Of Father’s Love and Those Memories

Offathersloveandthosememories.jpg

Of Father’s Love and Those Memories

story by Rosé Blanche

Choi Seungcheol (Seventeen) & Choi Yuna (OC)

AU, Family, slight!Romance, Slice o Life

G

Vignette

Kenangan indah itu, biarlah Seungcheol memegangnya erat-erat.

Related to :
The Funeral

-oOo-

Pagi ini, langit terlihat cerah, seperti biasa. Semilir angin membelai kulit, diikuti dengan aroma bunga dari pekarangan yang selalu disukai Yuna. Semuanya seperti biasa. Hanya saja khusus hari ini ditambah dengan satu kebiasaan yang selalu dilakukannya setahun sekali dengan sang ayah sejak belasan tahun yang lalu.

Sudah lewat beberapa menit sejak Yuna duduk dengan posisi berlutut, berdampingan dengan sang ayah tepat di depan sebuah pigura.

“Sudah lima belas tahun, ya?”

Choi Seungcheol menoleh, menatap puterinya yang baru saja memasuki umurnya yang ketujuhbelas. Kalau dipandang-pandang, puterinya kini telah bertumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

Ya, sangat cantik. Mirip dengan ibunya.

“Begitulah. Tidak terasa.”

Yuna tersenyum simpul, ada sesuatu yang terasa begitu aneh dalam dirinya. Samar-samar, ia merasakan suatu perasaan kehilangan dan rindu yang bercampur, meski pada kenyataannya ia tak terlalu mengenal wanita yang ada dalam pigura. Karena, mereka hanya memang sempat bersama hanya dalam kurun waktu dua tahun.

Appa ….”

“Iya, Sayang?”

Yuna menggigit bibir, sempat menimbang-nimbang akan pertanyaan yang akan ia lontarkan. Setelah beberapa detik ia berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.

“Maaf kalau aku bertanya seperti ini, tapi … bagaimana rasanya punya seorang ibu?”

Kedua mata Seungcheol melebar, cukup tidak menyangka dengan apa yang keluar dari mulut puterinya. Namun, sebenarnya ia tahu. Cepat atau lambat, Yuna pasti akan menanyakan hal itu.

“Hei, untuk apa minta maaf?” Seungcheol tersenyum seraya merangkul bahu satu-satunya puteri kesayangannya. “Well, punya ibu itu berjuta rasanya.”

“Berjuta?”

“Ya, begitulah. Karena mempunyai seorang ibu, berarti kau mempunyai seseorang yang terkadang bisa membuatmu sangat bahagia, tetapi kadang juga bisa menyebalkan. Seseorang yang bisa membacakan dongeng manis sebelum kau tidur atau menjadi teman mengobrolmu, tetapi juga bisa menjadi sangat cerewet soal penampilan dan kebersihanmu. Seseorang yang hangat, dan bisa membuatmu merindukannya setengah mati jika kau tak bertemu dengannya bahkan hanya dalam waktu yang singkat. Menurut Appa begitu.”

“Jadi, jika aku tak punya seorang ibu, berarti aku tidak mempunyai semua itu?”

Kini, Seungcheol terdiam. Jujur, hatinya sedih mendengar pertanyaan Yuna. Tetapi, ia telah mencoba yang terbaik. Ia tahu, ia telah berusaha.

“Yuna, dengarkan Appa.”

Seungcheol memutar posisi tubuhnya, hingga kini ia berhadapan langsung dengan Yuna.

Appa tahu, kau hidup selama lima belas tahun terakhir tanpa sosok seorang ibu. Appa tahu, dan Appa minta maaf untuk hal itu.” Choi Seungcheol tersenyum, kemudian melanjutkan, “Karena itu, Appa sudah berusaha sebisa mungkin untuk menggantikan peran ibumu, Sayang. Dibantu dengan nenekmu juga tentunya. Apakah … itu semua masih belum cukup?”

Seungcheol tahu, ia sudah berusaha mati-matian, meskipun ia juga telah dibantu oleh ibunya. Seungcheol berusaha menjadi tempat Yuna bersandar saat puterinya itu menangis, namun juga berusaha menjadi sahabat terbaiknya. Seungcheol selalu berusaha memahami Yuna, apa pun itu. Seungcheol tahu Yuna butuh peran seorang ibu, maka dari itu ialah yang memerankannya. Ialah yang menggantikan Kang Yiseul untuk melakukan tugasnya menjaga Yuna.

Sedangkan Yuna sendiri, sebenarnya ia juga cukup sadar. Perkataan ayahnya tersebut ada benarnya. Ia ingat, saat dirinya masih kecil, ayahnya sempat mempelajari berbagai jenis boneka Barbie lengkap dengan film-filmnya juga. Bahkan Disney Princess kesukaan Yuna, ayahnya juga paham akan hal itu. Yuna bahkan lebih suka membicarakan tentang Barbie dan Disney Princess dengan sang ayah daripada teman-temannya sendiri. Hanya karena satu alasan.

Ayahnya lebih banyak mengerti tentang hal-hal itu daripada teman-temannya.

