[World of Mythical Creatures] Vampire : The Queen Has Risen

5613d37429234ac9e64accf0bb1e945b

Vampire : The Queen Has Risen

story by Rosé Blanche

Chou Tzuyu (Twice) with Kim Mingyu (Seventeen)

AU, Dark, Fantasy, Myth, slight!Romance

PG-15

Oneshot

.

“Jiwamu bukanlah sepenuhnya milikmu lagi.”

.

Dengan langkah tertatih dan keadaan batin setengah sadar, Tzuyu masuk ke kamar tidurnya dan merebahkan diri di kasur. Memejamkan mata, seraya menunggu alam mimpi menghampiri. Jendela kamarnya dibiarkan terbuka begitu saja, seakan mengundang angin malam masuk dan membelai rambutnya. Ia tak peduli lagi.

Tzuyu merasa terlalu lelah, dan yang diinginkannya sekarang hanyalah ketenangan. Suasana dalam kamarnya sunyi. Yang dapat didengarnya hanyalah suara hujan gerimis, menciptakan melodi air yang berjatuhan. Aroma khas tanah yang basah pun menguar.

Biasanya semua hal itu dapat membuat Tzuyu semakin mengantuk. Tetapi, mengapa hatinya terasa tidak tenang?

Satu dua menit pun ia biarkan berlalu. Hanya saja, lama kelamaan memendam firasat tersebut membuatnya tidak nyaman juga.

Tzuyu kembali mendudukkan posisinya di kasur, tepat ketika kedua maniknya menangkap sesuatu di balik tirai jendela.

“Astaga!”

Ia sempat berjengit, namun dalam detik berikutnya Tzuyu pun tersadar. Sosok yang berada di balik tirai tersebut, adalah sosok yang ia kenal.

“Min—Mingyu?” ucap Tzuyu berhati-hati. “Kaukah itu, Mingyu?”

Dapat dilihatnya samar ulasan senyum di wajah sosok tersebut, yang perlahan keluar dari sudut kegelapan dan mendekat ke arah Tzuyu. Semakin lama, tampang itu mulai terlihat dan Tzuyu yakin bahwa ia tak salah orang.

“Mingyu? Kenapa kau bisa ada di sana?”

“Selamat malam, Nona.”

“No—Nona?”

Tzuyu membolakan kedua matanya, tertegun akan sikap sang kekasih yang berubah seratus delapan puluh derajat—lantaran di sekolah ia selalu dipanggil dengan sebutan-sebutan aneh yang sanggup membuat dirinya melemparkan benda apa pun ke wajah lelaki itu.

Dan pakaian macam apa yang Mingyu kenakan?

“Maaf membuatmu terkejut, Tzuyu. Tetapi, aku sudah lama menantikan saat ini.”

“Apa maksudmu?” tanya Tzuyu heran seraya bola matanya menilik jubah hitam yang membalut punggung kekasihnya.

“Mulai sekarang, kau harus mengetahui satu hal. Ingatlah baik-baik. Jiwamu … bukanlah sepenuhnya milikmu lagi.”

“A—Apa?”

Sebelum kebingungan Tzuyu terjawab, Mingyu melangkah cepat ke arah kaca jendela, kemudian melompat begitu saja. Lelaki itu menghilang bersama dengan angin dan hujan, eksistensinya pun tak terlihat lagi oleh Tzuyu.

-oOo-

Sinar matahari pagi merekah, membuat Tzuyu perlahan membuka kelopak matanya. Ia mengerang pelan. Entah apa yang ia perbuat semalam sampai-sampai kepalanya sakit setengah mati.

Ia terduduk, berusaha mengingat-ingat.

Dalam pikiran Tzuyu, terlintas bayangan dimana dirinya bersama dengan kawan-kawannya berkumpul di sebuah tempat— Ah, benar. Rumah Mina. Gadis Jepang itu berulang tahun kemarin, sehingga mengundang beberapa teman dekat untuk berpesta di kediamannya.

