Perfection

perfection-1

Perfection

story by Rosé Blanche

Hong Jisoo (Seventeen) & Choi Seungyeon (OC)

Fluff, Romance

PG-13

Vignette

Related to :

Choice

Karena yang dibutuhkan Jisoo bukanlah ‘kesempurnaan dari seorang Seungyeon’, melainkan ‘Seungyeon’ itu sendiri.

-oOo-

Langit telah betabur bintang. Suasana sunyilah yang menyelimuti gelapnya malam. Tak ada lagi mobil yang melintas—kecuali sebuah taksi dan sebuah mobil sedan hitam.

“Seungyeon, tunggu sebentar!”

Jisoo buru-buru keluar dan mengunci mobilnya, lalu mengejar Seungyeon yang kini telah masuk ke dalam lift. Jisoo sempat berlari ke arah lift itu, namun ia agak sedikit terlambat, karena lift itu menutup tepat di depan hidungnya.

Ia mengerang sesaat, kemudian memilih tangga sebagai pilihan selanjutnya. Sepertinya, dalam situasi ini naik tangga sampai tujuh lantai bukanlah apa-apa bagi Jisoo. Untuk seorang Choi Seungyeon, apa sih yang tidak?

Dua menit kemudian, Jisoo telah berdiri di depan pintu apartemen sang tunangan sambil masih mengatur nafas dan detak jantungnya. Ia mulai mengetuk.

“Seungyeon? Seungyeon, ini aku Jisoo. Kumohon, bukakan pin—”

Jisoo tidak jadi melanjutkan. Ia merasa bodoh, karena nyatanya tanpa harus dibukakan oleh gadis itu pun, Jisoo bisa membukanya sendiri karena ia tahu kode sandi pintu apartemen Seungyeon.

Jisoo menghembus nafas panjang, lalu mulai memasukkan kode sandi sambil merutuki dirinya sendiri. Setelah itu, ia masuk dan mendapati Seungyeon yang sedang membanting tasnya di sofa.

Ya, siapa yang menyuruhmu masuk? Keluar!”

Jisoo tahu. Jisoo tahu benar kalau beragumen dengan Sungyeon, sembilan puluh sembilan persen ia takkan menang. Tapi, ia harus benar-benar meluruskan ini semua sekarang.

“Seungyeon, dengarkan aku seben—”

You’re the worst! Ever!”

Mata gadis itu menyala-nyala, memampangkan kemarahan yang amat sangat.

Jisoo mengerti bahwa ia salah.

Memang semua berawal dari kesalahannya yang telah membohongi Seungyeon soal penyakit gastritis yang diidap oleh sahabatnya, Wonwoo—laki-laki yang sudah Seungyeon anggap seperti adiknya sendiri.

Sejak itu pertengkaran demi pertengkaran selalu saja muncul, dan masalahnya selalu saja berkaitan dengan masalah ketidakjujuran Jisoo saat itu. Seringkali Seungyeon mengungkit-ungkit masalah itu kembali, dan itu tentunya membuat Jisoo makin menyesal.

Tapi Jisoo melakukan itu semata-mata hanya karena ia tidak ingin Seungyeon kepikiran, karena Jisoo tahu kalau pekerjaan Seungyeon sebagai seorang asisten desainer itu sudah cukup membuat gadis itu stress. Toh Wonwoo sudah mendapatkan perawatan dari rumah sakit, dan keadaannya sekarang kian membaik.

“Baiklah,” ujar Jisoo pada akhirnya.

“Aku minta maaf. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah membohongimu waktu itu, dan aku minta maaf karena aku tidak menuruti permintaanmu. Tapi, apa kau tidak sadar, Seungyeon? Kau juga salah.”

Ya, Jisoo tentunya tidak bersedia menerima permintaan kekanakan seperti tadi. Apalagi setelah Seungyeon mendiamkannya selama satu minggu terakhir, hingga pada saatnya gadis itu harus terpaksa membawa Jisoo untuk bertemu dengan keluarga besarnya.

