A Story of Beauty and the Beast (Chapter 5)

PicsArt_07-14-03.42

A Story of Beauty and the Beast (Chapter 5)

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan (Seventeen), Hwang Ahreum (OC), & Others

Romance

PG-15

Chaptered

Previous :

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

“You begin to develop feelings for her, don’t you?”

Baru sepuluh menit sejak latihan drama berempat di rumah Jeonghan dimulai, namun wajah Ahreum terus saja mengernyit melihat lengan Jeonghan yang masih diperban.

Luka pada lengannya itu memang tidak terlalu dalam, namun tetap saja pisau itu telah mengenai dagingnya. Dan laki-laki itu bahkan menolak untuk ke rumah sakit.

“Kau kenapa?” tanya Jeonghan yang mendadak menghentikan latihannya dan beralih menghampiri Ahreum, menyadari wajah gadis itu tidak seperti biasanya.

“Memangnya lenganmu tidak sakit, ya?” Ahreum balas bertanya. “Jangan terlalu banyak menggerakkan lenganmu, Jeonghan. Lukamu masih belum benar-benar pulih.”

Jeonghan hanya mengangkat alis menanggapinya sambil mengendikkan bahu. “Tidak apa-apa, kok. Biarkan saja.”

“Tapi, Jeonghan—”

“Sudah kubilang tidak apa-apa,” ujar Jeonghan bersikeras.

“Oh ayolah, Jeonghan. Kau pikir aku bicara ini untuk kebaikan siapa?” Nada bicara Ahreum tetap tenang, berusaha untuk bersabar tentunya.

Mulanya, Jeonghan membuka mulut ingin tetap teguh pada pendiriannya, hanya saja ia mulai berpikir ulang setelah mengingat kejadian kemarin.

Akhirnya, ia mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu aku hanya latihan dialognya saja hari ini.”

Laki-laki itu kemudian duduk di samping Ahreum, sambil berusaha menghafalkan naskah dialognya.

Kedua laki-laki yang sedang bersama mereka—Jisoo dan Wonwoo—sempat berpandangan sesaat, heran tentunya.

Karena, baru kali ini Jeonghan bisa menurut dengan begitu mudahnya. Bahkan, ia tidak sampai tersulut emosi sedikit pun, tidak seperti biasanya.

-oOo-

“Jeonghan.”

Yang dipanggil hanya menoleh, mendapati Jisoo yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Jisoo segera menghampiri Jeonghan, yang sedang berdiri bersandar pada tembok di balkon kamarnya—memandang ke arah taman samping. Jeonghan mengalihkan pandangannya sekilas pada Jisoo dan kembali menatap sesuatu yang sedari tadi menjadi fokusnya.

“Kenapa?” tanya Jeonghan tanpa menatap lawan bicaranya. Jisoo mengikuti arah pandang Jeonghan, dan ia mengerti sekarang.

Di taman, Ahreum terlihat sedang berlatih sendirian, melatih dialog serta akting dan gerak teaterikalnya sambil bermandikan matahari senja.

Jisoo kembali menatap Jeonghan, dan dilihatnya kini tatapan mata Jeonghan kepada Ahreum.

Tatapan mata itu, benar-benar berbeda dari Yoon Jeonghan yang biasanya.

“Kau ….” Bibir Jisoo mulai membentuk sebuah senyum lebar. “Sejak kapan kau menjadi seperti ini, hm?”

“Entahlah. Memangnya aku jadi seperti apa?”

Jisoo menghela nafas dan ikut bersandar di tembok, di sebelah Jeonghan.

You begin to develop feelings for her, don’t you?”

Jeonghan mengalihkan pandangannya ke lengannya yang diperban, dan menyentuhnya pelan. “Jujur, aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya.”

So, you’re fallin in love,” sahut Jisoo spontan.

Jeonghan tertawa pelan dan memandangi Ahreum kembali. Melemparkan sebuah pandangan yang memiliki makna tersirat.

“Aku ingin melakukan sesuatu untuknya. Ia membantuku banyak sekali tadi.”

Well, kuakui ia memang benar-benar sabar dalam mengajarimu artikulasi dan segala jenis kawan-kawannya dalam berdialog.”

Jisoo teringat momen saat mereka latihan tadi. Berkali-kali Jeonghan mengeluh tidak bisa, namun Ahreum terus saja berkata, “Tidak apa-apa, aku akan mengajarimu,” atau, “Kau hanya perlu berlatih sedikit lagi,” dan ia tidak marah sedikitpun ketika mengajari Jeonghan.

Padahal menurut Jisoo, untuk ukuran murid semester delapan, Jeonghan benar-benar kelewat payah.

