Of Sickness and the Missing Heart

ofsicknessandthemissingheart.jpg

Of Sickness and the Missing Heart

story by  Rosé Blanche

Jun (Seventeen), Lucille (OC) & a Girl (OC)

Dark, Fantasy, Romance

PG-15

Oneshot

.

“Dia tak pernah melanggar janjinya. Dia selalu menepati apa yang telah diucapkannya. Sekarang aku membencinya. Karena ia mengingkari janjinya, karena dia membuatku berharap sesuatu yang tidak pasti, karena dia membuatku merasakan betapa sakitnya kehilangan ….”

.

Kuakui, tempat ini bukanlah tempat yang kusukai.

Sebuah pondok tampak berdiri di tengah rawa berkabut. Pohon-pohon mengelilingi, seakan-akan mengahantui tempat ini dengan kesuraman. Dinginnya hawa serasa merayap di kulit. Buaya-buaya dan burung gagak itu pula—

Oh, astaga.

Sebenarnya ini agak membuatku heran. Jika seorang penyihir bisa hidup di tempat yang bersih dan nyaman di tengah hutan, serta tidak memelihara hewan-hewan mengerikan ini—seperti aku, contohnya—kenapa wanita itu memilih untuk tinggal di pondok menyeramkan ini?

Baiklah, memang setiap penyihir mempunyai ciri khas sendiri-sendiri. Dan itu tidak penting sekarang.

Yang perlu kulakukan hanyalah menyelesaikan perjalanan menyeberangi jembatan tipis,  yang melintasi rawa berisikan buaya-buaya raksasa ini secepat mungkin.

Hingga di depanku berdiri sebuah pintu kayu yang kokoh, aku mulai mengetuknya. Dan pintu itu langsung terbuka sendiri tanpa ada yang menariknya, memperlihatkan sebuah ruangan gelap berbau tidak biasa.

“Ibu…”

Kakiku perlahan mulai memasuki ruangan itu, dan aku sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya sopan santun atau apa. Aku benar-benar membutuhkannya. Aku membutuhkan kekuatannya. Aku membutuhkan—

“Anakku?”

Sebuah cahaya remang mulai samar-samar terlihat, yang ternyata bersumber dari sebuah lilin yang semakin lama semakin mendekat ke arahku, dengan sang pemegang pula tentunya.

“Oh, apa yang terjadi denganmu, Nak?”

Perkenalkan, Madam Lucille—seseorang yang selama ini selalu kupanggil dengan sebutan ‘ibu’. Oh bukan, ia bukan ibu kandungku ataupun ibu tiriku. Bukan ibu dalam artian secara harfiah.

Ia adalah ibu dari semua penyihir yang tinggal di hutan ini.

Seseorang yang selalu kuhormati. Seseorang yang selalu menganggap kami seperti anak kandungnya sendiri. Seseorang yang bisa begitu baik pada kami, namun juga bisa menjadi begitu kejam.

Kejam? Ya, kejam. Karena pada kenyataannya ia juga adalah seorang penyihir hitam.

“Duduklah, Jun. Ceritakan, kenapa kau bisa sampai seperti ini?”

Wajahnya terlihat khawatir sekaligus ketakutan. Memang wajar. Siapa yang tidak merasa khawatir bila anaknya datang dengan lubang yang menganga lebar di dada?

Wanita itu menuntunku perlahan untuk duduk tepat di hadapannya, dengan sebuah meja kecil yang membatasi jarak kami.

“Maafkan aku, Ibu. Kau benar.”

“Apanya?”

“Soal gadis itu.”

Madam Lucille hanya mengangkat kedua alisnya, kemudian raut wajahnya  berubah menjadi menyedihkan. Aku tahu ia bermaksud baik, hanya saja … aku tidak suka dikasihani seperti itu, meskipun aku juga tidak bisa mengelak kalau aku sangat membutuhkan Madam Lucille sekarang.

Baiklah, salahkan aku yang telah membangkang, meskipun aku tahu ia adalah ibu kami para penyihir. Salahkan aku yang terus-terusan berlari dari kenyataan, layaknya berlari dari bayangan tubuhku sendiri. Karena sampai kapanpun, seharusnya aku tahu kalau aku tidak akan pernah bisa kabur.

