A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9)

PicsArt_07-14-03.42

A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9)

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan (Seventeen), Hwang Ahreum (OC), & Others

Romance

PG-15

Chaptered

Previous :

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8

“Kalau Ahreum sudah jatuh cinta sedalam itu, kurasa mati bersama-sama dengan laki-laki itu bukanlah hal yang buruk untuknya.”

-oOo-

Hey, what’s wrong?”

Sedari tadi, Sooyoung memang sudah merasa bahwa ada yang tidak beres. Bisa dilihat dari tingkah Jeonghan yang terus menggerak-gerakan kakinya, sementara di samping laki-laki itu, ada Jisoo yang tak henti-hentinya mengerang. Akhirnya, Sooyoung memutuskan untuk langsung saja bertanya.

Kedua laki-laki itu langsung menoleh serentak ke arah Sooyoung. Jisoo masih bingung memikirkan jawaban apa yang akan diberikannya pada gadis itu, ketika Jeonghan tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan cepat meninggalkan mereka berdua tanpa mengatakan apa-apa.

“Dia kenapa?” tanya Sooyoung kembali.

Laki-laki itu tidak tahu harus menjawab jujur atau tidak. Akhirnya, ia memilih untuk hanya nyengir sekilas ke gadis itu, lalu berlari menyusul Jeonghan.

Ya! Aku tanya baik-baik kenapa malah lari semua, sih?” gerutu Sooyoung.

Sementara itu, Jeonghan yang telah keluar dari ruang tunggu kini berjalan menuju ke belakang panggung, tempat para pemeran dan tim-tim yang lain berkumpul.

Jeonghan melihat ke arah tirai merah yang menggantung besar di sisi sebelah kirinya, lalu beralih menatap jam di ponselnya.

Pukul tujuh kurang lima belas menit.

Ia kembali menatap tirai merah itu.

Sempat Jisoo mengatakan bahwa ia sempat mengintip, dan dilihatnya hampir semua kursi penonton terisi penuh. Itu tandanya, dibalik tirai itu ada kurang lebih seribu lima ratus penonton yang akan dikecewakannya, termasuk ayah dan kakaknya sendiri.

Jisoo berlari menyusul Jeonghan, dan ketika jarak mereka dirasanya sudah dekat, Jisoo menepuk pundak temannya itu.

“Kita harus bilang apa ke mereka?”

Jeonghan melirik Jisoo sekilas, lalu berkata, “Katakan yang sejujurnya pada Wonwoo, Sooyoung, dan Mina. Tapi jangan yang lain.”

“Lalu?”

“Sisanya nanti akan kuatur. Oh, dan satu lagi. Siapkan ponselmu, mungkin nanti akan ada yang menelepon.”

Jisoo masih menatap Jeonghan yang berlalu pergi dengan tatapan bingung, namun ia segera mengangguk dan memanggil ketiga orang yang telah disebutkan Jeonghan. Setelah mereka berkumpul, Jisoo membeberkan semuanya pada mereka, tentu saja dengan suara pelan.

Dan alhasil, teriakan kaget dan erangan pun tak dapat tertahankan lagi.

Jisoo menatap ke sekelilingnya, dan ia menyadari sesuatu.

Lima belas menit menjelang pertunjukkan, dan kedua tokoh utama tidak ada di belakang panggung. Hebat sekali.

-oOo-

Di dalam taksi, Ahreum hanya bisa menatap jalanan yang ramai lewat kaca jendela. Ia baru saja selesai memperbaiki riasannya yang menjadi agak berantakan berkat tangisannya tadi—tentu saja. Beruntung ia membawa sedikit make up dalam tasnya.

Berkali-kali ia mengumpat dalam hati, namun berkali-kali juga ia memohon agar bisa sampai tepat waktu. Ia tidak dapat menghubungi siapapun, karena baterai ponselnya habis. Ia menatap jam digital yang ada pada taksi—pukul enam lewat lima puluh tiga menit.

