Of Elves and the Black Queen

wp-1482675590185-1

Of Elves and The Black Queen

Poster Design by Scarlett@2016

story by Rosé Blanche

Johnny Seo (NCT) with some members of NCT and OC

AU!, Dystopia, Myth, slight!Romance

PG-15

Oneshot

.

“… and please meet, The Black Queen.”

.

Abad kedua puluh tiga. Masa dimana bumi tampak begitu mengerikan, dan Johnny sebagai salah satu pemimpin peri—peri hutan lebih tepatnya—sempat berpikir bagaimana nasib alam ini bila tak ada kaum peri yang senantiasa menjaga alam dan juga melindungi umat manusia.

Ketamakan manusia membuat mereka bersaing ketat, menciptakan suatu daya pikir yang menuturkan, ‘Barangsiapa kuat, dialah yang akan bertahan’.

Sungguh ironis.

Namun satu hal yang Johnny syukuri, para peri tidak seperti itu. Mereka telah menyaksikan perubahan dunia selama ribuan tahun terakhir, dan mereka juga dianugerahi kekuatan dan kelincahan yang melebihi manusia.

Karena itu, Johnny selalu berusaha semampunya untuk melindungi manusia dari perperangan dan ketamakan mereka sendiri, namun juga melindungi alam di sisi lain. Benar jika merepotkan, namun tugas tersebut sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Ribuan tahun terakhir, bangsa peri hutan beserta yang lainnya juga berusaha mati-matian untuk melindungi dunia ini dari tangan bangsa peri hitam. Kaum peri kegelapan yang sedari dulu berusaha menciptakan sebuah mesin penghancur dunia.

Peri hitam selalu berusaha menangkap peri lainnya dan menyerap kekuatan mereka untuk dimasukkan ke dalam mesin, agar mesin tersebut dapat bekerja. Setelahnya, mereka dapat membangun bumi kembali sesuai dengan keingingan mereka sendiri. Sebuah dunia yang hanya ditinggali oleh kaum peri hitam tentunya. Alasannya hanya berdasar pada sebuah rasa benci terhadap manusia yang begitu egois. Namun, sampai sekarang tidak ada kabar lebih lanjut mengenai mesin tersebut.

Sebenarnya, mereka tak patut untuk disebut sebagai peri lagi setelah beribu-ribu tahun yang lalu dibuang oleh Titania—ratu dari semua jenis peri. Pemimpin mereka yang disebut sebagai Sang Ratu Hitam telah dilenyapkan, dan tak pernah muncul lagi sejak saat itu.

Ada rumor yang tersebar empat ratus tahun yang lalu, yang mengatakan bahwa Ratu Hitam telah bangkit. Hanya saja, rumor tersebut tak berbukti sehingga semua peri terlanjur menganggapnya sebagai omong kosong belaka.

Namun, fakta berkata lain.

Johnny baru saja kembali beserta dengan kelima kawannya dan juga sang adik, ketika ia menemukan keadaan desa mereka hancur berantakan. Terlebih lagi, saat itu Ratu Titania sedang berkunjung ke lokasi mereka. Itu berarti sang ratu juga ikut ditangkap bersama peri-peri yang lainnya, menyisakan beberapa tubuh tak bernyawa yang tergeletak tak berdaya.

Emosi Johnny membuncah, lantaran dirinya menemukan beberapa anak panah dan juga pedang—semuanya adalah milik kaum peri hitam. Untuk itu, Johnny beserta kawan-kawannya yang lain memutuskan untuk pergi ke kastil bangsa peri hitam. Hanya demi menyelamatkan kaum mereka.

Tetapi, bagaimana jika sang pemilik kastil adalah seseorang yang mereka kenali? Dan orang itu merupakan …

… Sang Ratu Hitam yang ternyata benar-benar bangkit?

Di dalam kastil, di tengah perperangan antara ketujuh peri hutan dan ratusan peri hitam, tiba-tiba saja sosok itu muncul. Membuat semuanya terdiam seakan waktu yang berhenti, dan lambat laun peri-peri kegelapan tersebut mulai merendahkan diri hingga kepala mereka menyentuh lantai.

Para peri hutan pun tak dapat mengalihkan pandang. Pasang-pasang mata tersebut terpaku pada kecantikan Sang Ratu Hitam, pula dengan keeleganannya. Berbalutkan jubah hitam berhiaskan batu mulia, sembari sebelah tangannya memegang sebuah tongkat panjang berukir keemasan.

