A Story of Beauty and the Beast (Last Chapter)

PicsArt_07-14-03.42

A Story of Beauty and the Beast (Chapter 10)

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan (Seventeen), Hwang Ahreum (OC), & Others

Romance

PG-15

Chaptered

Previous :

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9

“We’re together now, right? Everything’s going to be okay. Trust me.”

Di atas panggung drama, Ahreum masih berusaha mati-matian untuk memerankan Si Cantik tanpa suatu cacat apa pun. Pasalnya, kepala gadis itu terasa pusing, entah karena efek lelah atau kurang tidur semalam.  Tetapi, tak ada waktu untuk memikirkan kondisi kepalanya. Sekarang adalah adegan dimana ia harus bersikap panik dan ketakutan, karena melihat Si Buruk Rupa yang tertusuk oleh pisau Gaston.

Ahreum tengah menatap Wonwoo yang sudah bersiap-siap jatuh ke belakang, saat tiba-tiba ia mendengarkan suara teriakan. Sebuah teriakan melengking seorang gadis yang ia kenali.

Bukankah itu suara Sooyoung? Ahreum membatin.

Ahreum benar-benar membenci yang namanya pusing—satu hal yang membuatnya menjadi lambat dalam berpikir. Merasa pasrah, akhirnya Ahreum mengalihkan pandangannya pada Jeonghan. Dan yang terjadi selama tiga detik kemudian seakan membuatnya tersadar.

Semuanya bagaikan sebuah adegan yang diperlambat.

.

.

.

Kedua netra Ahreum terfokus pada Jeonghan yang sedang berdiri tepat di hadapannya—di atas atap, sedangkan Ahreum sendiri di balkon istana. Posisi tubuh mereka hanya terhalang oleh pembatas balkon dengan tinggi satu meter.

Ahreum tidak tahu apa penyebabnya, namun tiba-tiba saja wajah laki-laki itu secara cepat menengadah ke atas.

Tidak sampai satu detik kemudian, Jeonghan lekas menarik Ahreum sehingga gadis itu terhyung dan jatuh dari balkon, namun Jeonghan merengkuhnya erat-erat. Kedua mata Ahreum terpejam rapat, dan detik itu pula, Ahreum merasa tubuhnya melayang.

Bukan melayang dalam arti umpama karena dipeluk oleh Jeonghan, namun ia benar-benar melayang.

BRAK!

Detik berikutnya, Ahreum dapat merasakan punggungnya membentur benda keras, dan segalanya terasa berputar. Wajah dan tangannya terasa sedikit perih, entah karena apa. Rasanya seperti tersayat benda tajam.

Hingga tubuhnya berhenti berputar dan Jeonghan melepas pelukannya, barulah pelan-pelan ia tersadar akan apa yang sedang terjadi. Sedikit demi sedikit kelopak matanya terbuka, dan Ahreum melihat ke sekelilingnya. Kini ia sudah tergeletak di lantai panggung—tidak lagi di balkon istana.

Sejenak Ahreum melirik ke arah penonton, dan kebanyakan dari mereka memasang ekspresi terbelalak, bingung, bahkan ada yang terlihat begitu ketakutan sampai tidak berani melihat ke arah mereka. Beberapa dari mereka juga mulai ribut, hingga suara riuh tak dapat terelakkan lagi. Mereka terus-terusan memandang ke satu titik di atas panggung. Ahreum mengikuti arah pandang mereka, dan yang dilihatnya seakan membuat jantungnya terhenti.

Chandelier raksasa yang tadinya tergantung—kini telah hancur berantakan dengan kepingan-kepingan kaca di sekitarya, menciptakan sebuah pemandangan yang mengerikan. Terlebih laig, titiknya jatuhnya tepat berada di balkon tempat Ahreum berdiri berhadapan dengan Jeonghan tadi.

Jeonghan. Dimana dia?

Timbul sekelebat perasaan panik dalam hati Ahreum. Kepalanya ditolehkan ke samping kanan kiri, dan ditemukanlah sosok lelaki itu sedang terbaring tak berdaya di sebelah kirinya. Singkat, namun Ahreum seperti merasakan yang namanya déjà vu. Jeonghan kala itu juga melindunginya dari serangan preman jalanan hingga melukai dirinya sendiri.