Lagi-lagi ia mengumpat dalam hati. Jika melihat jalan yang sedang dilaluinya sekarang, masih butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk mencapai universitasnya.

Kini, ia merasa tamat.

Benar-benar tamat.

-oOo-

Berlari-lari di tengah kegelapan sambil menggunakan kostum yang membuatnya kepanasan memang benar-benar bukan tipe Jeonghan, namun tidak ada salahnya berusaha sedikit daripada tidak sama sekali.

Di koridor universitas, ia mengambil dua buah batu-batuan dari salah satu pot-pot tanaman yang berjajar rapi di sana. Kemudian, ia menuruni tangga, menuju sebuah ruangan yang terletak di basement.

Setelah mencapai basement, dengan langkah lebar ia berjalan cepat menuju sebuah pintu yang terletak di ujung. Sebelum jaraknya terlalu dekat dengan pintu itu, Jeonghan sudah berhenti melangkah.

Matanya terfokus pada sebuah benda yang menempel pada langit-langit basement—CCTV tentunya. Dengan segera ia membidik, dan ketika dirasanya sudah tepat sasaran, ia langsung melemparkan batu yang dibawanya keras-keras.

PRAK!

Jeonghan tersenyum sekilas melihat CCTV tersebut pecah terkena lemparannya.

Oh, jangan ragukan kemampuannya dalam membidik. Sejak kecil, ia memang suka dan mendalami beberapa olahraga atletis, termasuk tolak peluru dan menembak. Jeonghan sedikit berterima kasih pada ayahnya yang dulu telah memberinya fasilitas.

Jeonghan berjalan mendekati pintu. Di samping pintu itu, ada sebuah jendela kecil yang menampakkan bagian dalam ruangan. Jeonghan sempat mengintip sebentar, mencari-cari lokasi benda yang memiliki titik sinar merah.

Ketika Jeonghan menemukannya, ia langsung beralih ke arah pintu. Ia bersiap dengan menggenggam batu kedua. Dengan sebuah sentakan cepat, ia membuka pintu itu dan …

PRAK!

Doube strike,” gumamnya pelan sambil memasuki ruangan gelap itu.

Sebenarnya tidak terlalu gelap, karena ada cahaya remang-remang yang berasal dari lampu-lampu yang menempel pada kotak-kotak besi yang berjajar.

Ya, ruangan itu adalah pusat listrik dari satu universitas. Jeonghan melihat kembali ke arah ponselnya. Pukul tujuh kurang dua menit.

Ia membuka daftar kontak di ponselnya, lalu ia mengetikkan satu nama dan meneleponnya. Sambil menunggu panggilannya terjawab, ia mulai membuka kotak-kotak besi itu satu persatu.

“Jeonghan! Kau dimana?!”

Belum sempat Jeonghan berkata apa-apa, suara itu sudah menyemprotnya terlebih dahulu.

“Tenanglah, Jisoo. Dengarkan aku sebentar,” ujarnya tajam. “Ahreum sudah datang?”

Ketika jawaban Jisoo tidak sesuai dengan harapannya, ia mendesah pelan. “Ya sudah, tidak apa-apa. Jisoo, dengar. Aku akan menghitung satu sampai tiga, dan pada hitungan ketiga, semua listrik di universitas ini akan padam. Termasuk di teater. Kau mengerti?”

Jisoo sedikit mengomel dan heran akan perbuatan kawannya tersebut, namun Jeonghan tidak mengacuhkannya—karena dalam waktu dua menit kurang, tirai merah akan dibuka. “Siapkan dirimu, Jisoo,” ujar Jeonghan sambil tersenyum

“Satu … dua …”

Tangan Jeonghan sudah memegang kabel yang tertancap di dalam kotak besi, dan ia juga menatap beberapa saklar yang sudah siap untuk dimatikannya.

