A Story of Beauty and the Beast (Chapter 8)

PicsArt_07-14-03.42

A Story of Beauty and the Beast (Chapter 8)

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan (Seventeen), Hwang Ahreum (OC), & Others

Romance

PG-15

Chaptered

Previous :

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

“Kau menyukai laki-laki yang bernama Jeonghan itu. Iya, kan?”

-oOo-

Usai sarapan dan berganti pakaian—Ahreum, Jeonghan, Wonwoo, dan Jisoo segera berangkat untuk melakukan gladi bersih yang akan dimulai pada pukul delapan pagi.

Perlengkapan drama mereka sudah dibawa ke teater beberapa hari sebelumnya—sehinga mereka hanya perlu membawa sedikit barang pribadi dan perlengkapan mandi. Tentunya, mereka sudah pasti tidak akan pulang sampai tengah malam.

Saat gladi bersih terakhir, semuanya benar-benar berjalan dengan lancar. Para pemain sudah dapat memerankan peran mereka masing-masing dengan maksimal. Tim properti dan backstage juga telah menjalankan tugas mereka di belakang panggung dengan baik.

Kira-kira pukul dua setelah makan siang, tim make up artist mulai sibuk. Mereka mulai mendandani para pemain satu persatu, dan yang paling diutamakan tentunya adalah Jeonghan dan para pegawai istana lainnya yang juga dikutuk menjadi benda-benda seperti tempat lilin, jam, teko, gelas, dan lain-lain. Merias mereka tentunya memakan waktu yang cukup lama.

Mina langsung memulaskan body painting pada wajah mereka, sehingga ekspresi dan mimik wajah dari para pemain itu masih bisa kelihatan. Dan untuk Jeonghan, Mina memakai sebuah lembaran tipis yang menyerupai masker, sebagai alas untuk merias.

Karena di akhir cerita, Jeonghan sebagai Si Buruk Rupa akan berubah menjadi pangeran tampan, dan perubahan itu harus dilakukan dengan cepat. Mina menggunakan kembaran tipis itu agar Jeonghan mudah melepasnya dan tidak memerlukan waktu yang lama. Selain itu, mimik wajah dan ekspresi Jeonghan juga masih bisa kelihatan. Sebuah pemikiran yang pintar menurut Ahreum.

Selain itu, ia juga menggunakan beberapa 3D implants pada beberapa pemain, sehingga mereka tampak seperti makhluk jadi-jadian sungguhan.

Akhirnya, tiba giliran Ahreum untuk dirias. Yang merias Ahreum adalah Yiseul—yang dibantu oleh saudara kembarnya—Yuri, yang akan menata rambutnya.

“Siap untuk menjadi ‘Tuan Putri’?” tanya Yiseul.

-oOo-

Riasan Ahreum baru setengah selesai ketika ponsel Ahreum berbunyi. Ahreum meminta tolong Jisoo yang kebetulan lewat untuk mengambilkan ponselnya di dalam tas, karena ia sendiri sedang tidak bisa meraih tasnya.

“Dari ibumu,” ujar Jisoo sambil menyerahkan ponsel Ahreum.

“Ibuku?” tanya Ahreum heran. “Baiklah, terima kasih Jisoo.”

Jisoo tersenyum dan berlalu pergi, sedangkan Ahreum menatap ponselnya sebentar, lalu menggeser tombol hijau pada layarnya. “Ya, Eomma?”

Namun Ahreum terkejut saat ia mendengar suara yang di ujung sana ternyata bukanlah suara ibunya. Ia menggerakkan tangan ke arah Yiseul dan Yuri, sehingga kedua gadis itu langsung berhenti sejenak mendandani Ahreum.

Ahreum berdiri, lalu menjauh dari keramaian dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.

“Ini siapa? … Oh, Bibi …” Perasaan bingung Ahreum agak menghilang ketika tahu bahwa yang meneleponnya itu adalah Bibi Han, tetangga ibunya sendiri. Namun ia kemudian heran lagi, mengapa harus menggunakan ponsel ibunya?

“Ya, ini Ahreum. Ada a—”

Belum sempat Ahreum menyelesaikan pertanyaannya, tetangga ibunya itu sudah membuka suara terlebih dahulu, buru-buru memberikan penjelasan yang membuat wajah Ahreum makin lama makin memucat.

