[Flowers of Life] Anemone

anemone.jpg

Anemone

series by Rosé Blanche

Im Nayeon [Twice] & OC

Family, Hurt, Marriage Life, slight!Slice of Life

PG-17

Vignette

.

Layaknya berharap sebuah batu dapat berubah menjadi berlian—semua harapan itu adalah sia-sia.

.

Nayeon sendiri tahu, ia bodoh.

Bahkan teman-teman sepergaulannya pun berkata demikian. Namun, seorang Im Nayeon tidak pernah berhenti berharap—berharap agar segalanya dapat berubah. Nayeon berharap agar keluarganya menjadi harmonis seperti keluarga teman-temannya, dan berharap sang pasangan hidup dapat bertobat.

Mungkin memang salah Nayeon yang terlalu termakan cinta, hingga ia menikah pada usia cukup belia. Dua puluh tahun. Ayah Nayeon pada awalnya tak menyetujui pernikahan Nayeon dengan lelaki bermarga Kim—yang kehidupannya bisa dikatakan berantakan—tersebut.

Lelaki itu gila kerja. Namun, jangan bayangkan sosok seseorang berbalutkan pakaian rapi yang tinggal di gedung kantor sampai larut malam. Ia gila kerja, namun tak jelas pekerjaannya apa. Satu hal yang Nayeon ketahui, pekerjaan itu berhubungan dengan dunia malam.

Jelas, mana ada ayah yang ingin memberikan puteri sulungnya untuk orang semacam itu?

Hanya saja, Im Nayeon mengakui bahwa Kim Naeun sudah berada dalam kandungan.

Nayeon tahu, hati ayah dan ibunya hancur berkeping-keping. Memang, mereka masih membiayai pernikahan Nayeon yang diselenggarakan secara kecil-kecilan dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat. Sesekali, mereka juga masih mengirimkan uang untuk kebutuhan Nayeon sehari-hari.

Namun, ada satu hal yang membuat Nayeon cukup sakit hati.

“Jangan pernah temui Appa lagi.”

Setidaknya itulah yang menjadi percakapan terakhir antara dirinya dengan sang ayah, sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya empat tahun yang lalu.

Nayeon terlampau sakit hati, bahkan ia tak ingin datang ke pemakamannya. Meski adik-adiknya terus berusaha menghubungi, tetapi Nayeon hanya menggeser tombol merah setiap kali nomor-nomor tersebut muncul pada layar ponselnya.

Dan kini, ia hanya bisa berharap. Berharap segala hal akan menjadi lebih baik.

Eomma?”

Panggilan tersebut membuyarkan lamunan Nayeon yang sedang terduduk pada sofa ruang tamu, dan baru saat itu pula ia menyadari atensi sang buah hati.

“Oh, Naeun? Sudah pulang?” Seketika raut wajah Nayeon menyunggingkan sebuah senyum lebar, diikuti dengan kedua lengan yang terbuka lebar untuk memeluk puteri tercintanya—kebiasaan yang ia lakukan tiap hari apabila Naeun tiba di rumah setelah menghabiskan waktu seharian berada di sekolah.

“Naeun ingin makan apa malam ini?”

“Apa saja boleh.”

Setelahnya, Nayeon segera beranjak berdiri dan melangkah menuju dapur, hendak membuat sesuatu yang dapat mengisi perut sang buah hati dan juga suaminya yang sebentar lagi akan pulang. Belum sempat dirinya meninggalkan ruang tamu, tiba-tiba saja sebuah panggilan kembali menghampiri indera rungunya.

Eomma?”

“Iya, Sayang?”

Nayeon berbalik, namun yang didapatinya adalah wajah Naeun yang bergidik ngeri.

“Kenapa punggung Eomma memar lagi?”

Menyadari bahwa ia hanya memakai gaun tidur yang mengekspos punggungnya, Nayeon sedikit terkesiap sambil cepat-cepat menyibakkan rambut panjangnya ke belakang. Lebih tepatnya, berusaha menutupi.

“Ah, tidak apa-apa. Hanya sedikit terbentur tadi,” tutur Nayeon sambil mengulas senyum canggung. “Kalau begitu—”

Appa memukul lagi?”

Pertanyaan itu sukses membuat Nayeon bungkam, tak menyangka dengan apa yang terlontar dari bibir Naeun. Berusaha mencari jawaban yang tepat, Nayeon pun membuka mulutnya. Hanya saja, tak ada suara yang dapat keluar.

“Jangan menyangkal lagi, Eomma,” ujar Naeun, dan suara anak itu mulai tercekat. “Naeun sudah besar …. Naeun tahu kalau Appa sering memukuli Eomma.”