“Tiga.”

Dan pada detik itu juga, Jeonghan mencabut setiap kabel yang tertancap secara beruntun dan cepat, tidak meyisakannya satu pun. Ia sedikit tersenyum ketika mendengar samar-samar suara ribut lewat ponselnya.

Ya! Apa yang kau lakukan?!”

“Tentu saja menghambat waktu. Apa lagi?”

“Oh baiklah, kau pintar. Dan sekarang apa yang akan kau lakukan jika kau ketahuan? Bahkan kalau misalnya tidak ketahuan pun, bagaimana jika mereka menyalakan kembali listriknya sebelum Ahreum datang? Tunggu, kau tidak mungkin memotong kabelnya, kan?”

“Tidak akan ketahuan. Dan jauhkan pikiran gilamu itu, Jisoo. Aku hanya mencabutnya.”

Jeonghan menatap kunci yang tergantung di dalam ruangan. Lekas, ia meraihya dan mengunci ruangan itu dari luar. Setelah itu, ia melemparkan kuncinya jauh-jauh entah kemana, yang jelas ia tidak peduli.

Ia kembali berlari dalam kegelapan, hendak kembali ke belakang panggung, dimana ia yakin Jisoo akan menyemprotnya habis-habisan.

Jeonghan hanya bisa berharap, Ahreum akan sudah ada bersama dengan mereka ketika sudah ada yang berhasil menemukan kunci itu dan menyalakan listriknya kembali—yang kira-kira membutuhkan waktu mungkin sekitar lima belas menit jika perhitungan Jeonghan tidak salah.

Itu pun kalau Ahreum benar-benar kembali.

-oOo-

Pukul tujuh lewat enam belas menit.

“Selamat, Jeonghan.”

Jeonghan yang sedang menyandar pada dinding di sisi kanan belakang panggung langsung menoleh begitu ia merasa ada yang menepuk pundaknya—meskipun ia yakin matanya tidak akan mengenali sosok yang tengah ditatapnya karena gelapnya ruangan.

“Apa?”

“Selamat untukmu.”

“Selamat apanya, Wonwoo?” tanya Jeonghan setelah mengenali suara itu.

“Kudengar para petugas kebersihan mempunyai kunci cadangan, dan sekarang mereka hendak—”

Belum sempat Wonwoo menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja kegelapan yang menyelimuti mereka selama kurang lebih lima belas menit terakhir hilang dalam sekejap.

Ya. Satu ruangan menjadi terang benderang, dilengkapi dengan suara-suara ribut yang bercampur aduk.

“—menyalakan listriknya. ARGH!” lanjut Wonwoo sambil mengerang frustasi.

Jeonghan hanya menghembuskan nafas berat. Ia masih belum melihat tanda-tanda kedatangan Ahreum.

Kemudian, ia melihat Park-songsaenim yang buru-buru naik ke atas panggung, berdiri di hadapan sekian banyak penonton untuk mengucapkan segala permintaan maaf atas kesalahan teknis yang ada dan lain-lain.

“Selesai sudah. Benar-benar selesai,” ujar Sooyoung yang tiba-tiba saja sudah bersandar di sebelah Jeonghan. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, dan tak lama kemudian tetesan-tetesan air mata mulai berjatuhan.

Melihat itu, Jeonghan merasa kasihan juga pada Sooyoung, sebab gadis itulah salah satu peran yang paling berpengaruh dalam drama ini. Ia ingat, Sooyoung sampai menginap dua malam di teater hanya karena ada properti yang belum selesai. Dan kini usahanya sia-sia.

Jeonghan terdiam melihat anak-anak tim properti selain Sooyoung, menaruh segala jenis properti yang dibutuhkan untuk scene pertama di balik tirai merah.

Kini, video pembuka telah dimainkan. Video itu berisi prolog dari kisah Si Cantik dan Si Buruk Rupa, yaitu asal mula Si Buruk Rupa yang awalnya adalah seorang pangeran, namun ia dikutuk.