Aku hanya minta tolong untuk sekali ini. Bila Eomma dan Appa bertanya-tanya soal bagaimana hubungan kita, jawablah kita baik-baik saja. Jangan bilang pada mereka soal pertengkaran-pertengkaran itu, oke? Bersikap manislah seperti biasanya. Kalau perlu, berbohonglah.

Kalimat terakhir itu yang membuat Jisoo frustasi.

Bukannya Jisoo sengaja untuk tidak bersikap sopan pada keluarga Seungyeon, tetapi ia tidak bisa berbohong lagi—tidak setelah apa yang dilakukannya pada gadisnya itu.

Jelas-jelas ia ditanya. Ditanya dengan paksa pula.

Apa yang harus dilakukannya selain menjawab?

Ia bisa dibilang jujur apa adanya pada keluarga tunangannya itu saat ia ditanyai macam-macam mengenai kondisi hubungannya dengan Seungyeon yang sedang tidak baik—termasuk berterus terang soal pertengkaran-pertengkaran mereka.

Itu membuat Seungyeon semakin marah, lalu meninggalkan keluarga besarnya dan Jisoo di restoran hotel berbintang itu dengan taksi.

“Kau membuatku malu setengah mati!”

Ini bukanlah pertama kalinya gadis itu berteriak pada Jisoo. Nada suaranya tinggi, membuat hati Jisoo terasa seperti disayat.

“Coba pikirkan dulu, Seungyeon. Kau marah karena aku berbohong padamu. Namun saat aku sudah sadar dan mau bertobat, kenapa kau menyuruhku berbohong pada orang tuamu? Bukankah itu egois?”

Wajah Seungyeon masih merah padam, dan kedua tangannya mengepal erat-erat menahan emosi. Ia hanya terdiam sambil menatap Jisoo dengan padangan teramat kesal.

“Dengarkan aku. Aku tahu aku salah karena berbohong. Dan baru beberapa hari yang lalu aku sadar kalau keterbukaan dalam keluarga itu penting. Aku sudah berusaha jujur denganmu dan juga dengan keluargamu. Tapi kenapa malah ganti kau yang berpikiran kekanakan seperti tadi?” lanjut Jisoo.

“Coba pikirkan. Empat bulan lagi kita menikah, Seungyeon. Kita tidak bisa seperti ini terus.”

Seungyeon masih mengatur nafasnya yang memburu akibat rasa marahnya, meskipun wajahnya sudah tidak segalak tadi.

“Dan disini, bukan hanya aku yang salah. Kau juga salah. Apa kau sadar? Tiap kali kita bertengkar, pasti ada kalanya aku yang salah atau kau yang salah—atau juga kita berdua sama-sama salah. Tapi, selalu aku yang meminta maaf. Seratus kali kita bertengkar, seratus kali juga aku yang meminta maaf, tidak peduli itu salah siapa.”

Nada suara Jisoo melembut. Sebenarnya ia tadi sempat ingin marah ketika Seungyeon meneriakinya, namun kenyataannya ia tidak bisa. Pada akhirnya, ia memang tidak bisa benar-benar marah pada Seungyeon, apalagi berlaku kasar.

“Jangan seperti ini. Jangan egois. Setidaknya, belajarlah untuk mau mengakui kesalahanmu. Ya?”

Tatapan teduh Jisoo membuat gadis itu terdiam. Jisoo sempat tersenyum pada Seungyeon sebelum membalikkan badannya, berjalan menuju pintu keluar. Jisoo menghembuskan nafas panjang. Ia lega karena sudah menyampaikan isi hatinya yang telah dipendam selama ini.

Dan sisanya terserah pada Seungyeon sendiri.

.

.

.

“Maaf….”

.

.

.

Jisoo yang sudah memegang gagang pintu dan membukanya—seketika itu juga pergerakannya berhenti.

“Maaf …. Aku minta maaf, Jisoo….”

