Though Life

thoughlife

Though Life

story by Rosé Blanche

Song Yunhyeong (iKon) & Jennie (Black Pink)

Slice of Life, slight!Romance

G

Vignette

-oOo-

“Be happy, not because everything is good. But because you can see the good in everything.”
-Unknown-

-oOo-

Hidup itu keras, bukankah begitu?

Rasanya sulit. Berkali-kali aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan—mencoba menenangkan diri, sembari berusaha menikmati pemandangan kota Seoul. Meskipun begitu, pikiran ini tetap saja kalut. Entah bagaimana cara mengatasinya, aku benar-benar tidak tahu.

Satu hari lagi.

Satu hari lagi baru saja masuk ke dalam daftar hari burukku, setelah ada beberapa hari berturut-turut. Sudah berapa hari totalnya, bahkan aku lupa.

Yang namanya masalah, seperti beruntun datang tanpa ampun.

Mulai dari ibu yang harus menjalani terapi penyembuhan kanker di rumah sakit, sehingga aku harus merawat adikku yang masih duduk di bangku sekolah dasar seorang diri. Ditambah lagi, bocah itu terkena skors karena memukul temannya sampai hidung anak itu mengeluarkan darah.

“Sudah kubilang, jangan dihiraukan.”

“Tapi Si Gendut itu bilang kalau Eomma bertambah jelek karena botak!”

Oh, entah apa jadinya kalau ibu kami tahu soal ini. Bagaimanapun kondisinya masih belum stabil, dan aku tidak bisa mengadu begitu saja seenak hatiku.

Belum lagi, masalah biaya pengobatan ibu. Kami sudah tidak memiliki ayah, dan aku berusaha untuk bekerja paruh waktu agar meringankan pengeluaran tabungan ibu kami. Hanya saja, pekerjaan yang bertempatkan di kafe ini juga tidak luput dari masalah.

Entah bagaimana, ada sejumlah uang yang hilang dari kasir. Dan akulah yang dituduh mencurinya, lalu dipecat begitu saja. Ternyata kehilangan pekerjaan semudah itu, ya?

Well, itu hanya masalah keluarga dan pekerjaan.

Aku juga punya masalah percintaan, omong-omong. Rasanya benar-benar sakit apabila mengalami cinta yang memaksa untuk menunggu terus-terusan selama bertahun-tahun, dan sampai pada akhirnya ketika mataku mulai terbuka—sudah cukup terlihat jika penantianku tak berujung dengan apa yang kuinginkan.

Astaga, aku akan melupakannya saja, sungguh. Kurasa itu jauh lebih baik, meskipun aku sendiri tidak yakin diriku sanggup atau tidak.

Dan hari ini juga—hari pertama masa orientasi kuliah—memang seburuk yang kubayangkan.

Menguncir delapan rambut hingga tampak tak berbentuk, dipaksa untuk berjalan ala catwalk sambil menyatakan cinta pada kakak panitia, berjalan mengelilingi kampus sambil berjongkok, dimarahi, dibentak, dicaci maki ….

Rasanya ingin berteriak saja di depan panitia-panitia sialan itu. Aku tahu, mereka tentunya tidak akan peduli aku sedang dalam suasana hati yang buruk atau tidak. Hanya saja …, semua ini terasa begitu berat. Begitu menekan.

Jujur, beberapa hari terakhir ini terasa benar-benar menyesakkan.

Namun, yang lebih menyesakkan lagi, adalah harus menampakkan senyum munafik hanya karena tidak ingin orang-orang khawatir, apalagi kalau mereka harus melontarkan sederet pertanyaan yang bisa membuat suasana hatiku bertambah buruk.

Benar-benar ironis.

Dan kini, atap gedung kampuslah yang menjadi destinasi. Awalnya aku berpikir, berdiri di sana sambil menghirup angin dalam-dalam, mungkin akan membantu?

Nyatanya tidak.

Tadinya, aku bahkan ingin berteriak. Berteriak keras-keras, meluapkan seluruh amarah dan kesal. Tetapi, bahkan untuk berteriak saja aku tidak punya tenaga. Semuanya luruh menjadi sebuah rasa sakit yang tak tertahankan, menambatkan sebuah luka pada hati.

Satu hal yang kupertanyakan, tidak bisakah aku merasa bahagia untuk sebentar saja?

Aku mengeluarkan sebuah kotak dari saku celanaku.

Tadi, Kim Jiwon memberikan kotak ini, karena entah bagaimana ia bisa tahu bahwa aku sedang mempunyai banyak masalah. Mungkin Si Ember Chaeyoung yang bercerita? Aku tidak tahu pasti, yang jelas kata Jiwon batangan ini bisa membuatku merasa lebih baik dan—

“Jennie?”