Kemudian, Jeonghan melihat tirai yang mulai terbuka. Satu persatu penari balet cilik yang sudah disewa mulai masuk ke panggung dan menari.

Seharusnya, setelah penari-penari ini menarikan beberapa bagian, Ahreum sebagai Si Cantik akan masuk ke panggung dan menyanyikan sebuah lagu, sambil ikut menari bersama anak-anak itu.

“Yoon Jeonghan?”

Jeonghan menoleh, dan kini di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya yang tengah menatapnya dengan pandangan heran. Tatapan dosennya itu semakin menjadi heran ketika melihat Sooyoung menangis di samping Jeonghan.

“Kau kenapa?” tanyanya pada Sooyoung. “Dan Jeonghan, mana Ahreum?”

Mata Jeonghan melebar mendengar pertanyaan itu. Ia berusaha membuka mulut, namun tidak ada suara yang keluar.

Namun, setelah dipikir-pikir lagi, apa gunanya untuk berbohong sekarang? Sudah terlambat. Tidak ada gunanya lagi.

Akhirnya Jeonghan meyakinkan diri, kemudian ia menjawab, “Songsaenim, sebenarnya Ahreum—”

.

.

.

Belum sempat Jeonghan melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ia mendengar sebuah nyanyian merdu.

Suara yang sangat familiar. Suara yang selalu membuatnya merasa lebih tenang.

Jeonghan menoleh ke arah panggung, dan ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Benarkah orang itu …

Hwang Ahreum?

Ini mimpi?

Tidak. Ini bukan mimpi, kan?

Jeonghan masih berusaha meyakinkan diri bahwa ia tidak berhalusinasi, ketika Park-songsaenim tiba-tiba tertawa.

“Ah, maaf. Saya lupa kalau ia masuk lewat sisi sebelah kiri panggung,” ujarnya.

Jeonghan kembali menatap ke arah dosennya itu yang kini tersenyum lebar.

“Baiklah, semoga berhasil,” ujar Park-songsaenim seraya menepuk pundak Jeonghan dan berlalu begitu saja.

Jadi, ia tidak berhalusinasi?

Matanya kembali mengarah pada panggung, dan kini ia sadar.

Yang ada di sana, memanglah Hwang Ahreum.

Jeonghan tak henti-hentinya menghela nafas sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Tuhan dalam hati. Senyumnya mulai mengembang, dan ia menoleh ke arah Jisoo dan Wonwoo yang kini hanya bisa bersandar pada tembok—yang sambil menghembuskan nafas lega juga.

Tatapan Jeonghan beralih ke sisi sebelah kiri panggung, dan di sana sudah ada Mina yang tersenyum pada Jeonghan—dengan sebelah tangannya yang mengacungkan jempol. Lelaki tersebut agak heran dengan sikap yang sepertinya memiliki arti tersendiri tersebut, namun ia hanya balas tersenyum pada Mina.

Kini Jeonghan menoleh ke samping—awalnya ingin memanggil Sooyoung, namun ternyata gadis itu sudah berlutut di lantai dengan kedua telapak tangan sebagai topangannya.

Ya, Sooyoung. Kau tidak apa-apa?” tanya Jeonghan sambil berjongkok, membuat posisi mereka sejajar.

Dengan suara gemetar, Sooyoung menjawab, “Astaga …. Tolong aku …,” ujarnya pelan. “Kakiku benar-benar lemas ….”

Jeonghan tersenyum geli dan membantu Sooyoung berdiri. “Aku tahu jantungmu juga sudah hampir berpindah tempat, tapi ayo tetap berjuang. Fighting!”

