[Flowers of Life] Bells of Ireland

bellsofireland

Bells Of Ireland

series by Rosé Blanche

Lee Seokmin [Seventeen] & Elizabeth Lee [OC]

AU, Historical, Romance, Slice of Life

PG-15

Vignette

Previous :
A

.

“Everyone is born with certain missions to accomplish. Everyone who walks on the earth, has his responsibilities in life.”
-Ernest Hemingway-

.

Masih subuh menjelang pagi, namun keadaan di luar sudah riuh. Angin dingin menyapa, namun para pria tersebut tak mengindahkan. Satu persatu dari mereka berjalan menjauh, meninggalkan rumah dan keluarga yang hanya bisa menatap kepergian mereka dalam diam.

Tatapan Lee Seokmin terfokus pada pria-pria itu dari balik jendela, sedang sebelah tangannya masih menepuk-nepuk pelan Marianne Lee—sang bayi yang tertidur pulas setelah tadinya sempat menangis akibat kelaparan.

Menjadi ayah baru tidaklah semudah yang terlihat. Meski ada rasa bahagia dan haru yang mengisi hati, namun tetap—kewajiban, tekanan, serta harapan seakan ditumpahkan padanya begitu saja.

Membuatnya lelah lantaran harus bangun tiap dua jam sekali setiap malam untuk memberikan susu, mengurus keperluan bayinya sehari-hari, juga apabila bayi itu menangis dan Seokmin tak tahu apa sebabnya. Belum lagi harus menghadapi Elizabeth—istrinya—yang mengalami perubahan hormon setelah melahirkan.

Entah mengapa, Seokmin tersenyum memikirkannya. Meski terasa berat, namun ia akan merindukan saat-saat itu. Termasuk sekarang pula. Karena beberapa menit lagi, ia harus rehat dari semua pekerjaan ini entah untuk kurun waktu berapa lama.

“Seokmin?”

Pria keturunan Korea itu menoleh, mendapati istrinya—Elizabeth Lee—yang tengah berdiri di ambang pintu. Wanita itu lantas tersenyum.

“Semua perlengkapanmu sudah siap.”

Seokmin juga ikut melengkungkan bibir mendengarnya—cukup bersyukur karena suasana hati Beth sedang baik. Tidak seperti kemarin, dimana sebuah bantal melayang ke Seokmin hanya karena pria itu memakan potongan kue terakhir yang diklaim Beth sebagai jatahnya. Padahal ia sudah makan lebih dari setengah loyang sendiri, batin Seokmin saat itu.

Seokmin menatap bayinya dengan tatapan sayang, kemudian beralih mendekati Beth yang masih berdiri di titik yang sama. Setelah jarak dirasanya cukup dekat, tangan kanannya terangkat—menyentuh pipi Beth pelan.

“Terima kasih.”

Tak memberikan jawaban, Beth malah mengulum bibir dan mengerjap berkali-kali. Dilihat dari kedua mata berkaca-kaca milik Beth, Seokmin tahu bahwa wanita itu sedang menahan likuid bening yang hendak tumpah. Karena itu, Seokmin lekas membawanya ke dalam rengkuhan.

“Maaf, Beth,” ujar Seokmin pelan, dengan sedikit nada penyesalan. “Aku tidak bisa—”

“Hentikan.”

Sebuah tepukan keras mendarat di punggung Seokmin, namun tak membuat pria itu langsung melepaskan dekapannya.

“Hentikan?”

“Hentikan, jangan minta maaf,” sahut Beth. “Mary tidak akan suka bila ayahnya melankolis seperti ini.”

Seokmin mendengus tertawa, dan kedua lengannya mulai melonggar. Menciptakan jarak beberapa jengkal dari Beth, lalu menatap wanita itu dengan sebuah ulasan senyum hangat.

“Hei, kenapa kau selalu menyamakan segala tentang Mary dengan dirimu? Ia anakku juga, kan?” ujar Seokmin spontan, mengingat bahwa sebenarnya Beth sendirilah yang bersifat demikian. “Dan lihatlah siapa yang bicara.”

Seokmin mengarahkan tangannya pada wajah Beth kembali, mengusap ujung manik wanita yang sudah berair itu dengan ibu jari. “Kau sendiri juga melankolis.”

Seokmin langsung menyemburkan tawa tatkala pukulan itu kembali mengenai bahunya. Pukulan beruntun tanpa tenaga yang membuat Seokmin teringat masa-masa saat mereka masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Beth sering memukulnya seperti itu ketika mereka sedang bergurau.

