A Story of Beauty and the Beast (Chapter 6)

PicsArt_07-14-03.42

A Story of Beauty and the Beast (Chapter 6)

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan (Seventeen), Hwang Ahreum (OC), & Others

Romance

PG-15

Chaptered

Previous :

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

Kau hanya perlu memintanya, dan aku tidak akan meninggalkanmu.”

-oOo-

Setelah Jeonghan tenang sepenuhnya, mereka kembali masuk ke dalam—dengan alasan Ahreum yang mulai kedinginan karena terus-terusan terkena angin malam. Jeonghan mengantar Ahreum kembali ke kamarnya, dan saat Ahreum hendak masuk, ia tiba-tiba saja berbalik. Ahreum menatap Jeonghan sesaat, dan kemudian ia kembali membuka suara.

“Jeonghan.”

“Kenapa?”

“Bolehkah aku melakukan sedikit perubahan padamu?”

Jeonghan mengangkat alisnya bingung.

“Perubahan apa?”

“Itu, rambutmu …,” ujar Ahreum pelan sambil menunjuk ke rambut Jeonghan. “Boleh kupotong?”

Jeonghan sedikit terkejut ketika kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir Ahreum, karena baru kali inilah ia mendengar permintaan seperti itu.

“Memangnya kau bisa?”

Ahreum mendengus. “Memangnya aku akan menawarkanmu kalau aku tidak bisa?” tanyanya sebal.

“Baiklah, aturlah sesukamu saja,” jawab Jeonghan seraya terkekeh karena melihat wajah lucu Ahreum yang sedang merajuk.

Ahreum segera menarik Jeonghan masuk ke kamarnya, mendudukkan Jeonghan di depan meja rias milik kakak perempuannya sendiri. Sementara itu, Ahreum segera mengambil kursi untuk dirinya sendiri, gunting dan peralatan lainnya.

Saat Ahreum melingkarkan handuk pada Jeonghan, tiba-tiba laki-laki itu menyeletuk, “Kalau sampai hasilnya jelek, kau yang tanggung jawab.”

Ahreum menyengir lebar menanggapinya. “Lihat saja nanti.”

Selama kurang lebih lima belas menit, Ahreum memangkas dan mengatur tatanan rambut Jeonghan. Rambut yang semulanya tidak tertata rapi kini menjadi lurus setelah diluruskan dan disisir.

Rambut yang awalnya panjangnya hampir mencapai punggung dan tidak teratur, kini telah terpangkas, menyisakan potongan rapi sebahu.

Wajah Jeonghan yang awalnya tertutupi oleh rambut kini lebih jelas terlihat, karena rambut yang semula menutupinya telah disibakkan ke belakang.

“Selesai,” ujar Ahreum tersenyum sambil melepas handuk pada tubuh Jeonghan. Ia masih tersenyum ketika pandangannya beralih ke arah kaca, menatap bayangan Jeonghan di sana.

“Tunggu dulu,” kata Ahreum tiba-tiba. “Kenapa kau jadi cantik, ya?” tanya Ahreum dengan wajah heran.

Ya! Yang benar saja …,” keluh Jeonghan sambil menatap Ahreum dan bayangannya sendiri di cermin secara bergantian. Dari nada bicaranya, kentara sekali bahwa laki-laki itu panik.

“Tidak, tidak. Yah, memang cantik, sih. Tapi kau juga tampan, kok,” sahut Ahreum dengan polosnya.

“Masa?” tanya Jeonghan mengangkat alis tidak percaya. Ahreum mengangguk, lalu kembali ke tempat Jeonghan duduk. Ia memindahkan kursi yang menjadi tempatnya duduk sedari tadi ke hadapan Jeonghan, sehingga ia duduk berhadapan dengan Jeonghan sekarang.

Ia mengambil sisir dan merapikan tatanan rambut lelaki itu dari depan, sementara itu Jeonghan menghela nafas. “Ya, kalau aku cantik, bagaimana kalau mereka salah menyangka diriku sebagai Si Cantik dalam drama nanti?” candanya sambil tertawa.

Ahreum yang sedang berkonsentrasi akhirnya ikut tertawa. “Tenang saja, waktu kau jadi Si Buruk Rupa, kau akan didandani dengan bulu-bulu dan … kawan-kawannya. Entahlahlah aku juga lupa apa saja yang nantinya dipakaikan. Mina yang tahu, omong-omong. Dia ketua tim make up artist. Dia yang meriasmu nanti.”

“Dan, saat jadi pangerannya?” goda Jeonghan sambil mengangkat sebelah alisnya. Yah, tentu saja. Saat menjadi pangeran, tentu wajahnya sudah harus bersih, bukan?