“Iya. Lalu apa?” tanya Jeonghan.

“Apanya yang apa?”

“Apa yang bisa kulakukan untuknya?” Jeonghan menoleh ke arah Jisoo dengan pandangan bingung.

Jisoo tampak berpikir-pikir sejenak, dan tak lama kemudian ia menjentikkan jarinya.
“Berikan saja dia hadiah yang membuatnya senang.”

“Hadiah?” tanya Jeonghan. “Memangnya apa yang ia senangi?”

Jisoo tersenyum, kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Jeonghan, dan Jeonghan termanggut-manggut tanda mengerti.

-oOo-

Keesokan malamnya, mereka berempat masih sempat berlatih sedikit lagi setelah makan malam, dan kali ini Jeonghan sudah dapat melatih gerakannya meskipun hanya sebagian kecil. Senyuman puas terlukis di bibir Ahreum tatkala melihat Jeonghan yang sudah tampak lebih menguasai bagiannya daripada siang tadi.

Ketika latihan telah selesai, mereka berempat naik ke atas, menuju ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.

Jisoo dan Wonwoo sudah memasuki kamar mereka yang terletak di seberang kamar Jeonghan, sedangkan Ahreum masih harus berjalan sedikit lebih jauh untuk mencapai kamarnya.

Jeonghan yang tadinya ingin masuk ke kamar tiba-tiba mengurungkan niatnya, dan diam-diam mengikuti Ahreum. Karena ingin tahu, lebih tepatnya.

Ketika Ahreum sudah dapat melihat kamarnya, sesuatu yang berada di hadapannya membuat ia terkesiap dan bahkan sempat menghentikan langkahnya sebentar.

Di depan pintu kamarnya itu, terdapat sebuah boneka beruang besar, yang Ahreum yakini lebih besar dari ukuran tubuhnya sendiri. Boneka itu berbulu putih bersih, dan terdapat sebuah pita merah yang melingkar di lehernya.

Cantik.

Itulah yang ada di pikiran Ahreum saat melihatnya.

Ahreum mendekati boneka itu, dan ternyata di tangan boneka itu terselip sebuah kertas. Ia mengambil kertas itu lalu membacanya.


Thank you.

Just thank you, for everything.


Hanya itu yang tertera. Beberapa detik setelahnya, Ahreum mendengar suara langkah kaki yang samar yang membuat dirinya sontak menoleh.

Jeonghan.

“Astaga, aku ketahuan.” Jeonghan bergumam sendiri sambil menunduk tertawa.

“Ini darimu?” Ahreum meraih boneka itu dan mengangkatnya. Tak sampai lima detik berikutnya, Ahreum meletakkannya lagi karena ia tidak menyangka kalau boneka itu ternyata berat sekali.

Jeonghan menyunggingkan sebuah senyum simpul, menunjukkan lesung pipitnya yang tidak terlalu kentara. Hei, siapa sangka Jeonghan Si Buruk Rupa ternyata bisa semanis itu?

“Iya,” jawab Jeonghan. “Kudengar dari Jisoo kau suka boneka—tunggu, ia benar, kan?” tanya Jeonghan memastikan.

Terjadi jeda dimana Ahreum hanya bisa diam sambil ternganga.

Jisoo?

Ah, benar. Ia sempat mengatakannya saat mereka sedang mengobrol di kamar Ahreum pada hari pertama. Tak lama kemudian, Ahreum mengangguk sambil tersenyum.

“Terima kasih, Jeonghan.”

“Aku yang berterima kasih,” sahut Jeonghan sambil mendekat menghampiri Ahreum.

“Aku tahu kau juga menyukai buku dan cerita-cerita klasik persis seperti tokoh Si Cantik, namun maaf aku tidak bisa memberimu sebuah perpustakaan seperti yang ada di dalam drama,” canda Jeonghan sambil tertawa. “Aku hanya bisa memberi boneka ini, sebagai bentuk rasa terima kasihku.”

“Untuk apa?”

“Semuanya.”

Ahreum terdiam sejenak, dan kemudian ia mengangguk mengerti. Ia menatap boneka itu, lalu kembali menatap Jeonghan. “Kau serius memberikan ini untukku?”

“Tentu saja. Kau suka?”

Tiba-tiba saja, Jeonghan merasakan ada kedua lengan yang melingkari bahunya—dan tepat saat itu juga aroma harum dari rambut Ahreum dapat tercium jelas oleh Jeonghan.
Ahreum memeluknya, namun hanya dua detik. Kemudian gadis itu melepasnya kembali.