Perkataan tersebut keluar begitu saja diikuti dengan isak tangis tak bersuara, membuat hati kecil Nayeon tak tahan lagi. Dengan tungkai yang melangkah cepat, ia lekas mendekati Naeun dan menunduk, serta membawanya kembali ke dalam sebuah dekapan.

“Maaf, Naeun. Maaf, Eomma tidak bermaksud untuk berbohong, hanya saja … hanya saja Eomma merasa kau tidak perlu tahu dan tidak perlu menanggung beban ini, Sayang.”

“Tapi Naeun sudah berumur tiga belas tahun! Apanya yang tidak perlu tahu?!”

Dengan sedikit sentakan, Naeun melepaskan dirinya dari dekapan Nayeon. Isak tangisnya makin keras, dan hal itu membuat Nayeon merasa tersayat di dalam. Melihat puteri kesayangannya menangis seperti itu merupakan hal yang menyakitkan pula untuknya.

Kenyataan bahwa Nayeon sering berbohong tidaklah aneh. Bukan hanya pada Naeun, namun juga pada kerabat yang menanyai tentang luka-luka yang terbentuk di sekujur tubuhnya, atau pun pada dokter yang menangani kondisinya. ‘Aku terpeleset’,‘Tidak sengaja menabrak pintu’, atau pun ‘Aku terjembab karena tersandung’ bukan merupakan kata-kata yang asing baginya.

Dan kata-kata itu selalu muncul beberapa hari setelah pria itu melampiaskan segala kesal dan amarahnya pada Nayeon, entah karena masalah apa. Tidak hanya itu, pria tersebut juga akan menghajar Nayeon apabila Nayeon salah bicara atau pun melakukan segala sesuatu yang akan memperburuk keadaan hatinya.

Nayeon cukup heran, apakah suaminya tersebut terjangkit penyakit saraf atau apa sehingga tak dapat mengontrol emosi. Padahal, terkadang pria itu juga dapat menjadi seseorang yang begitu manis. Seseorang yang begitu romantis, hingga Nayeon dapat merasakan bagaimana rasanya diperlakukan bagai seorang ratu.

Misalnya saat ulang tahun pernikahan mereka, pria itu selalu membawa Nayeon ke restoran bergengsi. Lalu, saat makan malam sedang berlangsung, pria itu akan memberikan Nayeon suatu kejutan—sejenis sebuah buket bunga atau pun nyanyian yang ditampilkan di hadapan semua orang namun hanya dipersembahkan untuk Nayeon—yang dapat membuat Nayeon merasa bahagia setengah mati.

Bagaimanapun juga, pria itu dapat berubah menjadi bengis dalam sekejap. Nayeon bahkan tak pernah mengadu pada siapa-siapa, pada polisi terlebih lagi. Satu hal, ia masih sangat mencintai pria tersebut. Namun, alasan lainnya—

Appa pulang!”

—melaporkan pria tersebut hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk lagi, apabila dibandingkan dengan harus mendapatkan bekas memar di sekujur tubuh atau pun kehilangan gigi.

Ini dia.

Nayeon yang masih berlutut menatap pria tersebut, lalu menatap Naeun. Kemudian, ia menatap pria itu lagi.

Tamatlah sudah.

“Naeun, kenapa menangis?” Sambil berkata begitu, pria itu segera menelungkupkan kedua tangannya pada pipi Naeun, sambil menatap wajah puteri tunggalnya itu lekat-lekat. “Hei, kenapa ia menangis?” Kali ini pertanyaan itu dilontarkan untuk Nayeon, namun bahkan untuk mengeluarkan sebuah decitan pun Nayeon tak mampu.

Ia ketakutan. Sangat takut.

“Kau tidak punya mulut, ya?” ucap pria tersebut dengan nada sinis. “Oh, ayolah. Appa tidak suka melihat anak gadis Appa cengeng seperti ini. Berhentilah bertingkah seperti bayi besar, Naeun.”

Merasa bahwa keadaan tak akan kunjung membaik dengan Naeun yang sama sekali tak mengindahkan perkataan sang ayah, Nayeon mulai mendekati Naeun, tepat ketika tiba-tiba saja gadis itu berteriak,

“KENAPA APPA SEPERTI INI?!”

Pekikan tak disangka-sangka tersebut membuat Nayeon dan sang pria terdiam, dengan kedua mata membola akibat melihat kelakuan buah hati mereka.

“KENAPA APPA BEGITU JAHAT PADA EOMMA? MEMANGNYA APA SALAH EOMMA SAMPAI APPA TERUS-TERUSAN MEMUKULINYA?!”