-oOo-

Adegan demi adegan berjalan dengan lancar, bahkan tidak sedikit juga penonton yang terpana ketika adegan yang menunjukkan bahwa ada cinta mulai tumbuh di antara Si Cantik dan Si Buruk Rupa sedang ditampilkan. Bahkan ayah Jeonghan juga. Dalam hati, ia memuji kemampuan puteranya yang telah berkembang pesat itu.

Satu persatu adegan mereka pentaskan dengan sukses, hingga sampai di adegan dimana Si Cantik menghabiskan sebuah malam yang romantis dengan Si Buruk Rupa. Ahreum berdansa dengan Jeonghan, ditemani oleh musik yang lembut, mengalunkan lagu Tale As Old As Time.

“Astaga, kenapa aku jadi berdebar-debar begini?” desis Mina pada Sooyoung di belakang panggung. “Kau lihat tatapan mata Jeonghan pada Ahreum? Itu seperti … seperti …”

“Seperti orang yang sedang jatuh cinta,” sahut Sooyoung. Ia yakin kalau wajahnya kini sudah memerah akibat melihat adegan tersebut.

“Salah.”

Sooyoung dan Mina sontak langsung mengalihkan pandangan pada sumber suara. Ternyata Wonwoo.

“Hah?” tanya Sooyoung bingung.

“Salah. Tatapan itu bukan seperti tatapan orang yang sedang jatuh cinta, namun Jeonghan memang benar-benar sudah jatuh cinta pada Ahreum. Bukankah begitu, Jisoo?”

Di belakang Wonwoo, Jisoo hanya tersenyum geli melihat ekspresi terkesiap dari Mina dan Sooyoung. Kemudian, ia berbisik pada Wonwoo, “Sekarang aku yakin, Jeonghan tidak hanya akan lulus saja.”

Wonwoo hanya balas menatapnya dengan bingung, sehingga Jisoo melanjutkan, “Tiga besar. Aku bertaruh ia akan masuk peringkat tiga besar. Kau mengerti maksudku, kan?”

Setelah Jisoo mengatakan itu, barulah Wonwoo tersadar. Ia tertawa kecil dan mengangguk-angguk.

Lelaki bersurai panjang itu dapat dipastikan akan segera menemui ibunya.

-oOo-

Kini mereka telah sampai pada adegan terakhir, dimana Gaston akan menyerang Si Buruk Rupa di atap istana. Semua mata terpaku pada scene yang mendebarkan hati itu, tak terkecuali orang-orang yang berada di belakang panggung.

Sooyoung yang berdiri di sisi sebelah kanan panggung juga ikut terpana melihat Jeonghan dan Wonwoo yang berakting dengan sangat baik. Namun, tiba-tiba saja matanya menangkap sesuatu yang aneh. Ia memicingkan matanya ke sisi sebelah kiri panggung, berusaha memperjelas apa yang dilihatnya.

“Mingyu?” gumamnya heran.

Sooyoung melihat Mingyu yang sedang celingukan, kemudian berlari ke arah belakang, lalu menaiki tangga menuju lantai atas teater.

Tunggu dulu. Apa yang akan dilakukannya?

Memang, tugas dari tim properti sudah hampir selesai karena ini adalah adegan terakhir—yang tersisa hanyalah mengaktifkan alat pengeluar asap saat Si Buruk Rupa berubah menjadi pangeran nanti. Namun, tidak ada lagi tugas tim properti yang harus dikerjakan dari lantai dua.

Lalu mau apa anak itu? Ke toilet? Tidak mungkin. Tidak ada toilet di lantai dua.

Lantai dua hanya diperuntukkan untuk membantu tim properti dalam mengatur properti drama, seperti untuk properti-properti yang harus digantungkan pada langit-langit. Maka dari itu, lantai dua teater bentuknya tidak meluas, namun hanya melingkar mengitari panggung.

Karena penasaran, akhirnya Sooyoung melangkahkan kakinya ke tangga juga, lalu naik.

