Choice

choice

Choice

story by Rosé Blanche

Choi Seungcheol (Seventeen), Choi Seungyeon (OC) & Hong Jisoo (Seventeen)

Family, Fluff

G

Oneshot

“Namun, pada akhirnya ia memilihmu, kan?”

-oOo-

Seungcheol mempercepat langkah sambil merapatkan jaketnya. Udara dingin di Seoul akibat salju pertama yang turun malam ini terasa sudah menembus pakaiannya—membuatnya ingin untuk segera tiba di apartemen yang ditinggali oleh sang adik, Seungyeon.

Seungyeon tinggal di apartemen milik ayah mereka seorang diri, dengan alasan jaraknya yang lebih dekat dengan universitas Seungyeon daripada rumah mereka.

Dan malam ini, Seungcheol sudah berjanji untuk mengembalikan laptop Seungyeon yang dipinjamnya sejak minggu lalu, karena laptopnya sendiri rusak dan masih berada di tempat servis.

Tak lama kemudian, Seungcheol sudah berdiri di depan pintu apartemen Seungyeon. Tangannya langsung merogoh saku mencari kunci. Ketika ditemukannya benda itu, langsung saja Seuncheol membuka pintu dan menerobos masuk tempat tinggal yang sering dikunjunginya hanya untuk sekedar berisitrahat atau menumpang makan.

Ia segera melangkah ke ruang tamu, dan seketika langkahnya terhenti.

Netranya menatap fokus sosok yang sedang terduduk di sofa sambil memeluk kedua lutut dan menyembunyikan wajahnya.

“Seungyeon, kukembalikan laptopmu. Mau kutaruh dimana?”

Mendengar suara yang dikenalinya itu, Seungyeon mendongak dan menatap sang kakak.

Seperti yang sudah Seungcheol duga, anak itu menangis. Terlihat jelas dari wajahnya yang memerah dan sembab.

“Seungyeon, kau kenapa?” Setelah menaruh tas dan melepaskan jaketnya, laki-laki itu langsung duduk tepat di samping Seungyeon.

“Kau kenapa, hm?” Seungcheol mengulangi pertanyaannya lembut sambil mengusap pundak Seungyeon.

Ketika dua manik berlinangkan air mata itu menatapnya, suara itu juga mulai keluar.

Oppa, Jisoo …”

Mendengar nama itu, Seungcheol mendengus pelan. “Kenapa lagi dia?”

“Entahlah…. Apa, ya? Rasanya seperti selama ini hanya aku yang selalu mengejarnya. Semuanya. Semuanya selalu aku yang memulai, oke?” ungkap Seungyeon bernada miris.

“Aku yang duluan menyatakan perasaanku padanya. Ingin bertemu, juga selalu aku dulu yang meminta. Bahkan kencan, bergandengan tangan, berpelukan pun—selalu saja aku yang mulai duluan. Memang, ia juga selalu menurut, hanya saja …”

Seungcheol hanya mengernyitkan dahinya sambil menatap lirih Seungyeon. “Apa?”

“Kurasa, ia tidak pernah mencintaiku. Ia tak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku. Bahkan, sifatnya yang dingin itu tak pernah berubah sejak dulu. Ia juga tidak peduli. Aku heran kenapa aku bisa tahan dengannya selama ini. Sudah lima tahun, Oppa.”

“Lima tahun?” Otomatis Seungcheol membulatkan matanya.

Benar-benar tidak terasa. Memangnya sudah selama itu, ya?

“Iya. Dulu kupikir, menjadi kekasih seorang laki-laki yang populer di sekolah itu menyenangkan. Aku ingin membuat Jisoo yang terkesan dingin dan cuek itu jatuh cinta padaku, hanya untuk sekedar membuat anak-anak lain kagum, namun aku tidak pernah serius menyukainya,” ujar Seungyeon pelan.

Ya, Seungcheol tahu akan hal itu. Tetapi, ia juga tahu. Dunia berotasi, bukan?

“Tapi entah sejak kapan, malah aku yang merasa tidak bisa meninggalkannya. Bodoh, kan?” ujar Seungyeon sambil tersenyum miris. “Before I realized it, I’ve fallen for him, Oppa.”