“Naeun, hentikan—”

Eomma diam saja,” ujar Naeun masih terisak. “Aku ingin bertanya sekali lagi, kenapa Appa begitu tega dengan Eomma?!”

“Hei, kau berani berteriak pada Appa, hah? Sejak kapan kau menjadi anak kurang ajar seperti ini?!”

Naeun tidak lagi menjawab, namun isakannya semakin mengeras dan mengeras. Melihat hal tersebut, Nayeon sampai meneteskan keringat dingin, karena ia begitu takut. Takut akan ada suatu hal buruk lagi yang akan terjadi.

“Demi Tuhan, berhentilah menangis!”

“AKU TIDAK PEDULI! APPA—”

PLAK!

.

.

.

Saat itu pula, Nayeon seakan merasa dunianya runtuh.

Pemandangan dimana Naeun menerima sebuah tamparan dengan bunyi menggema di seisi ruangan—yang menyebabkan anak itu langsung jatuh tersungkur ke lantai—membuat pandangannya menjadi gelap. Entah mengapa rasa ketakutan yang sedari tadi menyelimutinya lenyap begitu saja.

Dengan langkah cepat, Nayeon berjalan menuju pria itu dan menamparnya sekeras mungkin, lalu memukulinya secara membabi buta.

Namun, apa gunanya? Kekuatan Nayeon sama sekali tidak sebanding dengan pria itu, sehingga dengan sekali saja memberikan bogem mentah, Nayeon sudah tersungkur tepat di samping Naeun.

Tch, dasar perempuan.”

Pria itu langsung berbalik meninggalkan mereka berdua, kemudian membanting pintu apartemen keras-keras.

Dengan sebuah gerakan cepat, Nayeon memperbaiki posisinya menjadi posisi duduk, kemudian menatap pipi Naeun yang telah merah lebam.

“Oh, Tuhanku,” batinnya yang hampir menangis. “Sayang, kau tidak apa-apa? Bisa berdiri?”

Naeun menggeleng. “Lihatlah siapa yang berbicara. Bibir Eomma sobek lagi, dan aku yakin pipi bawah Eomma sebentar lagi akan sebiru tanaman bunga anemone kita.”

Nayeon tersenyum kecil, meskipun rasanya sakit sekali.

“Ayolah, Sayang. Kita perlu mengepak barang-barang kita.”

Mendengar ucapan tersebut, kedua mata Naeun langsung melebar. “Apa?”

“Kita akan pindah dari sini, mungkin kita akan ke tempat nenek.”

“Di Busan?!” pekik Naeun. “Kita tidak akan tinggal di sini lagi?”

“Tidak setelah dia mulai berani memukulmu, Sayang. Kita hanya akan tinggal di sana sementara, kemudian ibu akan mencari pekerjaan. Kalau memungkinkan, kita pindah ke apartemen yang cukup layak. Soal sekolah dan lainnya, kita urus belakangan.”

Setelah itu, Nayeon lekas masul ke dalam kamarnya dan menurunkan sebuah koper dari atas lemari, diikuti dengan Naeun yang langsung tanggap dengan maksud Nayeon.

Kali ini, sudah selesai. Nayeon merasa sudah cukup sampai di sini saja, dan ia akan menghentikan harapan-harapannya itu. Mungkin memang sudah waktunya harapan-harapan tersebut untuk mati dan dikubur dalam-dalam, karena pada kenyataannya harapan tersebut tak ada artinya sejak awal.

Layaknya berharap sebuah batu dapat berubah menjadi berlian—semua harapan itu adalah sia-sia.

Dan kini, Nayeon menatap bayangannya sendiri pada cermin. Bekas memar biru keunguan tersebut memang sudah tak aneh baginya, dan bahkan cukup dapat dikatakan bahwa ia telah terbiasa. Namun setelah apa yang terjadi barusan, ia tak akan membiarkannya lagi.

Kini, Nayeon hanya dapat berusaha semampunya untuk menjadi wanita yang kuat bagi Naeun. Mengukir sebuah harapan lagi, yaitu memulai kehidupan mereka berdua dari awal kembali. Menulis lembaran kertas berisikan kisah baru mereka, serta meninggalkan yang lama.

Satu tujuan, yaitu agar kehidupan seorang Im Naeun tak akan berakhir seperti dirinya.

fin.
-oOo-


Anemone means dying hope

Advertisements

5 thoughts on “[Flowers of Life] Anemone

  1. Pingback: [Flowers of Life] Bells of Ireland | ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: [Flowers of Life] Carnation | ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: [Flowers of Life] Dandelion | ROSÉ BLANCHE

  4. Pingback: [Flowers of Life] Elderflower | ROSÉ BLANCHE

  5. Pingback: [Flowers of Life] Forget Me Not | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s