Dan sekarang, kejadian yang serupa terulang.

Dengan segera Ahreum menghampiri Jeonghan sambil berlutut, dan dilihatnya leher bagian belakang laki-laki itu bercucuran darah. Kening lelaki itu terluka pula, sedangkan lengan kemeja Jeonghan sobek akibat pecahan kaca.

“Jeong—Jeonghan?”

Mata Ahreum mulai berkaca-kaca. Ia takut. Ia trauma mengalami kejadian seperti ini.

Namun, tiba-tiba saja Jeonghan menggeleng pelan dan menyentuh pipi Ahreum dengan begitu lembut. Lantas ia membuka bibirnya yang juga mengeluarkan darah, kemudian berujar pelan pada Ahreum.

“Kau kembali, Belle.”

Dan alhasil Ahreum pun ternganga. Bagaimana Jeonghan masih bisa berakting tatkala keadaan sudah kacau seperti ini? Kepala Ahreum sempat berputar mencari jawaban, hingga pada akhirnya ia mengerti.

Ia paham. Laki-laki itu—Yoon Jeonghan—ingin menyelesaikan drama ini sampai akhir,tak peduli apapun yang terjadi. Karena, mereka sudah sejauh ini.

Ahreum menarik nafas sejenak, dan kemudian ia membalas Jeonghan, “Tentu saja aku kembali. Aku sudah berjanji bahwa aku tidak meninggalkanmu, kan?”

Kini, Jeonghan yang terheran-heran. Kata-kata Ahreum barusan—kalimat pertamanya memang sesuai dengan naskah, namun tidak dengan kalimat keduanya.  Tetapi, mendengar hal itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untuk Jeonghan. Dengan senyum yang mengembang, Jeonghan melanjutkan dialognya.

“Aku senang. Setidaknya, aku bisa melihat senyumanmu untuk yang terakhir kalinya.”

“Tidak! Kita bersama-sama sekarang. Semuanya akan baik-baik saja.”

Namun, Si Buruk Rupa perlahan-lahan menutup mata, dan tubuhnya tidak melakukan pergerakan apapun. Kini, Si Cantik hanya bisa menangis terlungkup di sisi Si Buruk Rupa.

“Aku mencintaimu.”

Dan kelopak mawar yang terakhir pun terjatuh.

Ahreum menggerak-gerakkan jarinya perlahan, memberi kode pada tim properti untuk segera menyalakan asapnya. Karena semenjak insiden chandelier yang jatuh itu, mereka semua hanya terbengong-bengong tanpa melakukan apa-apa. Terlebih ketika melihat Jeonghan dan Ahreum yang masih bersandiwara di atas panggung.

Tim properti sempat bingung, karena mereka terus melanjutkan dramanya walaupun telah terjadi kecelakaan yang cukup fatal. Beberapa staff yang bertugas juga hendak masuk ke panggung dan mengambil tindakan, namun mereka menjadi ragu tatkala melihat drama yang terus berlanjut.

Meskipun begitu, pada akhirnya tim property menyalakan efek asapnya juga. Musik orkestra pun mulai bermain. Setelah cukup diyakini bahwa penonton tidak bisa melihat mereka, Jeonghan langsung bangkit—meskipun agak sedikit merintih. Ia langsung cepat-cepat melepas atribut-atributnya, dan hanya menyisakan pakaian yang menempel di badannya.

Setelah itu, mereka benar-benar melanjutkan drama itu sampai akhir, dimana Si Cantik bertemu kembali dengan Si Buruk Rupa—yang kini telah berubah menjadi pangeran.

Kutukannya telah dipatahkan, dan semuanya berakhir bahagia.

Di bagian akhir, ada adegan dimana pangeran akan mencium Si Cantik, dan di sini seharusnya Jeonghan dan Ahreum hanya akan mendekatkan wajah, dimana kepala Jeonghan akan membelakangi penonton, sehingga mereka hanya akan terlihat seperti berciuman.

Saat mereka sama-sama mendekatkan wajah, Ahreum sempat berbisik pada Jeonghan, “Leher dan kepalamu mengeluarkan banyak sekali darah. Kau yakin kau tidak apa-apa?”

Jeonghan hanya tersenyum hangat dan mengangguk. Lalu ia berkata, “Sekarang diamlah.”