“Bisa-bisa aku yang dikira Si Cantik, sedangkan kau pangerannya.”

Ahreum berhenti menata rambut Jeonghan dan memukul pelan laki-laki itu tepat di bahu.

“Jangan bercanda! Mana ada pangeran yang pakai gaun?!” pekik Ahreum.

Mereka tertawa, namun Jeonghan segera menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. “Sssstt! Jangan terlalu keras, nanti mereka terbangun,” bisik Jeonghan yang tiba-tiba saja teringat dengan kedua temannya yang sudah tertidur itu sambil masih terkikik.

Tak lama kemudian, Ahreum mengambil karet yang ada di meja—dan yang terjadi selanjutnya membuat Jeonghan kaget setengah mati. Ahreum melingkarkan lengannya di leher Jeonghan, dan kedua tangannya berusaha mengumpulkan surai Jeonghan menjadi satu, lalu mengikatnya.

Jarak wajah mereka benar-benar dekat, dan tiba-tiba suasana berubah menjadi serba canggung.

Wajah Ahreum memerah, dan ia merutuki dirinya sendiri kenapa ia melakukan hal ini, padahal ia bisa saja beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di belakang Jeonghan jika memang ingin mengikat rambut laki-laki itu. Sementara Jeonghan, kedua matanya terpaku pada mata Ahreum dan menatapnya lekat-lekat.

“Kalau diikat, aku yakin kau akan lebih tampak seperti laki-laki,” kata Ahreum sambil berusaha memecah keheningan dan suasana canggung yang tiba-tiba muncul.

Tatapan Jeonghan masih tidak bisa lepas dari mata Ahreum. Dan entah muncul dorongan dari mana, kedua lengannya langsung melingkari tubuh Ahreum dan mendekap gadis itu ke dalam pelukannya.

“Jeong—Jeonghan?” Ahreum yang masih kaget akan perlakuan Jeonghan barusan berusaha menarik diri, namun Jeonghan semakin mempererat pelukannya.

Akhirnya, perlahan-lahan Ahreum melingkarkan kembali lengannya dan balas memeluk Jeonghan.

“Kau kenapa?” tanya Ahreum lembut.

Selama beberapa detik, Jeonghan tidak menjawab pertanyaan Ahreum, hanya memeluk gadis itu dalam diam. Keheningan itu terpecah tatkala Jeonghan mulai membuka suara, “Bolehkah … aku meminta sesuatu padamu?” bisiknya.

Ahreum mengerutkan keningnya. “Apa?”

Jeonghan kembali terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menjawab. “Bolehkah aku memintamu untuk jangan pernah meninggalkanku?”

Ahreum agak kaget mendengarkan permintaan Jeonghan, namun tidak butuh waktu lama baginya untuk menjawab. “Mintalah,” ujarnya. “Kau hanya perlu memintanya, dan aku tidak akan meninggalkanmu.”

Mata Jeonghan melembut mendengarkan jawaban dari gadis itu, dan kemudian ia berbisik.
Don’t leave me. Just stay by my side. Please?”

Ahreum paham.

Jeonghan trauma karena ditinggalkan oleh ibunya, dan kini ia benar-benar membutuhkan seseorang untuk berada di sisinya. Seseorang yang dapat membuat hatinya merasa nyaman. Seseorang yang bisa dijadikan tempat bersandar untuknya.

Sambil menghela nafas, Ahreum berusaha untuk meyakinkan diri, sebelum akhirnya ia berucap, “Sure. I will stay by your side, and I won’t leave you. I promise.”

-oOo-

Keesokan paginya saat Ahreum sedang menyiapkan sarapan, Jisoo menerobos masuk ke dalam dapur sambil menguap lebar-lebar, membuat Ahreum yang melihatnya tertawa geli. “Selamat pagi,” gumamnya, yang dibalas dengan ucapan selamat pagi juga oleh Ahreum. Kau membuat apa?” tanya Jisoo.

“Ini telur gulung. Tadi aku juga sudah membuat pancake. Ada waffle juga. Oh, di kulkas juga ada es krim untuk dimakan dengan waffle dan pancakenya. Aku membelinya pagi-pagi tadi,” sahut Ahreum santai.

Jisoo ternganga mendengarnya. Ia semakin ternganga lagi ketiga melihat setumpuk besar pancake dan potongan-potongan waffle yang sudah menghiasi meja makan. “Ya, hari ini kau sedang berulang tahun atau apa?” tanya Jisoo spontan.

Ahreum hanya tersenyum geli sambil memindahkan telur gulungnya ke piring dan membawanya ke meja makan.