Jisoo menoleh ke belakang, dan didapatinya Seungyeon yang tengah terisak. Oh, apa yang telah ia lakukan?

“Maafkan aku …. Aku benar-benar minta maaf….”

Isakan Seungyeon makin tak terkendali, hingga gadis itu harus menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Kedua bahunya naik turun, dan ia menjadi sesenggukan.

Tanpa pikir panjang lagi, Jisoo kembali menutup pintu lalu berjalan cepat—mendekat ke arah tunangannya itu. Ditariknya tangan Seungyeon, membawa gadis itu dalam sebuah dekapan hangat. Jisoo mengelus rambut gadis itu perlahan, dan saat itu juga Seungyeon balas memeluk Jisoo—menangis sehingga membuat kemeja Jisoo basah.

“Iya…. Tidak apa-apa, Seungyeon. Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf….”

Oh Tuhan, kenapa sekarang malah dirinya yang tidak tega melihat Seungyeon menangis seperti ini? Namun di satu sisi, ia juga senang. Bukan karena Seungyeon yang kali ini meminta maaf, tapi karena kesadaran gadis itu. Kesadaran yang membuatnya menjadi lebih dewasa.

Mereka berpelukkan selama beberapa saat, hingga Jisoo hendak melepaskan pelukannya. Namun, tanpa disangka-sangka, Seungyeon malah mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di tubuh Jisoo.

“Seungyeon?”

Gadis itu hanya terdiam, dan membuat Jisoo semakin bingung. Jisoo meletakkan kedua tangannya di bahu gadisnya itu—dengan maksud untuk memberi jarak diantara mereka berdua, namun Seungyeon malah semakin menempel. Bahkan Jisoo bisa merasakan kepala gadis itu yang menggeleng.

“Hei, kau kenapa? Tidak mau lepas, nih?”

Nope.

Jisoo tertawa geli melihat tingkah Seungyeon yang sedang kambuh penyakit manjanya. Kalau sudah begini, Jisoo tidak bisa berbuat apa-apa.

“Memangnya kau ingin posisi begini terus sampai pagi?”

Jisoo dapat mendengar tawa kecil Seungyeon yang sumbang karena habis menangis—dan jujur saja Jisoo merasakan geli yang harus ditahannya tiap kali wajah gadis itu bergerak dalam pelukannya.

“Kalau Oppa tidak keberatan.”

“Tapi Oppa keberatan. Terus bagaimana?”

Selama beberapa detik terjadi keheningan, hingga pada akhirnya Seungyeon kembali membuka suara.

“Ya sudah.”

Jisoo membulatkan kedua matanya tatkala mendengar jawaban polos dari bibir gadisnya itu. Oh, yang benar saja.

Ya! Apanya yang ‘ya sudah’? Nanti Oppa yang dibunuh Seungcheol-mu itu, tahu!”

Jisoo tidak benar-benar protes—ia ingin tertawa malah. Tapi mengingat sahabat sekaligus kakak laki-laki dari Seungyeon itu memang membuatnya agak ngeri juga.

Seungyeon hanya tertawa pelan dengan suara khas orang yang habis menangis. Setelah itu, hanyalah keheningan yang menyelimuti mereka.

“Setidaknya kalau tidak ingin lepas, lebih baik duduk saja. Kakiku sudah pegal.”

Seungyeon mengangguk singkat, lalu mereka berdua menjatuhkan diri di sofa yang tepat ada di belakang mereka—dengan posisi masih berpelukkan tentunya. Bisa dibayangkan?

Oppa ….”

“Iya, sayang?”

“Seungyeon sayang Jisoo-Oppa.”

Jisoo menghembuskan nafas pelan mendengar suara Seungyeon yang masih lemas dan serak. Ia mengingat-ingat kejadian yang baru saja dialaminya bersama Seungyeon.