Namun, yang berbeda kali ini adalah wajah Beth yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang bercanda. Wanita itu mulai menangis, mengeluarkan isakan yang sedari tadi ditahannya.

Kedua mata Seokmin melebar, tertegun juga merasa bersalah. Seharusnya ia tahu, saat-saat seperti ini bukanlah momen yang pantas untuk dijadikan bahan candaan. Dan dengan sebuah gerakan cepat, Seokmin lekas memeluknya kembali. Kali ini lebih erat.

“Maaf, maafkan aku.”

Pukulan-pukulan itu terhenti, namun masih tak ada sepatah kata pun yang terucap.

“Jangan menangis,” ujar Seokmin lembut. “Mary juga tidak akan suka bila ibunya sedih.”

Seketika itu juga, Seokmin merasakan kedua tangan yang bergerak-gerak dalam dekapannya. Mendengar kata-kata Seokmin, spontan membuat Beth lekas mengusap air mata yang telah membanjiri pipinya hingga tak bersisa, dan isakannya terhenti saat itu pula.

“Coba pikirkan. Dalam hidup ini, kita tidak hanya mempunyai satu tugas, Beth.”

Beth terdiam, sedang tubuhnya mundur selangkah hingga irisnya dapat menatap wajah Seokmin.

“Setiap manusia mempunyai banyak misi yang harus dilakukan. Kau tahu, mengabdi pada negara sudah menjadi tanggung jawabku sekarang. Itu adalah misi yang diberikan negara padaku, Beth. Memang, memimipin keluarga dan menjaga Mary adalah misi yang lain lagi dari Tuhan. Aku tahu itu juga kewajibanku, tetapi— Well, I hope that you understand. Ini sulit, tetapi kita tidak bisa egois.”

Sebenarnya Beth tahu pula semua itu. Memang, pria itu punya tanggung jawab besar. Sebuah utusan negara yang tidak mungkin akan ditinggalkannya begitu saja. Ia juga sangat tahu bahwa ia tidak dapat bertindak semaunya sendiri.

Tetapi, mengapa semuanya terasa sulit? Melepas Seokmin ternyata tak semudah yang dikiranya, ketika kabar bahwa seluruh penduduk pria harus bergabung dengan tentara Inggris melawan Rusia dalam perang beredar.

Kontraknya memang hanya beberapa tahun, hanya saja … bagaimana dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi sebelum kontrak itu habis?

Itulah yang Beth takuti.

Selama beberapa detik, sunyi mengitari mereka. Ada suatu kejanggalan yang Seokmin temui dalam siratan mata Beth. Hanya beberapa saat, karena detik berikutnya Seokmin langsung mengerti.

“Kau meresahkan sesuatu, Beth?”

Beth balas menatap Seokmin lurus, lalu menghela napas. “Kau sudah pasti tahu jawabannya.”

Mendengar itu, kedua tangan Seokmin diletakkannya pada bahu sang istri. “Dengarkan aku baik-baik,” ujarnya kini dengan nada serius. “Setiap kemungkinan itu pasti ada. Ada kemungkinan aku akan kembali dalam waktu dekat apabila perang ini cepat berakhir, ada kemungkinan aku akan kembali beberapa tahun lagi juga. Ada pula kemungkinan aku akan terluka dan kehilangan beberapa bagian tubuh nantinya, dan masih ada sejuta kemungkinan lain yang bisa terjadi.”

“Dan ada kemungkinan kau tak akan kembali,” sahut Beth lemah.

“Ya, benar. Ada juga kemungkinan bahwa aku tidak kembali, dan namaku tercatat di sejarah sebagai prajurit yang gugur dalam perang Crimean,” ujar Seokmin. “Tetapi … apa salahnya percaya dan berharap?”

Kata-kata tersebut sukses membuat Beth bungkam, terlebih ketika wajah pria tersebut sama sekali tak menunjukkan kekhawatiran pun dengan rasa takut.

“Memang benar kalau hidup dan matiku ada di tangan Tuhan. Apakah perang ini akan mengambil nyawaku, aku tidak tahu. Namun, bila aku memang diberi kesempatan untuk hidup, aku akan memperjuangkannya habis-habisan, Beth. Kau mengenalku, dan harus percaya padaku. Ya?”

Segala yang diucapkan pria itu benar. Beth mengenal pria itu, dan seharusnya ia tahu pula bagaimana sifat sang suami yang selama ini dikaguminya.

Beth kini tersadar. Mau tak mau, Beth tersenyum juga mendengar tuturan Seokmin.

Perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada Seokmin, mengikis jarak dan mempertemukan kedua bibir mereka hingga bertautan. Beth sekarang ingat, alasan mengapa ia sampai jatuh cinta pada Seokmin. Bukan karena alasan wajah yang tampan—meskipun Beth cukup mengakuinya juga—atau pun harta kekayaan.

Seokmin hanyalah seorang pria sederhana yang membuka usaha rumah makan kecil-kecilan dan memiliki hobi memasak. Namun satu hal, sikap Seokmin yang tak kenal menyerah layaknya pejuang keras berhasil meluluhkan hati seorang Elizabeth tatkala mereka saling mengenal.

Tautan tersebut perlahan terlepas, mempertemukan kedua pasang mata yang saling memandang lekat, yang menyampaikan isi hati masing-masing. Jauh dalam mata pria itu, Beth dapat melihat sesuatu yang jelas. Sebuah pancaran hangat, dilengkapi dengan satu hal yang selalu Beth sukai dari Seokmin.

Ketulusan.

“Aku percaya padamu.”

Kini, Seokmin dapat merasakan sebuah kelegaan yang berarti. Tak ada lagi beban keresahan yang harus dipikulnya saat ia melangkah keluar dari kediamannya nanti.

Waktu mereka semakin menipis, dan tiba-tiba saja terdengar bunyi dentang lonceng. Bunyi yang menandakan bahwa tiba saatnya para pasukan untuk berkumpul, memulai perjalanan pengabdian diri mereka kepada negara.

“Sudah waktunya.”

Seokmin tersenyum, lantas berjalan melewati Beth, keluar dari ruang tidur Marianne. Tak sampai selang satu menit, Seokmin sudah kembali ke ruangan tersebut dengan membawa segenap perlengkapannya.

Tungkainya berjalan ke arah sebuah ranjang kecil di sudut ruangan, kemudian membungkukkan badan untuk mengecup kening sang buah hati. Tak lupa pula, Seokmin membisikkan sedikit kata perpisahan sebelum ia pergi.

Setelah itu, Seokmin berbalik dan berjalan keluar dari ruangan, diikuti oleh Beth. Kedua pasang kaki tersebut berjalan beriring dalam kebisuan sampai ke pintu keluar, seakan mencoba sebisa mungkin menggunakan waktu-waktu yang tersisa untuk menikmati kebersamaan mereka berdua dalam rumah.

Kini ambang pintu telah terbuka, dan di sana Seokmin kembali menatap Beth lekat-lekat. Pandangan itu telah tertuju pada Beth seutuhnya.

Saat itu pula, Beth melepaskan sebuah kalung yang ia kenakan, kemudian melingkarkan benda berliontin tersebut pada leher Seokmin.

“Bukannya ini kalung yang dirancang untuk wanita?”

“Siapa peduli?” ujar Beth menahan tawa. “Yang penting adalah maksudnya. Ini adalah kalung perak yang diberikan ibuku waktu usiaku menginjak tiga belas tahun. Saat aku mulai memasuki usia dewasa*.”

“Memangnya kau punya maksud apa memberikan kalung ini?”

“Kalau kau melihat ke arah liontinnya, mungkin kau akan mengerti.”

Sebuah kerutan terbentuk di antara kedua alis Seokmin, ketika sebelah tangannya menyentuh liontin tersebut. “Ini bentuk apa?”

Sambil mengeluarkan tawa sekaligus kesal atas kepolosan Seokmin, Beth menghembuskan napas pelan dan menjawab, “It’s Bells of Ireland flower, Honey.”

Perlahan namun pasti, kerutan itu menghilang seiring dengan melebarnya kedua mata Seokmin—menandakan bahwa pria tersebut kini telah mengerti. Ia begitu bahagia, hingga tak tahu apa yang harus dilakukannya selain tersenyum lebar sambil berucap pada sang istri, “Thanks, Beth.”

Beth mengangguk, sehingga Seokmin melanjutkan, “Kalau begitu, aku berangkat sekarang. Jangan lupa doakan aku tiap malam.”

Sekali lagi Beth mengangguk. Tanpa diminta pun, ia akan melakukannya. Beth pasti akan selalu mengharapkan yang terbaik untuk Seokmin. Mendukung sang suami sepenuhnya, bahkan sampai akhir hayatnya sekalipun.

Seokmin telah berbalik ketika tiba-tiba sebuah ingatan tengah melintas dalam benak Beth—membuatnya spontan memanggil nama itu kembali tanpa berpikir lebih lanjut.

“Seokmin! Tunggu sebentar.”

“Ya?”

Seokmin kembali menoleh, menatap istrinya dalam bingung. Apakah ada sesuatu yang ia lewatkan?

“Tadi kau bicara apa pada Mary?”

