The Way to Comfort Her

thewaytocomforther

The Way to Comfort Her

story by Rosé Blanche

 Xu Minghao [Seventeen], Tan Rie [OC], Wen Junhui [Seventeen]

Fluff, Slice of Life

G

Vignette

.

Slow down. Calm down. Don’t worry. Don’t hurry. Trust yourself. Trust your heart.

.

Telah berapa menit terlewat hanya oleh keheningan, Jun tidak tahu. Ia juga tak mengerti sampai kapan ia harus duduk manis di samping sang sahabat yang berkunjung ke kediamannya tanpa melakukan apa pun.

Masalah tidak berada pada Jun, melainkan pada pemuda yang satu lagi, Minghao. Bahkan Jun sudah berusaha mengobrol, mencari bahan pembicaraan bahkan berceloteh sampai ia yakin bahwa ia akan membutuhkan obat sakit tenggorokan setelah ini. Tetapi yang didapatnya hanyalah sikap tak acuh milik Minghao.

Jun kebingungan lantaran seharusnya apabila Minghao yang datang, bukankah seharusnya pemuda itu yang memerlukan sesuatu? Kenapa juga harus Jun yang mencarikan topik berbincang? Memikirkannya membuat Jun merasa bodoh sendiri.

Akibat terlalu lama menilik perawakan Minghao yang sedari tadi hanya mengerang tak jelas sambil sesekali memijat pelipis, Jun tak tahan lagi dan akhirnya buka suara.

“Hei, Bung. Kau sedang punya masalah?” Karena respon yang diharapkan tak kunjung muncul, Jun kembali menyahut, “Oh ayolah, aku tidak sedang berbicara dengan angin.”

Tentu Minghao tak ingin konflik bertambah panjang, maka Minghao memilih untuk menjawab, “Well, bisa dibilang begitu.”

Diam-diam, dalam hati Jun muncul sedikit rasa ketertarikan. Jun menggeser kursinya mendekat, barangkali ia akan mendapat gelar sebagai orang bijak hari ini kalau saja Minghao bersedia menjadikan dirinya tempat kepercayaan berbagi keluh kesah.

“Memangnya ada apa? Siapa tahu aku bisa membantumu?”

Terjadi jeda beberapa sekon. Minghao membuang napas, kemudian menatap Jun dengan alis berkerut. “Ini soal Rie.”

“Rie? Istrimu?”

“Bukan. Istrimu.”

“Hei—”

“Memangnya kaupikir siapa lagi di sini yang namanya Rie, huh?”

Jun mencebik, namun pemuda itu juga tahu kalau sahabatnya sedang tidak dalam kondisi yang bisa dikatakan tenang. Salah bicara sedikit saja pada pria sensitif seperti Minghao, selesai sudah. Pada akhirnya, Jun memutuskan untuk mengalah ketimbang repot. “Baiklah, baiklah. Rie kenapa?”

“Akhir-akhir ini … ia sering menangis diam-diam. Pernah sekali aku melihat Rie menangis setelah menelepon ayahnya. I think she’s kind of homesick.”

Minghao berpaling ke Jun. Namun, yang ada bukanlah wajah simpatik atau sejenisnya, melainkan usaha keras Jun menahan sembur tawa.

“Memangnya lucu?”

“Serius? Hanya itu?”

“Hei, ‘hanya itu’ katamu?” Suara Minghao meninggi, namun tetap tak dapat menghilangkan tawa geli Jun. “Kau tahu sudah berapa hari aku depresi karena masalah ini? Aku bahkan sudah gila karena bertanya pada makhluk-makhluk asing yang entah berasal dari planet antah-berantah mana layaknya Mingyu dan Seokmin, dan seperti yang seharusnya kusadari dari awal—mereka sama sekali tidak berguna.”

“Apa yang mereka katakan?”

“Mingyu dengan gampangnya berkata kalau aku tinggal mengajaknya pulang saja ke Anshan dan mengadakan reuni keluarga, sedangkan tugas laporan keuanganku sedang menumpuk beberapa bulan terakhir. Korea dan Cina tidak sedekat itu, kan? Sedangkan Seokmin— Ah, sudahlah. Lupakan saja.”

Karena tak dapat menahan rasa penasaran yang melanda, Jun lantas menyenggol lengan Minghao. “Ayolah, dia bilang apa padamu?”

Sambil memasang lirikan tajam dan mendengus pasrah, Minghao akhirnya menjawab kendati tak ingin, lantaran jawaban kawan satunya itu konyol sekali.

Jedotkan saja kepalanya ke tembok, siapa tahu ia lupa dengan keluarganya. Yang benar saja! Dia pikir aku bercanda?”

Pernyataan itu sukses membuat Jun sekali lagi tergelak, namun segera cepat dihentikan akibat menyadari wajah Minghao yang sudah kusut tertekuk. Jun berdeham, mecoba untuk serius.

“Sebenarnya, kau tak perlu sampai sepusing itu. Jangan terburu-buru apalagi panik, Minghao.”