Kalau dipikir-pikir, bersikap manja seperti anak kecil ini memang ada baiknya juga. Karena dibalik itu semua, ada kejujuran dan keterbukaan yang tersampaikan.

Setelah beberapa saat, perlahan-lahan senyuman Jisoo mengembang, lalu ia menempelkan bibirnya singkat pada ujung kening gadis itu.

“Iya, Seungyeon.”

Bersamaan dengan saat itu, Jisoo merasa sekujur tubuhnya mulai pegal. Ia sendiri terheran-heran kenapa Seungyeon bisa tahan dengan posisi seperti itu selama hampir dua puluh menit.

“Seung—”

Panggilan Jisoo terhenti, ketika laki-laki itu melihat wajah gadisnya.

Dengan jejak air mata yang masih lumayan nampak, wajah gadis itu menunjukkan bahwa ia telah tertidur.

Jisoo tersenyum.

Wajar saja kalau gadis itu tertidur. Berangkat dari apartemen pukul enam pagi untuk mengunjungi orang tuanya yang merayakan ulang tahun pernikahan perak mereka hari ini, lalu pergi ke salon, berdandan dan segala macamnya, dan stand by di lokasi acara sejak pukul empat sore. Tidak heran bila Seungyeon lelah.

Jisoo menggeser tubuhnya sedikit, lalu meletakkan kedua tangannya di punggung dan di balik kedua lutut Seungyeon, kemudian mengangkatnya. Ia membawa gadisnya itu masuk ke dalam kamar, lalu membaringkannya di kasur. Setelah itu, Jisoo menyelimutinya sampai ke dagu.

Jisoo berlutut di sebelah Seungyeon dan menatap wajahnya lekat-lekat.

Kalau dilogika, gadis itu memang tidak sempurna. Kadang-kadang ia mengesalkan, bertingkah kekanakan, dan tidak berpikir panjang. Bahkan ia juga egois dan keras kepala. Cukup lengkap, kan?

But, at least he knows.

He knows that he’ll never find a person who cares or loves him more than her.

Hei, jangan salah sangka.

Meskipun Seungyeon seperti itu, ia adalah gadis termanis yang pernah ditemui Jisoo.

Gadis itulah yang paling peduli dengannya. Gadis itu juga yang selalu merentangkan lebar kedua tangannya untuk Jisoo—selalu siap kapanpun Jisoo membutuhkan tempat bersandar.

Gadis itu juga yang rela begadang sampai larut malam, hanya untuk datang ke tempat Jisoo—sekedar membawakan kue dan menyanyikan Jisoo lagu selamat ulang tahun—disaat pada hari yang sama ia harus berangkat kerja pukul lima pagi.

Seungyeon mudah tersentuh—seperti halnya saat Jisoo melamarnya kala itu. Namun, bukan berarti ia adalah gadis yang lemah.

Seungyeon kadang cekcok dengan Jisoo soal hal sepele—tetapi itu tidak membuktikan kalau gadis itu tidak memahami Jisoo.

Jisoo menyadari satu hal.

Seungyeon memang tidak sempurna. Namun, memang tidak ada seorangpun di dunia ini yang sempurna. Everybody makes mistakes for sure. Jadi, semuanya hanya tergantung dengan perspektif Jisoo sendiri—bagaimana ia menyikapi gadisnya itu.

Namun, melihat Seungyeon yang seperti ini, sepertinya Jisoo tidak bisa mengelak jika ingin mengatakan bahwa tunangannya itu sudah melebihi kata ‘sempurna’ untuknya. Justru dengan sikapnya yang kadang menyebalkan itu—membuat dirinya terlihat lebih dari sempurna di mata Jisoo.

Biarlah gadis itu menjadi dirinya sendiri, dan itu sudah lebih dari cukup untuk seorang Hong Jisoo.

Karena yang dibutuhkan Jisoo bukanlah ‘kesempurnaan dari seorang Seungyeon’, melainkan ‘Seungyeon’ itu sendiri.

And he loves her so much, of course.

fin.
-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s