Tuh, kan? Layaknya menggali sebuah lubang untuk menjebak, namun malah ia sendiri yang terjatuh ke dalam lubang itu.

Seungcheol berusaha mencari kata-kata yang bisa menenangkan Seungyeon, namun sayang otaknya buntu.

Dari dulu, ia selalu merasa hubungan Seungyeon dan Jisoo baik-baik saja. Mereka mulai menjalin hubungan saat Seungyeon memasuki tahun pertamanya di sekolah menengah akhir, dan mereka bertahan sampai sekarang.

“Aku bahkan tidak pernah mengerti kenapa ia menerima pernyataanku waktu itu. Ia tak pernah peduli. Bahkan sudah seminggu ini, ia selalu berkata bahwa ia sibuk, sibuk dan sibuk. Hari ini aku memintanya untuk bertemu, namun teleponku tak kunjung diangkat. Padahal, hari ini adalah anniversary kita yang kelima.”

Seungyeon kembali terisak, membuat hati Seungcheol terasa seperti disayat.

Seungcheol menggigit bibir, benar-benar bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Namun, di satu sisi ia juga tidak tahan melihat Seungyeon yang rapuh seperti itu. Tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya Seungcheol merengkuh Seungyeon, membawa gadis itu ke dalam dekap.

“Kurasa ada satu hal yang harus kau ketahui, Seungyeon,” ujar Seungcheol lembut. “Setiap orang punya cara yang berbeda-beda dalam memperlakukan kekasihnya. Dan aku tahu, Jisoo mencintaimu—hanya saja dengan caranya sendiri.”

Seungyeon tidak menjawab dan membiarkan keheningan datang, sehingga Seungcheol melanjutkan kata-katanya.

“Tidak semua orang bisa terang-terangan menyatakan perasaannya, Sayang. Lagipula, lima tahun bukanlah waktu yang singkat, kan? Kau pikir kenapa ia menerimamu menjadi kekasihnya dulu? Kalau kau perhatikan, tidak sedikit gadis yang menyatakan perasaan padanya saat SMA, Seungyeon. Tapi, Jisoo selalu menolak mereka. Dan kau—kau adalah satu-satunya gadis yang diterimanya.”

Seungyeon melepaskan pelukan Seungcheol dan menatap kakaknya itu dengan mata melebar. Ia tak tahu harus berkata apa lagi setelah mendengar penjelasan kakaknya yang panjang lebar itu. Mungkin Seungcheol ada benarnya, namun Seungyeon masih ragu. “Ta—tapi …”

“Sudah tahu begitu, masih ragu dengan alasan kenapa Jisoo menerimamu?”

Bibir gadis itu kembali terkatup, dan kini kedua pipinya memerah—membuat Seungcheol yang gemas terkekeh pelan.

Remember, Seungyeon. He had so many choices back then.” Seungcheol tersenyum menatap adiknya yang masih menatap lurus ke arahnya, menanti ucapan yang akan terlontar selanjutnya dari mulut sang kakak.

“Namun, pada akhirnya ia memilihmu, kan?”

Kedua manik hitam pekat itu melebar, dan Seungcheol bisa bernafas lega setelah mengatakannya. Setidaknya, Seungyeon sudah tidak menangis lagi sekarang—dan ia juga tahu kalau jalan pikiran gadis itu mulai terbuka.

“Dan sekarang, semua terserah padamu. Kau yang memilih. Kau yang menentukan pilihan-pilihan dalam hidupmu sendiri, Seungyeon.” Netranya memandang Seungyeon dengan lembut, memancarkan kehangatan.

“Kau sudah memilih untuk bertahan selama lima tahun. Sekarang, apa pilihanmu?”

Seungyeon mendengus pelan menatap Seungcheol. Ia tahu kakaknya itu memang benar. Ia tahu, semua yang terjadi saat ini adalah hasil dari pilihan-pilihannya sendiri. Dan kini, ia harus memutuskan.

Akhirnya, Seungyeon tersenyum lemah.

“Kurasa, aku akan menunggu.”

“Begitukah?”

“Iya. Mungkin, aku akan bertahan sedikit lagi, I guess?”

