Bad Day?

mo09

Bad Day?

story by Rosé Blanche

Kim Mingyu (Seventeen) & Himekawa Yui (OC)

slight!College-life, Fluff, Romance, Slice of Life

G

Vignette

“Karena pada nyatanya, kau yang punya pilihan.”

Related to :
The Story Begins

-oOo-

Hari pertama masa orientasi, sudah kuduga. Memang seburuk yang kubayangkan.

Benar-benar mengerikan. Memakai topi kertas tak berbentuk, dipaksa untuk menyatakan cinta pada kakak panitia, menari ria di depan beratus-ratus mahasiswa lain …, ditambah berjalan sambil berjongkok mengelilingi kuburan dekat kampus sambil menutup mata dengan kain—dimana aku tanpa sengaja menginjak lumpur dan kini aku harus kehilangan sepatu kesayanganku untuk kali kedua, setelah insiden dengan gadis Jepang itu tentunya.

Sungguh, aku berharap mempunyai keberanian lebih untuk berteriak di depan panitia-panitia itu, “Kita membayar kuliah mahal-mahal itu untuk mendapatkan pendidikan, bukan dijadikan budak!”

Ya, tetapi semua itu hanyalah sebuah harapan belaka. Sayang sekali, nyaliku kelewat ciut. Satu hal lagi, aku bukan tipikal orang yang suka mencari masalah, oke?

Dan kini, aku harus menunggu sendirian di depan gerbang karena ramalan cuaca sialan yang mengatakan bahwa sepanjang hari ini akan cerah—membuatku merasa tak perlu repot-repot untuk membawa payung. Nyatanya? Guyuran air ini sama sekali belum berhenti sejak satu jam yang lalu.

“Mingyu?”

Suara seorang gadis menghampiri pendengaranku, dan pemiliknya tiba-tiba saja sudah berada tepat di sampingku. Aku hampir saja tidak mempercayai pandanganku sendiri, jika saja aku melupakan bahwa gadis itu juga berkuliah di tempat yang sama denganku.

“Yui?”

Ia tersenyum lemah. Sudah pasti ia kelelahan karena masa orientasi tadi. Senyuman itu sudah tidak terlihat olehku sejak dua hari yang lalu—dan aku tahu ini berlebihan, tetapi rasanya seperti dua tahun. Mungkin, aku merindukannya?

“Belum pulang?”

As you can see.” Ia hanya tertawa sekilas, lalu memalingkan wajahnya dan menatapku. Saat itu juga, baru kusadari kalau ia mempunyai iris mata coklat terang, membuatnya terlihat sangat cantik. “Bagaimana harimu, Mingyu?”

Hariku? Jujur saja, itu adalah topik yang benar-benar tidak ingin kubahas untuk saat ini.

“Menyebalkan.”

“Benarkah?”

Yui melebarkan kedua matanya, dan— Astaga. Ia tidak tahu kalau ia benar-benar menggemaskan dengan ekspresinya itu. Aku hanya tertawa kecil dan menggerakkan kepalaku sedikit, memberi tanda bahwa jawabanku tadi memanglah benar.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku dihukum, kau tahu.”

Kini, ganti diriku yang membolakan kedua mata. Kukira Yui adalah tipikal gadis baik-baik yang penurut—well, memang sempat beberapa hari yang lalu gadis itu tertangkap basah oleh Jeonghan-hyung, sedang memanjat pohon yang tertanam di depan rumahnya sendiri. Katanya, Yui memanjat pohon agar ia bisa masuk ke rumahnya sendiri, karena pada saat itu Yui lupa membawa kunci. Mungkin Yui lebih tepat bila disebut tipikal gadis yang susah ditebak.

“Masa? Kenapa?”

Yui menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, menampakkan indera rungunya sambil menatapku penuh arti. Awalnya aku tidak paham dengan apa yang ia maksud, hanya saja tiba-tiba otakku langsung teringat akan salah satu peraturan. Pantas saja.

“Aku tidak tahu kalau tindikan telinga tidak boleh lebih dari satu.”

