliki oleh sosok yang paling ia cintai.

“Ya, semuanya berlalu begitu cepat. Bahkan … rasanya terlampau cepat,” lanjut Karen. “Sama sekali tidak ada yang menyangka, Eunwoo.”

Kata-kata tersebut membuat alis Eunwoo berkerut.

Seingatnya, Bibi Choi termasuk tipikal orang yang benar-benar menjaga kesehatan, jadi kemungkinannya agak kecil bila nyawanya terengut karena suatu penyakit. Kalau begitu, apakah penyebabnya adalah—

“Penyebabnya kecelakaan. Ia menjadi korban tabrak lari.”

Pernyataan itu sudah cukup untuk menjawab kuriositas yang berputar-putar dalam benak Eunwoo. Ia dapat merasakan, betapa terpukulnya Karen saat mendengar kabar memilukan tersebut. Terlebih, kala itu ia sedang berada di luar negeri.

“Kalau boleh tahu, bagaimana bisa—”

“Awalnya aku juga berpikiran seperti itu,” ujar Karen sambil kembali mengguratkan senyum pahit tanpa melepaskan pandang dari batu nisan. “Tetapi, setelah Jinyoung menumpahkan segala pengakuannya padaku, kurasa aku paham situasinya.”

“Jinyoung adikmu?” tanya Eunwoo memastikan. “Apa yang terjadi?”

Karen berusaha mengatur napas, mencoba mengingat setiap detail kejadian yang dituturkan oleh saudaranya. Mengenang kembali cerita pahit tersebut, Eunwoo sadar betul bahwa itu tentu bukan sebuah hal yang mudah.

“Malam itu, Jinyoung dan ibuku bertengkar. Cukup hebat, meskipun masalahnya bisa dibilang sepele. Hanya saja keesokan harinya, Jinyoung tidak langsung pulang ke rumah setelah jam sekolahnya selesai. Ia tidak ingin pulang. Mengingat pertengkaran itu membuatnya frustasi, dia bilang begitu.”

Karen terkekeh pelan, sementara Eunwoo tak dapat merespon.

“Akhirnya Jinyoung pergi sampai larut malam. Walaupun ibu kami melepon dan mengirim beberapa teks pesan, ia sama sekali tidak menjawab panggilan atau pun membalas satu pun dari pesan-pesan itu. Ia menganggap ibu kami sebagai pengganggu, karena saat itu ia benar-benar sedang bersenang-senang dengan teman-temannya,” lanjut Karen. “Tapi … siapa yang menyangka? Semuanya terjadi begitu cepat, dan Jinyoung pun melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

“Apanya?”

“Kecelakaan tabrak lari itu.”

Kedua mata Eunwoo langsung membola seketika. “Bagaimana bisa?”

“Ibu kami nekat berjalan kaki di sepanjang jalan hanya demi mencari Jinyoung, padahal saat itu sudah tengah malam. Tapi— Well, kalau memang untuk anaknya sendiri, apa pun bisa dilakukan oleh seorang ibu. Tidakkah menurutmu begitu?”

Eunwoo masih bungkam, tak menjawab lantaran bibirnya terasa begitu kaku. Jari-jarinya ditautkan tanda gelisah, pun dengan rasa bersalah yang melanda. Ia masih tak mengerti mengapa ia bisa terbawa dalam situasi seperti ini, entah kalau takdir yang bicara atau memang sebuah peringatan.

Masalahnya, ia langsung teringat oleh pertengkaran dengan sang ibu tadi pagi.

“Jinyoung sedang makan kue beras bersama teman-temannya sepulang dari karaoke, ketika tiba-tiba saja ia melihat ibu kami yang sedang berjalan tergopoh sendirian di tepi jalan. Ia sempat mengira bahwa penglihatannya salah karena efek alkohol yang membuatnya sedikit mabuk kala itu, namun nyatanya wanita itu memanglah ibu kami. Sebenarnya saat itu ia berusaha bersembunyi lantaran masih merasa dongkol, tepat saja ketika motor itu lewat.”

“Motor?”

“Ya, pengendara motor itu merampas tas ibu kami, sehingga ia spontan mengejar. Dan saat ia sampai di pertigaan, ia tak melihat ada mobil yang lewat dan ….”

Ucapan Karen terputus, tatkala menyadari bahwa suaranya sudah terlalu tercekat. Sebulir air mata tiba-tiba turun menghiasi pipi tirusnya, dan napasnya pun berubah tak beraturan. Kini, ia merasa tak sanggup lagi untuk menuturkan semuanya.

“Yah, begitulah.”

Eunwoo menatap gadis malang itu. Ia menatap bunga anyelir merah mudanya juga. Ia menatap batu nisan yang berdiri tepat di hadapan Karen.

Tepat saat kedua matanya mulai terasa kabur akibat cairan yang berkumpul, ia menyadari satu hal.

Mungkin ibunya bukanlah seseorang yang sempurna. Mungkin Eunwoo dapat menyebutnya sebagai wanita yang kelewat cerewet dan bawel soal ini itu, namun bahkan tidak dapat merawat dan menjaga kesehatan dirinya sendiri. Mungkin, ibunya memang hanya seorang wanita gila kerja yang sering lembur dan pulang larut.

Tetapi, tak peduli apa pun yang terjadi, seorang ibu akan tetap menjadi seorang ibu.

Dan Eunwoo rasa, kenyataan tersebut sudah cukup mendorong hatinya untuk segera pulang dan segera meminta maaf pada satu sosok tersebut.

Sang malaikat pelindung yang selalu mencintainya dengan tulus, dengan rasa cinta yang tak akan pernah tertandingi.

fin.
-oOo-


Pink Carnation means mother’s love.

Advertisements

3 thoughts on “[Flowers of Life] Carnation

  1. Pingback: [Flowers of Life] Dandelion | ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: [Flowers of Life] Elderflower | ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: [Flowers of Life] Forget Me Not | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s