Same

tumblr_oi546dp36e1t9n75fo1_500

Same

story by Rosé Blanche

Kwon Soonyoung (Seventeen), Hirai Momo (Twice) & Others

AU, School-life, Friendship, Fluff

G

Ficlet

He looks exactly the same.

-oOo-

Semua ini adalah sebuah kebiasaan untuk Soonyoung.

Waktu yang sama, tempat tujuan yang sama. Soonyoung akan selalu berkunjung ke kelas gadis itu tiap kali jam istirahat. Bukankah itu adalah hal wajar untuk seseorang yang sedang jatuh cinta?

“Soonyoung!”

Seketika, panggilan itu membuat langkahnya terhenti, lalu berpaling.

“Ke kelas Momo lagi?”

Soonyoung tidak menjawab, hanya membalas pertanyaan itu dengan sebuah cengiran, yang kemudian disambut dengan decakan Jun.

Well, aku tahu kau sedang dimabuk cinta, Soonyoung. Terlebih lagi karena rambut barumu itu, kutebak pasti kau mau pamer pada Momo. Iya, kan?”

Ucapan Jun tepat sasaran, dan Soonyoung hanya bisa menatapnya dalam diam.

“Aku mengerti, Soonyoung. Hanya saja, tolong jangan lupakan tugas kelompok kita! Waktunya hanya tersisa seminggu lagi dan kita masih belum mengerjakan apa-apa, kau tahu?”

“Ayolah, Jun. Istirahat kedua saja, ya? Ya, ya?”

“Nanti waktunya tidak— Hei, Soonyoung!”

Jun hanya bisa ternganga melihat mimik wajah Soonyoung yang telah dibuat sangat memelas itu, dan sebuah umpatan pun meluncur dari mulutnya tatkala kawannya itu langsung saja meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Sementara itu, Soonyoung langsung meluncur ke kelas di ujung koridor, ingin cepat bertemu dengan sang pujaan hati.

Ketika tungkainya telah mencapai tempat tujuan, kedua maniknya langsung menelusuri tiap sudut kelas, dan ditemukannya sosok itu. Sosok gadis manis yang sedang berdiri di samping meja sambil menggambar sesuatu di sebuah kertas besar.

“Momo.”

Panggilan itu membuat sang gadis Jepang menoleh sejenak—kurang lebih dua detik—dan setelah itu pandangannya kembali fokus pada kertas di atas meja.

“Oh, Soonyoung. Ada apa?” tanyanya tanpa melepaskan pandangan dari kertasnya.

Soonyoung hanya menggeleng, kemudian bertanya kembali, “Kau sedang membuat apa?”

“Daftar menu untuk festival besok. Kelasku akan membuka kafe,” jawab Momo sambil melirik Soonyoung sekilas dan tersenyum. “Bagaimana dengan kelasmu?”

“Kalau tidak salah rumah hantu. Entahlah, aku tidak ikut berpartisipasi.”

“Kenapa?”

“Aku sibuk mengurus drama yang akan dipentaskan di aula sekolah malam harinya,” jawab Soonyoung sambil menyunggingkan senyum penuh arti. Kemudian, ia berjalan mendekat ke arah Momo dan duduk di dekat gadis itu.

“Oh, ya?” ujar Momo. “Kau pemeran atau membantu di backstage?”

“Pemeran, aku jadi pangeran jahatnya.”

Kini, Momo menoleh sepenuhnya, dan Soonyoung tidak dapat lagi menahan senyum karena rencananya untuk memancing gadis itu telah berhasil.

“Pangeran jahat?” Momo menatap Soonyoung lekat-lekat, sempat membuat lelaki itu salah tingkah. Hanya saja, Soonyoung berusaha menahannya. Karena Soonyoung sangat mengharapakan kesadaran Momo atas sesuatu dari dirinya.

Sesuatu yang telah diubahnya.

.

.

.

“Karena itu kau menghitamkan rambutmu?”

Detik itu juga, pertanyaan itu sukses membuat jantung Soonyoung serasa meledak. Entah karena senang karena Momo menyadarinya, atau karena terlampau gugup akan tanggapan yang akan dilontarkan gadis itu.