Sesampainya di atas, Sooyoung melihat ke sekitarnya. Di sana ia hanya bisa melihat chandelier besar yang sudah dinaikan—yang tadinya diturunkan ke panggung saat Si Cantik berdansa dengan Si Buruk Rupa, dan juga saat beberapa scene lain yang berlatar di dalam istana ditampilkan.

Kemudian matanya menangkap sosok seseorang bertubuh jangkung. Sosok itu tengah berdiri tepat di hadapan gulungan tali tambang yang fungsinya untuk menahan chandelier yang tergantung .

Sooyoung kembali melihat ke bawah, dan di sana sudah hampir mencapai bagian klimaks—sebentar lagi Gaston akan menusuk Si Buruk Rupa dengan pisaunya, dan kemudian Gaston akan terpeleset dan terjatuh dari atap.

Sooyoung kembali menatap Mingyu, dan ia sudah membuka mulut—ingin bertanya apa yang sedang dilakukan laki-laki itu di sana.

Tetapi, Sooyoung tiba-tiba menjadi diam terpaku. Matanya melebar, dan jantungnya berdetak begitu cepat, ketika melihat Mingyu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

Sebuah pisau.

Sooyoung semakin membelalak ketika Mingyu mengarahkan pisau itu pada tali chandelier.

Ya! Apa yang kau lakukan?”

Teriakan itu membuat Mingyu menoleh ke sumber suara, kemudian ia menatap Sooyoung dingin. “Membebaskan Ahreum dari kutukan Si Buruk Rupa. Kau pikir?”

Sooyoung ternganga dan kehilangan kata-katanya. Saat Mingyu mulai mendekatkan pisau itu lagi ke arah tali, ia kembali berteriak, “Kau sudah gila?! Chandelier itu sebagian besar terbuat dari kaca, Mingyu! Jika lampu raksasa itu jatuh, mereka bertiga bisa mati!”

Gadis itu mengalihkan pandangannya ke bawah lagi, dan kini sedang berlangsung adegan dimana Gaston pura-pura meminta ampun pada Si Buruk Rupa yang hendak menjatuhkannya dari atas atap.

Mingyu terdiam sejenak, terlihat seperi berpikir. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi dingin lagi. “Memangnya aku peduli?” tanya Mingyu sinis. “Gadis mana pun yang kucintai, pasti akan hilang akibat laki-laki terkutuk itu, kau tahu!” teriak Mingyu emosi.

“Hah?” Sooyoung mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti. Ia berpikir sejenak, dan beberapa detik kemudian ia merasa dapat memahami maksud Mingyu. “Min Hyeri dan … Ahreum?”

“Ya! Ya, kau benar. Hyeri dan Ahreum. Keduanya telah pergi dariku karena kutukan dari laki-laki sialan itu. Dia—”

“Kutukan apa, sih?!” kini Sooyoung yang mulai emosi karena omongan Mingyu yang tak masuk akal dan lebih terdengar seperti menghayal. “Dengarkan aku, Mingyu. Mungkin kau melakukan ini karena kau ingin mengenyahkan Jeonghan, tapi di bawah sana juga ada Ahreum dan Wonwoo! Kau percaya bila Jeonghan punya kutukan, dan kau ingin membebaskan Ahreum, iya kan? Tapi apa gunanya kalau Ahreum mati, bodoh?!”

Mingyu hanya tertawa kecil mendengarnya. Sebuah tawa yang miris. “Ah, benar juga.” Mingyu mengangkat kedua alisnya, kemudian menyunggingkan sebuah senyuman.

Senyuman paling mengerikan yang pernah Sooyoung lihat meskipun ia yakin kalau Mingyu itu tampan.

“Yah, baru saja terpikir olehku—apa gunanya lagi, hm?”

Sebuah kalimat yang sama dengan milik Sooyoung, namun memiliki makna yang berbeda.

“Sudah tidak ada gunanya berharap. Gadis itu sudah terlanjur jatuh dalam kutukan Jeonghan. Ia jatuh cinta pada Jeonghan, kan? IYA, KAN?!”

