A Story of Beauty and the Beast (Chapter 7)

PicsArt_07-14-03.42

A Story of Beauty and the Beast (Chapter 7)

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan (Seventeen), Hwang Ahreum (OC), & Others

Romance

PG-15

Chaptered

Previous :

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6

“I’ve already promised you, haven’t I?”

Keesokan harinya, benar saja. Ahreum, Jeonghan, Jisoo dan Wonwoo berjalan di koridor dengan banyak pasang mata yang menatap mereka. Atau lebih tepatnya, menatap Jeonghan.

“Siapa laki-laki cantik itu?”

“Hah? Itu Jeonghan?”

“Yang benar dia Jeonghan?”

“Dia itu bukannya yang jadi Si Buruk Rupa untuk pementasan akhir, ya?”

“Astaga, ia benar-benar berubah total.”

“Tunggu. Memangnya Jeonghan itu sebenarnya setampan itu, ya?”

“Apa yang terjadi dengannya?”

Gumaman dan bisikan-bisikan itu terdengar cukup jelas di telinga Ahreum, begitu pula dengan Jeonghan, serta Jisoo dan Wonwoo. Merasa tidak nyaman, Ahreum mempercepat langkahnya agar segera sampai di teater.

Sesampai mereka di sana, beberapa pasang mata yang sudah ada di dalam teater langsung menatap mereka spontan. Jeonghan menggerakkan kepalanya, memberi isyarat pada Jisoo dan Wonwoo. Anggukan kecil dilemparkan, dan setelah itu kaki mereka melangkah ke samping lalu turun, menempati tempat mereka seperti biasanya bila di dalam teater. Pojok depan.

Ahreum yang masih berdiri di dekat pintu mengerti maksud Jeonghan. Memang sudah seperti biasanya. Mereka bertiga selalu menyudut dan membuat kelompok sendiri, hanya saja Jisoo dan Wonwoo lebih bisa berbaur dengan murid-murid lain ketimbang Jeonghan.

Ahreum sendiri melangkah turun menuju ke arah panggung, tempat dimana Sooyoung dan Mina duduk.

Begitu Ahreum sudah cukup dekat dengan mereka, Mina dan Sooyoung langsung menarik gadis itu untuk segera duduk.

“Ahreum,” bisik Mina. “Kenapa kau tadi masuk bersama-sama dengan mereka? Dan … sejak kapan Jeonghan jadi setampan itu?”

Ya, jadi ini alasannya kenapa kau waktu itu mengirimiku pesan teks kalau Jeonghan tidak perlu pengganti?” tanya Sooyoung penasaran.

Ahreum menghela nafas pelan. “Begitulah.”

Mina yang mendengarnya mendesah pelan sambil tersenyum, mengingat sepuluh hari yang lalu Ahreum masih begitu uring-uringan soal Jeonghan. Tetapi sekarang?

Tiba-tiba Mina teringat. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”

“Yang mana?”

“Kenapa kau tadi masuk bersama-sama dengan mereka?” ujar Sooyoung mengulangi pertanyaan Mina tadi.

“Ah, itu.”

Rasanya aneh memang, jika mengingat dalam sepuluh hari terakhir banyak sekali hal yang berubah diantara dirinya dengan tiga laki-laki itu.

“Kalian ingat kata-kata Park-songsaenim terakhir? Soal Jeonghan.”

Sooyoung dan Mina mengangguk serentak. “Kau diminta untuk mengajari Jeonghan.”

Bingo,” sahut Ahreum pelan. “Dan hebatnya, selama sepuluh hari kemarin, aku tinggal di rumah Jeonghan dan melatihnya habis-habisan untuk dra— Jangan teriak!”

Ahreum mendesis sambil mengarahkan jari telunjuknya pada kedua sahabatnya itu secara bergantian, ketika dirinya melihat dua gadis itu mulai melebarkan mata mereka sambil menarik nafas dalam-dalam dan membuka bulut. Mina langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, namun terlambat bagi Sooyoung.