Mereka saling menatap dan tertawa kecil sejenak, sampai tiba-tiba saja terdengar suara bel pintu.

“Bukalah, siapa tahu Jisoo.”

Seungyeon sempat menyunggingkan senyum simpul sambil termanggut-manggut sebelum ia mengusap-usap wajahnya.

Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, bercermin sejenak dan merapikan diri. Tungkainya melangkah ke arah pintu, sementara Seungcheol sendiri hanya tetap duduk diam di atas sofa—menunggu apa yang akan terjadi.

Hanya saja, Seungcheol hanya mendengar suara pintu yang dibuka selama beberapa sekon, lalu ditutup kembali. Bertepatan dengan saat itu, ponsel Seungyeon yang terletak di meja berbunyi. Seungcheol melihat nama yang tertera di layar.

Hong Jisoo.

Seungcheol menatap kembali ke arah Seungyeon yang kembali ke ruang tamu, dan di tangannya kini ada sebuah amplop coklat.

“Tidak ada siapa-siapa diluar, hanya ada ini,” ujar Seungyeon sambil menunjukkan amplop coklat yang dipegangnya. “Omong-omong, siapa yang menelepon?”

“Jisoo.”

“Eh?” Seungyeon melebarkan matanya kaget sambil menerima ponsel yang disodorkan ke arahnya.

Memang benar Jisoo.

Awalnya ia ragu, namun ia akhirnya menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Saat Seungyeon baru menempelkan ponselnya di telinga, tiba-tiba sudah tersengar suara dari ujung sana.

“Seungyeon?”

Tak perlu menunggu lama, tatapan mata Seungyeon langsung melembut tatkala suara itu masuk ke indera rungunya. Jujur, ia rindu akan suara itu.

Seharusnya, ia pantas mengomeli Jisoo. Yang pertama, sudah seminggu ini Jisoo mengabaikannya. Kedua, Jisoo melupakan hari jadi mereka yang ke lima tahun. Hanya saja, Seungyeon tahu akan satu hal.

Ia tidak akan bisa benar-benar marah pada Jisoo.

“Seungyeon, kau disana?”

Suara itu kembali terdengar lewat ponsel—membuat Seungyeon tersadar.

“Eh? I—iya. Ada apa, Jisoo?”

“Kau … baru saja menangis? Kenapa, Seungyeon?”

“Tidak, hanya sedikit pilek,” ujar Seungyeon.

Seungyeon memang tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang sedang terserang flu ringan, jadi sehabis menangis ataupun tidak, suaranya juga sama saja.

“Oh, begitu,” sahut Jisoo. “Seungyeon, kau ada di rumah?”

“Iya.”

“Sendirian?”

“Tidak, ada Seungcheol-oppa disini.”

“Oh, ya sudahlah. Omong-omong, kau sudah menerima amplop coklat, kan?”

Ah, jadi amplop ini dari Jisoo, pikir Seungyeon.

“Iya, sudah. Ternyata ini darimu, eoh?” tanya Seungyeon balik sambil tersenyum simpul.

“Begitulah. Kau sudah membukanya?”

“Belum. Memangnya apa—”

“Oh, untunglah. Kalau begitu jangan dibuka,” sahut Jisoo memotong pertanyaan Seungyeon.

“Kenapa?”

“Seungyeon, coba lihat keluar jendela.”

Seungyeon mengerutkan dahi—bingung. Ia menatap Seungcheol sekilas, lalu berjalan ke arah jendela apartemennya dengan tangan kiri yang masih memegang amplop dan tangan kanan yang menempelkan ponsel di telinganya.

Seungyeon membuka jendela, membiarkan angin malam memasuki apartemennya.

Karena penasaran, Seungcheol beranjak dari sofa dan berdiri di belakang Seungyeon—sambil ikut celingukan melihat keluar.

Sambil masih menatap keluar jendela, gadis itu bingung. Tidak ada yang spesial, jujur saja.

Jika menoleh ke bawah, hanya ada sebuah jalan raya dengan beberapa mobil yang melintas. Jika melihat ke depan, hanya ada gedung-gedung tinggi dengan banyak jendela berderet yang terletak bersebrangan dengan apartemennya. Kalau ke atas …, juga tidak ada bintang-bintang yang terlihat, hanya langit malam berawan yang menurunkan salju.

