Unspoken Words

unspokenwords

Unspoken Words

story by  Rosé Blanche

Hansol Vernon Chwe (Seventeen) with Audrey Yoon (OC) & slight!Kim Mingyu (Seventeen)

Riddle, Romance

PG

Vignette

.

Unspoken words, I promise that you will hear it.

.

Sejak waktu itu, hampir setiap hari ia terlihat menangis. Namun, aku tak yakin kalau rasa sesal yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi ia hanya takut, karena akhir-akhir ini berurusan dengan polisi.

Bohong kalau awalnya aku turut bersedih. Toh, ini semua memang salahnya. Tetapi, bohong juga kalau aku berkata jika aku tidak mencintainya lagi.

Ah, cinta. Entah aku yang bodoh, atau memang semua ini karena takdir yang menyudutkanku?

Di sini, di ujung kelas, adalah tempat yang selalu kududuki untuk mengamatinya.

Akhir-akhir ini kondisinya tidak baik. Terbukti dari wajah yang kian memucat, ditambah tubuhnya yang bertambah kurus hari demi hari.

“Vernon?”

Sosok jangkung bernamakan Kim Mingyu itu mengayun tungkai mendekat ke arahnya, dan kini mereka tengah duduk berhadapan.

“Bagaimana kemarin?”

Vernon mengangkat kepala, sempat mengerjap beberapa kali sebelum bersuara.

“Entahlah, kurasa bagaimanapun juga aku akan dijebloskan ke penjara.”

Benar sekali.

Waktu itu, tepat tiga hari yang lalu—Vernon sempat bertengkar hebat dengan kekasihnya, Yoon Audrey. Bukan suatu hal yang aneh memang, mengingat sering sekali mereka berargumen atas hal-hal kecil yang bahkan tak masuk akal sekalipun.

Tetapi, hari itu berbeda.

Vernon yang sejatinya kurang dapat mengendalikan emosi langsung terpancing kala sekelompok lelaki itu mengajak bertarung dengan cara adu kekuatan.

“Kalau kami menang, serahkan Audrey-mu.”

Aku masih teringat kata-kata ketua geng dari sekolah sebelah itu padanya. Dasar bodoh, seorang gadis tidak sepantasnya disamakan dengan objek, bukan?

Tetapi, lebih bodoh lagi ketika Vernon menerima taruhannya.

“Makanya, jangan kebanyakan gaya pakai tawuran segala. Kau bukan preman atau pun orang yang ahli beradu jotos, Vernon. Lucu sekali waktu kau datang sendirian, padahal kau tahu kalau Seungcheol pasti membawa komplotannya.”

Entah kenapa senyum miring dan dengusan tak dapat kusembunyikan, ingin tertawa saja rasanya. Ini terlalu konyol lantaran masalah sepele dapat berujung ke kantor polisi.

Vernon berdeham, lantas menjawab, “Aku tidak tahan karena ia merendahkan Audrey.”

“Tidak tahan? Serius?” tanya Mingyu sarkastik. “Gadis itu jelas sekali sudah melarangmu pergi, Bung. Tetapi pada akhirnya kau bersikap tak acuh. Satu hal yang jelas, kau tetap datang ke tempat itu agar kau tidak kalah taruhan dengan Soonyoung. Benar?”

Taruhan.

Omong-omong, aku juga tahu kalau Vernon hanya menjadikan Audrey bahan taruhan.

Kalau kau bisa membuatnya jatuh cinta, aku akan melakukan apa pun yang kauminta.”

Ya Tuhan, tolong ampuni lelaki sipit satu itu juga. Meskipun pada akhirnya Vernon berhasil mendapatkan hati Audrey, toh nyatanya semua berakhir seperti ini. Menyedihkan.

“Ya, aku tahu, tetapi—”

“Aku paham kau tidak benar-benar punya perasaan pada Audrey, hanya saja jangan lupakan fakta kalau gadis itu tulus, Vernon,” sahut Mingyu memotong. “Ia memang kuat dalam tenaga, tetapi tidak wajar kalau seorang gadis berani menengahi pertarungan antara belasan lelaki yang lantas berdampak pada nyawanya sendiri. Aku juga mengerti bukan suatu kesengajaan kau memukul kepalanya dengan balok kayu, tetapi— Well, kalau dipikir-pikir sebenarnya tidak perlu sampai begini, kan?”

Ya, semua yang dituturkan Mingyu masuk akal. Kesalahan kecil, tetapi bukan berarti konsekuensi juga serupa. Ada kalanya akibat yang dirasa akan jauh lebih besar.

Benar kata Mingyu. Tidak akan seperti ini kalau Vernon mendengarkan Audrey kala itu. Tidak akan seperti ini kalau Vernon tidak membuat taruhan dengan Soonyoung. Dan … tidak akan seperti ini kalau Audrey tidak sebegitu mudahnya jatuh cinta pada Vernon.

-oOo-

Jujur, sudah lama aku tak berkunjung ke sini. Apartemen Vernon, kediaman yang ia tinggali seorang diri.