Terjadi kesunyian, keheningan pun melanda seisi ruangan. Tak ada yang membuka suara, pun melakukan sebuah gerakan kecil. Aura hitam yang terasa dari sang ratu amat kuat, membuat mental peri-peri hutan tersebut menciut—

“Amalthea?”

—terkecuali Johnny.

“Kau … Thea, kan?”

Peri hutan yang lain saling memandang, memampangkan paras yang menyiratkan bingung. Apalagi Jeane, saudara Johnny. Ia hampir tak mempercayai indera penglihatannya sendiri, apabila Taeyong tak berbisik tiba-tiba, “Amalthea? Thea kekasih Johnny dulu?”

Jeane tak dapat menjawab, pun dengan Mark, Taeil, Hansol, dan juga Ten. Semuanya tenggelam dalam keheningan, mencoba mencari kebenaran dari semua misteri ini. Hingga beberapa sekon terlewat dan pada akhirnya Jeane menyahut,

“Tidak mungkin.”

“Tetapi, wajah Thea sama persis dengan Sang Ratu Hi—”

“Tidak ada manusia yang bisa hidup selama itu, Mark!” desis Jeane pelan. “Sudah empat abad lebih semenjak kejadian itu.”

Jeane beserta kelima rekannya mengalihkan pandang pada Johnny, yang masih memandang Sang Ratu Hitam lekat-lekat. Jeane dapat merasakannya. Memori pahit yang tersimpan dalam diri Johnny, memerangkap dirinya sendiri dalam sebuah kesakitan terpendam. Cinta itu memang telah Johnny berikan sepenuhnya pada sang gadis. Namun, ia harus berbuat apa bila Ratu Titania tak memberi izin? Lebih tepatnya, alam yang tak memberi izin.

Gadis itu dipisahkan dari Johnny, membuat lelaki itu terpuruk selama ratusan tahun terakhir. Seharusnya, gadis itu telah tiada. Seharusnya Sang Ratu Hitam memang bukanlah Thea yang mereka kenal.

“Thea?” ucap Johnny kembali, diikuti dengan langkah pelan menuju wanita yang dikirannya sebagai sang pemilik nama. “Apa kau tak ingat? Ini aku, Johnny-mu yang dulu.”

Sang Ratu Hitam tetap diam tak bergeming, hanya memandang Johnny dengan kedua manik tajam dan ekspresi dingin. Meskipun begitu, Johnny yang kini telah berdiri tepat di hadapannya tetap menyiratkan tatapan hangat. Sebuah tatapan manis yang penuh akan kerinduan.

Hingga wanita itu mengulurkan tongkatnya pada Johnny—

“Johnny! Awas!”

—dan serangan pun tak dapat dihindari lagi.

Tongkat itu mengeluarkan sebuah aura hitam, yang secara cepat melingkupi sekujur tubuh Johnny dan mengangkatnya perlahan. Entah apa yang dilakukan oleh wanita itu, namun Johnny merasakan perih yang amat sangat. Ia berteriak kesakitan, tetapi wanita itu tak peduli.

Sudah pasti dia bukan Thea, pikir Jeane.

Jeane segera mengeluarkan pedangnya, hendak melawan sang ratu dan membebaskan Johnny. Namun, ada yang lebih cepat darinya.

Taeyong langsung berlari secepat kilat ke arah Johnny ketika menyadari bahwa kawannya tersebut sedang dalam bahaya. Ia meloncat dan mengayunkan pedangnya kuat-kuat pada Sang Ratu Hitam, namun tertahan oleh tongkat wanita itu. Kekuatan gelap yang mengitari Johnny lenyap seketika, dan Johnny ambruk ke lantai.

Dengan sigap Jeane dan kawan-kawannya menghampiri Johnny, dan membopongnya menjauh dari sang ratu. Mereka mendudukkan Johnny dan menyandarkan punggungnya pada dinding.

“Johnny, kau tidak apa-apa?” tanya Taeil cemas.

“Hei, sadarlah!” kini Jeane yang memekik. “Dia bukan Thea, John!”

Sementara itu, Taeyong menyerang Sang Ratu Hitam dengan segenap kekuatan dan emosi tak terkontrol, membuat bangsa peri hitam yang lainnya ikut mengamuk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, peri-peri hitam tersebut menyerang balik para peri hutan yang ada.