“Hei, tidak ada apa-apa, Jisoo. Memangnya apa yang—”

Seungyeon menghentikan kalimatnya dan terbelalak saat melihat ke bawah kembali. Ternyata di bawah tidak hanya ada sebuah jalan raya, namun di seberang jalan ada sosok yang dikenalinya.

Siapa lagi kalau bukan Jisoo?

Laki-laki itu berdiri bersandar pada mobilnya, sambil menempelkan ponsel di telinga. Kali ini, Jisoo tersenyum sambil mendongak memandang Seungyeon yang berada di lantai tujuh gedung apartemennya.

“Ji—Jisoo? Apa yang kau lakukan disana?”

Jisoo mengembangkan senyumannya yang lembut, sehingga lagi-lagi Seungyeon sadar akan satu hal.

Ia merasa menemukan satu hal lagi yang membuatnya tidak bisa meninggalkan Jisoo. Jelas sekali, ia terlalu terpikat dengan garis bibir yang melengkung itu.

“Coba kau lihat gedung di depanmu,” ujar Jisoo pada akhirnya.

Seungyeon menurut, hanya saja ia masih tidak paham lantaran yang tampak di depannya hanyalah sebuah gedung perkantoran biasa. Gedung yang tinggi dengan banyak jendela yang berjejer rapi menghiasi. Sepertinya, masih ada beberapa orang yang bekerja disana meskipun hari telah malam, karena masih ada lampu yang terlihat menyala dari luar jendela.

Akhirnya, Seungyeon mendengus.

“Jisoo, apa yang harus kulihat? Untuk apa kau memintaku memperhatikan sebuah gedung kantor?”

Seungcheol yang sedari tadi tadi berdiri di belakang Seungyeon sambil sesekali menguping juga semakin tidak mengerti, namun ia memilih untuk diam saja.

“Belum, tunggu saja,” jawab Jisoo santai.

Tiba-tiba saja, semua lampu-lampu di gedung itu mati, membuat Seungyeon agak terkejut. Ia terdiam, begitu pula dengan Seungcheol yang hanya menaikkan kedua alisnya.

Beberapa sekon setelahnya, cahaya lampu-lampu itu bermunculan kembali dari jendela-jendela yang berderet rapi—hanya saja kali ini lampu-lampu tersebut mati-nyala secara tidak beraturan, sehingga terlihat seperti lampu-lampu itu sedang bergerak-gerak.

Indah sekali, seperti yang pernah Seungyeon lihat di video-video. Namun, kali ini Seungyeon melihatnya secara nyata.

Seungyeon masih terperangah melihat hal tersebut, sampai ia sadar lampu-lampu yang ‘bergerak-gerak’ itu ternyata membentuk suatu formasi. Seungyeon menyipitkan matanya, berusaha menebak-nebak bentuk apa yang ada di depan matanya itu.

Hingga mendekati kurun waktu setengah menit, barulah Seungyeon tersadar hingga ia terkesiap dan menutup mulutnya yang ternganga dengan sebelah tangan.

Ia tak bisa berkata apa-apa, dan ia merasa sebentar lagi ia akan menitikkan air mata lagi. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata karena terlalu bahagia.

Seungcheol yang juga melihatnya di belakang Seungyeon ikut-ikutan terperangah, namun beberapa detik kemudian ia menatap Seungyeon sambil menyunggingkan sebuah senyuman penuh arti.

“Sekarang kau dapat membuka amplopnya,” ujar Jisoo kembali dengan senyumnya yang masih mengembang.

Seungyeon menuruti kata-kata Jisoo. Ia membuka amplop itu dengan sebelah tangannya, dan tak lama kemudian, Seungyeon mengeluarkan isi amplop tersebut. Sambil menatap benda itu, kali ini Seungyeon yakin, bahwa sebentar lagi ia akan benar-benar menangis.

Seungyeon menemukan sebuah cincin bertahtakan batu permata di dalam amplop tersebut.

Happy fifth anniversary, dear.”

Seungyeon hanya bisa mengangguk dan berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.

“Jadi …?”

Gadis itu menatap Seungcheol yang berdiri di belakangnya.