EoEomma? … Rumah sakit mana?… Ya, ya … Baiklah … Ya, aku mengerti. Terima kasih ….”

Kemudian sambungan terputus. Tangan Ahreum gemetaran, dan wajahnya benar-benar pucat sekarang. Di kepalanya terngiang-ngiang kata-kata dari Bibi Han.

“Sekitar dua jam yang lalu, ibumu jatuh pingsan di depan rumahnya. Beruntung, ada yang melihatnya dan kami langsung membawa ibumu ke rumah sakit. Rumah sakit tempat ibumu biasanya berobat, Ahreum. Tadi dokter bilang ada kemungkinan jika penyakit paru-paru ibumu kambuh.”

Takut bercampur menjadi satu dengan perasaan gelisah, menyebabkan keringat dingin mulai menetes di dahinya. Ia takut. Sangat takut. Karena, ia hanya mempunyai ibunya sekarang. Sang ayah telah tiada sejak bertahun-tahun yang lalu.

Ia takut apabila terjadi apa-apa.

Kini, Ahreum menyesal. Demi keinginannya untuk masuk ke universitasnya sekarang, ia harus tinggal jauh dari ibunya, karena ibunya juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Dan sekarang, Ahreum benar-benar panik. Tidak bisa melihat ibunya lagi? Itu adalah hal paling mengerikan yang pernah ia bayangkan.

Namun, apa yang bisa diperbuatnya? Ia menatap ponselnya kembali, dan jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Meskipun acaranya masih tiga setengah jam lagi, namun sudah tidak mungkin bagi Ahreum untuk pergi melihat ibunya. Akhirnya, ia kembali ke meja riasnya, dimana Yiseul dan Yuri sudah menunggunya.

“Kenapa, Ahreum? Ada masalah?” tanya Yuri hati-hati.

Ahreum hanya merespon dengan gelengan pelan sambil tersenyum dan kembali duduk, meskipun hatinya benar-benar jauh dari kata tenang.

-oOo-

Ahreum kembali menatap ponselnya. Pukul empat lebih tiga menit.

Yiseul dan Yuri telah selesai meriasnya, dan kini ia hanya tinggal berganti kostum. Ahreum terduduk di sofa backstage sambil terus-terusan memainkan jari dan menggerak-gerakkan kakinya. Kentara sekali kalau ia gelisah.

Sementara itu, Jeonghan yang kini telah selesai dirias oleh Mina langsung dikerumuni teman-teman sekelasnya. Mereka berdecak kagum atas hasil karya Mina, karena Jeonghan benar-benar tampak seperti tokoh Si Buruk Rupa yang ada dalam kartun. Tidak sedikit dari mereka yang terperangah bahkan tertawa akibat heran sekaligus takjub.

Jeonghan hanya meresponi mereka dengan senyuman, namun kedua manik itu tak henti-hentinya berkeliaran mencari sosok ‘Tuan Putri’nya. Beberapa sekon terlewat, dan akhirnya ia tersenyum lebar saat menemukan ‘Sang Tuan Putri’ yang sedang duduk sendirian di sofa.

Ia menerobos kerumunan itu pelan-pelan sambil berkali-kali mengatakan ‘permisi’, lalu ia menuju ke arah sofa dan langsung duduk di sebelah Ahreum.

Awalnya Jeonghan tersenyum, namun dalam sekejap senyuman itu hilang, berkat melihat wajah Ahreum yang pucat pasi. “Hei, kau kenapa?”

Ahreum menoleh pelan ke arah Jeonghan, dan ternyata kedua matanya sudah berkaca-kaca.

“Kau kenapa, Ahreum?”

“Jeonghan …,” panggil Ahreum lemas. “Aku harus bagaimana?” bisiknya pelan.

“A … apanya yang bagaimana?” tanya Jeonghan yang masih bingung.

“Aku harus bagaimana, Jeonghan?”

Kini Ahreum mulai menunduk sambil terisak pelan, membuat laki-laki di sampingnya langsung membelalak.

Ya! Jangan menangis— Aduh, nanti riasanmu luntur, tahu! Bisa belepotan nanti!”