“Ah, maaf,” ujar Ahreum salah tingkah. “Iya, suka. Sangat suka malah.”

Jeonghan yang pikirannya hilang entah kemana saat Ahreum memeluknya tadi—hanya bisa tersenyum canggung, lalu menunduk.

“Ka—kalau begitu, aku kembali ke kamarku dulu.”

Jeonghan berbalik dan melangkah menuju ke kamarnya, sedangkan Ahreum sendiri langsung menggeret bonekanya masuk dan menutup pintu.

Setelah pintu kamarnya benar-benar tertutup, gadis itu menyandar dan memegangi dadanya, tempat di mana jantungnya sedang berdegup tidak karuan. Ia mengambil nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Berkali-kali.

“Astaga, apa yang tadi kulakukan, sih?” desisnya pada diri sendiri.

Sementara itu, Jeonghan yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, telah sampai di depan kamarnya. Ketika ia membuka pintu, ia baru sadar bahwa ada yang sedang memperhatikan.

Sontak ia langsung menoleh, dan didapatinya Jisoo dan Wonwoo yang sedang berdiri di depan pintu kamar mereka yang terbuka.

“Jangan pikir kami tidak melihatnya, Jeonghan.” Wonwoo mengangkat sebelah alisnya ke arah Jeonghan, yang langsung dibalas dengan dengusan oleh laki-laki bersurai panjang itu.

“Kurasa aku tidak akan bisa tidur malam ini.”

-oOo-

Hari-hari berikutnya dilanjutkan dengan mereka yang berlatih sepanjang hari demi dapat memerankan peran mereka masing-masing dengan maksimal. Semakin hari, Ahreum menjadi semakin dekat dengan ketiga laki-laki itu, terutama Jeonghan.

Tidak ada lagi pertengkaran ataupun Jeonghan yang meledak-ledak karena amarahnya. Walaupun pada awalnya ia tempramental, dalam kurun waktu beberapa hari ia cukup menunjukkan perubahan sikapnya.

Luka Jeonghan juga semakin membaik, sehingga pada akhirnya ia dapat melatih gerak teaterikalnya secara keseluruhan.

Jisoo yang berperan sebagai Lumiere, pegawai istana yang dikutuk menjadi tempat lilin juga berusaha yang terbaik.

Wonwoo yang berperan sebagai Gaston—pria yang naksir Si Cantik dan menjadi musuh Si Buruk Rupa pada akhir cerita—juga berusaha mati-matian untuk tidak tertawa tiap kali mengucapkan dialog Gaston yang menurutnya menggelikan itu.

Sampai suatu malam, Ahreum tidak bisa tidur. Ia hanya membolak-balikkan tubuhnya di kasur. Ia terduduk dan menatap jam besar yang tertera pada dinding. Ternyata waktu sudah melewati tengah malam.

Akhirnya, ia beranjak dari tempat tidurnya, memakai mantel tidur, dan berjalan keluar. Ia melangkah ke arah tangga, berencana untuk menuju ke taman samping. Duduk-duduk di sana sambil menghirup udara malam bukan hal yang buruk, bukan?

Namun, tepat saat Ahreum melewati pintu kamar Jeonghan, tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka, dan di sana berdiri Jeonghan yang juga sedang memakai mantel kamarnya. Jeonghan sedikit membelalak saat melihat Ahreum.

“Astaga … kau mengagetkanku,” ucapnya sambil memegang dadanya. “Kau mau kemana?”

“Ke taman samping, mungkin? Aku tidak bisa tidur,” jawab Ahreum meringis. “Kau?”

“Aku juga tidak bisa tidur,” sahut Jeonghan.

Ahreum membalas Jeonghan dengan sebuah anggukan, membuat laki-laki mencoba berpikir-pikir sejenak, dan dengan nada tidak yakin ia berusaha mengutarakan apa yang baru saja terlintas dalam pemikirannya.

“Ahreum …”

Yang dipanggil hanya menoleh dengan pandangan bertanya.

“Mau mengobrol denganku?”

-oOo-

Ahreum mengurungkan niatnya untuk pergi ke taman, dan kini ia dan laki-laki bersurai panjang itu sedang berada di balkon kamar Jeonghan, sambil menikmati udara malam. Ahreum mengalihkan pandangannya pada lengan Jeonghan.

“Bagaimana lenganmu?”

Much better, thanks to you.

Ahreum mengangguk pelan. Memang Jeonghan merawat lukanya sendiri dengan baik. Mereka terdiam dalam keheningan selama beberapa detik.

Tiba-tiba Ahreum teringat pada perkataan Wonwoo saat itu.