“APA?!” pekiknya dengan suara yang sebisa mungkin ditahan—meskipun nyatanya tidak terlalu berhasil.

Beruntung suasana di teater sedang ramai oleh celotehan murid-murid laki-laki yang sedang membicarakan permainan-permainan online dan beberapa murid perempuan yang sedang berkumpul dengan kelompoknya sendiri-sendiri untuk bergosip. Ada juga sebagian murid yang sibuk dengan persiapan drama, sehingga yang menoleh ke arah mereka bertiga hanya sedikit.

Yah, memang sedikit.

Tetapi Jeonghan juga ikut menoleh.

Ahreum mendengus, sedangkan matanya menyiratkan pandangan sudah-kubilang-jangan-teriak pada Sooyoung. Setelah itu lalu matanya beralih menatap anak-anak lain yang memandang mereka heran.

Tanpa sengaja ia matanya bertemu dengan milik Jeonghan, yang ternyata juga sedang menatapnya. Tanpa disangka-sangka, laki-laki itu tersenyum, yang kemudian berubah menjadi tawa pelan.

Dan Ahreum yakin wajahnya merah padam saat itu juga.

Sooyoung dan Mina yang memperhatikan gerak-gerik Ahreum dan Jeonghan kini mulai mengerti. Yang jelas, pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.

“Apa?” tanya Ahreum ketika dirasakan lengan Sooyoung yang menyikutnya.

“Kau yakin tidak ingin menceritakan apa pun pada kami?”

“Cerita apa?”

“Sepuluh hari itu. Apa saja yang terjadi, hm?”

Ahreum terdiam sesaat mendengarnya, dan sedetik kemudian ia tersenyum geli.

“Banyak sekali yang terjadi. Dan aku akan menceritakannya pada kalian setelah pementasan drama, oke? Sekarang kita harus berjuang dulu agar bisa lulus,” ujarnya seraya menggerakkan matanya ke arah pintu teater. Entah sejak kapan, tiba-tiba saja Park-songsaenim sudah berada di dalam ruangan itu.

-oOo-

Siangnya, saat jam kosong, Ahreum memilih untuk duduk di bangku tengah taman yang terletak di bawah sebuah pohon besar, sambil membaca novel klasik yang dipinjamnya dari Jeonghan.

Sooyoung dan Mina sendiri sedang sibuk dengan persiapan pentas, sehingga Ahreum hanya sendirian. Sooyoung sedang dalam tahap akhir menyelesaikan pembuatan properti, sedangkan Mina sebagai ketua tim make up artist mengadakan rapat dengan anggota-anggotanya.

Beberapa menit terlewati, hingga tiba-tiba ia mendengar suara gemerisik yang cukup keras. Ia menoleh ke samping, ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang murid dengan seragam laki-laki, sedang duduk di tanah. Lebih tepatnya di bawah pohon yang sama dengan tempat Ahreum duduk.

Orang itu duduk dengan posisi bersandar pada pohon dan kedua kaki yang diluruskan ke depan, namun yang nampak dari posisi Ahreum hanyalah kakinya saja. Karena penasaran, Ahreum beranjak berdiri dan menutup novelnya. Perlahan-lahan, ia berjalan mendekati laki-laki itu, dan saat Ahreum sudah bisa melihat wajahnya, ia agak tertegun meskipun hanya sebentar.

Yoon Jeonghan.

Tangannya terlipat di depan dada, sedangkan kedua maniknya terpejam—dan entah kenapa dengan melihat hal itu saja sudah cukup untuk membuat Ahreum tersenyum. Gadis itu berjalan semakin mendekat, lalu duduk tepat di samping Jeonghan. Tanpa ada maksud apa-apa sebenarnya.

Jeonghan yang merasa ada yang duduk di sampingnya langsung membuka mata. Awalnya, hanya rambut dan punggung seorang gadis saja yang bisa dilihatnya. Sampai sedetik kemudian, ia baru menyadarinya.