Aku berjuang untuk kabur—menolak sebuah kenyataan pahit, dimana seorang penyihir dilarang untuk mencintai seorang manusia.

Yang membuatku menyesal, ternyata berlari dari kenyataan ini dapat diibaratkan layaknya seorang anak kecil yang kabur dari rumah dan masuk ke kandang singa. Namun sial, aku baru menyadarinya saat diriku sudah tercabik oleh singa itu.

“Katakan, Jun. Kenapa kau bisa sampai seperti ini?”

Ia tersenyum kembali, dan kini digenggamnya lembut tanganku yang kuletakkan di atas meja. Melihatnya yang begitu peduli, kurasa tidak salah bila aku datang kemari.

“Gadis itu, aku benar-benar tidak bisa mengelak. Aku mencintainya, meskipun pada nyatanya ia adalah manusia. Kukira, hatinya tulus. Tetapi setelah apa yang diperbuatnya padaku, kepercayaanku pada manusia sudah benar-benar kandas.”

“Apa yang telah diperbuatnya? Dulu, kau selalu bilang kalau gadis itu adalah gadis idaman—”

“Tidak lagi sekarang,” potongku cepat. “Dulu aku memang menyukai gadis itu. Ia cantik dan baik. Dan lama kelamaan, perasaan suka itu tumbuh menjadi cinta. Oh, seharusnya aku mendengarkan kata-katamu waktu itu, Bu.”

Erangan dan desahan nafas penyaluran rasa sesal pun tak dapat kuhindari. Bisa kurasakan ada cairan yang mulai mengalir di wajahku, membuat penglihatanku menjadi agak buram. Air mata ini sudah tidak tertahankan lagi bila mengingat semuanya.

Karena ia—gadis yang menjadi cinta pertama dalam hidupku—telah mengkhianatiku.

“Sudah kubilang berkali-kali, jangan pernah percaya dengan manusia. Mereka selalu membenci kaum penyihir tanpa alasan yang jelas, kau tahu?”

Perlakuan Madam Lucille begitu lembut, namun tetap saja tidak bisa menenangkan isakanku. Selama ini, aku benar-benar telah membuat kesalahan besar.

I thought that she’s different. I thought, she’s the one and the only.

“Apa yang membuatmu begitu percaya dengannya?”

Kini, aku mengangkat kepalaku yang sedari tertunduk, menatap wanita itu tepat di kedua maniknya.

“Dia tak pernah melanggar janjinya. Dia selalu menepati apa yang telah diucapkannya.”

“Begitukah?” tanya Madam Lucille dengan nada yang jelas sekali menunjukkan ketidakpercayaan.

“Itu adalah pemikiranku dulu, Bu.”

“Bagaimana dengan sekarang? Masih beranggapan seperti itu?”

Suara Madam Lucille masih tetap terdengar halus dan tenang, meskipun dapat kudengar suara kemenangan di nadanya. Ya, memang ialah yang benar.

“Tentu saja tidak,” jawabku seraya menyipitkan mata. “Sekarang aku membencinya. Karena ia mengingkari janjinya, karena dia membuatku berharap sesuatu yang tidak pasti, karena dia membuatku merasakan betapa sakitnya kehilangan …”

Kuakui, ini memang benar-benar sakit. Memangnya siapa yang tidak kecewa melihat seseorang yang dicintai ternyata bermuka dua?

“Kehilangan? Gadis itu meninggalkanmu?” tanyanya penasaran. “Atau …, ada sesuatu yang diambilnya dari dirimu?”

Kutatap Madam Lucille dengan sebuah senyum miris. Tentunya aku bukanlah seorang penyihir dramatis meskipun sedang jatuh cinta, dan mengatakan bahwa hatiku yang hilang diambil gadis itu. Oh tidak, tidak. Karena yang diambil gadis itu adalah—

“Jantungku.”

—benda yang menjadi kekuatan utama seorang penyihir.

Aku tidak tahu apa sebab ia mengambil jantungku, namun kudengar jantung penyihir dijual sangat mahal di pasaran. Itu karena jantung penyihir bisa menyembuhkan penyakit apapun, bahkan membangkitkan seseorang dari kematian.