Saat itu juga, Ahreum membelalak kaget. Karena seharusnya yang tadi adalah pura-pura berciuman, kini menjadi kenyataan.

Ya, Jeonghan mempertemukan bibir mereka, memberikan Ahreum sebuah ciuman lembut nan manis sebagai penyaluran perasaannya. Sebuah ciuman tanpa pergerakan, seakan memiliki makna tersendiri di dalamnya. Kelembutan, kejujuran hati, dan ketulusan. Memang hanya tersirat, namun terasa begitu dalam.

Tidak hanya Ahreum, semua penonton dan teman-teman sekelasnya yang berada di belakang panggung pun ikut terkesiap. Berbagai suara riuh mulai bermunculan. Bahkan Mina sampai harus mati-matian menahan pekikannya dan mengguncang-guncang kuat bahu Jisoo yang tak dapat berkutik.

Perlahan, Jeonghan melepaskan tautan bibirnya dengan Ahreum. Ia menatap Ahreum, dan terjadi keheningan—baik dari mereka berdua maupun dari penonton dan teman-teman sekelas mereka.

Beberapa sekon terlewat, hingga mulai terdengar suara tepuk tangan seseorang yang kemudian dilanjutkan dengan tepuk tangan penonton lain, hingga satu teater dipenuhi oleh seruan-seruan kagum. Ahreum tersenyum memandang Jeonghan yang juga balas menatapnya sambil tertawa kecil.

Tirai merah tertutup, dan seluruh anggota yang sedari tadi bersembunyi di backstage mulai masuk satu persatu ke panggung—membuat sebuah barisan sejajar yang menghadap ke arah penonton.  Setelah itu, tirai merah terbuka kembali dan mereka memberi hormat secara serentak.

Meskipun ketakutan akan kondisi Jeonghan yang terus-terusan mengeluarkan darah, Ahreum tidak dapat menahan senyum bahagianya, dan ia hampir saja menangis haru—karena dilihatnya bahwa hampir semua penonton melakukan standing applause dan berseru-seru kagum.

Setelah itu, tirai mulai tertutup perlahan. Bahkan setelah tirai ditutup pun, seruan dari para penonton masih jelas terdengar.

Ahreum menatap Jeonghan dan membuka mulut hendak mengatakan sesuatu—ketika tiba-tiba saja Jeonghan ambruk dan tidak sadarkan diri.

-oOo-

Hampir lewat satu jam sejak Ahreum, Jisoo dan Wonwoo menunggu di lorong putih yang dipenuhi oleh bau obat-obatan. Ahreum tak henti-hentinya menatap pintu di sebelah kirinya dengan cemas. Sebab di balik pintu tersebut, dokter sedang memeriksa keadaan Jeonghan, serta mungkin juga melakukan pengobatan sehingga membutuhkan waktu selama itu.

Hingga iba-tiba saja pintu itu terbuka, keluarlah seorang pria paruh baya berbalutkan jas putih, diikuti dengan seorang perawat yang membawa beberapa catatan.

“Ia sudah sadarkan diri, kalian boleh masuk.”

“Apa lukanya parah?” tanya Wonwoo.

“Ada beberapa bagian kulitnya yang sobek karena pecahan kaca, namun sudah dijahit. Beruntung tidak ada luka dalam yang terlalu parah,” jawab pria itu sambil mengulas senyum simpul. “Kalau begitu, saya permisi.”

Ketika mereka bertiga memasuki ruangan, Ahreum langsung berlari-lari kecil ke ranjang tempat Jeonghan dibaringkan. Ia menggenggam tangan laki-laki itu erat dan menatapnya dengan tatapan sedih.

Kepala Jeonghan terbalut perban, sedang beberapa titik di lehernya tertutupi oleh kapas dan kasa. Ahreum baru menyadari saat ia menatap wajah Jeonghan kembali, ternyata wajah Jeonghan juga terkena pecahan kaca dari chandelier tadi, sehingga menimbulkan sayatan-sayatan tipis yang tidak terlalu kentara. Meskipun begitu, pasti rasanya perih.

Jeonghan mengembangkan senyumannya ketika melihat ketiga kawannya tersebut masuk. Hanya saja, benar-benar berbanding terbalik dengan Ahreum—ketika ia melihat Jeonghan yang terbaring lemah seperti itu, matanya mulai berkaca-kaca. Perlahan, ia terisak.

