The Art of Being a Nurse

theartofbeinganurse

The Art of Being a Nurse

story by Rosé Blanche

Min Yoongi [BTS] & Catherine Hedley [OC]

AU, slight!Fluff, Historical, Slice of Life

G

Oneshot

.

Perhatian, penghiburan, dan rasa nyaman. Bukankah itu yang terpenting?

.

Seiring datangnya malam, tiba pula giliran Catherine untuk menjaga tenda.

Bagi wanita yang lebih sering dipanggil Cath itu sendiri, pekerjaan ini bukanlah hal mudah. Namun, barangkali kurun waktu sepuluh tahun telah membuatnya terbiasa. Menjadi perawat atas para prajurit yang terluka, mengobati, dan menjaga mereka tiap malam sudah menjadi rutinitas sejak umurnya menginjak angka lima belas. Melihat luka yang menganga lebar tidak lagi menjadi hal yang mengerikan. Menyaksikan kematian seseorang sudah biasa pula.

Hanya saja, ada yang berbeda hari ini.

Siang tadi, kawannya tiba-tiba saja masuk ke tenda sambil membopong seseorang. Bukan tubuh seorang sersan atau pun prajurit, hanya gadis kecil tak berdaya dengan darah mengucur di sekujur tubuh.

“Cepat, Cath! Siapkan perban dan obat-obatan. Gadis ini terluka parah!”

Di antara sekian banyak tubuh yang terbaring lemah dalam tenda, Catherine hanya terfokus kepada satu insan. Seorang gadis kecil yang berada di ujung belakang, dengan balutan perban di mana-mana.

Catherine menghela napas, merasa iba. Seingat Cath, kawannya tadi mengatakan bahwa kemungkinan besar gadis kecil ini adalah putri dari seorang prajurit di sana, entah siapa.

Yang membuat Cath tak habis pikir, untuk apa seorang prajurit membawa putri kecilnya ke daerah perang yang sudah jelas sangat berbahaya?

Gadis itu kehilangan banyak darah dan terluka di bagian kaki—lebih tepatnya tertembak. Dua peluru menancap di betisnya, menciptakan pemandangan yang begitu pedih bagi Cath. Kedua mata gadis itu juga terkena sayatan, dan Cath rasa gadis itu akan menjadi buta permanen.

Di leher gadis itu pula, tertancap beberapa pecahan kaca yang membuat pita suaranya terluka kendati ia masih dapat berbicara sedikit. Karena saat gadis itu tiba di tenda, ia terus-terusan menangis dan memanggil-manggil seseorang yang disebutnya sebagai ‘Ayah’ dengan setengah berbisik.

Terdengar lirih sekali.

Sekali lagi Cath mengembuskan napas pelan sambil menepuk-nepuk bahu sang gadis, berusaha untuk menenangkan lantaran ini sudah saatnya untuk tidur. Mungkin gadis ini tak akan bertahan lama, tutur Cath dalam hati.

Bersamaan dengan saat itu pula, tiba-tiba tenda terbuka. Seorang pria yang masih berbalutkan seragam tentara menapakkan kaki masuk, dan kedua pasang mata itu pun bersitatap.

Namun hanya untuk sejenak, karena detik berikutnya kedua manik pria itu langsung tertuju pada si gadis kecil. Cath masih tetap diam, menunggu tindakan lanjut sang pemuda.

Yang diamati pun tak berkutik, masih terpaku. Melihat ke arah sang gadis kecil dalam keheningan, dengan pancaran hangat yang tersirat.

Detik itu pula, Cath menyadari satu hal.

Dengan tubuh setengah membungkuk, Cath mendekatkan mulutnya pada telinga si gadis kecil dan berbisik, “Bangunlah sebentar. Ayahmu telah datang.”

Cath berdiri dan tersenyum pada sang pria muda, yang langsung dibalas oleh tubuh yang sedikit membungkuk untuk sekedar menyatakan rasa santun.

“Silakan, Tuan.”

Cath mengambilkan sebuah alas untuk pria itu duduk di samping sang gadis, dan saat itu juga pria tersebut menggenggam erat tangan kecil tersebut. Menepuk-nepuk kepala sang gadis dengan begitu lembut, bahkan sempat mengumandangkan lagu-lagu sebelum tidur untuk anak-anak.

Begitu terus sampai waktu menunjukkan pukul dua pagi.