Ya Tuhanku, anak ini. Jujur saja aku ingin tertawa, tetapi tidak bisa. Dia ini terlalu polos atau apa, sih?

“Kau tidak baca buku panduan masa orientasi? Sudah ada peraturan—”

“Tidak. Malas.”

Aku bukanlah orang yang suka terlalu cepat mengambil konklusi atau menilai orang dari apa yang terlihat saja, namun kurasa Yui bukanlah orang yang bisa dikekang dengan peraturan ketat. Meskipun kurasa ia juga bukanlah pembangkang.

“Malas?”

“Kau pikir siapa yang sudi membaca satu persatu peraturan sebanyak seratus nomor lebih?” Yui menguarkan sebuah tawa, menampilkan sebuah pemandangan yang tak akan membuatku bosan meski harus melihatnya berkali-kali. “Lagipula saat aku masih tinggal di Jepang, hampir setiap hari kutemukan anak-anak kuliahan yang berpenampilan—well, you know. Harajuku style.”

Aku tidak tahu apakah yang dikatakan Yui ada benarnya atau tidak, karena aku memang tidak pernah tahu, tidak terlalu ingin tahu, dan satu hal—aku tidak pernah berkunjung ke Negeri Sakura itu. Jadi kuputuskan untuk tetap bungkam, daripada semuanya menjadi serba salah.

“Lalu, apa hukumanmu?” tanyaku pada akhirnya.

“Menulis surat cinta untuk Seungcheol-sunbae dan membacakannya keras-keras di depan si ketua senat itu. Payahnya, ia menertawakanku.”

Ah, jadi begitu.

Baiklah. Harus kuakui memang kakak-kakak panitia itu keterlaluan. Tadi sempat kulihat, ada beberapa anak perempuan yang sempat menangis karena dikerjai habis-habisan. Terutama anak-anak perempuan, namun mereka sama sekali tak mengindahkannya. Dasar berhati es.

“Hari yang suram, bukan?”

Setelah mengingat-ingat semua yang terjadi hari ini—termasuk hujan deras yang masih belum bosan-bosannya membasahi Seoul sampai sekarang—kesimpulanku menyatakan bahwa hari ini memang suram. Aku yakin, Yui juga pasti setuju dengan—

“Jangan bilang begitu.”

—pikiranku. Hei, kenapa …

“A—Apa?” Layaknya orang bodoh, hanya itu yang dapat kuucapkan.

“Jangan bilang begitu, Mingyu,” ujar Yui mengulangi perkataannya tadi. “Masih ada delapan jam sebelum hari ini berakhir, dan aku tidak mau hari ini semakin menjadi suram karena aku terus-terusan berpikir bahwa ini adalah hari yang suram. You get it, don’t you?”

Sempat aku ternganga untuk beberapa saat, mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari bibir Yui.

Apa maksudnya? Berkali-kali aku berpikir dan berpikir ulang—

“Mencoba untuk berpikir positif, eh?”

—dan pada akhirnya kurasa aku mulai mengerti sedikit.

“Begitulah. Setidaknya itulah cara agar aku bisa merasa lebih baik jika suasana hatiku sedang buruk,” jawabnya sambil masih menatapku dengan seulas senyum. “Hidup jangan disia-siakan untuk meratapi nasib, Mingyu. Sebisa mungkin, aku selalu berusaha untuk membuat hari-hariku menjadi cerah, meskipun pada nyatanya aku terkadang tidak bisa mengelak jika mengalami hal-hal buruk.”

Perlahan-lahan, ketidakpahamanku mulai terangkat, menyisakan pikiran yang seperti baru saja tersadar akan hal-hal kecil yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehku.

When you feel that you’re having a bad day, just think again that the day isn’t over yet. Masih ada waktu yang bisa kau gunakan untuk merubah kenyataan bahwa hari itu adalah hari burukmu.”

Kini ia memutar tubuhnya menghadap ke arahku, dan tatapan matanya benar-benar intens. Ia kembali tersenyum, dan melanjutkan, “Karena pada nyatanya, kau yang punya pilihan. Kau yang memilih bagaimana caramu bersikap dan bertindak. Kau sendiri yang menentukan buruk tidaknya hari-harimu, Mingyu.”