“Hei! Ahreum, kenapa menangis?” Jeonghan yang sekarang mulai panik. “Astaga, aku tidak apa-apa, Ahreum. Jangan menangis, nanti kau dipecat menjadi Si Cantik,” goda Jeonghan sambil terkekeh—meskipun sebenarnya ia khawatir juga. Di belakang gadis itu, Wonwoo dan Jisoo ikut terkikik geli melihat Ahreum yang mulai histeris.

“Sudahlah, Ahreum …. Aku tidak apa—”

“Tidak apa-apa apanya, hah?! Kau mengeluarkan sangat banyak darah. Sampai pingsan begitu …,” teriak Ahreum. “Dan jangan tertawa! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku tadi?! Kukira … kukira kau ….” Gadis itu semakin terisak dan menunduk, hingga wajahnya tertutupi oleh rambutnya yang menjuntai.

Jeonghan tertegun. Namun, perlahan ia mulai mengerti. Tidak seharusnya ia menguarkan candaan di saat-saat seperti ini.

Jeonghan menatap kedua sahabatnya yang masih berdiri di belakang Ahreum, lantas memberikan isyarat pada mereka untuk meninggalkan dirinya bersama dengan Ahreum sesaat. Beruntung kedua laki-laki itu langsung mengerti.

Kini, hanya tinggal mereka berdua di kamar itu.

Jeonghan memperbaiki posisi tubuhnya, hingga yang semula berbaring kini duduk bersandarkan beberapa bantal. Meskipun terasa sakit, Jeonghan mengulurkan sebelah tangannya yang tidak menggenggam tangan Ahreum, dan menepuk-nepuk lembut punggung gadis itu. Ia tidak ingin melihat Ahreum menangis. Hanya saja, Ahreum berjengit tepat setelah tepukan pertama dan langsung tegak kembali.

“Sa—Sakit?” tanya Jeonghan pelan.

Awalnya, gadis itu heran pula mengapa punggungnya terasa nyeri saat tersentuh oleh Jeonghan. Baru beberapa sekon terlewat, ia mulai ingat. Sepertinya saat terjun dari balkon tadi, punggungnya itu membentur sesuatu—Ahreum tidak tahu itu apa, yang jelas ia yakin bahwa setelah ini akan ada bekas biru keunguan yang tercetak jelas di punggungnya. Memikirkan hal tersebut membuatnya bergidik ngeri, namun ia hanya menggeleng pelan pada Jeonghan. Lelaki itu pasti lebih kesakitan karena melindunginya tadi.

Melihat itu, tangan Jeonghan beralih ke kepala Ahreum dan membelai rambutnya perlahan. “Maafkan aku. Aku minta maaf karena sudah membuatmu khawatir.” Jeonghan mengucapkannya sambil mengguratkan seulas senyum, lalu melanjutkan, “Tapi aku benar-benar baik-baik saja, Ahreum. Sungguh. Kau ingat dialogmu dalam drama tadi?”

Ahreum menyipitkan mata, tidak mengerti dialog mana yang dimaksud oleh Jeonghan.

“Kita bersama-sama sekarang. Semuanya akan baik-baik saja,” jawab Jeonghan mengulang dialog Ahreum tadi. “Begitu juga dengan sekarang ini. Aku ada di sini bersamamu, dan kau juga ada di sini bersamaku. We’re together now, right? Everything’s going to be okay. Trust me.”

Senyuman hangat Jeonghan, seakan berusaha meyakinkan Ahreum bahwa semuanya memang akan baik-baik saja.

Tanpa berpikir panjang lagi, Ahreum mendekap Jeonghan yang masih terbaring. Aroma tubuh Jeonghan membuatnya merasa lebih tenang, dan kini isakannya mulai berhenti perlahan.

“Jeonghan,” panggil Ahreum.

“Hm?”

Ahreum menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia berusaha meyakinkan diri dan mengumpulkan seluruh mentalnya, karena bagi Ahreum butuh keberanian ekstra untuk mengatakan ini. Dan dengan suara pelan, ia berkata tepat di samping telinga Jeonghan.

“Aku mencintaimu.”