Cath sempat menghampiri pemuda itu dan mengatakan bahwa ia bisa beristirahat dan Cath yang akan ganti menjaga sang gadis, namun ditolak.

Tampaknya pemuda tersebut tak punya angan untuk meninggalkan sisi sang gadis sama sekali. Kedua tangan tersebut saling bertautan erat satu sama lain.

Hingga matahari mulai menampakkan diri, gadis itu tak dapat bertahan lebih lama lagi.

-oOo-

Setelah selesai mengurus pemakaman beberapa prajurit yang telah gugur dan juga sang gadis kecil, Cath lantas menghampiri pemuda yang tadinya berujar bahwa ia akan menunggu Cath di depan tenda.

Dan Cath benar-benar menemukannya di sana. Berdiri membelakangi dirinya, dengan kedua tangan terselip dalam saku celana. Fokus pandang mata itu lurus ke depan seakan menikmati terbitnya matahari di ufuk timur.

“Tuan?”

Sang pemuda lantas berbalik, kemudian tersenyum saat menyadari siapa yang memanggilnya.

Detik itu pula, Cath langsung mengoceh panjang lebar, menuturkan bahwa ia turut berbelasungkawa atas kepergian gadis tersebut, pula dengan soal pemakaman. Namun, sebelum Cath berhasil menyelesaikan kata-katanya pemuda itu menyahut,

“Tunggu sebentar, Nona.”

“Ya?”

“Kalau aku boleh tahu, siapa nama gadis itu?”

“Maaf, kalau soal itu— Tunggu dulu. Apa?”

.

.

.

Ucapannya terputus, dan kesunyian langsung meliputi. Bukan karena masalah Cath yang memang tak tahu menahu soal nama dari sang gadis, namun apa yang baru saja terucap dari bibir pemuda itu. Selama beberapa detik, Cath tak dapat menemukan suaranya.

Keheningan seketika menghampiri mereka, dengan kedua pasang mata yang saling beradu tatap dan menyiratkan hal sama.

Bingung.

“Apa … maksud Anda?”

“Kenapa?”

“Bukankah gadis itu adalah putri Anda sendiri?”

Sang pemuda tertegun. Hingga beberapa detik terlewat, tiba-tiba pemuda itu mengulas sebuah senyum.

“Maaf, kurasa ada satu kesalahpahaman yang terjadi, Nona.”

“Apa?”

Pemuda tersebut maju selangkah, mendekati Catherine yang masih dilanda ketidakpahaman atas apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini. Ia terlampau bingung, hingga tanpa ia sadari telah ada sebuah tangan yang menepuk bahunya.

Pemuda itulah yang menepuk Cath lembut, kemudian berkata, “Apa kau keberatan jika kita mengobrol sebentar, Nona Catherine?”

-oOo-

“Bagaimana Anda mengetahui namaku?”

Kedua pasang kaki tersebut sampai di puncak bukit setelah lima menit terlewat, meningat bahwa mereka tak dapat pergi terlalu jauh dari perkemahan. Udara pagi yang cukup dingin menerpa wajah mereka, dan Cath dapat merasakan nyamannya menghirup aroma tanah yang basah terkena embun.

Sang pemuda menyandarkan diri dengan menumpu kedua sikunya di pagar kayu pembatas, diikuti oleh Catherine.

“Bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya, Nona?” sahut pemuda itu sambil tertawa kecil. “Sudah puluhan kali aku masuk ke tenda yang sama, dengan luka nyaris di tempat yang sama, dan bertemu dengan perawat yang sama pula.”

“Benarkah? Ma—Maaf kalau begitu,” ujar Cath kikuk, menyadari bahwa perawat yang dimaksud oleh pria tersebut pastilah dirinya. “Terlalu banyak orang yang kutemui dalam perang ini, dan—”

“Tidak apa-apa, tak masalah. Memang wajar kalau kau tak dapat mengingat kami satu persatu.”

Setelah itu, tak ada lagi yang membuka percakapan, hingga sang pemuda teringat dengan tujuannya mengajak sang perawat kemari.

“Ah, benar. Soal tadi.”

“Ya?”

“Apa kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam, Nona?”

Cath beranggapan bahwa sebenarnya tanpa pemuda itu harus bertanya pun, sudah pasti pemuda itu mengetahui jawabannya. Tetapi, Cath lekas mengangguk saja dan tak mengindahkan pemikirannya barusan.

