That Secret

thatsecret

That Secret

story by Rosé Blanche

Lee Taeyong (NCT) & Park Sooyoung (Red Velvet)

Fluff, School-life

G

Ficlet

‘… rupaya hal tersebut telah menjadi rahasia Taeyong pula selama ini, meskipun Taeyong sendiri baru menyadari sekarang.’

-oOo-

Bel istirahat telah berbunyi, namun itu tak membuat Lee Taeyong berpindah dari tempat duduknya sedikit pun. Ia memutuskan untuk tetap berada di kelas, tak ingin bergabung bersama teman-temannya yang begitu bersemangat hendak ke kantin.

BRAK!

Suara gebrakan di meja bangkunya membuat Taeyong terperanjat, antara kaget dan kesal dengan orang kurang kerjaan di hadapannya itu. Sambil melemparkan tatapan nanar yang bertanya-tanya, ia sedikit menggerakkan kepala ke arah gadis itu dengan tatapan yang menyiratkan tanya untuk-apa-kau-melakukan-itu.

“Hei. Kau merahasiakan sesuatu dariku?”

Kedua alis Taeyong berkerut, memampangkan wajah tak paham pula tak mengerti.

“Rahasia apa?”

“Taeyong, kenapa kau tak menceritakannya padaku?” tanya Sooyoung bersikeras. “Kita selalu bersahabat sejak bayi, kau tahu itu, kan? Dan saat masih kecil, kita sudah pernah berjanji. Tidak ada rahasia apa pun di antara sahabat. Kau ingat?”

Jujur, Taeyong tahu. Taeyong masih ingat pertemanan mereka yang telah dimulai sejak bahkan sebelum mereka dapat berjalan mau pun berbicara hingga saat ini, dimana usia mereka telah menginjak delapan belas tahun. Taeyong juga ingat segala janji polos yang pernah mereka buat belasan tahun lalu.

Namun, mendengar ocehan Sooyoung yang beruntun kini benar-benar membuatnya tak habis pikir.

“Tunggu dulu. Siapa yang bilang begitu?” Sebuah pertanyaan dilontarkan Taeyong, lantaran lelaki tersebut masih bingung dengan asal-usul pemikiran Sooyoung. Sialnya, gadis itu salah tangkap.

“Nah, kan! Benar, kan! Kau dari tadi terus-terusan diam, Tae. Tidak seperti biasanya—yang selalu rusuh bahkan ribut saat jam pelajaran apa pun itu.”

“Karena itu kau berpikiran kalau aku menyembunyikan sesuatu, begitu?”

Sooyoung mengangguk. “Karena itu ceritakan padaku, Tae. Jangan seperti ini, aneh rasanya.”

Taeyong mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Dengan sebuah senyum kecil, ia mendekatkan wajahnya pada telinga Sooyoung.

“Aku memang punya rahasia.”

“Ya … ?”

 “Dan jujur saja, selama beberapa hari ini, tidak ada seorang pun yang tahu. Aku memendamnya, menyimpannya sendirian.”

Tuturan tersebut membuat jantung Sooyoung berdebar sedikit lebih kencang dari biasanya. Entah karena ia terlampau semangat atau pun penasaran, yang jelas ia telah mempersiapkan dirinya untuk mendengarkan segala ucapan yang akan terlontar dari bibir Taeyong.

“Bahwa sebenarnya …”

Sooyoung menahas nafas, seraya menunggu kata-kata lanjutan itu untuk keluar. Hati terkecilnya sudah terlampau tak sabar. Karena biasanya, Taeyong sangat jarang menyimpan—

“… kau sangat cantik. Kurasa aku jadi menyukaimu.”

—rahasia darinya seperti ini.

Ucapan Taeyong membuat Sooyoung langsung menarik kepalanya menjauh, sambil menatap wajah Taeyong dengan tatapan persis seperti orang yang baru saja bertemu dengan hantu.

“Kau … kau bilang ap—”

“Tapi bohong.”

.

.

.

Alhasil, sebuah pukulan keras melayang ke lengan Taeyong yang saat itu juga tengah menjulurkan lidahnya.

“Hei, aku serius tahu!”

Merasa tidak sabar lagi dengan kelakuan si gadis, akhirnya rasa kesal itu muncul juga. Dengan sebuah pergerakan cepat, Taeyong beranjak berdiri dan kini ia berdiri tepat di samping Sooyoung.

“Baiklah, kali ini aku serius. Aku memang punya rahasia. Kau ingin tahu apa rahasiaku?” ujar Taeyong cepat dekan sedikit penekanan di setiap katanya.

Masih dengan raut wajah kesal, Sooyoung mengangguk. Namun, yang ia dapati selanjutnya hanyalah Taeyong yang sedikit menunduk sambil menarik bibir bawahnya dengan sebelah tangan.

Tuh, lihat!” ujar Taeyong. “Rahasianya—ada sariawan di mulutku, bodoh! Makanya jadi malas ngomong.”

Dan Sooyoung pun hanya bisa ternganga.

“Jauhkan juga pikiran anehmu itu. Memangnya hal apa sih yang sampai-sampai harus kurahasiakan darimu? Tch.”

Seusai berkata begitu, Taeyong langsung melangkahkan kakinya keluar dari kelas, meninggalkan Sooyoung yang masih duduk dengan posisi kaku.

Bukan masalah sariawan Taeyong itu, tetapi kata-kata Taeyong sebelumnya. Degup jantungnya semakin kencang, meski Taeyong hanya melontarkan sebuah canda. Wajahnya terasa mulai memanas. Merasa ada suatu perasaan yang aneh, Sooyoung menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan kedua telapak tangan, dan bersikeras bahwa ada yang salah dengan dirinya sendiri.

Sementara itu, Taeyong melangkah di sepanjang koridor dengan pikiran kalut.

Apa yang baru saja dilakukannya? Menunjukkan sariawan sebesar itu pada Sooyoung? Ia tahu bahwa dirinya dan Sooyoung sudah bersahabat sejak lama, tetapi … yang tadi itu benar-benar memalukan. Dan juga … bagaimana dengan pernyataannya pada Sooyoung? Oh, yang benar saja.

Taeyong menyadari bahwa setelah ia mengucapkan dua kalimat terkutuk itu, wajah Sooyoung langsung memerah. Taeyong pun merutuki dirinya sendiri. Karena meskipun ia telah berkata bahwa semua perkataan itu bohong, namun sebenarnya hatinya berkata lain.

Detik itu pula, Taeyong menghentikan langkahnya.

Kini, ia menemukan sebuah fakta.

Dua kalimat yang terucap untuk Sooyoung tadi—dua kalimat yang sempat dirutukinya—rupaya hal tersebut telah menjadi rahasia Taeyong pula selama ini, meskipun Taeyong sendiri baru menyadari sekarang.

.

.

Sebenarnya, semua itu bukanlah suatu kebohongan.

.

fin.
-0Oo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s