Dan sekarang, Yuna tersadar. Kenapa ayahnya bisa sebegitu mengerti tentang hal-hal berbau perempuan seperti itu jika bukan untuk Yuna sendiri?

“A—Aku …”

Melihat tampang Yuna yang layaknya orang ketakutan, Seungcheol cepat-cepat memotong.

“Yuna, Appa bertanya seperti itu bukan karena Appa marah padamu, hanya saja … Appa memang benar-benar bertanya. Appa—”

“Tidak, tidak apa-apa,” ujar Yuna sambil tersenyum. “Aku mengerti sekarang, Appa telah berjuang sangat keras. Terima kasih.”

Kini, Yuna benar-benar mengerti. Sosok ibu yang telah didambakannya selama ini, ternyata telah diperankan oleh sang ayah dengan sangat baik, hanya saja ia sendiri yang terlambat menyadarinya. Sang ayah yang Yuna cintai, ternyata jauh lebih hebat dari dugaannya.

Bersamaan dengan keluarnya kata-kata itu, Yuna langsung mendekatkan dirinya pada Seungcheol, memeluk erat sang ayah.

Dan tanpa perlu waktu lama lagi, Seungcheol membalas dekapan itu.

“Tetapi … ada satu hal lagi yang masih membuatku penasaran.”

“Apa?” tanya Seungcheol spontan.

“Kenapa Appa tidak menikah lagi?” tanya Yuna yang masih berada dalam dekapan ayahnya. “Tolong jangan berpikir karena aku menginginkan seorang ibu. Maksudku … apakah Appa tidak membutuhkan … um, wanita dalam hidup Appa?”

Saat Yuna menyebutkan kata ‘wanita’, suaranya menjadi pelan hingga membuat Seungcheol tertawa. Seungcheol melepaskan dekapannya , kemudian memandang Yuna dengan tatapan sayang.

“Kau tahu, Yuna?” ujar Seungcheol yang kini kembali menatap pigura foto itu. “Sempat memiliki ibumu adalah suatu hal yang lebih dari cukup.”

“Bagaimana bisa?” tanya Yuna yang masih tidak mengerti.

Seungcheol menghembuskan nafasnya perlahan, dan kemudian merangkul anaknya. Dua pasang mata pun kini tertuju pada paras cantik dalam pigura itu.

“Alasannya sederhana,” ujar Seungcheol. “Karena satu hal yang dinamakan ‘jatuh cinta’, itu saja.”

Huh?”

“Nanti kalau kau sudah dewasa, kau pasti akan mengerti sendiri. Ayah yakin sebentar lagi kau pasti akan merasakan perasaan itu pada seorang laki-laki.” Seungcheol tertawa geli, kemudian melanjutkan, “Atau mungkin kau sudah pernah? Diam-diam di belakang Appa?”

Ya! Appa!”

Seiring dengan keluarnya teriakan itu, Seungcheol langsung beranjak dari tempatnya dan berlari ke pekarangan belakang sambil terbahak, diikuti oleh Yuna yang mengejar berbekal segenap tenaga untuk ‘menyerang’ sang ayah tercinta.

Sedangkan Seungcheol sendiri, sambil masih terus berlari dan tertawa akibat teriakan Yuna yang tak kunjung berhenti, bayangan pertanyaan Yuna tadi masih terus melintas di otaknya.

Mengapa ia tidak menikah lagi?

Alasannya lebih dari sekedar karena ia jatuh cinta. Seungcheol sendiri tahu, ia tidak bisa.

Yiseul telah memberinya delapan tahun yang terasa seperti seumur hidup, berisikan kenangan manis dan pahit yang bercampur menjadi satu. Namun justru karena itulah, kenangan tersebut menjadi kenangan sempurna tak terlupakan bagi Seungcheol. Kenangan tak mengenal waktu yang hanya dilewati oleh mereka berdua, ditambah oleh kehadiran Choi Yuna selama dua tahun terakhir dan semakin melengkapi hidup mereka.

Yiseul bagai telah memberikan segalanya bagi Seungcheol, termasuk Yuna. Itu juga salah satu alasan mengapa Seungcheol tidak menikah lagi. Ia melihat sendiri, bagaimana perjuangan Yiseul yang kesakitan luar biasa saat berusaha untuk menghadirkan sang malaikat kecil di dunia ini. Menghadiahkan sesuatu tak ternilai untuk Seungcheol seorang diri. Bahkan Yiseul juga berlagak kuat saat merawat dan membesarkan Yuna, padahal pada saat itu ia sudah terjangkit penyakit mematikan itu.

Memang bohong kalau Seungcheol berkata ia tidak pernah melirik wanita lain setelah ia menikah dengan Yiseul. Terlebih lagi saat Yiseul sudah tiada.

Namun, satu hal yang ia ketahui.

Tidak akan ada wanita lain yang pantas menggantikan posisi Yiseul di hati terdalamnya. Setelah semua yang telah mereka lalui, setelah semua hal yang terjadi di antara mereka.

Kenangan indah itu, biarlah Seungcheol memegangnya erat-erat. Dan biarlah ia juga menyimpannya dalam hati.

Sampai kapan pun.

fin.
-oOo-

Advertisements

3 thoughts on “Of Father’s Love and Those Memories

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s