Tzuyu mengingat segala obrolan-obrolan dengan beberapa sahabatnya, karaoke yang membuat suaranya sampai serak, dan … minuman-minuman itu.

Oh, sial.

Apakah Tzuyu mabuk semalam?

Mengapa Tzuyu tidur dengan gaun selutut, stiletto bertali yang masih terpasang manis di kakinya dan riasan yang sama sekali belum dihapus?

Dan … mengapa juga Tzuyu membiarkan jendelanya terbuka saat ia tertidur? Bisa-bisa ibunya mengomel jika ia terkena flu setelah ini.

Dalam benaknya, muncul bayangan dimana mereka berpesta sampai larut. Setelah itu, Tzuyu yakin pasti bahwa ada Wonwoo yang menawarkan untuk mengantarnya pulang.

Setelah itu … apa yang terjadi?

Tzuyu terus memutar otak, mencoba untuk mengingat dan mengingat. Mencoba untuk menemukan apa yang terjadi semalam, pun dengan hal yang terlewat bersama dengan Wonwoo tepat saat laki-laki itu mengantarnya pulang, karena Mingyu sebagai kekasihnya berhalangan datang ke pesta itu. Namun, usahanya sia-sia.

Tunggu dulu.

Mingyu …?

Entah mengapa, rasanya ada yang aneh saat mengingat nama itu. Memangnya kenapa dengan Mingyu?

Jawaban tak dapat ia temukan. Memikirkan semua hal itu membuat Tzuyu semakin pusing, dan pada akhirnya ia memutuskan untuk melupakan saja. Lagipula bila memang ada hal penting yang terjadi, nanti juga pasti akan ingat sendiri, batinnya.

Ia lantas turun dari kasur, kemudian berjalan keluar setelah mengambil handuk dan pakaian. Tungkainya menuruni tangga hendak menuju ke kamar mandi tepat ketika sebuah panggilan menghampiri indera pendengarannya.

“Tzuyu?”

Kepala gadis itu menengadah. Detik itu pula, kedua pasang mata tersebut bersitatap. Dua wanita tersebut saling berhadapan di tengah-tengah tangga, saling melemparkan tatapan berbeda. Yang lebih tua memandang lawannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, sedangkan Tzuyu hanya dapat menatap wanita itu takut-takut.

“Kau bau alkohol.”

Meskipun sempat mengumpat dalam hati, Tzuyu buru-buru membungkukkan tubuhnya, lantas berkata, “Maafkan aku, Bu! Aku tidak bermaksud untuk minum-minum dan pulang selarut—”

“Tidak, tidak. Bukan itu masalahnya,” ujar wanita itu  cepat-cepat. “Hanya saja … bagaimana caramu masuk semalam?”

“Eh?” Pertanyaan tak disangka-sangka itu berhasil membuat Tzuyu menganga. “Maksud Ibu?”

“Waktu kemarin Ibu pulang kerja, Ibu melihat kunci rumahmu tergantung di ruang tamu. Semalam kau tidak membawanya, kan? Dan saat Ibu hendak tidur, Ibu lupa kalau kau tidak membawa kunci, jadi Ibu mengunci pagar dan pintu rumah kita. Baru pagi ini Ibu ingat. Sekarang beri tahu Ibu, bagaimana caramu masuk?”

Seketika itu juga, Tzuyu tercengang. Suaranya pun menghilang entah kemana. Ia hanya dapat menatap balik sang ibu dengan kedua mata melebar, karena pada nyatanya ia tak tahu pula. Gambaran tentang jendela kamarnya yang terbuka semalam pun tiba-tiba saja langsung melintas. Tetapi …

… masa ia masuk lewat jendela?

Yang benar saja.

Lagipula, Tzuyu tidak akan pernah tahu bagaimana caranya untuk menggapai jendela yang berada di lantai dua tersebut—mengingat kejadian dimana ia mencoba untuk menaiki pohon demi melakukan misi penyelamatan seekor anak kucing bulan lalu. Naasnya hal itu berakhir dengan bokongnya yang mendarat keras di tanah, menyebabkan tawa terkutuk menguar dari mulut Mingyu.