Sebenarnya … semalam aku salah memasuki tenda.”

“Apa?”

Mendengar suara Cath yang melengking membuat pemuda itu tak dapat menahan lengkung bibirnya, hingga ia kembali melanjutkan, “Ya, aku salah memasuki tenda. Sebenarnya aku ingin memasuki tendaku untuk beristirahat, namun entah karena efek terlalu lelah atau apa, yang kumasuki adalah tenda kalian—tenda tempat prajurit-prajurit terluka dirawat. Letaknya tepat di samping tendaku, dan … kau tahu sendiri, Nona. Semua tenda di perkemahan itu bentuknya sama.”

Cath terdiam sejemang. Memikirkan perkataan sang pemuda, menciptakan konklusi-konklusi yang menjadi sebuah bayangan, yaitu rangkaian kejadian yang masih tak dapat dipahaminya.

“Jadi, Anda mengatakan bahwa Anda masuk ke tenda kami bukan untuk menemui putri Anda?”

“Ia bukan putriku, omong-omong. Bahkan aku tak mengetahui namanya.”

Cath terkesiap. “Berarti Anda tahu bahwa aku telah melakukan kesalahan. Kenapa tak bilang dari awal kalau Anda bukan ayah gadis itu?”

Pemuda itu mengembuskan napas pelan, kemudian menatap balik kedua manik Catherine yang telah dipenuhi oleh hasrat ingin tahu. Dengan santai, ia menjawab, “Sebenarnya, gadis itu adalah putri dari rekanku, yaitu Sersan Kim Seokjin. Kau mengenalinya?”

“Kurasa aku pernah mendengar namanya.”

Well, gadis itu lahir tepat saat Sersan Kim akan berangkat kembali ke medan perang sekitar sebelas tahun yang lalu. Istrinya meninggal tepat saat anak itu dilahirkan, dan Sersan Kim tak punya pilihan lain selain membawa gadis itu bersamanya.”

“Beliau tak punya kerabat atau siapa saja yang bisa menjadi tempat untuk menitipkan putrinya?”

Pemuda itu lekas menggeleng. “Kalau ada, pasti sudah ia titipkan. Sayang sekali, sepanjang hidupnya ia habiskan dalam perang yang tak kunjung selesai ini. Semua kerabat yang ia punya sedari dulu tak lain adalah para prajurit dan tentara pula. Ia hanya menitipkan gadis itu pada seorang perawat tua ketika ia harus berperang pada siang hari. Bila malam tiba, ia akan kembali menjadi sosok seorang ayah demi anak itu.”

Pemuda itu menarik napas sejenak, kemudian melanjutkan, “Ia adalah ayah yang baik. Ia tak pernah bosan menceritakan tentang anak itu. Putrinya yang cantik, putrinya yang pintar, putrinya yang manis …. Sampai-sampai aku merasa bahwa aku sangat mengenal gadis kecil itu meskipun aku tidak pernah bertemu dengannya secara langsung, kecuali kemarin malam. Sayang sekali aku selalu lupa untuk menanyakan siapa nama anak itu.”

Sungguh, Cath baru pertama kali mendengar kisah seperti ini dalam kehidupan perang. Masalahnya, bukankah semua itu terlalu berat?

Omong-omong, Cath tak pernah mendengar tuturan bahwa menjadi ayah muda merupakan suatu pekerjaan gampang. Terlebih harus membela negara di saat yang bersamaan, berperang, menembakkan senjata, bahkan membunuh …. Membayangkannya saja bahkan Cath tak mampu.

“Baiklah,” sahut Cath. “Kalau begitu, yang menjadi pertanyaan adalah dimana Sersan Kim saat putrinya sedang sekarat dan menangis-nangis memanggil ayahnya?”

Keheningan kembali melanda. Pemuda tersebut menatap Cath dalam diam dengan kedua alis berkerut, namun Cath tak mengerti. Apakah ia salah bicara?

“Kau tak mengetahuinya?”

“Mengetahui apa?”

“Sersan Kim gugur dalam perang dua hari yang lalu.”

.

.

.

Seketika, bibir Cath langsung bungkam.