“Bukan. Hanya saja moodku sedang bagus,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Jisoo masih terheran-heran dengan Ahreum, ketika ia melihat satu hal yang membuatnya semakin heran lagi.

Jisoo melihat seseorang laki-laki cantik yang masuk ke dapur dan mengambil air, lalu menegaknya sampai habis. Jisoo tidak tahu dia siapa, masuk dari mana, atau apa pun itu. Yang jelas, wajah laki-laki itu sangat familiar baginya.

Jisoo mengerjap-ngerjapkan mata, meyakinkan diri bahwa ia tidak berhalusinasi pada pagi hari. Merasa diperhatikan, orang itu menatap Jisoo balik.

“Apa?”

Belum sempat Jisoo menjawab, Ahreum sudah berbalik dan menyunggingkan senyumannya saat mendengar suara laki-laki itu.

“Selamat pagi, Jeonghan,” sapanya. Yang disapa membalas ucapan itu dengan senyuman, dan setelah itu menghampiri meja makan untuk melihat sarapan apa saja yang telah tersedia di sana.

“Si—siapa katamu?” tanya Jisoo sambil berbisik pada Ahreum. Ahreum yang kebingungan hanya menatap Jisoo sekilas, kemudian kembali berkonsentrasi memasak telur gulungnya.

“Apanya?”

“Barusan. Barusan kau menyebutnya siapa?” tanya Jisoo lagi sambil menunjuk ke arah si laki-laki cantik.

Ahreum berbalik menatap ke arah yang ditunjuk oleh Jisoo sekilas. Dilihatnya Jeonghan yang sedang memainkan ponselnya sambil duduk di kursi meja makan.

“Jeonghan. Memangnya siapa lagi?”

Jisoo mengangkat kedua alisnya. “Ah, Jeonghan,” ujarnya sambil termanggut-manggut.  “Pantas saja tadi aku merasa bahwa dia familia—tunggu. JEONGHAN?!” Jisoo memekik dengan suara yang terlampau tinggi tepat di telinga Ahreum, sehingga gadis itu kaget setengah mati.

Jeonghan juga sama kagetnya dengan Ahreum, sampai ponselnya terlepas dan jatuh membentur lantai.

Ya! Kalau misalnya mau memanggil biasa saja tidak usah teriak-teriak. Aku tidak tuli,” gerutu Jeonghan sambil mengambil kembali ponselnya.

“Kau benar-benar Jeonghan?” tanya Jisoo sambil menghampiri laki-laki itu. Jeonghan mendengus menatapnya.

“Kau sudah berteman denganku sejak delapan belas tahun yang lalu dan kau masih belum bisa mengenaliku? Selamat. Kau berhasil membuatku patah hati,” ujar Jeonghan dengan nada kecewa yang dibuat-buat sambil berpura-pura sedih.

Ahreum hanya terkikik pelan sambil terus melanjutkan kegiatan memasaknya. “Kau pasti masih mengantuk, Jisoo. Cuci muka dulu, sana!” sahut Ahreum.

“Bukan begitu, tapi—Ahreum, apa yang telah kau lakukan padanya? Seingatku saat makan malam kemarin ia masih—”

Belum sempat Jisoo menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja di ambang pintu muncul kembali seseorang dengan penampilan acak-acakkan. Rambutnya berantakan, matanya masih setengah terbuka dan terlihat kantung mata yang agak menghitam. Kentara sekali bahwa ia baru saja bangun.

“Siapa yang berteriak?” gumamnya pelan dengan suara yang masih serak, khas orang baru bangun tidur.

Jisoo menegak ludah dan menatap Jeonghan dengan pandangan tolong-selamatkan-aku namun Jeonghan berpura-pura tidak melihatnya. Sedangkan Ahreum, ia masih fokus pada masakannya tanpa menoleh ke arah tiga laki-laki itu sedikit pun.

Akhirnya, mau tidak mau Jisoo nyengir lebar ke arah Wonwoo. “Maaf.”

Ya, untuk apa kau berteriak seperti itu? Suaramu terdengar jelas sampai atas, kau tahu? Lagi-lagi kau tidak menutup pintu kamar kita waktu keluar tadi,” omel Wonwoo.

Jisoo berusaha mengingat-ingat lagi, dan sepertinya Wonwoo benar. Ia lupa menutup pintu kamar mereka saat ia turun. Jisoo hanya bisa meringis mendengar omelan Wonwoo.

“Padahal kau tahu sendiri semalam aku tidak bisa tidur karena ada suara-suara berisik itu. Yang teriak-teriak sambil tertawa-tawa tidak jelas pada tengah malam.”