Alhasil, Tzuyu hanya menggeleng.

“Maaf, Bu. Aku tidak ingat.”

Ibunya pun hanya bisa tersenyum lemah. “Baiklah, kalau begitu kau mandi saja dulu,” ujar wanita itu, yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah tawa. “Kau habis ngapain saja semalam? Sampai lipstikmu belepotan begitu.”

Pernyataan itu jelas membuat kedua alis Tzuyu mengkerut. Kebingungan yang bertambah semakin berputar dalam benak gadis itu tak kunjung hilang, bahkan setelah ibunya kembali mengayunkan kaki menaiki tangga meninggalkannya.

Tzuyu langsung saja menuruni tangga, berlari menuju kamar mandi. Ia masuk dan langsung memosisikan dirinya tepat di hadapan cermin.

Benar kata ibunya. Di sekitar bibir Tzuyu, terdapat bekas berwarna merah yang cukup kentara. Yang menjadi masalahnya … sejak kapan ia punya lipstik semerah ini?

Tzuyu menggeleng cepat, tak ingin berpikir lagi. Ia sudah cukup pusing dengan hal-hal aneh yang baru saja menimpanya, dan akhirnya ia hanya membasuh bibir lekas-lekas. Lagipula, Tzuyu tak punya cukup waktu untuk memikirkan semua itu.

Tidak lagi, setelah beberapa menit yang lalu sebuah teks pesan datang dari Nayeon, yang menyatakan bahwa seorang teman mereka telah menghembuskan napas terakhirnya.

-oOo-

“Ke—Kenapa bisa begini?”

Sekujur tubuh Tzuyu gemetar hebat tatkala netranya memandang tubuh tak bernyawa yang terbaring. Tetesan-tetesan air mata tersebut mulai keluar diikuti dengan lutut yang melemas, sampai-sampai Mingyu harus merangkulnya agar ia tidak terjatuh.

“Kami juga tidak tahu,” sahut Momo, melemparkan tatapan sendu. “Polisi mengatakan ini adalah kasus pembunuhan.”

“Pembunuhan?”

“Ya, tetapi ini benar-benar aneh. Di lehernya ditemukan lubang-lubang yang entah disebabkan oleh apa, dan di dadanya juga ada bekas-bekas yang … entah bagaimana cara menyebutnya, tetapi sudah pasti terlihat mengerikan. Bentuknya seperti cakaran, hanya saja … bukan sekedar cakaran biasa, Tzuyu. Well, yang jelas ia kehilangan banyak sekali darah.”

Isakan Tzuyu semakin tak terkendali. Lirih.

Rasa sedih, bingung, takut dan syok pun berbaur. Ia menangis sejadi-jadinya, tanpa tahu apa yang harus ia perbuat di rumah sang pemuda yang kini telah penuh oleh orang-orang berbalutkan setelan hitam—tentunya  datang dengan maksud untuk mengucapkan pernyataan turut berduka.

“Maaf, kurasa kami harus permisi dulu,” ujar Mingyu, merasa bahwa kekasihnya tak akan sanggup berlama-lama berada di tempat itu. Yang dibutuhkan Tzuyu saat ini hanyalah ketenangan, bukanlah segala penjelasan dan spekulasi yang akan semakin membuatnya depresi.

Mingyu tersenyum lemah penuh arti pada kawan-kawannya dan juga tuan rumah di sana, kemudian pamit. Sesudahnya, ia membawa Tzuyu keluar dari kediaman itu.

-oOo-

“Sudah merasa baikan?”

Tzuyu mengangguk lemas. Seharian menangis ternyata melelahkan juga. Dihirupnya udara malam dalam-dalam, kemudian dihembuskannya kasar. Kepalanya menengadah, dan seketika didapatinya rembulan yang bersinar.