Oh, tidak. Jangan sekarang.

“Hei, kau sedang apa di sini?”

Ya Tuhanku, untuk apa ia kemari?

Ingat dengan masalah kisah percintaan yang kusebut tadi? Inilah tokohnya.

Namanya Yunhyeong. Teman dekatku semenjak kelas satu sekolah menengah pertama—laki-laki yang diidolakan banyak gadis, omong-omong—dan sekarang ia masuk ke universitas yang sama pula denganku.

Hei, siapa yang tidak akan terpesona pada Song Yunhyeong? Tampan, pintar, kaya, berbakat, hatinya juga baik. Sebuah perpaduan yang sempurna. Bahkan dalam satu hari ini, ia berhasil menarik hati banyak gadis, tak terkecuali kakak-kakak panitia itu.

Dan aku, hanyalah seorang gadis beruntung yang bisa menjadi teman dekat Yunhyeong hanya karena insiden kepala-terantuk-bola-basket-lemparannya, hingga ia merawatku di ruang kesehatan sampai seharian.

Namun, setelah semua yang kulewati bersamanya, aku tidak tahu apakah kejadian itu pantas disebut sebagai sebuah keberuntungan atau tidak. Kadang aku berpikir, mungkin akan jadi lebih baik jika aku tidak pernah mengenalnya.

Ia bagaikan sebuah bintang. Terlalu sempurna. Kukira selama ini jaraknya sudah dekat. Dan di saat aku ingin meraihnya, kenyataan membangunkanku dan mengatakan bahwa itu adalah hal yang mustahil.

Ternyata, ia sangatlah jauh.

“Jennie? Kau baik-baik saja?”

Sebuah pandangan malas kulontarkan. Jujur, meskipun patah hati, aku tidak ingin merusak semua ini hanya karena suasana hatiku yang buruk. Sangat kekanakan bila seperti itu.

“Jangan sekarang, Yunhyeong. Pulanglah.”

Aku mengusirnya.

Aku mengusirnya, padahal aku sendiri tahu bahwa aku sedang membutuhkan tempat untuk bersandar. Aku tidak bisa mengelak kalau aku butuh dirinya, untuk sekarang ini dan mungkin sampai kapan pun juga.

Tetapi bukannya pergi, malah aku bisa merasakan tepukannya di pundakku.

Ya, kau kenapa?”

Yunhyeong tertawa sekilas melihat wajahku yang aku yakini sudah tertekuk layaknya kertas lipat. Yunhyeong menginginkan sebuah jawaban, aku tahu. Hanya saja semua ini terlalu berat untuk dikatakan.

“Baru saja tadi kau tertawa-tawa dengan Chaeyoung dan Nayeon, tapi kenapa sekarang—”

“Kau pikir, jika seseorang tersenyum ataupun tertawa, berarti orang tersebut sedang dalam suasana hati yang baik? Senang? Gembira? Jawabannya tidak, Yunhyeong.”

Lama kelamaan, panas juga rasanya bila harus terus-terusan menahan. Perkataanku itu cukup untuk membuat Yunhyeong tutup mulut sejenak, hingga ia tersenyum kecil dan wajahnya memampangkan ekspresi yang menandakan kalau ia mengerti.

Tiba-tiba saja, senyum simpul yang disunggingkan Yunhyeong memudar, digantikan dengan sebuah tatapan aneh, yang tentunya tidak bisa kuartikan. Dapat kulihat kedua matanya terfokus pada tanganku. Memangnya apa—

.

.

.

Oh, sial.

Aku lupa memasukkan kembali kotak itu.

“Jennie.”

“Apa?”

Nada bicaraku sengaja kubuat menjadi ketus, namun tetap saja tidak berhasil untuk membuatnya bungkam.

“Sejak kapan kau menggunakan benda seperti ini?”

Dengan sebuah gerakan cepat, ia merampas benda itu dan langsung meremasnya hingga tak berbentuk. Sebuah tatapan nanar dilemparkannya, dan aku masih tidak mempunyai niat untuk menjawab.

“Jawab aku, Jennie. Sejak kapan kau merokok?”

“Aku tidak merokok!”

Pada akhirnya, teriakan ini tak tertahankan.

“Aku tidak merokok, Yunhyeong! Tadi ada yang memberikan itu padaku, dan itu bukan urusanmu!”

Ada sebuah perasaan perih layaknya tersayat tatkala teriakan itu keluar begitu saja dari mulutku. Membentak orang yang menjadi tempat menaruh hati? Bagaimana tidak sakit?