“Ahreum?”

Ahreum langsung menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. “Oh? Kau tidak tidur?”

“Hanya mengistirahatkan mata,” jawabnya sambil tersenyum. “Kau sendiri?”

“Tadinya membaca novel yang kau pinjamkan kemarin, lalu aku melihatmu dan … begitulah,” sahut Ahreum sambil menunjukkan novel yang dibawanya pada Jeonghan. Jeonghan termanggut-manggut tanda mengerti, lalu ia kembali menyandarkan kepalanya pada pohon.

“Jeonghan,” panggil Ahreum.

Saat itu, ada sebuah pemikiran yang tiba-tiba saja terlintas di benak Ahreum. Ia mengingat saat di teater tadi, dimana Jeonghan memojokkan dirinya sendiri bersama dengan Jisoo dan Wonwoo, tanpa mau bergabung dengan anak-anak lainnya.

Dan bukan hanya tadi saja. Jika diingat-ingat kembali, sejak Ahreum pertama kali melihat Jeonghan, laki-laki itu selalu begitu. Entah kenapa, timbul sejumput perasaan iba pada hatinya.

“Hm?”

Ahreum terdiam sesaat, berusaha berpikir kembali dan merangkai kata-kata sebelum ia kembali meyakinkan dirinya sendiri.

“Kenapa kau sendirian?”

“Apa?”

“Kenapa kau sendirian?” ujar Ahreum mengulang kembali pertanyaannya.

Jeonghan hanya mengangkat alis sesaat, dan kemudian menjawab, “Tidak juga. Aku sedang bersamamu, kan?” Jeonghan tersenyum, dan itu jelas sekali membuat Ahreum salah tingkah.

Tentu saja Ahreum berusaha membuang jauh-jauh pikiran-tidak-pentingnya itu sekarang.

“Tidak, tidak. Maksudku, Jisoo dan Wonwoo. Dimana mereka?”

“Oh, kau mencari Jisoo dan Wonwoo?” ujar Jeonghan dengan kedua alis terangkat. “Kalau tidak salah, mereka tadi pergi ke kantin dengan Soonyoung dan teman-temannya. Coba kau ke sana, siapa tahu kau bisa bertemu dengan mereka, meskipun aku yakin kemungkinannya kecil sekali. Siang-siang begini ‘kan kantin penu—”

“Bukan! Aku tidak sedang mencari mereka, Jeonghan,” desis Ahreum dengan penekanan di setiap katanya karena gemas dengan laki-laki satu itu.

“Tunggu dulu. Apa kau bilang?”

Ahreum tiba-tiba saja menyadari sesuatu. Ia memikirkan kalimat yang baru saja diucapkan Jeonghan. “Jisoo dan Wonwoo pergi ke kantin dengan Soonyoung?”

“Iya, Soonyoung dan juga teman-temannya yang lain. Tadi Jisoo bertanya pada Soonyoung apakah kami boleh ikut atau tidak, dan Soonyoung mengiyakannya, jadi—”

“Kenapa kau tidak ikut?” potong Ahreum.

Jujur, Ahreum tidak bisa mengartikan apa yang tersirat di mata Jeonghan setelah ia mengucapkan kalimat itu. Sampai pada akhirnya sebuah senyuman simpul tersungging di bibir laki-laki itu, dan kepalanya juga hanya bisa tertunduk.

“Kurasa aku hanya akan memperburuk suasana jika aku ikut dengan mereka.”

Jeonghan berdeham sejenak, lalu melanjutkan, “Kau tentunya tahu, Ahreum. Semua mahasiswa di universitas ini hanya menganggapku sebagai monster. Orang yang membawa kesialan. Tidak kah kau pikir mereka takut denganku?”

“Aku tidak begitu,” protes Ahreum.

Well, pengecualian untukmu, Jisoo, dan Wonwoo.”

“Lalu, apakah kau akan membiarkan mereka terus beranggapan seperti itu?”