Entah mengapa, melihat purnama itu membuatnya merasa aneh. Seakan ada … suatu hasrat. Gejolak apa itu, Tzuyu juga tidak tahu. Yang jelas, rasa itu membuatnya tak tenang. Padahal, sedari tadi Mingyu tak jengah berusaha memberinya ketenangan, terus-terusan mengusap-usap punggungnya dan berharap bahwa itu semua dapat membuat Tzuyu merasa lebih baik. Biasanya, cara-cara itu memang sangat ampuh untuk memperbaiki kondisi hati Tzuyu.

Apa yang salah dengan dirinya hari ini, Tzuyu juga tidak mengerti. Dalam detik yang sama pula, Tzuyu merasakan sebuah kecupan ringan di kepalanya.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.”

“Kurasa kau sudah mengatakan hal itu ratusan kali untuk hari ini.”

“Begitukah?” Mingyu tertawa kecil, kemudian merangkul gadis itu semakin erat. “Maka dari itu berhentilah menangis.”

Tzuyu kembali mengangguk seraya memaksakan sebuah senyum pada bibirnya, mencoba menghargai usaha dari sang kekasih. Setidaknya, biarlah lelaki itu untuk tidak merasa khawatir lagi.

Sebelah tangan Mingyu pun terangkat untuk mencubit pelan pipi gadisnya. “Kalau begitu, bisa tunggu sebentar di sini? Aku mau mengambil sesuatu di mobil.”

“Tentu.”

Kedua netra Tzuyu bergerak mengikuti punggung lelaki itu. Kedua pasang kaki tersebut telah melangkah menjauh.

Sambil menunggu kedatangan Mingyu kembali, Tzuyu menatap sekelilingnya. Memandang ke arah air dari kolam yang berkilauan, pun dengan cahaya remang dari lampu jalan. Rerumputan yang sedari tadi menjadi tempatnya duduk pun mulai terasa panas, tanda-tanda bahwa Tzuyu memang sudah terlalu lama duduk di sana. Kakinya mulai terasa pegal, dan ia memutuskan untuk bangkit dan berjalan-jalan sebentar.

Namun, tepat saat Tzuyu hendak berdiri, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya. Awalnya Tzuyu merasa tenang-tenang saja, mengira bahwa yang datang adalah Mingyu.

Hanya saja, kenyataan yang berkata lain.

“Sendirian, Nona?”

Perasaan Tzuyu tidak enak, dan firasat itu terbukti tatkala tubuhnya berbalik.

Seorang pria dengan topi hitam dan jaket yang senada berdiri di hadapannya sambil menyunggingkan senyum, namun bukan seperti senyum yang biasa Mingyu tujukan untuknya.

Mungkin lebih tepat jika disebut seringai.

“Maaf, aku ada urusan.”

Dengan langkah cepat Tzuyu berjalan menghindar, berusaha menjauh dari pandangan sang pria. Namun, sebuah genggaman erat menangkap tangannya.

“Kau mau kemana, Cantik?”

Seringai itu pun berubah menjadi tawa yang terdengar begitu menyeramkan di telinga Tzuyu, dan ia tak dapat menahan rasa paniknya lagi. Sebuah tamparan Tzuyu daratkan di pipi pria itu, serta sentakan keras pun ia berikan untuk melawan. Dan hal yang berbuah kesia-siaan tersebut tentu saja hanya membangkitkan emosi sang pria.

Didorongnya Tzuyu dengan kasar, sehingga gadis itu jatuh terlentang. Posisi pria itu kini telah berpindah ke atasnya.

“Aku tak menyangka jika gadis sepertimu ternyata punya nyali juga.”

Kini air mata itu kembali membanjiri pipi Tzuyu. Ia berteriak, menjerit, serta meronta-ronta. Sayangnya, tak ada seorang pun yang melintas karena malam sudah larut.

Kalau sudah berada dalam situasi seperti ini, ia bisa apa? Tenaganya tak mungkin dapat menandingi sang pria. Bahkan selamat atau tidak, Tzuyu juga tak yakin.