Alis Jeonghan terangkat. Ia melepaskan rengkuhannya, lalu menatap lurus-lurus kedua mata gadis itu. Seketika itu juga, ia kembali tersenyum. “Seharusnya jika kau mengingat ciuman tadi, tidak perlu aku mengatakannya lagi—kau pasti sudah mengerti, kan?”

Wajah Ahreum langsung berubah menjadi merah padam saat Jeonghan mengucapkan kata ‘ciuman tadi’. Namun, ia belum terlalu mengerti maksud Jeonghan. Keningnya berkerut menatap Jeonghan, membuat laki-laki itu mendengus tertawa.

Akhirnya, Jeonghan menyentuh pipi kanan Ahreum pelan. Ia juga merasa bahwa ia harus mengatakannya, melihat Ahreum yang sepertinya tidak mengerti itu.

“Aku juga mencintaimu, Hwang Ahreum.”

-oOo-

Tiga minggu.

Tiga minggu telah berlalu sejak pementasan drama besar yang akhir-akhir ini menjadi ramai di berita—tentunya disebabkan oleh kecelakaan itu.

“Ahreum?”

Yang dipanggil menoleh ke belakang, mendapati sahabatnya—Sooyoung—yang sedang berdiri dengan anggunnya, berbalutkan gaun merah selutut dilengkapi dengan sepasang stiletto bertali.

“Tidak bergabung?”

Ahreum mengalihkan fokus pandangnya ke arah Sooyoung menggerakkan kepala. Di sana tengah berkumpul beberapa teman mereka yang berbincang sembari menikmati minuman dan kue-kue kecil yang disediakan. Prom night hari ini memang begitu mewah—diadakan sebagai bentuk perpisahan para mahasiswa tahun terakhir sebelum upacara kelulusan.  Hanya saja, dalam hati Ahreum memang kurang suka keramaian, hingga ia memilih untuk menyendiri di balkon gedung.

Ahreum hanya mengulaskan sebuah senyum dan menggeleng terhadap tawaran Sooyoung. “Nanti saja,” ujarnya singkat. “Omong-omong, bagaimana kabar Mingyu?”

Setelah pentas drama itu berakhir, Mingyu ditangkap, dengan tuduhan percobaan mencelakakan orang lain. Selama beberapa minggu ini proses hukum sedang berlangsung. Sooyoung yang menjadi saksi matanya terkadang dihubungi oleh polisi untuk dimintai keterangan.

“Kurasa ia akan dijatuhi hukuman penjara selama beberapa waktu. Entah pastinya berapa lama, yang aku tahu hanya dia akan dipenjara dan juga membayar denda yang tidak sedikit,” jelas Sooyoung.

Ahreum mengangguk pelan tanda mengerti.

Sebenarnya, ia merasa iba juga dengan laki-laki itu. Mingyu sejujurnya berhati baik, namun ia hanya terlalu tenggelam dalam kebencian dan dendamnya pada Jeonghan. Itulah sebabnya ia tidak dapat meluruskan jalan pikirannya, hingga ia harus berakhir seperti ini.

Ahreum menghela nafas, dan mengangkat kepala menatap Sooyoung. Namun, sosok lain mencuri perhatiannya.

Beberapa meter di belakang Sooyoung, berdiri seseorang dengan menggunakan tuxedo putih yang dipadu dengan kemeja hitam dan celana putih. Sosok itu menatap Ahreum dengan senyuman—well, senyuman yang selalu disukai Ahreum selama ini.

Menyadari lawan bicaranya terfokus pada sesuatu yang lain, Sooyoung ikut menoleh. Seketika itu juga, ia tertawa.

“Baiklah. Nikmati waktumu, Ahreum.” Lekas, Sooyoung pergi meninggalkan Ahreum yang membisu.

Ahreum masih saja menatap sosok itu dengan tatapan bingung, ketika sang subjek melangkah mendekat dan sudah berada di hadapannya dalam hitungan detik.

“Jeonghan?”

Laki-laki itu menyunggingkan senyuman termanisnya. “Lama tak bertemu, Ahreum.”

Ahreum masih dilanda kebingungan, ketika kata-kata tersebut terucap dan membuat Ahreum menguarkan tawanya. “Lama tidak bertemu apanya? Baru juga satu minggu.”