Sempat terjadi keheningan selama beberapa detik, dimana Beth menunggu Seokmin yang hanya bisa menatapnya sambil ternganga—memberikan waktu bagi pria itu untuk kembali berpikir.

“Ah, itu,” ujar Seokmin saat ia sudah menemukan jawabannya. “Kau benar-benar ingin tahu?”

Karena Beth menjawabnya dengan sebuah anggukan, Seokmin mendekatkan mulutnya pada telinga Beth, membisikkan setiap kata-kata persis seperti yang ia ungkapkan pada anak tercintanya, Marianne. Dan begitu ia selesai, ia mengira Beth akan meresponnya dengan sebuah tawa kecil manis atau setidaknya sebuah senyuman kecil.

Hanya saja, yang didapatnya malah hal lain.

“Apa kau bilang?!” pekik Beth. “Hei! Kenapa kau mengatakan hal seperti itu pada— HEI! SEOKMIN!”

Entah mengapa, amukan Beth malah membuat Seokmin menyemburkan tawa lepas. Sebelum Beth selesai menghujaninya dengan teriakan, pria itu telah berlari sekencang-kencangnya dengan tawa yang tak kunjung berhenti.

Sejak dulu ketika Beth mengamuk, Seokmin selalu saja berlari kabur. Dan Beth akan mengejarnya tanpa ampun, kemudian melayangkan pukulan bertubi-tubi meskipun hantamannya tidak akan terasa apa-apa bagi Seokmin.

Namun, kini keadaan sudah berbeda. Beth yang mengamuk tak lagi mengejar Seokmin, malah membiarkan pria itu untuk berlari menjauh dan terbahak sendiri. Beth memang tidak membalas ucapan Seokmin dengan tawa kecil atau pun senyuman, tetapi sebuah pekikan melengking yang berlanjut dengan tawa tak kalah keras dari Seokmin.

Pria itu berlari sambil memasang senyum lebar, berbalik sejenak ke arah Beth untuk sekedar menyampaikan dua kata—‘sampai jumpa’ lebih tepatnya—sekaligus memberikan lambaian terakhir sebelum terjun ke dunia perang yang begitu keras.

Beth sendiri, ia menghela napas ketika sudah dapat meredakan tawanya yang sempat meledak, kemudian membalas lambaian Seokmin dengan sebuah senyum dan berbisik,

“Sampai jumpa lagi, Seokmin.”

Daripada ‘selamat tinggal’, mereka berdua lebih memilih ‘sampai jumpa’ sebagai ucapan perpisahan mereka. ‘Sampai jumpa’ mempunyai arti bahwa mereka akan segera berjumpa kembali, entah dalam kurun waktu singkat atau pun panjang.

Karena mereka adalah dua insan yang saling mempercayai, selalu mendukung satu sama lain meskipun terpisahkan oleh jarak.

Kini Beth tersadar, bahwa Seokmin memiliki beberapa misi tersendiri yang harus dijalankan. Maka, ia sendiri juga mempunyai satu, meskipun misi tersebut mungkin bisa dikatakan tidak seberat milik Seokmin.

Misinya hanyalah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tak akan pernah meresahi kepergian suaminya. Tetap mencintai Seokmin, serta terus percaya dan berharap. Itu semua sudah cukup untuk membuatnya bertahan.

Terlebih lagi, Beth telah memberi kalung itu pada Seokmin. Sebuah kalung yang telah menjaga dirinya selama bertahun-tahun terakhir. Karena Bunga Bells of Ireland memiliki arti ‘semoga berhasil’ atau pun keberuntungan, dan Beth yakin Seokmin akan menuntaskan misinya dengan baik.

Seokmin pasti kembali, suatu saat nanti.

.

.

“Jangan sering-sering menangis selama Ayah pergi, ya? Jangan bersedih terus, apalagi sampai Mary jadi melankolis seperti Ayah. Ibumu benci orang melankolis. Nanti kalau ibumu mengamuk, Ayah mana berani pulang? Seramnya melebihi singa betina, tahu.”

.

fin.
-oOo-


Bells Of Ireland means good luck

*This story is based on the military conflict seen in mid 1800s during the Victorian period in Britain, The Crimean War

*13 was the age of consent for girls in United Kingdom during the 19th century.

Advertisements

4 thoughts on “[Flowers of Life] Bells of Ireland

  1. Pingback: [Flowers of Life] Carnation | ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: [Flowers of Life] Dandelion | ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: [Flowers of Life] Elderflower | ROSÉ BLANCHE

  4. Pingback: [Flowers of Life] Forget Me Not | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s