“Aku tidak peduli kata orang lain. Yang aku tahu selama delapan belas tahun mengenalnya, dia itu orang baik. Hanya saja ia kurang bisa mengontrol emosinya. Atau lebih tepatnya, ia seperti itu sebagai bentuk pelampiasan.”

Pelampiasan.

Satu kata itu terngiang-ngiang dalam benak Ahreum, membuatnya semakin bingung dan penasaran. Ahreum ingin bertanya pada Jeonghan, namun hatinya sempat ragu sejenak. Tapi, tetap saja ada dorongan yang cukup kuat dalam dirinya.

“Jeonghan …”

“Ya?”

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Jeonghan mengangkat kedua alisnya, dan kemudian tersenyum kecil. “Tanyalah. Apa pun itu.”

Ahreum menggigit bibirnya ragu, lalu mulai membuka suara, “Apakah sifat tempramentalmu itu sebuah bentuk pelampiasan?”

Jeonghan melebarkan kedua matanya menatap Ahreum selama beberapa sekon, dan dahinya otomatis mengerut.

“Siapa yang bilang padamu?”

“Ternyata benar?” balas Ahreum bertanya dengan nada takut-takut.

Tatapan Jeonghan meredup dan kemudian ia tersenyum. Namun, senyuman mirislah yang disunggingkannya. “Mungkin benar.”

“Mungkin?”

“Kau benar-benar ingin tahu, hm?” tanya Jeonghan seraya duduk di bangku panjang yang bergelantung di sebuah ayunan.

“Yah, kalau kau mau memberi tahu,” jawab Ahreum.

Jeonghan menepuk-nepuk tempat di sampingnya, mengisyaratkan pada Ahreum untuk duduk. Ahreum menurut, dan kini ia sudah duduk manis di sebelah Jeonghan.

“Ahreum,” Jeonghan mulai bersuara. “Mungkin kau sudah mendengar banyak tentang ayahku, tapi aku yakin tidak dengan ibuku. Benar atau tidak?”

Benar juga, pikir Ahreum. Gadis itu mengangguk, dan Jeonghan melanjutkan.

Well, ia telah meninggalkanku saat aku masih berumur enam tahun.”

“Meninggalkanmu?” tanya Ahreum. “Ibumu … sudah tiada?” tanya Ahreum takut-takut.

Jeonghan tiba-tiba menatapnya dengan kedua alis terangkat dan Ahreum semakin menciut. “Maaf kalau aku salah,” bisiknya.

Tanpa disangka-sangka, Jeonghan tertawa pelan. “Bukan, bukan begitu maksudku. Dan jangan takut-takut begitu, Ahreum. Aku tidak akan menggigitmu.”

Ahreum yang mendengar itu akhirnya terkekeh pelan. Memang Jeonghan sudah banyak berubah sekarang. Ia tidak dingin seperti saat pertama kali Ahreum mengenalnya, dan bahkan ia sudah hampir tidak pernah marah sekarang.

Bahkan saat Wonwoo memakan jatah pudingnya di kulkas, ia hanya pura-pura marah dan mengejar Wonwoo berkeliling ruangan sambil tertawa-tawa.

“Oh ya, soal ibuku,” lanjut Jeonghan. “Ia belum meninggal. Ia hanya pergi dengan … pria lain.”

Jeonghan memelankan suaranya saat mengucapkan dua kata terakhir—membuat Ahreum terkesiap pula tentunya. Untuk kurun waktu sementara, Ahreum memilih untuk tetap diam, membiarkan Jeonghan melanjutkan cerita.

“Waktu aku masih kecil, berkali-kali ibuku mengatakan bahwa ia mencintaiku. Berkali-kali juga, ia memeluk dan mengusap kepalaku setiap kali aku akan tidur. Waktu aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak, aku ingat ada beberapa temanku yang mengejekku dengan sebutan ‘anak manja,’ atau ‘anak mami,’ atau apapun itu—namun aku tidak peduli. Yang terpenting adalah aku mengetahui kenyataan bahwa ibuku mencintaiku dan aku juga mencintainya dengan sepenuh hati.”

Mau tak mau, Ahreum ternganga juga mendengarnya. Siapa sangka Jeonghan ternyata dulu seperti itu?

“Sampai akhirnya, yah … itu tadi. Tiba-tiba saja ia pergi dengan pria lain, dan aku sama sekali tidak tahu alasannya sampai sekarang. Apakah ia sudah tidak mencintai kami lagi atau apa, aku tidak mengerti. Yang jelas … aku merasa dikhianati, kau tahu?” lanjutnya sambil tertawa sumbang.