Kini ia hanya dapat menengadah ke arah langit. Memakukan sebuah tatap pada purnama yang entah mengapa terlihat semakin terang, yang paparan sinarnya dapat membuat Tzuyu secara otomatis merasakan sesuatu berbeda.

Ya, berbeda. Hasrat yang tadinya sempat mengarungi kini semakin terasa, hingga entah mengapa hal itu seakan menguasai dirinya. Dan Tzuyu pun mulai berharap.

Mungkin, mengutarakan sebuah harap pada purnama pada saat-saat seperti ini adalah hal bodoh. Apa yang bisa diharapnya dari sebuah bulan?

Tetapi, keputusasaan Tzuyu tak berlangsung lama setelah itu. Siapa yang akan menyangka jika harapannya terkabulkan?

Ia berhenti menjerit.

Ia berhenti meronta.

Dan teriakan itu pun tak terdengar lagi.

“Oh? Sudah menyerah, Nona?”

Pria itu kini mulai mendekatkan wajahnya ke milik Tzuyu. Namun, sebelum ia berhasil melakukannya, tiba-tiba saja sebuah cengkraman menghampiri kerah bajunya. Dengan sebuah gerakan cepat, gadis itu membanting pria itu ke samping, memutar posisi mereka hingga kini ia yang berada di atas.

Dan seringai itu pun terulas.

Kaulah yang terlalu punya nyali untuk berurusan denganku, Tuan.”

Sang pria pun terbelalak. Netranya bersitatap dengan milik sang gadis yang kini telah berubah menjadi semerah darah. Rasa takut mulai menjalari sekujur tubuhnya, dan ia membuka mulutnya hendak berteriak.

Belum sempat teriakan itu berhasil ia keluarkan, kedua gigi taring itu telah terlebih dahulu menusuk lehernya. Menancap begitu dalam, hingga mengeluarkan likuid merah yang langsung diminum oleh sang gadis.

Tzuyu menghisap darah itu. Seakan tak ingin melewatkan setetes pun, Tzuyu tak berhenti. Sampai tiba-tiba saja, sebuah jeritan seorang wanita yang begitu melengking terdengar.

Tzuyu menegakkan posisi tubuh, melihat samar seorang remaja dari kejauhan.

Gadis bertubuh mungil itu balas menatapnya dengan wajah yang entah kenapa terlihat begitu pucat serta kedua pupil yang semakin mengecil. Dan detik berikutnya, gadis itu pun lari pontang-panting.

Tzuyu mengerjap berkali-kali, masih tak mengerti mengapa gadis tersebut menatapnya seperti itu. Hingga matanya kembali bertemu dengan sosok tak berdaya yang berada di bawahnya, ia pun terkesiap. Terlebih lagi, jantungnya terasa seperti nyaris copot saat ia menyadari bahwa pria itu tak menghembuskan napas.

“Apa yang … telah kulakukan?”

Bisikan itu keluar nyaris tanpa suara, tenggorokannya pun tercekat. Tubuhnya spontan menjauh dari sang pria, dan dapat dilihatnya bekas darah yang masih mengalir dari leher berlubang itu.

Rasa takut dan ngeri kembali datang. Keringat dingin mulai menetes, dan Tzuyu merasa bahwa ia akan menangis lagi untuk yang kesekian kalinya pada hari ini.

Namun, semua itu terbatalkan saat ia menyadari kehadiran sesosok lelaki di hadapannya.

Sosok yang berjongkok dan menatapnya lekat-lekat, dengan wajah mempesona yang sanggup membuat Tzuyu luluh kapan pun itu. Tzuyu ingin berteriak memanggil nama lelaki itu, serta merengkuhnya untuk menghilangkan segala rasa takut.

Namun, sebelum Tzuyu sempat melakukan itu semua, ia menyadari bahwa ada yang berbeda dengan sang lelaki. Lebih tepatnya di bagian iris.

Warnanya tidak lagi cokelat kehitaman, melainkan merah. Dan mereka pun saling menatap satu sama lain dalam keheningan yang begitu memikat.

“Jiwamu … bukanlah sepenuhnya milikmu lagi.”