Menahan tangis di hadapan laki-laki ini juga bukanlah hal yang mudah. Jelas sekali suaraku mulai terdengar serak, sedangkan kedua mata dan wajahku terasa memanas.

“Katakan padaku, kau tidak berniatan untuk memakai benda-benda seperti ini.”

Ia memutar posisi tubuhku menjadi menghadap ke arahnya, dan jujur saja aku tidak ingin melihat ke arah matanya. Aku tidak sanggup.

Well, belum.”

“Jennie!”

“Aku lelah, kau tahu!”

Aku memekik tepat di depan wajahnya, dan pada titik ini juga—semuanya pecah. Semuanya keluar begitu saja.

“Berkali-kali aku berpikir. Kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa bahagia bahkan hanya untuk sedetik pun? Setiap hari … setiap hari selalu sama saja ….”

Tidak tahu sejak kapan, air mata ini sudah berujung di pelupuk. Setelah memikirkan semuanya, rasanya seperti ingin lari saja. Kabur dari kenyataan. Aku tahu benar kalau itu adalah pemikiran seorang pengecut. Tetapi, aku sudah tidak sanggup berada di bawah tekanan lagi.

“Hei, dengar ….”

Aku hanya menatapnya sekilas, melemparkan sebuah tatapan tersinis yang pernah kubuat.

“Aku tahu kau punya banyak masalah. Tetapi, tidak bisakah kau tidak bersikap seperti ini? Cobalah untuk mengambil sisi positif dari setiap masalahmu, oke?”

“Mudah bagimu untuk bicara.”

Ya, kau pikir aku tidak punya masalah?” suara Yunhyeong agak meninggi, dan kusadari penyebabnya adalah sikapku. “Tidak ada seorangpun yang hidup di dunia ini tanpa masalah, Jennie. Yang berbeda hanyalah bagaimana cara masing-masing orang menyikapinya.”

Seratus persen aku yakin, kedua alisku membentuk kerutan sempurna. Aku berusaha mencerna setiap kata-katanya, namun tidak kutemukan sebuah jawaban meskipun beberapa sekon telah terlewat.

“Tidak mungkin,” ujarku pada akhirnya. “Bagaimana bisa? Kau sempurna. Kau punya segalanya. Tingkah dan rupamu juga seringkali menunjukkan kalau kau hidup tanpa beban sedikit pun, Yunhyeong. Kau—”

“Kau pikir, jika seseorang tersenyum ataupun tertawa, menandakan bahwa orang tersebut sedang dalam suasana hati yang baik? Senang? Gembira? Jawabannya tidak selalu seperti itu, oke?”

Mendengar pernyataan itu, tentu saja berhasil membuat kedua mataku melebar. Bukankah itu adalah kata-kataku sendiri?

But at least, I choose to be happy.”

“Apa? Kenapa?”

“Hidup itu mahal kau tahu? Jangan menghabiskan hari-hari berhargamu dengan wajah tertekuk seperti itu.”

Ia memampangkan sebuah senyum lebar yang biasanya cukup untuk meluluhkan setiap gadis, namun kurasa senyum itu tidak memiliki efek apa-apa untukku sekarang. Yang ada dalam benakku hanyalah pikiran campur aduk antara setiap masalah dan juga perkataan Yunhyeong yang masih belum bisa kuterima.

“Bagaimana caranya?”

“Cobalah untuk lebih melihat ke sisi positif dari segala hal, Jennie. Dengan begitu, kau pasti akan merasa jauh lebih baik. Perlu kau ingat, selalu ada kebaikan dalam semua hal yang kau alami.”

Kebaikan? Sisi positif? Apanya yang sisi positif? Semua ini begitu runyam, dan aku sama sekali tidak bisa menemukan sisi positif ataupun yang namanya kebaikan itu dalam masalah-masalahku.

“Kalau begitu, beritahu aku satu hal,” ujarku pada akhirnya. “Ibuku diopname di rumah sakit, adikku bermasalah di sekolahnya sehingga harus terkena skors, dan aku juga dipecat karena sebuah tuduhan tak berbukti. Katakan, mananya yang sisi baik?”

Terjadi jeda selama beberapa detik, membiarkan sebuah keheningan menyapa. Yunhyeong menunduk, tidak membuka suara. Aku juga memilih untuk diam dan melupakan semua omong kosong ini.

Benar, kan? Tidak ada sisi positif dalam—

“Kau belajar untuk bersikap lebih dewasa. Bukankah begitu?”

Yunhyeong mengangkat kepalanya kembali dan menatapku intens. Dan alhasil, aku hanya bisa menganga. Apa yang baru saja ia katakan?