Ahreum yang mendengar suara Jeonghan yang gelagapan langsung tersadar, lalu mengangkat kepalanya dan berhenti terisak. Ia mengusap air matanya pelan-pelan, kemudian terkekeh—masih dengan suara serak khas orang habis menangis.

Jeonghan semakin bingung dibuatnya. Barusan saja menangis kok tiba-tiba sudah tertawa?

“Tidak luntur, ah. Ini waterproof,” jawab Ahreum.

Oh, baiklah. Sekarang Jeonghan yang merasa konyol di hadapan Ahreum. Namun, ia tetap tersenyum. Setidaknya tangisan Ahreum berhenti akibat kekonyolannya itu.

“Jawab aku, Ahreum. Kau kenapa?” tanya Jeonghan lembut.

Ahreum menghela nafas, lalu ia menceritakan masalahnya pada Jeonghan. Mulai dari ibunya yang tidak sadarkan diri, sampai ia sendiri yang ketakutan setengah mati sekarang dan tidak tahu harus berbuat apa.

Melihat Ahreum yang kini begitu frustasi, membuat hati Jeonghan terasa seperti ditusuk-tusuk. Sejenak, Jeonghan juga bingung harus berbuat apa, namun hanya dalam waktu beberapa detik, akhirnya Jeonghan mampu membuka suara.

“Pergilah.”

Ahreum melebarkan kedua matanya mendengar jawaban Jeonghan. Pergi? Untuk saat ini? Dengan tidak yakin Ahreum bertanya, “Apa kau bilang?”

“Pergilah. Pergilah sebelum kau menyesal, Ahreum.”

Ahreum menatap lurus-lurus mata Jeonghan, dan dari sana ia mengetahui bahwa laki-laki itu serius. Namun, ia menggeleng.

“Kau tahu itu tidak mungkin,” balas Ahreum. “Tiga jam lagi dramanya akan dimulai. Rumah sakitnya terlalu jauh. Lagipula, aku juga harus bersikap profesional, Jeonghan. Aku tidak bisa meninggalkan drama ini begitu saja.”

Ya, Ahreum merasa bahwa ia tidak bisa seenak dirinya sendiri setelah melihat kalau yang berjuang bukanlah dirinya sendiri, melainkan juga puluhan mahasiswa yang lain.

“Dan ini juga ujian akhir. Kalau tokoh utamanya saja tidak ada, bagaimana dramanya bisa berjalan? Pikirkan juga teman-teman yang lain. Mereka sudah berusaha—”

Ahreum tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba saja Jeonghan meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Ahreum. “Aku tidak bilang kau harus meninggalkan drama, Ahreum,” ujar Jeonghan sambil tersenyum.

Mata Ahreum yang tadinya menyiratkan kepanikan, langsung melembut ketika melihat Jeonghan tersenyum. Meskipun laki-laki itu tampangnya sudah persis seperti Si Buruk Rupa, namun kehangatan dibalik senyumannya itu masih tetap terasa.

“Pergilah sekarang, Ahreum. Selama masih ada waktu. Berdoa saja di sepanjang jalan, supaya ibumu baik-baik saja dan jalanan tidak padat, supaya tidak menghambat waktu. Soal teman-teman dan Park-songsaenim, biar aku saja yang mengurus mereka.”

Ahreum sudah membuka mulut lagi hendak protes, namun Jeonghan langsung menyahut. “Tolonglah, Ahreum. Aku tidak ingin kau kehilangan ibumu sama seperti aku yang telah kehilangan ibuku.”

Ahreum terdiam mendengarnya. Kini, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Ia kembali melihat jam di ponselnya, pukul empat lewat sepuluh menit. Ia kembali menatap Jeonghan lalu tersenyum, dan kini ia telah memutuskan.

“Baiklah, aku pergi dulu.”

Dan ia harap ia tidak akan menyesali keputusannya itu.

Setelah itu, Ahreum beranjak dari sofa dan melangkah menuju pintu keluar. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti, dan kemudian ia berbalik menatap Jeonghan yang juga tengah menatapnya. Tanpa disangka-sangka, Ahreum menghampiri Jeonghan kembali, dan dengan sebuah gerakan cepat, gadis itu membawa Jeonghan ke dalam sebuah dekap.