Kata-kata tersebut mulai mendengung dalam benak Tzuyu.

Detik berikutnya, ia ingat.

Bayangan dimana malam itu menjadi pertemuan misterius antara dirinya dengan Mingyu, di sebuah ruang yang selama ini menjadi kamar tidurnya. Segala percakapan mereka, dan segala yang Mingyu ucapkan.

Jujur saja kini Tzuyu ingat semuanya, namun masih tak dapat menemukan arti dari obrolan mereka kala itu.

“Mingyu, kau—”

“Maaf telah membuatmu ketakutan. Tetapi, kau harus menyadari hal ini secepatnya, Sayang.”

“Apanya? Dan … apa maksudmu membuatku ketakutan?”

Mingyu menelungkupkan kedua tangannya pada pipi Tzuyu, lantas berkata, “Maaf, tetapi aku ingin jujur padamu, oke? Akulah yang membayar pria bertopi ini untuk melakukannya padamu.”

“Melakukan apa?”

Well, secara logika melakukan apa pun yang dapat membuatmu marah.”

“Apa?!” pekik Tzuyu tertahan. “Tapi … kenapa?”

Mingyu menghela napas perlahan. “Dengarkan aku baik-baik, Tzuyu.”

Lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya, menatap kedua manik Tzuyu intens. Sebuah tatapan lurus yang selalu membuat Tzuyu mengerti bahwa lelaki itu sedang benar-benar serius.

“Aku tidak tahu kau memang percaya dengan hal-hal semacam ini atau tidak, tetapi … kau bukanlah manusia biasa.”

“Lalu?”

Mingyu tersenyum. “Vampir. Kau seorang vampir.”

Kini, Tzuyu membelalak dan seketika menjauhkan wajanya dari Mingyu. Bibirnya membentuk sebuah lengkung getir, dan pita suaranya mengeluarkan sebuah tawa sumbang. Kekonyolan macam apa yang baru saja Mingyu ucapkan?

“Hei, jangan bercanda.”

“Apanya yang bercanda? Lalu bagaimana caramu menjelaskan apa yang baru saja kau lakukan pada pria ini?” protes Mingyu seraya menunjuk ke tubuh tak bernyawa yang terbaring. “Sudah kubilang, kau harus menyadari hal ini secepatnya.”

“Menyadari apa, sih?”

“Menyadari bahwa kau adalah vampir, Tzuyu! Biar kuberi tahu sesuatu. Pernah dengar soal vampir yang bernamakan Bella?”

Tzuyu semakin mengerutkan alisnya bingung. “Kurasa aku pernah mendengarnya dalam beberapa dongeng tentang vampir.”

“Yah, ketahuilah bahwa sebenarnya dia tidak hanya ada di dalam dongeng belaka. Dia adalah pemimpin kami. Sang Ratu. Dan kau …,” Mingyu menggantungkan ucapannya seraya mengarahkan telunjuk pada bahu Tzuyu.

“… kau adalah keturunan dari Ratu Rosabella. Dalam dirimu, terdapat jiwa Ratu Rosabella yang akan bangkit ketika kau menginjak umur tujuh belas tahun. Dan kini, Sang Ratu telah benar-benar bangkit, Tzuyu.”

Tzuyu terdiam. Bibirnya bungkam, dan senyumannya memudar.

“Aku … adalah seorang vampir? Dan kau juga—”

“Benar,” sahut Mingyu cepat. “Kau benar. Dan kau benar pula soal aku yang juga merupakan salah satu dari mereka.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Dalam benak Tzuyu, terdapat beberapa pernyataan-pernyataan yang baru saja merasuk dan berputar-putar, seakan memenuhi otaknya hingga kalut. Perlahan, kepalanya mulai menggeleng, diikuti oleh wajah yang jelas sekali menyiratkan kepanikan.

“Tidak, tidak. Tidak! Tidak mungkin! Aku—”

“Lalu apa kau pikir yang terjadi pada Jeon Wonwoo semalam benar-benar adalah kasus pembunuhan? Bukan karena perbuatan makhluk seperti kita?”