Tak perlu melayangkan ketukan pada pintu atau pun menekan bel, aku sudah terbiasa langsung masuk begitu saja. Lagipula, kali ini pintunya tidak dikunci, entah mengapa.

Aku menemukan Vernon di kamarnya, sedang terduduk di depan meja belajar sembari menggenggam sebuah kertas.

“Kau sedang apa?”

Ia tidak menoleh, hanya menghela napas perlahan lantas berujar, “Apa menulis sebuah surat untuk Audrey kedengarannya konyol?”

“Tidak, tidak sama sekali.”

Aku hanya mengulas senyum menanggapi, sebelum kakiku mendekat ke arahnya untuk mengintip isi surat itu. Tetapi, Vernon malah membalikkan suratnya di atas meja dan mengambil sebuah pisau kecil—

Oh, tidak. Apa yang hendak dilakukannya?

“Bukannya aku lari dari kenyataan, atau pun menjadi pengecut. Tak ada hubungannya dengan itu semua. Tetapi, ada sesuatu yang harus kulakukan. Sesuatu yang lebih penting.”

“Tunggu! Jangan—”

“Maafkan aku, ya?”

“Vernon!”

Detik itu juga, sebuah metal tajam mengiris nadinya. Membuat sang pemilik sekaligus pelakunya mengembuskan napas terakhir, diikuti oleh likuid merah bercucuran.

Astaga, apa yang sebenarnya ia pikirkan?

Lekas, kedua mataku tertuju pada selembar kertas itu. Tak ingin penasaran lagi, aku meraihnya cepat-cepat dan segera membaca isinya saksama.


If I thought that day would be the last time …

Maybe I wouldn’t do that …

Saying those cruel things instead of my honesty …

Only makes me wonder till this time, why couldn’t I?

Rough relationships that you’ve been through with hardships …

Red as wine, can I pay with the blood of mine?

You’re right, I’m already dying inside …

 

I don’t know why I write this …

Let me say it, this is so stupid, isn’t it?

Okay, but only these phrases that I have …

Vast affection of yours, I’m really thankful for that …

Engraved life with tears and laughter, can’t we live it once more?

You might be okay, but I hate the fact that everything’s gone wrong …

Only bringing sickness, despair, and sorrow …

Unspoken words, I promise that you will hear it …


Aku membacanya sekali. Dua kali. Tiga kali. Aku masih tak mengerti dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Vernon. ‘Kata-kata tak terucap’ ia bilang?

Barulah ketika kali kelima aku membaca, aku menemukan sesuatu.

Ah, aku kini mengerti, ‘kata-kata’ yang dimaksud.

“Tak kusangka kalau kau ternyata juga di sini. Sejak kapan kau datang?”

Kutolehkan kepala ke belakang, dan kini sosok itu telah berdiri di sana. Tepat di hadapanku.

“Aku berani bertaruh kalau kau sempat berteriak-teriak agar aku tidak melakukannya, benar?”

Masih dengan senyum jahil yang selalu sama seperti dulu, ia terkekeh pelan. Aku tidak bisa menyalahkannya untuk menertawaiku, karena pada nyatanya ia benar. Mau aku berteriak sampai suaraku hilang pun, ia tak akan dapat mendengar. Baiklah, siapa yang menjadi bodoh sekarang?

Sosok itu menatapku dan kertas yang kupegang secara bergantian. Sambil kembali mengulas senyumnya, lantas ia berujar,

“Tidak ingin mengatakan sesuatu?”

Ini memalukan, sungguh. Terlebih, aku terpergok memasuki kamar seorang lelaki secara diam-diam yang bisa saja membuatku dicap sebagai perempuan mesum. Tetapi kalau dipikir-pikir lagi—setelah semua yang dilalui, maksudku—apakah itu penting?

Mungkin ada baiknya bila aku mengaku saja?

“Ya, tidak apa-apa. Aku sudah memaafkanmu.”

“Hanya itu?”

“Oh, ayolah—”

“Kau yakin cuma itu yang ingin kaukatakan setelah semua yang kuperbuat?”

Benar-benar menyebalkan. Dengan langkah lebar, lekas aku mendekatinya sambil melayangkan pukulan bertubi-tubi di dadanya, dan kali ini bukan dengan tanpa tenaga.

“Memang siapa suruh kau melakukannya, bodoh?!”

“Hei, hei! Dilarang memukul! Aku sudah seperti ini dan kau—”

Ucapannya terputus, ketika sebuah rengkuhan menghampirinya. Aku cukup yakin ini adalah yang pertama kali, dan tak butuh waktu lama untuknya membalas setelah bungkam.

Kurasa, sudah tiba waktunya untuk melepas topeng yang selama ini terpasang.