Skak.

Melihat wajah polosnya yang menggemaskan itu membuatku tak dapat menahan senyum. Terlebih lagi saat aku menyadari bahwa kata-katanya itu cukup untuk membuatku menyadari sesuatu. Sesuatu yang seharusnya bisa selama ini kulakukan, untuk membuat hidupku terasa lebih baik.

Ternyata seorang Himekawa Yui ini benar-benar mengesankan, sungguh.

Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan hari ini juga tentunya, setelah apa yang dikatakan oleh Yui barusan.

“Yui.”

“Iya?”

“Mau melakukan sesuatu?” tanyaku sambil menatapnya penuh harap.

What is it?”

“Entahlah. Apa pun yang menyenangkan.”

Ia mengangkat kedua alisnya, terlihat sangat lucu. Layaknya seseorang yang sedang berpikir keras, meskipun pada akhirnya ia hanya menjawab, “Sure. Terserah padamu saja.”

Terserah padaku? Baiklah, setuju.

“Oke.”

Aku tahu ini agak kekanakan, tapi siapa yang peduli? Dengan Yui yang menjawab seperti itu, aku sontak menarik tangannya dan berlari. Berlari menerabas hujan yang tak kunjung henti mengguyur kota, sedangkan Yui hanya bisa meneriakiku sambil tertawa-tawa.

“Hei! Mingyu!”

Sebuah tawa lepas terlontar begitu saja dari mulutku, dan kami terus-terusan berlari layaknya dua orang gila di tengah-tengah hujan—menarik atensi dari beberapa orang yang kami lewati.

Tetapi, tidak apa-apa. Biarlah orang-orang itu berpikiran tentang kami semau mereka, itu tidak akan menjadi masalah. Karena nyatanya, tangan yang ada di genggamanku sekarang ini adalah milik Yui seorang, dan itu sudah cukup untuk membuat hariku terasa lebih berwarna.

BRUK!

Gosh, what the heck is this?

Kenapa harus ada lubang genangan ini, sih? Tawa keras pun keluar dari mulutnya. Ia tertawa terpingkal-pingkal, terlihat benar-benar puas.

“Ya, ya …. Teruskan saja tertawa. Tertawalah sepuasmu.”

Entah kenapa, kalau Yui yang tertawa, aku tidak bisa jengkel. Uh, coba saja kalau Seokmin yang tertawa. Entah akan kuapakan dia nanti.

Yui masih berusaha mengatur nafasnya karena terlalu lelah tertawa, lalu tanpa disangka-sangka ia membungkuk. Ia meraih sesuatu dari tasnya—yang ternyata adalah sebuah sapu tangan. Sapu tangan itu didekatkannya ke wajahku, membuat jantungku bekerja dengan lebih cepat dari biasanya, tentu saja.

“Makanya hati-hati.”

Ia mengusapkan sapu tangan itu pada bagian wajahku yang terkena lumpur. Melihatnya seperti ini, membuatku semakin gemas saja.

Entah mengapa, aku teringat akan satu hal.

Tawanya tadi.

Tawa yang ditujukan untuk orang yang sedang kesusahan. Dasar kejam.

Aku tahu aku tidak merasa kesal dengan tawanya tadi. Namun, bukan berarti aku tidak menyimpan dendam, bukan?

Aku tahu ini jahat, sungguh. Tetapi, ia tadi juga berlaku sama. So, it won’t be a problem, I guess.

AKH!”

Nah, sekarang kita impas.

Aku menarik lengannya yang terjulur, membuatnya terjembab juga di genangan yang sama. Tangan dan celananya belepotan lumpur, dan aku langsung menghujaninya dengan tawa yang tidak kalah keras dari miliknya tadi.

Ia menatapku, dan— Oh, baiklah. Itu bukan tatapan Yui yang biasanya. Sepertinya, ini waktunya untuk berlari lagi, setelah beristirahat sejenak di genangan air berlumpur ini.