Kata-kata itu sukses membuat Tzuyu kembali mengatupkan bibir. Sejujurnya, ia tak percaya. Dan ia tak ingin percaya. Terlebih jika hal ini telah menyangkut kawan terdekatnya.

“Jadi, kau mengatakan bahwa Wonwoo dibunuh oleh seorang vampir?”

“Kau pikir mengapa aku tak datang ke pesta Mina kemarin?” ujar Mingyu kembali. “Karena tepat setelah jam dua belas malam, aku tahu jika yang berulang tahun bukanlah Mina lagi, melainkan kau. Semuanya sudah begitu jelas, Tzuyu. Kau—dengan jiwa Ratu Rosabella yang berada dalam dirimu—adalah penyebab kematian Wonwoo semalam.”

Kini, Tzuyu tak dapat mengelak lagi.

Sekujur tubuhnya semakin melemas. Panik dan menjadi takut akan dirinya sendiri adalah satu hal, tetapi merasa terpukul akan kenyataan yang ada ternyata jauh lebih menyakitkan.

Jujur, ia ingin berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Hanyalah sebuah mimpi yang mampir untuk sesaat, kemudian menghilang bersama dengan datangnya pagi yang cerah.

Namun, nyatanya tidak.

Karena Tzuyu masih tak membuka suara, pada akhirnya Mingyu melanjutkan, “Baiklah, aku akan membuka semuanya padamu, oke?”

“Soal apa lagi?” ujar Tzuyu lemas, hampir tanpa suara.

“Jujur, aku sudah lama mengamatimu. Memerhatikanmu sejak kecil, hingga kau bertumbuh menjadi seorang gadis cantik seperti ini. Dan kalau di pikiranmu saat ini terlintas dugaan bahwa aku menjadi kekasihmu hanya untuk sekedar bisa dekat denganmu, lalu menjalankan tugasku untuk mengawasimu sebagai keturunan Ratu Rosabella—kau benar. Ya, kau benar, awalnya semua itu hanyalah taktik belaka,” ujar Mingyu pelan.

“Tetapi, ada pepatah yang mengatakan bahwa waktu dapat menumbuhkan rasa— Well, kurasa itulah yang terjadi di antara kita. Maafkan aku.”

Sebenarnya, Tzuyu tak akan terlalu mempersalahkan hal itu. Ia mencintai Mingyu. Tak peduli bagaimana pun awal dari kisah mereka, mengetahui kenyataan bahwa saat ini lelaki itu juga mempunyai perasaan yang sama—itu sudah lebih dari cukup.

Yang menjadi masalah hanya satu hal untuk sekarang.

“Lalu, apa yang harus kulakukan?”

Mingyu pun tersenyum, dan tangannya kembali mengusap rambut Tzuyu.

“Menerima takdir. Hanya itu. Mungkin memang konyol bila seorang yang telah lama mengabdi pada Sang Ratu bisa jatuh cinta pada gadis terpilih sepertimu. Tetapi, ketahuilah. Tak peduli apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisimu. Sebagai seorang bawahan yang setia padamu, Tzuyu. Sehingga, kau tidak perlu merasa takut lagi.”

Sebuah rengkuhan Mingyu berikan untuk Tzuyu seorang, dan gadis itu menangis sejadi-jadinya.

Namun, tidak apa-apa. Gadis itu hanya bersedih untuk sesaat. Bila sudah waktunya nanti, gadis itu akan menerima segalanya. Menerima takdir seperti yang dikatakan oleh Mingyu, dan menjalankan segala hal yang harus dijalankannya sebagai seorang ratu dari semua vampir.

Karena setelah sekian ratus tahun, Ratu Rosabella telah bangkit.

Dan Tzuyu pun terpilih untuk menjadi pewaris kedudukan, begitu pula dengan jiwa Sang Ratu.

fin.
-oOo-


cwogjfaumaab8tl

Vampire Tzuyu♥♥♥

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s