“Tak perlu kukatakan, seharusnya kau tahu kalau sejak awal aku juga mencintaimu, bukan?”

fin.
-oOo-


setelah baca cerita di atas, coba kalian jawab pertanyaan ini :

  1. Apa yang sebenarnya terjadi?
  2. Siapakah si ‘Aku’?
  3. Yang dimaksud ‘unspoken words’ oleh Vernon?

oke, jadi yang ini adalah riddle pertama yang chel buat, entah ini kegampangan atau kelewat susah atau gajelas tapi buat yang sudah baca dan bersedia buat menebak, chel ucapkan terima kasih banyak♥

rachel.


.

.

.

Check the answer here.

Advertisements

4 thoughts on “Unspoken Words

  1. Pingback: Unspoken Words (Answer) | ROSÉ BLANCHE

  2. Jujur ya Chel, sebenernya kemarin aku udah baca ini. Tapi sekarang aku baca lagi karena belum paham. Sayangnya, sampai sekarang pun aku masih gk paham. Entahlah aku juga bingung kenapa otak ini dangkal sekali :’) Makanya dari dulu Riddle jadi musuh bebuyutanku selain angst (ketauan banget kalau males mikir -_-) :’) But seriously, setiap narasinya itu bikin kepo. Apalagi aku berulang-ulang baca suratnya Vernon, siapa tahu dapat hidayah :’) Tapi lagi-lagi hidayah juga gk mau muncul, yang ada malah pusing :’) //sekian curcolnya// Nah sekarang aku mau jawab 3 pertanyaan kamu yang bagimu simpel tapi bagiku kayak pecahin rumus Fisika 60 soal :’)

    Yang sebenernya terjadi itu so pasti intinya Si Audrey jadi taruhan ya. Tapi aku bingung yg sebenernya taruhan itu Vernon-Sekup atau Vernon-Soonyoung (anjir enak banget direbutin banyak cowok xD) /GAK. Pokok intinya si Vernon ini gak cinta sama Audrey, jadi dia asal ikut aja buat cari muka. Dan lama-lama Vernon sadar kalau dia cinta sama Audrey dan nyesel. Begitu kah? Duh ini ngetik apasih -_-

    Sebenernya aku paling sebel bahas si ‘Aku ‘ ini. Awalnya aku mikir ini alter-egonya Vernon. Lah pas kalimat ini “Tak perlu melayangkan ketukan pada pintu atau pun menekan bel, aku sudah terbiasa langsung masuk begitu saja. Lagipula, kali ini pintunya tidak dikunci, entah mengapa. Aku menemukan Vernon di kamarnya, sedang terduduk di depan meja belajar sembari menggenggam sebuah kertas.” = AAARGH AKU PUSING SERIUS -_- Terus ini siapa? Jadi aku asal mikir kalau ini pasti arwahnya si Audrey. Tapi ya kok ada adegan di mana mereka saling ngobrol? Bahkan sosok-yang-kuanggap-Audrey itu sempat ngelarang Enon bunuh diri. Terus siapa ini siapa? Tolong hentikan aku chel tolong T_T

    Dan untuk pertanyaan ketiga aku gk tau jawabannya. Sumpah deh, ini aja sebenernya masih bingung. Yang bikin penasaran tuh sudut pandangnya, sih. Atau pas nulis surat itu Vernon semacam berdialog sama dirinya sendiri, terus si Audrey kebetulan ikutan nyahut? Tuh kan imajinasiku makin gk jelas -_-
    TAU GK CHEL, AKU PALING SUKA SURAT YANG KAMU TULIS xD Aku baru nyadar kalau paragrafnya berbentuk “IM SORRY I LOVE YOU” xD Hebat deh, atau memang sengaja kayak gitu? Meskipun aku gk terlalu ngerti maksud suratnya (grammar eror), tapi aku suka sama huruf awal yang jika dibaca secara vertikal berarti “IM SORRY I LOVE YOU” ❤ ❤ ❤

    Dan semoga semua tebakanku salah.

    Sekian.

    Liked by 1 person

    • BENTAR BENTAARR xD
      Maafkan kenapa aku ngakak baca komennyaaa😂😂😂

      Sini peluk cium dulu jangan bete gara” pusing tujuh keliking mecahin riddlenya😂 dan whai harus rumus fisika whaiii:”) itu pelajaran yang paling bikin chel mau nyerah aja:”) /kenapa jadi curcol juga

      Untuk jawabannya sudah ada di atas yaa😂😂😂, dan meski kamu bilangnya bingung pusing ga dapet hidayah but you answered all of it correctly dan itu amazing banget:”) seriusan kamu orang pertama yang jawabannya paling mendekati loh Ji xD apalagi yang kalimat I’M SORRY I LOVE YOU ituu, itu diantara semua yg brusaha jawab, kamu doang yang berhasil nemuin:””))) SOOO, SELAMAT ANDA MENDAPATKAN PELUK KETCUP DARI OM JOSH KESAYANGANMU KARENA SUDAH MENJAWAB RIDDLE INI /abaikan aja abaikan plis

      Skali lagi maapkan udah buat Ji pusing, tapi thankyou juga udah berusaha menjawabb😂❤

      Like

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s