“MINGYU!”

Aku masih terbahak, tetapi pada akhirnya aku berlari juga. Ya, berlari dan berlari, mencoba kabur dari kejaran predator yang sedang mengamuk.

“Awas kau, Mingyu! Sini, jangan kabur!”

Dasar. Mana ada orang yang akan menurut sebegitu mudahnya bila mereka berada dalam situasiku sekarang?

Entah kenapa, melihatnya mengamuk seperti ini, sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Sudah kubilang, ia benar-benar cantik, sungguh. Meskipun sekarang Yui belepotan lumpur, ia masih cantik, kok.

Aku tidak tahu apa yang salah denganku hari ini, namun kurasa otakku sedang bekerja dengan baik. Ide-ide itu terus saja bermunculan. Aku menghentikan pelarianku secara tiba-tiba, dan langsung menghadap belakang, ke arah dimana Yui masih berlari-lari kewalahan. Dan melihatku yang tiba-tiba diam berhenti ini, membuatnya juga ikut memperlambat langkahnya dan menatapku heran.

“Yui!”

Gadis itu hanya mengangkat kedua alisnya, menyiratkan pandangan bertanya.

“Mau kuberi tahu sesuatu?”

Aku mengisyaratkannya untuk mendekat, dan ia menurut begitu saja. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung mendekatkan wajahku ke telinganya, lalu berbisik,

“Yang paling cepat sampai rumah, besok akan dapat traktiran es krim. Setuju? Baiklah, setuju.”

Mungkin aku seperti orang gila, bertanya dan menjawab pertanyaan itu sendiri. Kulirik wajah Yui, dan ia sepertinya masih belum paham. Kalau begitu, hanya ada satu cara supaya ia paham.

“Kalau begitu, selamat tinggal.”

Entah ada dorongan dari mana, sempat-sempatnya bibir ini kutempelkan di pipinya sebelum aku berlari kencang-kencang. Satu hal yang dapat kusimpulkan—melakukan hal seperti ini membuat jantungku ingin pecah saja rasanya.

Just for real, God …. What have I done? Apa yang salah denganku hari ini? Dan … apa tadi itu? Es krim?

Yang benar saja, bahkan aku merasa yakin kalau setelah ini aku akan terkena flu setelah melaksanakan ide gila yang muncul akibat terlalu stress menghadapi masa orientasi. Ya ampun, kuharap Yui tidak sakit setelah ini.

YA! MINGYU!”

Ini dia. Lengkingan itu akhirnya keluar juga. Meskipun pada kenyataannya lengkingan itu tidak cukup untuk menghentikan kakiku untuk berlomba lari dengannya.

Yah, meskipun hari ini benar-benar melelahkan, setidaknya aku tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa untuk memperbaiki hari ini sebelum berakhir. Dan itu semua berkat Yui.

Seperti yang Yui katakan tadi. Ketika mengalami hari yang buruk, maka gunakanlah sisa waktu dalam satu hari tersebut untuk memperbaikinya. Ia benar, dan aku sudah melakukannya. Dengan bantuan Yui sendiri juga.

Hanya dengan perkataannya semata, Yui sudah berhasil membuat hariku terasa lebih baik. Bukankah kehadiran seseorang yang spesial selalu bisa membuat segalanya menjadi lebih indah?

Dan sekarang, aku menyadari satu hal.

Yui tidak perlu melakukan hal-hal yang bisa membuatku senang. Ia tidak perlu bersikap manis dan mentraktirku es krim kesukaanku, ataupun membujukku dengan kata-kata manisnya agar aku bisa merasa lebih baik. Yui tidak perlu melakukan apa-apa, sungguh.

Yang penting adalah kehadirannya saja. Hariku menjadi lebih cerah bukan karena perlakuannya, namun karena ia ada dan aku bisa merasakan kehadirannya. Aku merasa lebih baik, karena ia adalah ‘Yui’, dan eksistensinya saja sudah cukup bagiku.

She has made my day much better, and I know that she would. It’s because I know the fact that I love her, for sure.

fin.
-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s