“Terima kasih, Jeonghan. Aku pasti akan kembali, aku berjanji,” bisik Ahreum di dekat telinga laki-laki itu, dan kemudian ia langsung melapaskan pelukannya dan berlalu pergi.

Jeonghan tersenyum kecil melihatnya dan mengehela nafas. Ia bersandar pada sofa, dan kini ia hanya benar-benar bisa berharap.

Berharap agar semuanya akan tetap baik-baik saja.

Lamunan Jeonghan buyar saat ia menyadari ada yang duduk tepat di sebelahnya. Ia menoleh, dan menatap Wonwoo yang kini juga telah selesai dirias. “Mana Ahreum? Tadi ia bersamamu, kan?” tanya Wonwoo.

Jeonghan tersenyum sekilas. “Ke toilet.”

-oOo-

Setelah membayar taksi yang ditumpanginya dan mengucapkan terima kasih, Ahreum berlari, melesat masuk ke dalam rumah sakit. Ia kembali membuka ponselnya dan jam sudah menunjukkan pukul lima lewat lima menit.

Ia mengumpat dalam hati. Sepanjang perjalanan tadi, ia begitu gelisah dan ketakutan sampai-sampai membuatnya merasa mual. Jarak dari universitasnya ke rumah sakit memang begitu jauh. Waktu yang diperlukan hampir mencapai satu jam, meskipun jalannya tidak terlalu padat.

Ahreum langsung menuju ke meja resepsionis dan menanyakan kamar ibunya. Setelah mengetahui nomor kamarnya, ia langsung berlari menuju kamar tersebut. Setelah beberapa saat, langkahnya terhenti di sebuah kamar dan dengan perlahan ia mengetuk kamar itu, lalu membukanya.

Saat melangkah masuk, dilihatnya ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang. Ibu Ahreum menoleh pelan saat mendengar pintu dibuka, dan kemudian ia membelalak saat mengetahui bahwa yang datang adalah putrinya sendiri.

“Ahreum?” tanyanya heran. “Apa yang kau lakukan— Hei, bagaimana dengan dramamu, Sayang?”

Ahreum hanya menggeleng, tidak mengacuhkan pertanyaan ibunya. “Bagaimana keadaan Eomma? tanya Ahreum seraya berlari menghampiri ibunya.

Ahreum memegang tangan ibunya yang terbaring lemah. Terasa dingin. Kulitnya pun begitu pucat. Meski begitu, wanita itu tetap tersenyum lemah. Senyum yang memancarkan kehangatan seorang ibu.

Wanita itu menggeleng. “Eomma tidak apa-apa, Ahreum. Hanya sedikit kambuh.”

Melihat ibunya yang begitu rapuh, membuat Ahreum tak dapat menahan air matanya lagi. Sosok yang berada di hadapannya ini begitu lembut. Begitu baik. Begitu sayang padanya. Namun, apa yang menjadi balasan Ahreum?

Ibunya selalu ada untuknya, namun tidak dengan dirinya. Ibunya selalu memikirkannya siang dan malam, meskipun Ahreum tidak selalu bersamanya. Memikirkan kenyataan itu membuat hati Ahreum semakin tersayat.

Sambil terisak, Ahreum menggenggam tangan itu erat-erat. Kemudian, ia memeluk ibunya yang masih dalam keadaan berbaring.

“Ahreum, kenapa menangis? Eomma tidak apa-apa, tenanglah. Besok Eomma pasti sudah bisa pulang. Jangan menangis, Sayang. Ya?”

Ibunya tidak mengerti. Bukan itu yang membuat hatinya merasa nyeri sekarang. Ahreum teringat. Saat hendak lulus sekolah menengah akhir, Ahreum yang meminta untuk masuk ke universitasnya yang sekarang ini. Awalnya ibunya ragu, karena itu berarti mereka harus tinggal berjauhan.

Namun, dirinya tetap memaksa, dengan pikiran sekalian untuk melatih kemandiriannya. Dan tinggal jauh dari ibunya, itu juga berarti ia bisa bebas. Berkumpul bersama teman-temannya, pulang larut malam—tanpa kehadiran ibunya, ia bebas untuk melakukan semua itu.