Sekelebat perasaan bersalah seakan bergelayut di pikiran Cath, dan beranggapan bahwa ketidaktahuannya telah membuat mulutnya mengucapkan sesuatu yang lancang. Dalam hati, Cath merutuki dirinya sendiri. Kedua matanya tak berani menatap milik sang pemuda.

“Ma—Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau—”

“Tidak apa-apa,” jawab pemuda itu sambil mengulas senyum tipis. “Itulah jawabanku atas pertanyaanmu tadi, Nona. Aku salah memasuki tenda, dan aku berharap bahwa tidak ada yang menyadari keberadaanku saat itu, jujur saja. Rasanya memalukan. Tetapi, ternyata ada kau yang masih berada di atas alam sadar.” Pemuda itu tertawa sekilas, lantas melanjutkan, “Waktu itu, aku ingin segera minta maaf padamu dan segera keluar, tetapi aku melihat gadis kecil itu.”

“Dan Anda langsung mengetahui bahwa gadis ini adalah putri dari Sersan Kim meskipun Anda baru melihatnya untuk kali pertama?”

“Benar,” tutur pemuda itu. “Jelas sekali kemarin bahwa gadis itu membutuhkan satu-satunya orang yang ia miliki, yaitu Sersan Kim. Hanya saja, aku juga tahu bahwa ayahnya tidak ada di sana, dan tidak akan bisa lagi ada di sana. Lagipula, gadis itu juga sudah terlalu sekarat untuk berkata bahwa aku adalah ayahnya atau bukan, meskipun aku yakin bahwa ia tahu aku bukanlah orang yang ia harapkan. Tetapi, mengetahui fakta bahwa gadis itu sedang membutuhkan sosok seorang ayah, apa yang harus kulakukan selain tetap tinggal dan menemani gadis itu?”

Tatkala tuturan panjang lebar milik sang pemuda tersebut memasuki indera rungunya, perlahan sebuah senyum terulas di bibir Catherine.

Pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi menghantui pikirannya mulai lenyap satu persatu, digantikan dengan sebuah perasaan dimana ia mulai memahami maksud dari sang pemuda.

“Anda benar,” ujar Cath. “Apa lagi yang bisa Anda lakukan, eh?” Pemuda itu tersenyum, tepat sampai pada akhirnya Cath melanjutkan, “Jujur saja, setelah mendengar Anda berbicara seperti tadi, aku merasa bahwa aku tak pantas lagi menjadi perawat.”

“Apa? Kenapa?”

Maksud dari perbuatan pemuda itu merupakan sebuah kenyataan yang tak pernah terpikirkan oleh Cath sebelumnya, membuatnya menyadari satu hal penting yang seharusnya ia juga miliki sejak awal ia menjadi seorang perawat.

Rasa pengertian.

Selama ini dirinya memanglah melaksanakan tugasnya dengan cukup baik. Merawat orang-orang yang terluka, rutin memberikan obat dan segala macamnya hingga orang itu sembuh, kemudian kembali menerjunkannya ke dalam dunia perang yang akan kembali membuat mereka terluka lagi.

Sebuah kemonotonan yang ia lakukan hanya karena ia beranggapan bahwa hal itu sudah menjadi takdir, tanpa pernah mencoba untuk memikirkan apa yang sebenarnya lebih dibutuhkan orang-orang tersebut daripada sekedar obat-obatan.

Perhatian, penghiburan, dan rasa nyaman. Bukankah itu yang terpenting?

Lalu apa gunanya selama ini ia menjadi perawat?

Bahkan seorang kapten dari para prajurit itu pun lebih mengerti soal ini ketimbang dirinya. Jujur saja Cath merasa malu terhadap dirinya sendiri.

Meskipun begitu, Cath kini telah membangun satu prinsip.

“Tidak, tidak apa-apa, Tuan,” jawabnya. “Aku hanya tidak menyangka ada seorang kapten perang yang mempunyai pemikiran seperti Anda.”

“Hei, bukankah itu adalah pemikiran yang seharusnya sudah wajar?”

Mereka berdua tertawa pelan, dan saat itu pula mereka menyadari bahwa sinar matahari telah menerpa wajah, menandakan bahwa subuh telah berganti menjadi pagi yang cerah.

“Kurasa kita sudah terlalu lama di sini. Kembali ke perkemahan sekarang?”

Pertanyaan tersebut dijawab Cath dengan sebuah anggukan. “Tentu. Senang bisa mengobrol dengan Anda, Tuan.”