Ahreum bisa dibilang cukup kesal akibat sifat rendah diri Jeonghan yang agaknya cukup keterlaluan. Apa itu? Apanya yang monster?

“Apa ada yang bisa kulakukan? Mereka bahkan tak mau mendekatiku sama sekali.”

“Memangnya kau senang dianggap sebagai monster atau apa pun itu?”

“Menurutmu apa ada orang yang senang dianggap seperti itu?” tanya Jeonghan balik sambil menatap Ahreum dengan lembut namun intens.

Well, aku yakin kau tidak. Dan kalau kau tidak suka, kenapa kau tidak berusaha untuk membuktikan bahwa mereka itu salah? Kau juga selalu memojokkan dirimu sendiri, kan?”

Mata Jeonghan melebar mendengar pernyataan Ahreum.

“Buktikanlah pada mereka bahwa kau sebenarnya bukan monster, Jeonghan. Kau bukan pembawa kesialan. Kau itu sebenarnya baik. Orang-orang hanya belum melihat kebaikanmu, itu saja. Lagipula, sekarang kau sudah lebih bisa mengendalikan emosimu, kan?”

Jeonghan membisu. Kini ia mulai memikirkan apa yang dikatakan Ahreum barusan. Memang, selama ini ia tidak berusaha memperbaiki keadaan. Yang dilakukannya hanyalah menerima dan menerima, entah itu membawa kebaikan atau justru yang sebaliknya pada dirinya sendiri.

“Jangan seperti ini terus, Jeonghan. Jika kau selalu menutup hatimu, orang-orang tidak akan bisa melihat kebaikan yang terkubur di dalam sana. Cobalah berbaur dengan orang lain juga,” ujar Ahreum lembut.

“Agar jika misalnya suatu saat Jisoo, Wonwoo, dan aku sedang tidak bisa berada di sisimu, kau masih punya tempat lain untuk bersandar. Punya banyak teman itu penting, kau tahu.”

Ahreum menatap mata Jeonghan lurus-lurus, dan ia tahu bahwa laki-laki itu sebenarnya telah sadar.

Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba Jeonghan mendekapnya pelan.

“Terima kasih.”

“Eh?”

“Terima kasih, Ahreum.” Jeonghan berbisik pelan tepat di telinga Ahreum, dan gadis itu tersenyum mengangguk.

“Aku akan mencobanya, aku berjanji. Namun, aku juga berharap satu hal padamu.”

“Apa?”

“Meskipun jika pada akhirnya aku bisa memiliki banyak teman, tetaplah berada disisiku. Jangan tinggalkan aku. Ya?”

Perlahan-lahan senyum Ahreum mengembang lagi. “I’ve already promised you, haven’t I?”

-oOo-

Satu minggu berjalan dengan begitu cepatnya. Dalam seminggu ini, untuk kelas Ahreum, gladi kotor dan gladi bersih akan diadakan masing-masing dua kali, yaitu pada hari Kamis sampai Minggu. Pada hari Minggu, gladi bersih akan diadakan pada siang hari sebelum malam pementasan.

Seluruh murid semester delapan telah mempersiapkan yang terbaik untuk drama mereka masing-masing, begitu pula dengan Ahreum dan teman-teman sekelasnya.

Mengatur persiapan serta terus-terusan berlatih bukanlah hal yang mudah bagi mereka. Kadang-kadang, tim properti dan backstage harus lembur sampai malam bahkan menginap di teater untuk mengerjakan persiapan yang belum selesai. Memang sulit, namun setidaknya mereka berjuang agar usaha mereka tersebut tidak sia-sia.

Dalam seminggu ini juga, Ahreum masih menetap di rumah Jeonghan. Bersama dengan Jisoo dan Wonwoo, mereka berlatih habis-habisan agar dapat menampilkan yang terbaik.

Ahreum juga sudah tahu perihal Jeonghan yang harus lulus dengan nilai yang berada dalam tiga besar agar dapat menemui ibunya, karena itu sebisa mungkin ia terus membantu dan menyemangati Jeonghan.