Namun, sekarang Ahreum benar-benar merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Bahkan, kapan terakhir kali ia menghubungi ibunya untuk sekedar menanyakan kabar, dan bukannya karena perlu sesuatu? Ahreum tidak ingat.

“Maaf …” bisik Ahreum gemetar. “Maaf, Eomma. Aku minta maaf …”

Ibu Ahreum sempat terdiam sejenak, namun perlahan ia mulai mengerti. Wanita itu membelai lembut rambut Ahreum, kemudian menepuk-nepuk punggung gadis itu perlahan. “Iya, tidak apa-apa, Sayang.”

Ahreum melepas pelukannya dan menatap wajah ibunya dari jarak dekat. Ibunya mengulurkan tangan, menghapus air mata Ahreum dengan jari-jarinya yang dingin.

“Nah, begini lebih cantik,” ujar wanita itu sambil tersenyum menatap wajah Ahreum sudah bersih dari air mata, walaupun masih agak sembap.

“Sekarang ceritakan semuanya pada Eomma. Bagaimana kabarmu? Apa saja yang akhir-akhir ini kau lakukan, Sayang?”

Dengan begitu, Ahreum menceritakan segala hal yang telah di alaminya saat memasuki tahun ketiganya di universitas. Mulai dari ia yang masih dekat dengan Mina dan Sooyoung, kehidupan perkuliahannya, ujian-ujian yang membuatnya depresi, teman-teman sekelasnya yang kocak, ujian akhir drama Si Cantik dan Si Buruk Rupa, sampai perkenalannya dengan Yoon Jeonghan.

Ibunya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut anak gadisnya dengan antusias, terutama saat bagian Ahreum yang ‘ditawan’ oleh Jeonghan di rumahnya.

Ahreum menceritakan setiap detail dari segala hal yang ia alami saat tinggal di rumah Jeonghan, sampai saat mereka sudah kembali masuk kuliah dan kejadian sebelum Ahreum pergi ke rumah sakit. Banyak emosi yang keluar saat Ahreum menceritakan bagian demi bagian, dan itu membuat ibunya sadar akan satu hal.

“Tunggu dulu,” sela ibu Ahreum. “Jadi, kau menyukai laki-laki ini. Benar tidak?”

“Eh?”

Ahreum ternganga atas konklusi yang baru saja diucapkan ibunya. Melihat ekspresi anak gadisnya, wanita itu tertawa pelan.

“Yah, jelas sekali terlihat. Kau menyukai laki-laki yang bernama Jeonghan itu. Iya, kan?”

Ahreum masih saja terdiam, namun tak lama kemudian ia ikut terkekeh pelan. “Well, kurasa juga begitu. Ia laki-laki yang baik, Eomma.”

Tiba-tiba saja Ahreum teringat.

Dramanya.

Ia sempat mengumpat dalam hati sebelum melihat jam di ponselnya dengan takut-takut. Dan saat ia membuka ponselnya, waktu yang tertera di sana membuat kedua matanya membelalak seketika.

Pukul enam lewat tujuh belas menit.

Ahreum mulai panik lagi sekarang. Ia tidak ingin meninggalkan ibunya, dan lagipula pasti terlambat apabila ia kembali ke universitasnya. Namun di satu sisi, ia juga berpikir bagaimana nasib teman-teman sekelasnya? Dan … bagaimana dengan janjinya pada Jeonghan?

“Ah, Ahreum. Omong-omong, dramamu akan dimulai pukul berapa?”

Nah, tepat sekali ibunya bertanya seperti itu. Ahreum diam sejenak sambil menggigit bibir. Kemudian, dengan takut-takut ia menjawab, “Pukul … tujuh ….”

Ya, cepatlah kembali ke sana, Ahreum! Kau tokoh utama, kan? Bagaimana dramanya bis—”

“Iya, Eomma …, aku tahu …,” jawab Ahreum lemas. “Tapi bagaimana dengan Eomma?”

Ibu Ahreum hanya tersenyum kecil sambil berkata, “Sudah, Eomma tidak apa-apa, Sayang. Lagipula, ada Nyonya Han yang menjaga—ia tetangga yang baik, omong-omong.”

Ahreum masih menatap ibunya dengan tidak yakin, sampai akhirnya ibunya mendesah.