Kedua pasang kaki itu mulai menuruni bukit, melangkah kembali ke perkemahan tempat pasukan dari negara Korea tinggal.

“Oh, berhentilah berbicara formal seperti itu. Rasanya agak … tidak nyaman, mengingat usia kita yang hampir sama.”

“Begitukah?” ujar Cath sembari tertawa. “Berapa usia Anda?”

“Dua puluh enam. Kau dua puluh lima, kan?”

Seketika itu juga, Cath kembali terkesiap hingga sedikit tergelincir. Beruntung pemuda itu langsung menangkap tangan Cath dengan sigap.

“Berhati-hatilah, Nona.”

“Tapi bagaimana Anda bisa tahu?”

Pemuda itu tertawa. “Sudah kubilang bahwa aku mengenalimu, Nona,” ujarnya. “Dan— Oh, astaga. Berhenti menyebutkan kata ‘Anda’, tolonglah.”

“Kalau begitu, berhentilah memanggilku dengan sebutan ‘Nona’ atau apalah itu. Panggil Cath saja sudah cukup,” balas Cath.

Kini mereka telah tiba di perkemahan, dimana para tentara dan semua orang yang ada di sana telah meninggalkan alam tidur mereka dan kembali beraktivitas seperti biasa. Cath melihat sekelompok tentara lain yang langsung memasang posisi tegak tatkala melihat ke arah mereka berdua—atau lebih tepatnya ke arah sang pemuda—kemudian memberikan sikap hormat yang juga langsung dibalas oleh pemuda itu.

Pemuda itu berbalik menghadap ke arah Caherine, dan kedua pasang mata itu kini bersitatap.

“Kalau begitu, sampai di sini dulu. Kuharap kita dapat mengobrol lagi lain waktu.”

Cath mengangguk, hingga pemuda itu berbalik dan melangkah ke arah para tentara tadi.

Melihat punggung tegap itu, Cath teringat akan segala obrolannya tadi. Seperti yang tadi telah Cath putuskan, ia kini memegang satu prinsip. Mulai sekarang, ia akan berusaha untuk berubah. Berubah menjadi seseorang yang lebih baik dalam menjalankan tugasnya.

Kini, fakta bahwa ia terpanggil menjadi seorang perawat bukanlah suatu kebetulan bagi Cath. Mungkin ia memang belum menemukan tujuan utama dari hidupnya, namun dengan membuat orang-orang di sekelilingnya merasa lebih baik dan bahagia—Cath merasa bahwa hal itu sudah cukup untuk saat ini. Sebuah langkah awal untuk membuat dunianya menjadi lebih baik, meskipun yang ia lakukan hanyalah hal-hal kecil yang tak terlalu kentara.

“Tunggu sebentar!”

Tiba-tiba saja Cath tersadar akan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting, yang belum sempat ia tanyakan pada sang pemuda. Dan entah kenapa hal itu membuat kakinya spontan berlari kecil, hingga dirinya kembali menggapai sang pemuda dengan sebelah tangannya yang menyentuh lengan seragam milik pemuda tersebut.

Pemuda itu kembali menoleh, menatap Cath dengan sebuah siratan bingung. Apakah ada yang ia lewatkan?

“Siapa … namamu?”

Pemuda itu tertegun untuk yang kesekian kalinya dalam hari ini, namun beberapa detik kemudian ia tertawa kecil.

“Oh, maafkan aku. Ternyata aku lupa memperkenalkan diri sedari tadi.”

Pemuda itu langsung mengulurkan sebelah tangannya pada Cath, yang langsung disambut pula oleh tangan gadis itu meskipun sang pemuda belum berkata apa-apa.

“Yoongi. Min Yoongi.”

Pemuda itu tersenyum, lalu lekas membalikkan tubuh dengan tak lupa memberikan sebuah lambaian singkat bagi Cath.

Cath masih terpaku di tempatnya. Berdiri seakan mempunyai kedua tungkai yang tertancap ke tanah, pula dengan tatapan mata yang tak kunjung lepas dari punggung sang pemuda.

Perlahan, lengkung bibir itu mulai tercipta.

Aduh, kenapa Cath jadi berdebar-debar begini?

fin.
-oOo-

Advertisements

2 thoughts on “The Art of Being a Nurse

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s