First Step of the Canterbury Girl

tumblr_static_walking_away.png

First Step of the Canterbury Girl

original fiction by Rosé Blanche

G

±1100 words

-oOo-

Setiap hari, gadis itu selalu mengamatinya.

Memandangi sang lelaki dari kejauhan—lebih tepatnya dari balkon apartemen mereka yang bersebelahan—namun tak cukup berani untuk melakukannya terang-terangan. Bukan karena ia telah terbiasa dengan adegan berpapasan mereka yang terlihat monoton—bukan karena itu. Bukan karena si gadis tak tertarik, pula tak ingin mengenal. Justru sebaliknya, gadis itu sangat ingin.

Hanya saja ada ganjalan yang disebabkan satu hal, yaitu rasa malu tak terbendung.

Dia gadis pemalu. Tipikal remaja yang cukup berbeda dari yang lain. Ia adalah seseorang yang mendalami bidang tata busana. Pekerjaannya menjahit. Tubuhnya tak bisa dikatakan terlalu tinggi. Rambutnya bergelombang dengan warna cokelat tua, kontras dengan kulitnya yang seputih salju. Bibirnya kemerahan, sedang kedua maniknya beriris biru cerah.

Hidup sebagai yatim piatu semenjak berumur dua, gadis itu tinggal bersama dengan sang nenek. Sampai wanita tua itu menjemput ajal tiga belas tahun kemudian, maka sang gadis memutuskan untuk bekerja sebagai penjahit dan berpindah tempat tinggal. Ia berusaha mendapatkan biaya sewa yang lebih murah.

Hingga tibalah ia di apartemen itu. Tidak terlalu kumuh, dan setidaknya cukup pantas untuk ditinggali.

Beberapa orang di sana sempat mengiranya tunawicara, karena gadis itu tidak pernah menjawab ketika pertanyaan-pertanyaan mereka terlontar. Ia hanya menunduk dengan kedua pipi yang bersemu merah.

Saat melihat reaksi sang gadis—bukannya beranggapan bahwa gadis tersebut aneh atau pun terlalu sombong untuk sekedar bercakap. Namun, justru melontarkan sebuah gumaman gemas, “Aduh, manis sekali dia.”

Hanya saja, mereka heran setengah mati ketika gadis itu berujar sepatah dua patah kata pada Hannah—sang pedagang langganannya yang memiliki stand kayu kecil di pasar. “Telurnya sepuluh butir,” atau pun , “Daging ikannya sepotong.” Setidaknya itulah yang paling sering mereka dengar. Selain Hannah, ada juga Bob—seorang penjual busana yang membeli hasil-hasil karya gadis itu, kemudian menjualnya kembali dengan harga yang lebih mahal.

Tiga tahun sang gadis tinggal, tak ada satu pun orang di lingkungan tersebut yang mengetahui namanya. Satu fakta yang mengejutkan—ketika orang-orang bertanya pada Hannah dan Bob soal gadis itu, mereka berdua pun tak dapat menjawab. Mereka terbiasa memanggil gadis itu dengan sebutan Si Gadis Canterbury. Karena mereka hanya mengetahui bahwa gadis tersebut berasal dari wilayah tersebut.

Gadis itu seringkali menolak perhatian—satu hal yang seringkali dicari oleh kebanyakan orang. Seakan tak berniatan untuk mengenal siapa-siapa, kecuali Hannah dan Bob. Selain itu, tidak sama sekali.

Ya, tidak sama sekali. Sampai suatu saat netranya bersitatap dengan lelaki itu. Sesuatu dalam dirinya tiba-tiba saja membuncah, memunculkan sebuah hasrat yang bahkan tak dimengerti oleh gadis itu sendiri. Karena gadis itu juga baru merasakannya untuk kali pertama.

Ia tidak mengerti. Namun, memandangi sang lelaki dari kejauhan pun telah menjadi sebuah kebiasaan—rutinitas sehari-hari yang disukainya.

Lelaki itu pindah ke apartemennya seminggu yang lalu. Lelaki yang punya tampang cukup cantik untuk ukuran seorang pria. Rambutnya lurus pirang, tubuhnya kurus namun memiliki tinggi semampai. Jika gadis itu lihat, mungkin lelaki itu seumuran dengannya.

Lelaki itu pindah bersama dengan adiknya yang masih kecil—dengar-dengar, mereka juga yatim piatu. Lelaki itu bekerja sebagai penulis, sepanjang hari berkutat dengan pena dan kertas di meja kayu yang terletak di balkonnya, ditemani oleh kacamata tebal yang sudah longgar sehingga seringkali melorot di hidung sang lelaki.

Lelaki itu juga tipikal pendiam, omong-omong, sama seperti sang gadis. Letak perbedaannya hanyalah satu—walau pendiam, lelaki itu ramah dan murah senyum pada semua orang.