Sekali lagi Madam Lucille melebarkan kedua maniknya, tanda bahwa rasa ketidaktahuannya sudah terjawab semua. Senyuman kecil mulai disunggingkannya, yaitu senyum lembut nan picik.

Wanita itu mulai berdiri, dan sedetik kemudian ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Seketika itu juga, terlihat jelas aura kehitaman yang melingkupinya.

“Datanglah kemari, Jun,” ujarnya. “Kau tahu sendiri apa yang harus kau lakukan.”

Dengan begitu, semua rasa sakitku hilang sudah.

-oOo-

Firasat ini begitu kuat.

Pohon demi pohon kulangkahi, namun masih juga belum kutemukan dia. Baiklah, tak apa. Tidak perlu terburu-buru, bukan? Cepat atau lambat, aku pasti menemukannya. Insting seorang penyihir tidak akan pernah salah.

Rasa sakitku karena kehilangan jantung itu memang sudah hilang kemarin, berkat Madam Lucille. Dengan mantra dan kekuatan sihirnya, ia telah memberiku jantung baru.

Hanya saja, masih ada dua pekerjaan yang belum tuntas.

Tiba-tiba saja, entah dari arah mana terdengar suara seorang wanita. Suara teriakan layaknya memanggil sesuatu—sampai kusadari kalau nama ‘Jun’lah yang dipanggil oleh gadis itu.

Kufokuskan kedua mata beriris merah ini ke sekitar, hingga kutemukan sesosok gadis dengan rambut coklat sepunggung yang sedang berlarian di tengah hutan.

“Jun! Jun, kau bisa mendengarku? Kau dimana?”

Ia terus berteriak seperti itu berulang kali, sampai pada akhirnya suara itu terdengar serak dan ia tidak sanggup lagi. Dengan wajah pucat kelelahan, ia berusaha mengatur nafasnya.

“Jun, kau di sana, kan? Aku yakin kau bisa mendengarku, Jun! Tolong keluarlah, aku hanya ingin bicara sebentar …”

Ya. Aku memang bisa mendengarmu. Sayangnya, diri ini sudah tidak punya lagi kepercayaan. Dan aku tidak akan melakukan seperti yang kau katakan lagi. Tidak setelah

“Baiklah, kalau kau tidak mau keluar. Aku akan berbicara langsung dari sini. Di tempat ini, sekarang juga.”

Sekali lagi ia mengatur nafas, dan aku masih berada di tempat yang sama sedari tadi—masih memerhatikan sang gadis dari atas pohon serta menunggu kelanjutan kata-katanya.

“Aku … aku menyesal, Jun,” ujarnya. “Dulu, kuakui aku sama sekali tidak mengerti akan cinta. Yang aku tahu, hanyalah cara untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang datang.”

Ya, kau benar. Kau adalah seorang gadis licik yang tidak tahu diri, kau mengerti?

“Dan kini …, aku benar-benar menyesal …” lanjut gadis itu dengan isakan yang mencekat suaranya. “Aku menyesal karena telah memberikan jantungmu pada pria berengsek itu. Ia bilang, jika ia mendapatkan jantung seorang penyihir, maka ia bisa menyembuhkan penyakit ibuku. Ia juga berjanji akan meminangku dan memberikan kami hidup yang layak setelah itu.”

Hati ini semakin sakit rasanya, dan kini aku menatapnya dengan pandangan tak percaya. Apa lagi yang barusan itu?

“Tetapi, ia malah kabur dan melamar wanita lain dengan jantung itu. Aku tahu aku bodoh, tapi … tapi aku benar-benar menyesal. Rasanya benar-benar sakit saat menyadari bahwa kaulah yang terbaik selama ini. Kaulah orang tertulus yang pernah kutemui. Aku baru sadar, ternyata kau sangat berarti untukku, Jun.”

Baiklah, aku paham. Aku benar-benar paham situasinya.

Pria sialan itu tahu, bahwa gadis itu dekat dengan seorang penyihir, yang tidak lain adalah aku. Dan pria itu justru malah memanfaatkan situasi ekonomi sang gadis yang sedang dalam krisis dan begitu pula dengan kesehatan ibunya, lalu menghasut gadis itu dengan iming-imingan sampah yang cukup untuk membuatku muak setengah mati.