“Lalu? Aku harus bagaimana kalau Rie sudah mengalihkan pembicaraan ketika aku memergokinya menangis? Ia akan berusaha membahas apa saja bahkan hal-hal yang tidak penting sekalipun sedangkan aku tahu kalau dalam hati ia sedang rindu keluarganya setengah mati. Rie cukup pintar bersandiwara, asal kau tahu.”

“Aku tahu, Minghao. Aku tahu kalau kau gelisah, namun aku juga mengerti kalau wanita memanglah seperti itu. Aku yakin seratus persen kau akan setuju bila aku mengatakan mereka adalah makhluk yang paling susah dipahami sepanjang abad,” tutur Jun. “Karena itu, daripada bersikap seakan kau tidak tahu apa-apa ataupun menuturkan omong kosong serta rayuan, kenapa kau tak mencoba melakukan sesuatu saja?”

“Sesuatu apa?”

Jun tersenyum. “Kalau kau benar-benar mencintai Rie, kau akan menemukan sendiri jawabannya di dalam hatimu, Minghao. Tak perlu berpikir terlalu jauh, karena sesuatu yang rumit belum tentu penyelesaiannya rumit pula.”

-oOo-

Minghao meletakkan sepatunya di rak usai menutup pintu. Setelah menggantung mantel, sepasang maniknya lekas mencari keberadaan satu-satunya wanita di rumah itu. Tungkainya berayun menjelajahi setiap sudut, sampai pada akhirnya berhenti di satu titik.

Fokus pandang Minghao kini telah teralihkan penuh pada sosok yang sedang berdiri memunggunginya di balik sebuah jendela dan pintu kaca besar, mengarah pada pekarangan belakang.

Tanpa pikir panjang lagi, Minghao segera membuka pintu itu sepelan mungkin agar istrinya tidak mengalami masalah jantung, mengingat Rie tipikal yang mudah sekali dikagetkan. Perlahan-lahan ia mendekat, dan ketika jaraknya dan Rie hanya berkisar tiga langkah, wanita itu menoleh.

“Oh, Minghao? Sudah pulang?”

Lagi-lagi dan untuk kesekian kalinya, mata merah dengan kilau bening itu Minghao dapati pada wajah Rie. Sepertinya wanita itu juga menyadari kegelisahan Minghao, sehingga ia bergumam, “Ah, udaranya dingin, ya? Mataku sampai berair.”

Rie mengusap kedua ujung matanya sambil tertawa kecil, seakan sama sekali tak ingin menunjukkan kesedihannya. Membuat Minghao yang melihat tak dapat melontarkan kata.

“Aku sudah membaca pesanmu. Kenapa pagi-pagi sekali ke rumah Jun? Aku ‘kan belum bangun,” ujar Rie setengah merajuk. “Bagaimana kabarnya? Ia sehat-sehat saja, kan? Kurasa setelah ini aku akan minta maaf padanya karena tidak bisa ikut denganmu barusan.”

Dalam hati, Minghao merutuki dirinya sendiri lantaran tak dapat merespon. Ia mencoba, benar-benar mencoba sampai kepalanya terasa sakit namun kata-kata itu tak kunjung juga ia temukan. Bibirnya tetap bungkam. Hatinya gelisah, pikirannya penuh akan rasa cemas.

“Ah, jujur aku suka berada di sini karena udaranya segar, tetapi ini benar-benar dingin. Padahal sebentar lagi sudah musim semi, kan?”

.

.

.

Sudah cukup.

Tak ingin ambil pusing lagi, kini Minghao memutuskan untuk bertindak. Mengikuti keinginan hati nuraninya sesuai dengan perkataan Jun, menanggalkan segala resah yang menghantui selama beberapa hari terakhir. Karena, pada dasarnya memang ia sendirilah yang paling mengerti tentang isi hati terdalamnya.

Minghao mencintai Rie, dan Minghao tahu apa yang harus ia lakukan.

“Eh? Minghao?”

Tanpa waktu panjang, direngkuhnya wanita itu dari belakang. Membawa tubuh mungil itu masuk dalam dekapan, memeluk seerat mungkin seakan takut kehilangan. Diletakkan dagunya pada ceruk leher Rie sampai-sampai wanita itu dapat merasakan embusan napasnya.

Kini, Rie memalingkan muka ke arah Minghao. Menatap suaminya lekat-lekat sembari mengulas sebuah senyum. Manis sekali.

“Terima kasih. Begini lebih hangat, Minghao-ya.”

Karena pada dasarnya, seperti yang dikatakan Jun. Menenangkan dan mengembalikan senyum merekah seorang wanita memang tak harus melalui kata-kata dan sejuta rayuan.

Sedikit perlakuan manis pun cukup.

Sesederhana itu.

fin.
-oOo-


dan jun pun akhirnya mendapatkan gelar orang bijak /abaikan/

buat yang sudah baca, jangan lupa tinggalkan jejak dan mohon kritik sarannya^^

buat kaktri, aku tau kok ini kelamaan:”) janjinya dari seminggu yang lalu tapi baru ngepost sekarang /bhak/ hehehe miyaneee
anyway thanks a lot kaktri buat OCnya♥

rachel.

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s