“Lewat semua itu, kau dituntut untuk bersikap dewasa, Jennie,” ungkapnya lagi. “Karena tidak selamanya kau bisa bergantung dengan ibumu, bukan? Lewat masalah-masalah ini, aku yakin mentalmu akan terbentuk. Suatu saat nanti, kau pasti akan dihadapkan dengan dunia orang dewasa. Dan pada saat itu juga, kau beruntung karena kau sudah siap.”

Yunhyeong tersenyum, masih memandangiku dengan tatapan teduhnya. Pertanda bahwa ia merasa puas dengan jawabannya sendiri, yang justru telah benar-benar menamparku.

Entah kapan terakhir kali aku merasa seperti ini, hanya saja tamparan itu terlalu mendorongku untuk mengeluarkan semuanya.

Pada akhirnya, beban itu tumpahlah sudah.

Tetesan-tetesan air mata ini mulai turun satu persatu, mengalir meninggalkan kelopaknya. Dan kini aku sudah kehabisan kata-kata.

Baiklah, kuakui ia ada benarnya—tidak. Ia sangat benar.

Akulah yang bodoh selama ini. Tidak pernah berpikir panjang, selalu menjalani hidup tanpa ada rasa ingin bertahan. Seseorang yang tidak punya semangat hidup, seseorang yang tidak pernah bersyukur. Untung saja, Tuhan itu baik. Aku masih bisa hidup sampai sekarang, bukankah itu suatu hal yang patut untuk disyukuri?

Yunhyeong melangkah mendekat, dan tiba-tiba saja tubuhku sudah tertarik ke dalam dekapannya. Sebuah dekapan hangat yang semakin membuat isakanku menjadi-jadi.

“Percayalah, Jennie. Jika memang sudah tiba waktunya, masalah-masalah itu akan selesai. Dan pada saat itu juga, aku ingin bisa melihatmu dengan sebuah rasa bangga, karena kau adalah gadis kuat yang berhasil melewati semuanya dengan sangat baik.”

Tak ada balasan kata-kata, yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk pelan di bahunya, dan yang menjadi kelanjutannya adalah menangis dan menangis. Jika sudah begini, kini ada satu jawaban yang sudah pasti kutemukan.

Bertemu dengan Yunhyeong dan bisa mengenalnya, sudah pasti adalah sebuah keberuntungan.

Pasti.

Beberapa detik berlalu, dan posisi kami tidak berubah. Sampai akhirnya Yunhyeong melepaskan tautan lengannya—ia menatapku kembali dan meletakkan kedua telapak tangannya di pipiku.

“Ayo, senyum.”

Dengan kedua ibu jarinya, ia menarik sudut-sudut bibirku ke atas, dan aku yakin wajahku terlihat sangat konyol karena setelah itu Yunhyeong langsung tertawa. Aku juga ikut tertawa meskipun dengan wajah yang sembab karena sehabis menangis, dan membiarkan kedua matanya menatapku dengan jarak yang begitu dekat.

“Ya sudah, kita pulang sekarang?”

Ia mengulurkan sebelah tangannya, yang tentu saja langsung kusambut tanpa ragu lagi sambil mengangguk.

“Sudah merasa lebih baik sekarang?”

“Tentu. Karena setidaknya aku tahu kalau aku masih mempunyai dirimu.”

Entah ada keberanian dari mana aku berkata seperti itu, namun Yunhyeong tak mengelak. Ia malah tertawa kecil menunjukkan sederet giginya, dan kemudian melepaskan tautan tangan kami. Tangan itu berpindah posisi menjadi melingkar di bahuku, yang membuatku mengerti betapa hangatnya dirangkul oleh seorang Song Yunhyeong.

Aku tahu. Aku sempat berpikiran untuk menyerah dengan perasaan ini. Tapi setelah meningat-ingat semua hal yang telah kami lalui, aku mulai berpikir-pikir kembali.

Apakah aku bisa? Bagaimana kalau jawabannya adalah tidak?

Ya, kurasa aku tidak bisa.

Setelah janji tadi, aku harus membuktikan padanya kalau aku bukanlah lagi gadis kekanakan, melainkan seorang Jennie yang mampu berpikir dewasa dalam setiap keadaan.

Sampai pada saat itu, aku hanya berharap ia tetap selalu ada di sisiku.

Aku akan terus menjadi gadis yang kuat seperti yang dikatakannya tadi, melangkah melewati setiap jalan berbatu runcing yang ada. Dan ketika waktu telah menentukan—saat garis akhir berhasil kucapai, aku harap ia tidak hanya menatapku dengan sebuah tatapan bangga seperti yang dikatakannya tadi.

Namun, juga dengan sebuah tatapan penuh cinta.

Ya, semoga saja.

fin.
-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s