Pertarungan pun kembali dimulai. Suara desing pedang, suara logam yang berbenturan, teriakan rasa sakit dan pertumpahan darah—semuanya bercampur dan menciptakan kombinasi yang mengerikan. Satu persatu peri hitam ambruk dan menjadi mayat. Meskipun begitu, jumlah mereka sangatlah banyak sehingga menyebabkan para peri hutan kewalahan.

Sampai pada akhirnya, peri-peri hitam tersebut habis tak bersisa.

Johnny masih terduduk diam, menatap sekelilingnya dengan perasaan kalut. Terlebih lagi saat ia melihat sahabatnya—Taeyong—yang bertarung dengan wanita yang dicintainya, ia merasa seakan dunia runtuh—

BRAK!

—terlebih ketika Taeyong terbanting ke lantai dengan sebuah pedang yang menancap di dada.

“TAEYONG!” Jeritan pun akhirnya keluar dari bibir Jeane, membuat seisi ruangan menoleh ke arah sang pemilik nama. Jeane ingin berlari dan menghampiri tubuh yang sudah terkulai di kaki Sang Ratu Hitam itu, namun ia tak dapat bergerak. Begitu pula dengan yang lainnya. Rasa syok dan ketakutan berpadu, lantaran mereka baru saja menyaksikan kematian salah satu kawan mereka.

“Hentikan ….”

Kini semua mata tertuju pada sang pemilik suara—Johnny—yang perlahan bangkit berdiri dan berjalan kembali mendekati Sang Ratu Hitam.

“Thea, kenapa … ?” ujarnya kembali menatap wanita itu, dengan senyum getir tersungging. “Kita tak perlu bertarung seperti ini.” Lalu, tanpa mengalihkan pandang Johnny berujar pada kawan-kawannya, “Kalian tidak lihat? Yang berdiri di sana adalah Amalthea kita yang dulu.”

“Dia bukan Thea!”

Belum sempat Johnny kembali mengelak, Sang Ratu Hitam sudah kembali mengulurkan tongkatnya pada lelaki itu. Satu hal yang membuat kawan-kawannya ketakutan—Johnny sama sekali tak menghindar dan malah mengulas sebuah senyum pada sang ratu.

“Siapkan perisai kalian!”

Para peri hutan segera berlari ke arah Johnny dan membuat sederet barisan membelakanginya. Mengerahkan perisai mereka bersama, membentuk sebuah dinding cahaya untuk melindungi pemimpin mereka satu-satunya.

Dan saat itu pula, kilat dan petir yang berasal dari kekuatan sang ratu beradu dengan dinding tersebut, membuat para peri hutan semakin mengerahkan kekuatan mereka.

Namun apa daya, kekuatan mereka telah habis terkuras untuk melawan pasukan peri hitam. Kekuatan mereka tak bertahan lama, dan tubuh mereka berlima langsung terpental jauh ke belakang, satu persatu terbanting ke lantai.

Detik itu juga, seakan terbangunkan dari mimpi—sekujur tubuh Johnny gemetar melihat kawan-kawannya yang sekarat.

Apa yang telah dilakukannya?

Dengan panik, Johnny berangsur mendekati peri-peri itu satu persatu, memastikan bahwa keadaan mereka baik-baik saja.

Namun, kenyataan berkata lain. Batuan menyala yang tertempel di pedang dan perisai mereka masing-masing kini telah mati, menyisakan sebuah batu hitam tak berarti. Menandakan bahwa kekuatan mereka telah lenyap seutuhnya.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Johnny, membuatnya terkejut akan perlakuan Jeane. Ia menatap saudaranya, dan melihat bulir-bulir air mata yang mulai terbentuk.

“Jeane?”

“Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau seperti ini?!” pekik Jeane tertahan. “Berhentilah bersikap kekanakan! Ini bukan mimpi, ini kenyataan! Bagaimana kau masih bisa berkata bahwa dia adalah Thea, sementara kau telah melihat jelas kawanmu terbunuh di tangan wanita itu?! Yang berdiri di sana bukanlah Thea, John. Dia adalah ratu dari kelompok peri yang selama ini menjadi musuh kita!”

Kata-kata beruntun itu sukses membuat Johnny terdiam. Perlahan kesadaran itu mulai merambat masuk, dan ia mulai mengerti.

“Tolong sadarlah, Johnny. Jeane benar,” ujar Mark menimpali.