“Oh, jadi kau tidak merindukanku?” tanya Jeonghan sambil mengangkat sebelah alis. “Tidak rindu? Tidak mau peluk?” lanjutnya lagi sambil merentangkan kedua tangannya.

Ahreum tertawa kecil, kemudian ia melingkarkan lengannya di leher Jeonghan, membawa laki-laki itu ke dalam dekap. Kalau ia boleh jujur, seminggu memang terasa panjang tanpa kehadiran seorang Yoon Jeonghan di sampingnya.

“Kurasa aku cukup merindukanmu.”

Jeonghan ikut tertawa dan balas merengkuh gadis itu.

“Kapan kau pulang? Kenapa tidak memberi tahu?”

“Hanya ingin membuat kejutan untukmu,” jawab Jeonghan. “Aku baru sampai di Seoul tadi pagi.”

Seketika itu juga, Ahreum melepaskan dekapannya dan memandang Jeonghan dengan kedua mata membelalak. “Memangnya kau tidak lelah?” tanya Ahreum spontan.

Jeonghan menggeleng. “Aku terkena jet-lag. Itulah kenapa aku benci penerbangan jarak jauh. Aku sampai di rumah kurang lebih pukul delapan pagi, dan aku langsung tertidur begitu saja. Aku baru bangun pukul setengah lima sore, kau tahu?” jawabnya sambil terkekeh.

Ahreum sempat melebarkan kembali kedua matanya, lantas ia ikut tertawa. “Lalu, bagaimana kabar ibumu?”

“Dia baik-baik saja. Sangat baik. Untungnya, ia merasa senang saat melihatku. Aku menginap di rumahnya, dan … well, ternyata aku mempunyai dua adik tiri,” jawab Jeonghan sambil tertawa kecil. “Tapi tidak apa-apa. Mereka menerimaku dengan sangat baik, termasuk pria itu juga. Ia pria yang ramah. Juga, aku dan ibuku sempat menghabiskan satu malam dengan saling berbagi cerita kami,” lanjutnya. “Ternyata alasan mengapa ia tidak pernah menghubungiku, itu karena ia takut dan malu pada dirinya sendiri. Namun saat mendengar kabar bahwa aku akan berkunjung, ia mulai menata pikirannya, dan ia mulai berpikir bahwa ini memang sudah saatnya.”

“Sudah saatnya untuk bertemu kembali?”

“Ya. Pada malam itu juga, ibuku menangis. Ia menyesal dan minta maaf karena telah meninggalkan kami dulu. Tetapi sekarang sudah tidak apa-apa. Bagaimana pun ia tetaplah ibuku, dan aku menghargai keputusannya.”

Perlahan-lahan, terbentuk sebuah guratan senyum di bibir Ahreum. Hati kecilnya merasa senang karena luka Jeonghan akhirnya bisa terobati.

“Dan yang terpenting, aku mengetahui kenyataan bahwa ibuku ternyata memang mencintaiku—bahkan sampai sekarang. Itu saja sudah cukup.”

Ahreum memandang Jeonghan dengan tatapan sayang, kemudian menyentuh pipi laki-laki itu lembut. “Senang mendengarnya.”

Selama seminggu terakhir, Jeonghan memang meninggalkan Seoul untuk mengunjungi ibunya yang ternyata berada di Amerika.

Ahreum ingat, saat Jeonghan tengah menyatakan cinta padanya, tiba-tiba terdengar suara gebrakan pintu, disusul oleh dua wajah khawatir yang langsung menghampiri ranjang Jeonghan.

Mereka tidak lain lagi adalah Yoon-songsaenim dan Yoon Eunji—ayah serta kakak perempuan Jeonghan. Aherum merasa bahwa dirinya akan mengganggu, sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan mereka bertiga. Namun, Jeonghan menahan tangannya saat ia hendak keluar, sehingga Ahreum hanya bisa menetap di ruangan itu dengan perasaan canggung.

Setelah keluarga Jeonghan mengetahui keadaan Jeonghan, barulah ayah Jeonghan angkat bicara. Ia mengatakan, bahwa ia tidak peduli lagi Jeonghan akan masuk peringkat tiga besar atau tidak—setelah melihat drama itu, ayah Jeonghan langsung memutuskan bahwa putranya itu akan diperbolehkan untuk menemui ibunya.