Kali ini, Ahreum dan Jeonghan yang membeku di tempat. Mereka saling mencuri pandang satu sama lain, dan sama sekali tidak berani menatap Wonwoo. Ahreum semakin menyibukkan diri dengan kegiatan memasaknya, dan sedangkan Jeonghan juga terlihat sibuk memainkan ponselnya.

“Dan aku yakin itu pasti kau, Ahreum. Dan juga Jeonghan,” ujar Wonwoo sambil menatap satu-satunya gadis yang ada di ruangan itu.

Merasa namanya disebut, Ahreum membalikkan badan dan meringis juga ke arah Wonwoo. “Maafkan aku,” ujarnya sambil sedikit membungkukkan badan.

Mata Wonwoo berkeliaran ke setiap sudut ruangan, namun ia tidak menemukan sosok yang dicarinya. “Mana Jeonghan? Belum bangun?” tanyanya.

Jisoo spontan langsung menyahutnya, “Jangan kaget, tapi ia sedang duduk di depanku sekarang.”

Wonwoo memicingkan mata memandang sosok laki-laki yang ada di depan Jisoo, lalu ia mengerutkan dahinya, tampak seperti berpikir. Tanpa basa-basi lagi, ia mengalihkan pandangannya pada Jisoo dan menunjuk ke arah laki-laki cantik itu.

“Siapa dia?”

Nah, yang ini jelas lebih parah lagi.

-oOo-

Jeonghan dan Ahreum sudah menyantap sarapan mereka, bahkan milik Jeonghan sudah hampir habis. Namun, Wonwoo dan Jisoo sama sekali belum menyentuh sarapan mereka.
Mereka masih saja memandangi Jeonghan dengan tatapan tidak percaya.

Merasa risih karena diperhatikan terus-menerus, Jeonghan membalas tatapan mereka.

“Apa?” sahutnya dengan nada malas.

Wonwoo tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak apa-apa,” jawabnya. “Hanya saja, Ahreum menata penampilanmu dengan sangat baik, kuakui itu.”

“Lalu?”

“Kau terlihat berbeda. Kau … menjadi lebih cantik,” lanjut Wonwoo sambil tertawa geli.

Jeonghan berhenti mengunyah pancakenya dan kedua matanya melebar menatap Wonwoo. Lalu ia menoleh ke arah Ahreum dengan pandangan kesal. “Tuh, kan?” gerutunya sambil menunjuk ke arah Wonwoo.

“Jangan banyak protes. Sudah kubilang, meskipun kau cantik, kau juga tampan, kok,” jawab Ahreum santai.

“Aku ingin tahu bagaimana reaksi anak-anak sekelas kita saat mereka melihatmu besok,” sahut Jisoo sambil menatap lurus-lurus Jeonghan.

Besok?

Ahreum tertegun mendengarnya. Ah, benar. Besok mereka sudah kembali masuk kuliah, dan tepat seminggu lagi, drama mereka akan dipentaskan tepat di depan seluruh mahasiswa, dari anak tahun pertama sampai terakhir, yang jumlahnya kurang lebih seribu lima ratus orang. Ketua yayasan dan para dewan pengurus juga akan hadir.

Meskipun awalnya tidak kerasan, namun ternyata sepuluh hari di rumah Jeonghan tidak terasa juga bagi Ahreum. Setiap hal yang telah mereka lewati bersama terasa begitu cepat berlalu. Dan mulai besok, persiapan akhir untuk hari besar akan dimulai.

Ahreum merasa, seharusnya ia sudah diperbolehkan pulang oleh Jeonghan. Perjanjiannya adalah, sampai Ahreum mengajari Jeonghan tentang peranan Si Buruk Rupa.

Dan ia telah melakukannya selama hari-hari terakhir ini. Sejujurnya, Ahreum ingin bertanya pada Jeonghan soal ini, namun ia tidak berani.

Tidak berani karena apa, Ahreum juga belum tahu. Tidak berani bertanya karena takut Jeonghan marah? Tidak mungkin. Jeonghan telah berubah sekarang.

Tidak berani karena mengingat permintaan Jeonghan semalam untuk tidak meninggalkannya? Mungkin. Atau… tidak berani meninggalkan Jeonghan?

Oh, entahlah. Yang jelas, sekarang Ahreum pusing dibuatnya. Ia memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa dulu ke Jeonghan, dan mungkin ia akan membiarkan semuanya mengalir begitu saja.

-oOo-

Malamnya, Ahreum dengan perasaan yang bercampur aduk mendatangi kamar Jeonghan untuk bertanya soal hari esok. Memang tadinya Ahreum telah memutuskan untuk tidak bertanya, tetapi ia tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.