“Begitulah,” jawab Soonyoung singkat dengan ekspresi wajah tersenyum biasa. Padahal, ia sendiri mengakui jika rasanya seperti ingin terbang ke langit, entah kenapa. “Bagaimana menurutmu?”

Satu detik … dua detik … tiga detik …

Momo belum juga menjawab, hanya memandangi wajah Soonyoung lekat-lekat dengan kedua mata yang menyipit.

Jujur saja, ditatap seperti itu memuat Soonyoung merasa malu sekaligus senang dan tak mampu menatap balik.

Seperempat menit telah terlewat, namun gadis itu masih belum juga menjawab. Dan meskipun hanya seperempat menit, Soonyoung sudah uring-uringan dibuatnya. Ia terlampau penasaran dan gugup akan jawaban Momo.

Soonyoung tentunya mengharapkan jawaban seperti, ‘Kau cocok dengan rambut barumu,’ atau , ‘Kau bertambah tampan,’ dan jawaban lain sejenisnya.

Sedetik kemudian, Momo mulai membuka mulut, membuat Soonyoung menahan nafas dan—

“Kau terlihat sama saja.”

.

.

.

Entah ini perasaan apa. Yang jelas, seketika harapan yang telah membumbung tinggi itu kini telah kandas, menjadi serata tanah.

Senyum Soonyoung seketika memudar, digantikan dengan sebuah senyum getir yang dipaksakan.

“Ah, begitu …,” Soonyoung mengangguk-angguk kecil canggung.

Ia menoleh, dan sekilas terlihat olehnya pintu kelas Momo. Rasanya ia ingin saja langsung melesat keluar melewati pintu itu dan mencari Jun. Moodnya sudah menurun drastis, omong-omong.

Soonyoung tidak tahu—memang Momo yang tidak peka atau apa—yang jelas setelah mengatakan hal tadi, gadis itu langsung mengalihkan pandangannya kembali pada selembar menu yang sedang dikerjakannya. Membuat mood Soonyoung semakin menurun saja.

“Kalau begitu … aku kembali ke kelas dulu. Ada tugas kelompok yang harus kukerjakan bersama Jun.”

Momo tidak membalas, hanya mengangguk tanpa menatap Soonyoung sedikitpun.

Akhirnya, dengan langkah cepat Soonyoung meninggalkan kelas itu. Menyesali keputusannya untuk bertanya—menganggap bahwa seharusnya ia tidak usah bertanya sekalian daripada mendengarkan jawaban mengecewakan itu.

“Oh, maafkan aku, Jun,” bisiknya pada diri sendiri.

Kini, perumpaamaan ‘sahabat selalu menjadi tempat perhentian terakhir’ sepertinya sedang berlaku untuk dirinya sendiri. Ia merasa agak bersalah pada Jun, tentu saja.

Sementara itu di kelas ujung koridor, Mina yang sedari tadi membantu Momo sambil memperhatikan percakapan gadis itu dengan Soonyoung—memandangi kawannya itu sambil mendesah pelan.

“Hei, kau itu tidak peka atau apa?”

“Apa? Kenapa?” tanya Momo dengan polosnya.

“Soal Soonyoung. Kau tidak sadar ia ingin mendapat pujian darimu? Atau— Hei. Jangan bilang kau tidak sadar akan perasaannya selama ini?”

Cukup tidak tahan dengan pertanyaan-pertanyaan kawannya yang terasa menginterogasi, Momo menatap Mina lekat-lekat.

“Aku tahu, kok. Memangnya apa yang salah, sih?”

“Aku yakin ia tidak hanya mengubah penampilannya untuk drama saja, tetapi juga untukmu, Momo. Ia sudah berusaha, tetapi kau malah—”

“Malah mengatainya ‘sama saja’, begitu?”

Tanpa Mina sangka, Momo malah tertawa pelan.

“Oh, astaga …. Kurasa ada satu hal yang tidak kau ketahui, Mina.” Momo menghentikan kegiatan menggambarnya, kemudian menatap Mina lurus di mata.

Well, tadi aku mengatakan bahwa ia terlihat sama saja, kan?”

Mina mengangguk, kemudian Momo melanjutkan,

.

.

.

“Ia memang terlihat sama saja. Tetap tampan dan imut seperti biasa, tidak peduli apa pun gaya rambutnya. Bukankah begitu?”

fin.
-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s