Menurut Yoon-songsaenim, Jeonghan telah berubah. Ia memerankan peran Si Buruk Rupa dengan sangat baik, bahkan melebihi ekspektasinya. Tidak hanya itu, ayah Jeonghan juga merasa bahwa hari demi hari, sikap putranya itu juga kian membaik. Karenanya, pria tersebut penasaran dengan apa atau siapa yang telah mengubah Jeonghan sampai menjadi seperti itu.

Sontak, Jeonghan langsung menarik Ahreum mendekat, dan mengatakan bahwa gadis itulah jawabannya. Gadis yang telah mengubahnya menjadi pribadi lebih baik. Saat itu pula, Jeonghan memperkenalkan Ahreum pada ayah dan kakaknya.

Kemudian, siapa yang menyangka? Seorang Yoon Jeonghan secara terang-terangan mengatakan pada keluarganya, bahwa ia mencintai gadis itu.

Ternyata Si Buruk Rupa telah berubah menjadi pemuda yang sangat manis.

“Mau berdansa?”

Jeonghan mengulurkan tangannya pada Ahreum, yang langsung disambut oleh gadis itu. Jeonghan membawa Ahreum ke tengah-tengah ballroom dengan cahaya yang sengaja dikurangi, dimana para mahasiswa yang lain juga tengah berdansa mengikuti alunan musik lembut.

Jeonghan meletakkan kedua tangannya di pinggang Ahreum, sedangkan lengan Ahreum melingkar di pundak Jeonghan.

“Jeonghan,” panggil Ahreum. “Apa kau tidak merasa bahwa kisah kita—maksudku, dari awal kita bertemu sampai sekarang. Tidakkah kau merasa bahwa kita memiliki cerita yang agak mirip dengan … Si Cantik dan Si Buruk Rupa?”

Jeonghan mengerutkan kedua alisnya. “Maksudmu?”

“Maksudku, dari awal sam— Oh, sudahlah lupakan saja,” ujar Ahreum pasrah, karena tidak menemukan kata-kata yang tepat.

Jeonghan terkekeh memandang gadis yang kebingungan sendiri tersebut. Lelaki itu menarik Ahreum untuk lebih mendekat kepadanya, kemudian menempelkan bibir pada kening Ahreum—menyalurkan sebuah perasaan cinta yang tersimpan dalam hati terdalamnya.

Sebenarnya Jeonghan cukup mengerti apa yang ingin disampaikan Ahreum. Hanya saja ada sedikit perbedaan.

Kisah Si Cantik dan Si Buruk Rupa berakhir ketika ikatan cinta mereka berhasil mematahkan kutukan itu. Namun, Jeonghan tidak akan pernah menganggap cerita mereka akan berakhir sampai di sini saja. Masih ada banyak hal lain yang ingin Jeonghan lakukan dengan Ahreum, pun menghabiskan waktu hanya berdua dengan gadis itu. Kisah mereka bukanlah sebuah dongeng yang selesai begitu saja ketika mencapai sebuah titik bahagia, melainkan kisah perjalanan cinta yang baru saja dimulai.

 “I think that we have our own story, dear. And I really love it. More than those fairytales.”

Mungkin mereka memang mengenal satu sama lain dalam kurun waktu yang singkat. Bertemu dalam kondisi dua pribadi yang berbeda sifat, dua insan yang bertolak belakang.  Namun, mereka belajar untuk saling memahami satu sama lain, dan pada akhirnya terjadilah perubahan-perubahan kecil.

Perubahan yang terlampau kecil sehingga hampir tidak terlihat. Dan karena cinta, Si Buruk Rupa akhirnya berubah menjadi seorang pangeran berhati lembut.

Awalnya memang tidak ada apa-apa. Tidak ada sesuatu yang khusus. Namun, bila perasaan cinta sudah mulai tumbuh, apa lagi yang bisa dikata?

fin.
-oOo-

*This story is inspired from a classic fairy tale by Jeanne-Marie Leprince de Beaumont,
Beauty and the Beast.


 Akhirnya setelah sekian lama tamat jugaa:”””)))
Makasih banyak buat yang udah ngikutin ceritanya dari awal sampai akhir, mohon maaf kalau ada salah kata atau typo bertebaran:”) But still, I hope that you like it^^

Mind to review? Thank you!

-rachel

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s