Lelaki itu memanglah hanya lelaki biasa. Lelaki sederhana yang bekerja keras untuk membiayai hidup bersama dengan sang adik. Lelaki yang tak banyak bicara, namun akrab dengan banyak orang. Lelaki yang selalu tampil sederhana, namun entah mengapa bisa memikat hati si gadis.

Dan sore itu, mungkin akan menjadi sore yang tak terlupakan bagi gadis itu, pun dengan si lelaki.

Sang lelaki baru saja pulang dari toko kertas. Ia berjalan menaiki tangga, dan ia berbelok pada sebuah tikungan yang mengarah ke tempat tinggalnya. Tiba-tiba, sosok gadis itu terlihat begitu saja, dan menciptakan benturan yang tak dapat dihindarinya lagi.

BRUK!

“Aduh!”

Sang lelaki kehilangan keseimbangan karena tertabrak oleh gadis itu, hingga terjatuh dalam posisi duduk. Beberapa ikat tumpukan kertas yang dibawanya terhempas, menciptakan pemandangan dimana kertas-kertas tersebut tak tersusun dalam bentuk tumpukan kembali. Beberapa helai pun sampai terlepas dari ikatannya.

“Ma—Maafkan aku!” ujar gadis itu terbata. Kedua tangannya yang memegang kantung berisikan beberapa bungkus roti menjadi gemetaran, dan pipinya kembali memerah. Dengan sebuah gerakan cepat, gadis itu berlutut dan membantu sang lelaki merapikan bawaannya. “Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak melihat—”

“Tidak apa-apa. Jangan panik begitu,” sahut sang lelaki, dengan seulas senyum yang terpasang.

Gadis itu masih tak berani menatap sang lelaki—masih berusaha merapikan tumpukan kertas tersebut dengan tergesa-gesa, agar ia dapat beranjak pergi secepat mungkin.

Setelah semua tertata seperti semula, gadis itu buru-buru membuka kantung yang digenggamnya dan mengambil sesuatu. Kemudian, disodorkannya objek bundar yang terbungkus itu pada sang lelaki.

“A—Apa?”

“Terima saja. Sebagai tanda minta maafku,” ujar si gadis, masih tak berani menatap.

Lelaki itu memandangi sang gadis sejemang, kemudian menatap ke arah roti pemberiannya. Kemudian, ia menatap gadis itu kembali. “Ah, tidak perlu. Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku—”

“Kumohon, terima saja.”

Lelaki itu menggigit bibir, merasa bingung dengan tawaran sang gadis. Wajah gadis itu tertunduk, pun dengan kedua mata yang terpejam erat seakan merasa begitu bersalah. Setelah menimbang-nimbang untuk beberapa saat, sebelah tangan lelaki itu terulur untuk menerima pemberian tersebut.

“Baiklah, terima kasih.”

Lelaki itu membungkuk sedikit pada sang gadis untuk sekadar upaya sopan santun, kemudian berjalan melewati gadis tersebut.

Dan sang gadis pun tersenyum dalam diam.

Kisah ini bukanlah kisah tentang kehidupan sang gadis selama belasan tahun terakhir. Bukan kisah romansa yang berarti pula. Hanya sebuah kisah seorang gadis pemalu yang merasakan desiran untuk yang pertama kalinya, hingga ia tak tahan lagi dan memilih untuk bertindak. Melakukan sebuah langkah awal untuk lebih mengenal sang lelaki, dan ia yakin bahwa ia telah cukup berhasil.

Karena, dalam bungkus roti yang diberikannya tadi, terdapat sepucuk surat.

Mungkin lebih tepat disebut sebagai secarik kertas tertulis. Tulisannya begitu rapi, sehingga sang lelaki tak perlu lama untuk membacanya. Tak perlu waktu lama pula untuknya kembali mengguratkan senyum. Namun, perlu waktu yang cukup lama baginya untuk berpikir, akibat merasakan sebuah keganjalan dari apa yang baru saja terjadi dan surat tersebut.

Bukankah tadi gadis itu mengatakan bahwa perbuatannya tak disengaja? Lelaki itu pun berpendapat demikian. Lantas kenapa ada surat …

Ah, sudahlah, pikir sang lelaki. Lagipula, memang bukan masalah yang perlu dibesar-besarkan.

Senja menjelang malam, dengan langit yang mulai bertaburkan bintang. Ada sebuah fakta yang diketahui oleh sang lelaki. Sebuah fakta yang berusaha ditemukan oleh banyak orang, namun berujung dengan kesia-siaan. Hanya lelaki itulah yang mendapatkan fakta tersebut dengan mudah. Hanya lelaki itu pula yang tahu, dan sang gadis pun berharap begitu.

.

.

Anggap saja roti ini sebagai tanda permintaan maafku. Dan juga, selamat datang di tempat tinggalmu yang baru ini. Kuharap kau betah. Salam kenal.

Theresa Louie.

.

.

fin.
-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s