Selain itu ia juga lega, karena Jeonghan telah mencoba untuk berbaur, dan teman-teman sekelasnya juga sudah tampak lebih bisa menerima Jeonghan.

Pada hari Jumat dan Sabtu, mereka menyaksikan pementasan drama dari murid-murid kelas lainnya, yang ternyata sangat menarik dan juga bagus.

“Memangnya besok penontonnya juga sebanyak ini, ya?” tanya Sooyoung, yang pada akhirnya hanya mendapat tanggapan berupa anggukan dari Mina dan Ahreum.

“Astaga, tamatlah aku.”

“Apanya yang tamat? Kau hanya tim properti, tidak tampil di atas panggung, kan?” protes Mina.

“Iya, memang tidak tampil di panggung. Tapi kalau salah sedikit saja? Selesai sudah.

Pekerjaan backstage itu merepotkan, kau tahu?”

Kalau Ahreum boleh jujur, memang terlihat sangat merepotkan.

Kemarin, saat gladi kotor, ia melihat tim properti yang kalang kabut di balik panggung saat drama berlangsung. Terutama Sooyoung dan Mingyu, yang menjabat sebagai ketua dan wakil dari tim properti.

Sooyoung harus mengatur pembagian tugas pada anak buahnya agar drama dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan Mingyu, ia banyak diandalkan karena postur tubuhnya yang tinggi. Ia juga kuat dalam membawa properti-properti yang berat.

Repotnya lagi, mereka harus melakukan penggantian properti secara berulang-ulang tanpa menimbulkan keributan suara. Belum kalau misalnya di tengah-tengah pertunjukkan ada properti yang rusak atau ambruk, itu lebih seram lagi.

Yang paling menakutkan buat Ahreum adalah properti berbentuk bagian atap istana, dimana Si Buruk Rupa dan Gaston akan saling beradu nantinya. Properti itu dibuat secara mendetail, sehingga menyerupai bentuk atap istana yang megah.

Di tengah-tengahnya, akan ada balkon istana yang sedikit lebih menjulang dari atap-atap itu. Disitulah nantinya Si Cantik akan menyatakan cinta pada Si Buruk Rupa.

Ahreum ngeri membayangkan apabila salah satu dari mereka bertiga terpeleset atau atap dan balkonnya yang tiba-tiba saja ambruk.

Satu lagi, Wonwoo yang berperan sebagai Gaston akan terjatuh dari atap di bagian akhir drama.

Ia akan jatuh terjungkal ke belakang, lalu menghilang di balik atap. Di sana, memang ada tim properti yang menyiapkan bantalan kasur untuk Wonwoo, tapi tetap saja Ahreum merasa tidak tenang.

Pada hari Jumat, kelas pertama menampilkan sebuah drama yang didasarkan pada cerita sejarah, yang difokuskan ke perang-perang yang terjadi pada masa dinasti dan juga kisah cinta dari Sang Ratu. Esoknya, kelas kedua menampilkan drama klasik yang ceritanya sudah pasti diketahui oleh seluruh dunia—Romeo dan Juliet.

Meskipun begitu, ekspresi dan akting mereka sangat hebat, bahkan sampai ada penonton yang menitikkan air matanya akibat para pemeran yang sangat menjiwai peran mereka masing-masing.

-oOo-

Hari Minggu.

Pagi-pagi sekali, Jeonghan sudah bangun. Beberapa kali ia mengerjap, lalu matanya beralih ke arah jam. Masih pukul lima pagi rupanya.

Ia segera mengenakan mantel tidur dan berjalan keluar kamar. Masih sepi, tentu saja. Merasa karena bangun terlalu awal, ia memutuskan untuk ke taman samping dan menghirup udara segar.

Saat Jeonghan sudah turun, ia mendengar suara samar-samar. Suara seseorang. Ia menoleh ke arah deretan pintu-pintu kaca yang membatasi dirinya dengan taman samping, dan didapatinya salah satu pintu itu terbuka.