“Percayalah pada Eomma. Ya?”

Akhirnya hati Ahreum melemah mendengar kata-kata ibunya. Sekali lagi, Ahreum memeluk ibunya yang masih terbaring.

Eomma minta maaf karena tidak bisa datang, padahal Eomma sudah berjanji tadi pagi.”
Ahreum hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.

“Tidak masalah. Cepat sembuh ya, Eomma.”

-oOo-

Jeonghan mengehentak-hentakkan kakinya pelan sambil duduk pada sofa di belakang panggung. Ia terus-terusan memainkan jari-jarinya, dan tak dapat dipungkiri bahwa jantungnya sedang berdetak dengan sangat cepat. Takut? Mungkin. Gugup? Tidak terlalu. Panik? Pastinya.

Panik karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh dan Ahreum belum juga menunjukkan batang hidungnya. Ia sudah mencoba untuk menghubungi Ahreum, namun ponsel gadis itu tidak aktif. Jeonghan mengerang dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.

“Hei, kau kenapa? Gugup?”

Jeonghan menoleh, dan kini di samping sudah ada seorang kawannya tampak menggelikan dengan kostum Lumiere—berbentuk seperti tempat lilin dan lengkap pula dengan lilinnya. Hanya saja, Jeonghan sama sekali tidak bisa tertawa sekarang.

Ia hanya menatap Jisoo sekilas, lalu menghembuskan nafas berat. Hatinya sendiri tidak tahu harus bagaimana. Tetap berharap atau pasrah dengan keadaan. Tetapi, mungkin hatinya lebih cenderung pada pilihan nomor dua sekarang.

“Omong-omong, mana Ahreum? Terakhir kali aku melihatnya saat ia keluar dari ruang ini. Wonwoo tadi bilang, katamu ia ke toilet.”

Jeonghan kembali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, berusaha untuk menenangkan detak jantungnya yang berhasil membuatnya mual.

“Jeonghan? Kau kenapa, sih?”

Tanpa menatap Jisoo, akhirnya Jeonghan membuka mulutnya, menjawab sahabatnya yang kebingungan itu dengan suara pelan.

“Aku membiarkannya pergi.”

“Hah?” tanya Jisoo yang gagal paham. “Pergi ke mana? Toilet? Apa, sih?”

Jeonghan menggeleng. “Ibunya dilarikan ke rumah sakit. Aku membiarkannya pergi melihat ibunya.”

Jisoo terdiam sejenak, berusaha mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari mulut temannya itu. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar.

Karena Jisoo ingat, saat hari pertama Ahreum tinggal di rumah Jeonghan, gadis itu mengobrol banyak dengannya.

Jisoo tahu perihal ibu Ahreum yang tinggal sendirian dan mempunyai penyakit akut, sehingga harus rutin memeriksakan penyakitnya itu ke dokter. Ahreum juga menyebutkan dimana ibunya tinggal dan juga nama rumah sakit yang sudah menjadi langganannya. Dan seingat Jisoo, keduanya terletak cukup jauh dari universitas mereka. Dan itu berarti …

“Apa?” tanya Jisoo pelan, nyaris tak bersuara. “Tapi, kenapa? Bagaimana dengan … dengan dramanya? Kenapa kau membiarkannya pergi?”

Sejenak keheningan menyelimuti mereka, dan Jeonghan masih menatap ke depan dengan pandangan kosong. Perlahan, laki-laki bersurai sebahu itu menoleh ke arah Jisoo, lalu menjawab temannya yang kebingungan itu dengan suara terlampau pelan.

“Karena aku mencintainya.”

Jisoo hanya bisa ternganga menatap Jeonghan, tidak dapat berkata apa-apa lagi. Kini ia ikut panik.

Akhirnya Jisoo hanya bisa mengerang sambil memegangi kepalanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, namun ia juga merasa bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu, bagaimana nasib drama mereka sekarang?

tbc.
-oOo-

*This story is inspired from a classic fairy tale by Jeanne-Marie Leprince de Beaumont,
Beauty and the Beast.

Advertisements

2 thoughts on “A Story of Beauty and the Beast (Chapter 8)

  1. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9) | ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Last Chapter) | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s