Tentu saja ia akan masuk kuliah. Hanya saja, Jeonghan tidak berbicara apapun soal Ahreum yang diperbolehkan kembali ke apartemennya atau hal-hal yang bersangkutan dengan itu.

Kini, Ahreum sudah berdiri di depan pintu kamar Jeonghan, masih ragu untuk mengetuk atau tidak. Jisoo dan Wonwoo sudah tidur, jadi tidak mungkin meminta bantuan mereka. Berkali kali Ahreum mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan Jeonghan. Ia sudah mengangkat tangan hendak mengetuk pintu, ketika tiba-tiba saja pintu itu dibuka dengan sebuah sentakan keras dari dalam.

Dan di saat itu juga, Ahreum melihat Jeonghan yang berpenampilan sama seperti malam sebelumnya, memakai piyama dan berbalutkan mantel tidur. Ahreum sempat sedikit terlonjak saat pintu itu tiba-tiba dibuka, namun di sini kenyataannya Jeonghan lah yang lebih jantungan.

“ASTAGA!” teriaknya sambil mundur ke belakang selangkah sambil berjengit. Sedetik kemudian, ia baru sadar bahwa sosok yang ada di depannya sekarang ini hanyalah Hwang Ahreum. Ia menghela nafas berat sambil mengelus dadanya.

“Astaga, Ahreum. Berhenti membuatku jantungan terus seperti ini. Kukira kau siapa. Atau apa,” ujarnya pelan, mengingat-ingat bahwa teriakannya barusan bisa saja membangunkan kedua temannya itu.

Ahreum tersenyum canggung, lalu ia membuka mulut hendak bicara. Namun ternyata Jeonghan sudah menyahut duluan.

“Baru saja aku juga ingin ke kamarmu, tapi ternyata kau ke sini duluan.” Jeonghan tertawa kecil. “Memangnya ada apa, Ahreum?”

Jeonghan juga ingin bicara padanya?

Ahreum mengangkat alisnya bingung, dan kemudian ia menjawab, “Kau duluan saja. Kenapa ingin menemuiku?”

Jeonghan menghela nafas, dan selama beberapa detik hanya ada keheningan. Kemudian, Jeonghan mulai angkat bicara. “Besok …,” ujarnya. “Kau berangkat bersamaku, ya?”

Ahreum melebarkan kedua matanya. Kalimat Jeonghan yang barusan itu bukan merupakan pertanyaan, namun lebih tepatnya seperti sebuah ajakan. Ahreum tampak berpikir-pikir sejenak. “Lalu, bagaimana dengan seragamku?”

Jeonghan tersenyum. “Besok kau bisa memakai seragam yang kau pakai saat pertama kali datang ke sini. Sudah dicuci, kan?”

Ahreum mengangguk, meningat beberapa hari yang lalu seragamnya itu sudah dikirim ke laundry, dan ia baru saja mengambilnya kemarin.

“Untuk hari-hari berikutnya, kau bisa menggunakan milik kakakku. Ia juga alumni universitas kita. Kau hanya perlu melepas nametagnya dan menggantinya dengan milikmu.”

Ahreum mengangguk lagi. “Baiklah kalau begitu,” ujarnya sambil tersenyum ke arah Jeonghan.

“Omong-omong, memangnya ada apa kau kemari?”

Ahreum hanya menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Tidak jadi,” jawabnya. “Kalau begitu, aku kembali dulu. Selamat malam, Jeonghan.”

Ahreum sempat tersenyum sekilas ke arah Jeonghan sebelum mebalikkan badannya dan berjalan kembali ke kamarnya, meninggalkan Jeonghan yang masih menatapnya dengan tatapan bingung.

Ahreum berjalan dengan kata-kata Jeonghan yang masih berputar-putar di kepalanya. Jeonghan meminta Ahreum untuk berangkat bersama, dan bahkan menyuruhnya untuk memakai seragam milik kakaknya.

Mungkin Jeonghan memang tidak mengatakan bahwa Ahreum masih tidak boleh pulang, namun dengan mengatakan permintaan seperti itu, gadis itu sudah cukup peka dengan maksud Jeonghan.

Entah kenapa, timbul suatu perasaan lega tersendiri dalam hati terkecil Ahreum ketika permintaan itu terlontar.

tbc.
-oOo-

*This story is inspired from a classic fairy tale by Jeanne-Marie Leprince de Beaumont,
Beauty and the Beast.

Advertisements

4 thoughts on “A Story of Beauty and the Beast (Chapter 6)

  1. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 7) | ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 8) | ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9) | ROSÉ BLANCHE

  4. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Last Chapter) | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s