“Orang yang kukira mencintaiku sepenuhnya, ternyata bisa meninggalkanku begitu saja. Bahkan aku sampai berpikir, does true love exist?” Jeonghan kembali terkekeh pelan, dan ia terdiam saat ia merasa tangan kirinya digenggam.

Ia menoleh ke arah Ahreum yang menatapnya nanar sambil masih memegangi tangannya.
“Kenapa kau tertawa?” bisik Ahreum.

Saat itu juga, senyum palsu di bibir Jeonghan luntur seketika dan kedua alisnya terangkat.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Ahreum kembali mengulang pertanyaannya. “Kau jelas tahu itu bukan hal yang pantas ditertawakan. Jelas-jelas kau kesakitan, Jeonghan. Stop acting like everything’s okay. You’re not …, are you?”

Jeonghan masih diam menatap Ahreum dalam keheningan. Beberapa detik mereka hanya duduk berhadapan sambil memandang satu sama lain, sampai akhirnya sebulir air mata jatuh ke pipi Jeonghan—meninggalkan jejak yang turun sampai ke dagu.

Jeonghan mengeratkan genggaman tangannya pada Ahreum dan menunduk.

“Tidak,” ujarnya dengan suara gemetar. “Kau benar. Aku tidak baik-baik saja,” lanjutnya sambil terisak pelan.

Perlahan-lahan, Jeonghan menempelkan ujung kepalanya pada bahu kanan Ahreum, menyembunyikan wajahnya, dan menangis tanpa suara.

Ahreum yang membiarkan Jeonghan menangis di bahunya juga merasa bahwa air matanya akan tumpah sebentar lagi. Hatinya sakit melihat Jeonghan yang menderita seperti ini.

Ia mengangkat tangannya yang tidak digenggam oleh Jeonghan, lalu menepuk-nepuk pelan punggung laki-laki itu. “Tidak apa-apa.” ujar Ahreum pelan. “Tidak apa-apa, Jeonghan. Ada aku di sini. Tidak apa-apa.”

Jeonghan yang mendengar itu semakin terisak, dan Ahreum tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air matanya mulai jatuh. Kini Ahreum melingkarkan kedua lengannya dan membawa Jeonghan ke dalam sebuah dekap.

Ahreum masih saja menepuk dan mengusap-usap punggung Jeonghan perlahan, sampai akhirnya Jeonghan membalas pelukannya.

Jeonghan yang selama ini dikatakan pendiam, pemarah, galak … tak Ahreum sangka mempunyai masa lalu seperti itu. Rasanya menyedihkan apabila orang-orang menjauhinya hanya karena mereka tidak mengerti titik permasalahannya.

Lima menit berlalu, dan mereka masih belum mengubah posisi mereka. Hanya saja, Jeonghan sudah berhenti menangis sekarang. Sambil masih bersandar pada pundak Ahreum, kini ia kembali membuka suara.

“Saat ibuku meninggalkanku … jujur, aku marah,” gumamnya. “Aku marah, namun aku tidak tahu harus marah pada siapa. Aku ingin marah pada ibuku, tapi aku tidak bisa. Berapa kali pun aku mencoba, namun pada kenyataannya aku tetap tidak bisa marah padanya,” lanjut Jeonghan. “Karena itu—”

“Karena itu kau melampiaskan kemarahanmu pada semua orang?” tanya Ahreum ragu-ragu seraya melepas pelukannya. Ia menatap Jeonghan yang matanya agak membengkak, dan masih tersirat kesedihan di sana.

Jeonghan pun mengangguk pelan.

“Kurasa begitu.”

Ahreum mengerti.

Semuanya masuk akal. Dan akhirnya, jawaban dari teka-teki yang dimainkan Jisoo dan Wonwoo padanya terkuak. Jeonghan terlalu tenggelam dalam kesakitan yang disebabkan oleh ibunya, sehingga membuatnya buta dan hilang arah dalam menghadapi semua orang.
Perasaan sakit itu telah mengubur sifat baiknya terlalu dalam. Namun meskipun terkubur, bukan berarti kebaikan dari Yoon Jeonghan hilang begitu saja.

Sudah jelas sekarang.

tbc.

-oOo-

*This story is inspired from a classic fairy tale by Jeanne-Marie Leprince de Beaumont,
Beauty and the Beast.


“There’s a story behind every person. There’s a reason why they’re the way they are. Think about that before you judge someone.”

-Unknown-

 

Advertisements

5 thoughts on “A Story of Beauty and the Beast (Chapter 5)

  1. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 6) – ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 7) | ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 8) | ROSÉ BLANCHE

  4. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9) | ROSÉ BLANCHE

  5. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Last Chapter) | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s