Dari balik kaca, terlihat sosok berambut panjang yang sedang memunggunginya. Ia tersenyum sekilas, lalu melewati pintu kaca tersebut dan berjalan mendekat. Namun langkahnya terhenti, saat menyadari bahwa gadis itu sedang berbicara dengan seseorang melewati ponselnya.

“Ya, baiklah. Aku minta maaf karena jarang memberi kabar … Ya,ya … Well, memang persiapannya merepotkan. Tapi aku akan berusaha yang terbaik, Eomma ….”

Eomma?

Jeonghan mengerutkan keningnya sejenak, lalu kembali menguping.

“Iya, aku mengerti … Eomma juga jaga kesehatan … Tapi, Eomma nanti benar-benar akan datang, kan? … Ya, baiklah. Terima kasih, Eomma … Ya, sampai nanti.”

Jeonghan melihat gadis itu menjauhkan ponsel dari telinga, lalu berjalan berbalik sambil terus memainkan ponselnya. Jeonghan hanya diam saja, sambil tersenyum geli memandangi gadis yang berjalan semakin mendekat ke arahnya itu. Jeonghan mulai menghitung dalam hati sebelum gadis itu menubruknya.

Tiga … dua … sat—

.

.

.

Dan alhasil, Ahreum menjerit keras.

Ralat.

Sangat keras, hingga Jeonghan yang tepat berada di depannya mengernyit, namun ia juga tidak bisa menyembunyikan tawanya. Ahreum yang tersadar bahwa sosok yang tadi ditubruknya adalah Jeonghan, langsung memukul-mukul bahu laki-laki itu.

Ya! Sejak kapan kau— Ya ampun, kau itu sedang apa, sih?!” teriaknya dengan perasaan yang bercampur aduk. Antara marah, kesal, namun juga ingin tertawa.

“Maaf, maaf …,” ujar Jeonghan yang masih tertawa keras. Setelah tawanya agak mereda, ia melajutkan, “Kurasa aku hanya ingin membalasmu yang telah membuatku jantungan dua kali. Ingat?”

Ahreum menatap Jeonghan bingung, kemudian ia paham kejadian yang dimaksudkan Jeonghan. “Ya! Tapi itu kan aku tidak bermaksud— Ah, sudahlah. Lupakan saja,” ujar Ahreum pasrah sambil berjalan melewati Jeonghan yang masih terkikik geli.

Jeonghan segera menyusul Ahreum dan kini ia sudah berjalan tepat di sampingnya. “Jangan marah, ah.” Jeonghan mencubit pelan pipi kiri Ahreum, dan gadis itu ikut tertawa sambil menggeleng pelan.

“Omong-omong, tadi itu ibumu?”

Ahreum mengerutkan kenignya menatap Jeonghan. “Kau menguping, ya?”

Karena hanya dibalas dengan cengiran lebar, akhirnya Ahreum tertawa sekilas. “Ya, itu tadi ibuku. Ia akan datang nanti malam.”

“Benarkah?” tanya Jeonghan. “Omong-omong, kakakku juga datang nanti malam.”

“Dia datang jauh-jauh dari Milan hanya untuk menontonmu?”

Jeonghan mengangguk mantap. “Well, let’s do the best tonight.”

Menampilkan yang terbaik juga sudah pasti merupakan harapan Ahreum juga. Terlebih lagi di depan orang-orang tersayang mereka. Ahreum juga berharap agar semuanya dapat berjalan dengan lancar, tanpa ada masalah sedikitpun.

Yah, semoga saja.

tbc.
-oOo-

*This story is inspired from a classic fairy tale by Jeanne-Marie Leprince de Beaumont,
Beauty and the Beast.


How is it so far? Mind to review?
Thankyou^^

roseblanche

Advertisements

3 thoughts on “A Story of Beauty and the Beast (Chapter 7)

  1. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 8) | ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9) | ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Last Chapter) | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s