Sooyoung hanya bisa terdiam mendengarnya. Tangan dan kakinya gemetaran, merasa takut dengan lelaki jangkung yang berdiri tepat di hadapannya. Ia tidak menyangka bahwa Kim Mingyu ternyata bisa sekejam itu. Sooyoung melirik ke bawah lagi, dan sekarang adegan klimaks telah tercapai.

Gaston telah menusukkan pisaunya ke perut Si Buruk Rupa, dan sebentar lagi Gaston akan jatuh ke belakang, di mana tim properti sudah menyiapkan kasur.

Well, kalau Ahreum memang sudah jatuh cinta sedalam itu, kurasa mati bersama-sama dengan laki-laki itu bukanlah hal yang buruk untuknya.”

Sooyoung kembali membelalakkan matanya, dan kini Mingyu tengah memotong tali itu dengan menggesek-gesekkan pisaunya berkali-kali.

Ya! Jangan, Mingyu!”

Sooyoung berlari sekencang mungkin ke arah Mingyu, namun terlambat.

Saat gadis itu menarik tangan Mingyu yang memegang pisau, tali itu terputus.

.

.

.

“AHREUM! AWAS!”

tbc.
-oOo-

~EPILOG~

Pukul tujuh lewat sebelas menit.

Ahreum hanya bisa mendengus pasrah di dalam taksi. Kini, ia sudah cukup dekat dengan universitasnya, namun kini apa gunanya?

Pasti banyak penonton yang akan kecewa, begitu pula dengan Park-songsaenim dan teman-teman sekelasnya yang tidak akan kalah kecewa terhadap dirinya. Ia agak menyesali keputusannya tadi untuk pergi, dan kini ia hanya bisa pasrah.

Tak lama kemudian, ia sampai. Setelah membayar taksi dan mengucapkan terima kasih, Ahreum berjalan dengan lemas hendak memasuki universitasnya.

Namun, seketika itu juga matanya membelalak, melihat gedung di hadapannya yang seperti tanpa kehidupan itu. Benar-benar gelap gulita. Apa semua orang sudah pulang? Tidak mungkin, ini baru lewat sepuluh menit dari waktu pertunjukkan.

Tanpa berpikir panjang lagi, Ahreum segera berlari secepat mungkin ke arah pintu belakang teater, yang mengarah pada ruang tunggu. Ia berdoa agar ia tidak tersandung atau terpeleset atau apa pun, karena keadaannya benar-benar gelap.

Dalam kurun waktu satu menit, ia sampai di sana dan langsung membuka pintunya dengan sekali sentakan.

Samar-samar, dilihatnya seseorang dengan rambut sepunggung sedang duduk di sebuah kursi meja rias. Orang itu menoleh ke arahnya dan berdiri. Setelah beberapa detik, akhirnya Ahreum mulai mengenal sosok itu.

“Mina?”

Sosok itu mendekati Ahreum. Memang gelap, namun Ahreum dapat melihat kegembiraan yang terpancar dari wajahnya.

“Ahreum! Kenapa kau lama sekali? Cepatlah, akan kubantu kau memakai kostummu. Tunggu sebentar, akan kuambilkan senter.”

“Mina, apa yang terjadi dengan listriknya?”

Mina yang telah menemukan senter kini menyalakannya. “Ceritanya panjang. Yang jelas ini ulah dari ‘pangeran’mu itu, kau tahu? Dia— YA! APA YANG TERJADI DENGAN RIASANMU, AHREUM?!”

-oOo-

*This story is inspired from a classic fairy tale by Jeanne-Marie Leprince de Beaumont,
Beauty and the Beast.


Untuk chapter selanjutnya last chapter ya^^ Enjoy the reading♥

Advertisements

One thought on “A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9)

  1. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Last Chapter) | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s