Johnny kembali menatap kedua manik sang adik yang masih berkaca-kaca, pun dengan napasnya yang terengah-engah karena lelah sekaligus menahan emosi.

“Hei. Johnny yang kukenal tidak seperti ini.” Suara Jeane melembut, bersamaan dengan sebuah senyum lemah yang mulai terpancar. “Saudaraku itu kuat. Pemimpin yang tidak kenal menyerah, dan selalu mengutamakan kepentingan orang lain. Bukankah begitu?”

Johnny masih terdiam, meskipun perlahan ia mulai memahami kenyataan yang ada. Memang terkadang, ada beberapa hal yang tidak selalu terjadi sesuai harapan. Hal-hal yang menyakitkan sekalipun.

Namun, bukan berarti ia dapat melupakan tugas utamanya sebagai seorang peri. Tanggung jawabnya untuk melindungi alam serta umat-umat manusia yang ada.

“Baiklah, aku mengerti,” ujar Johnny pelan. “Maafkan aku.”

Johnny bangkit dari posisi berlututnya, dan kini ia menatap sang ratu intens. Keresahannya telah hilang, dan kini ia tahu, ia tak akan ragu lagi.

Dengan sekuat tenaga, Johnny mengerahkan segenap kekuatan pada pedangnya. Batu di pangkal pedang itu mulai bercahaya, pun dengan bagian tengah bilah. Johnny mengangkatnya perlahan, kemudian berlari sekencang-kencangnya ke arah Sang Ratu Hitam.

Begitu Johnny merasa jaraknya telah cukup dekat, ia langsung melompat—seraya mengayunkan pedang pada Sang Ratu Hitam dan memulai perperangan yang sesungguhnya. Kini, ia telah membuang jauh-jauh pikiran bahwa yang di depannya tersebut adalah Amalthea, cinta pertamanya.

Karena pada kenyataannya …

.

.

… Amalthea memang sudah tiada.

.

.

Jujur, sejak awal Thea sudah takut. Tetapi, apa lagi yang bisa diperbuatnya? Ia terlampau jatuh cinta pada Johnny, dan ia tak mungkin melepaskan lelaki itu begitu saja. Salahkan saja hukum alam yang ada, sehingga pada akhirnya ia harus mengambil jalan ini.

Wanita tersebut berkata, ia dapat mengubah Thea menjadi apa pun yang gadis itu mau. Dan kebetulan sekali, ia juga mempunyai jiwa seorang peri cantik yang kehilangan tubuhnya dan tinggal di sebuah cermin miliknya.

Perjanjian telah dibuat. Jiwa Thea sudah terikat. Mantra pun mulai terucap. Tak ada satu pun kata yang terlewat, semuanya diucapkan  dengan begitu lancar dan jelas.

Sedikit demi sedikit, aura hitam mulai keluar dari cermin dan mulai memasuki tubuh Thea. Namun, lama kelamaan aura yang keluar menjadi semakin pekat. Thea melihat ke arah kedua tangannya yang mulai mengeluarkan berbagai tulisan bahasa kuno yang tidak dimengertinya, pun dengan kukunya yang juga menghitam dan semakin panjang. Rasa sakit itu mulai datang, membuat Thea tak dapat menahan suara jeritnya.

“A—Apa yang kau lakukan padaku?!”

Senyum di wajah wanita itu berubah menjadi seringai. Sambil menahan rasa geli dan gelak tawanya, ia pun menjawab, “Mengubahmu menjadi seorang peri, sesuai dengan keinginanmu. Memangnya apa lagi?”

“Peri tidak berpenampilan seperti ini! Aku tidak pernah melihat kawanan peri—”

“Kalau begitu, sudah jelas kau tidak pernah bertemu dengan yang namanya peri hitam, Sayangku. There are so many kinds of elves in this world …”

Sosok tersebut mulai menampakkan dirinya di cermin. Sosok cantik yang selama ini selalu dihormati wanita itu, pun dengan peri hitam yang lain. Memang bohong jika menyatakan dirinya adalah seorang penyihir yang dapat mengubah manusia menjadi apa pun yang mereka inginkan.

Karena dirinya hanyalah seorang peri hitam yang senantiasa mencari sebuah tubuh, khusus untuk dipersembahkan kepada ratunya saja.

Dan kini, ia telah menemukannya. Tubuh dari jiwa yang frustasi akan cinta.

.

.

“… and please meet, The Black Queen.”

.

fin.
-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s