Dan aku sendiri, kini mulai menarik sebuah batangan panjang yang sedari tadi berada di balik punggungku.

“Jun, kumohon dengarkan aku,” lanjutnya. “Aku tahu aku tidak pantas untuk mendapatkan kata maaf darimu, hanya saja …, aku akan tetap meminta maaf sebagai bentuk santunku. Jadi, aku minta maaf.”

Ia terlambat. Sudah terlambat untuk mengembalikan semuanya seperti dulu lagi. Dan sekarang—

“Aku mencintaimu, Jun …”

Oh, tidak.

“Baru kusadari, ternyata selama ini kau yang ada di hatiku …”

Tidak, tolong hentikan!

“Aku benar-benar mencintaimu, aku—”

.

.

.

Dan ucapannya pun terputus.

Tidak ada lagi suara yang keluar, dan suara itu menghilang begitu saja. Menghilang untuk sekarang, namun juga untuk selamanya.

Pada akhirnya panah itu meluncur begitu saja dari tanganku, menembus tepat di jantungnya. Tubuh tak bernyawa itu langsung ambruk seketika bergabung dengan tumpukan dedaunan kering.

Dengan begitu, satu pekerjaan selesai sudah.

Aku turun perlahan dari atas pohon, kemudian mendekati gadis yang telah kehilangan nyawanya itu. Di sampingnya aku berlutut, dan sekali lagi kuperhatikan wajahnya. Kupandang sebuah wajah cantik yang telah membuat hatiku terpikat.

Entah ada dorongan dari mana, namun tangan ini  tidak bisa diam. Perlahan, kuusap wajah halusnya, dan begitu juga dengan rambutnya. Tercium pula aroma harum dari rambut cokelat yang selalu menjadi canduku selama ini.

Kalau boleh jujur, alasanku meluncurkan panah itu—adalah karena aku takut.

Bukankah tadi aku memutuskan untuk tidak percaya lagi dengan gadis itu?

Namun entah kenapa, aku takut. Aku takut, aku tidak akan bisa mengendalikan diri jika terus-terusan mendengar kata-kata berisikan cinta itu. Aku takut aku akan kembali ke diriku yang naif—jatuh cinta kembali dengannya. Aku takut aku tidak akan sanggup melakukan pekerjaan ini.

Karena dia—Madam Lucille—adalah ibuku, dan aku sudah bersumpah bahwa kali ini aku tidak akan membantah setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tidak lagi.

Perlahan-lahan, aku mulai mendekatkan wajahku pada miliknya. Kenapa aku melakukan ini, aku juga tidak tahu. Padahal, ia adalah gadis jahat yang telah melukaiku habis-habisan. Gadis jahat yang telah mengkhianatiku. Gadis jahat yang membuatku merasakan kesakitan luar biasa.

Tetapi pada akhirnya, aku mendaratkan bibirku pada miliknya. Mendaratkan sebuah ciuman lembut untuk yang terakhir kali, meskipun aku telah membunuhnya dengan tanganku sendiri.

Dan saat itu juga, entah kenapa air mata kepedihan ini tidak tertahankan lagi.

-oOo-

“Dengarkan aku baik-baik, Jun. Kau mengenalku, dan aku yakin kau sudah pasti tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?”

Aku hanya mengangguk, mengingat segala jenis makhluk yang memohon sesuatu pada seorang penyihir harus menyerahkan tumbal, tidak terkecuali untuk para pemohon yang merupakan penyihir juga.

“Kau punya dua pekerjaan, Anakku.”

“Apa itu?”

“Pertama, aku akan memberikanmu busur dan panah ini. Ini bukan anak panah biasa, melainkan anak panah beracun. Karena ia telah mengambil jantungmu yang berharga, maka tanamkanlah panah ini juga ke jantungnya.”

“Lalu, tugas keduannya?”

Madam Lucille tersenyum, dan kini senyum mengerikanlah yang disunggingkannya.

Well, bawalah gadis itu kepadaku, Jun. Menjadikannya sebagai mangsa utama makan malam, tidak ada salahnya, kan?

 

fin.

-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s