“Kau yang memilih.”

Mendengarnya, membuat Seungyeon tidak diliputi keraguan lagi. Ia benar-benar yakin, bahwa pilihannya kali ini tidak akan salah.

Karena ia adalah Jisoo—laki-laki yang telah berhasil membuat Seungyeon benar-benar jatuh hati.

Dan sebuah anggukan serta senyum lebar menjadi sebuah jawaban untuk Jisoo.

-oOo-
EPILOG
-oOo-

Seungcheol menatap jalan di balik kaca jendela, sambil bersandar pada tempat duduk taksi yang ia tumpangi. Tungkainya terlalu lelah untuk berjalan, dan yang diinginkan Seungcheol sekarang hanyalah tempat tidurnya.

Diam-diam, Seungcheol tersenyum geli mengingat kejadian yang baru saja dialami Seungyeon. Tanpa sadar, di otaknya kembali terputar kejadian di masa sekolah menengah akhirnya dulu.

Saat itu, Seungcheol berteman baik dengan Jisoo. Ketika mereka duduk di bangku kelas tiga, Seungyeon masih kelas satu.

Seungcheol tahu benar bahwa Jisoo termasuk anak yang populer meskipun ia memiliki kepribadian yang dingin dan terkesan lebih banyak diam.

Jisoo adalah kapten basket sekolah mereka. Ia juga menjabat sebagai wakil ketua OSIS dan menjadi ketua kelas. Nilainya pun selalu masuk dalam peringkat lima besar. Benar-benar sosok yang sempurna, bukan?

Dan seperti yang bisa ditebak, sudah pasti banyak anak perempuan yang menaruh hati padanya. Mereka sering mengisi loker Jisoo dengan berbagai macam hadiah ataupun bekal untuk Jisoo. Tidak sedikit pula gadis-gadis yang menyatakan perasaan mereka secara terang-terangan, meskipun Jisoo selalu menolak mereka.

Sampai suatu saat, Seungcheol menyadari satu hal.

Seungyeon juga tertarik pada Jisoo.

Namun, Seungcheol berusaha untuk membiarkan adiknya itu. Toh, Jisoo juga adalah laki-laki baik-baik. Yang ditakutinya hanya satu hal, bahwa nantinya Seungyeon akan bernasib sama seperti gadis-gadis yang lainnya.

Sakit hati.

Hanya saja, ada dua hal yang membuat Seungcheol tak habis pikir.

Tidak diterima juga tidak apa-apa. Aku juga tidak terlalu serius dengannya, kok.”

Begitulah yang terdengar oleh Seungcheol dari mulut adiknya sendiri. Ia ingin menghentikan Seungyeon, tapi entah kenapa—hati nuraninya memaksa dirinya untuk menunggu sejenak.

Dan hal kedua yang membuat Seungcheol makin tidak tahu harus berbuat apa lagi—Jisoo menerima Seungyeon sebagai kekasihnya.

Suatu hari, Seungcheol dan Jisoo sedang makan siang bersama-sama di kantin. Ternyata, tak jauh dari meja mereka, Seungyeon juga sedang duduk bersama dengan teman-temannya—hanya saja sepertinya gadis itu tidak menyadari keberadaan Jisoo dan Seungcheol.

“Seungyeon, kau sudah lihat video lamaran yang sedang heboh di YouTube itu?” tanya Hayoung.

Seungyeon mengangguk. “Yep. Romantis sekali. Aku penasaran, bagaimana cara mengatur lampu-lampu gedungnya itu, sih? Sampai bisa berbentuk tulisan seperti itu …”

“Tidak tahu. Yang pasti butuh bantuan banyak sekali orang,” ujar Hayoung. “Omong-omong, kalau misalnya kau boleh memilih caramu dilamar nanti, kau memilih dengan cara bagaimana, Seungyeon?”

Seungcheol sebenarnya tahu—tidak sopan untuk menguping pembicaraan orang, tapi tetap saja ia melakukannya. Awalnya, ia mengira Jisoo tidak peduli—laki-laki itu hanya terus-terusan melahap nasinya tanpa menoleh sedikit pun.

Namun, ketika sampai di pertanyaan yang terakhir—senyum geli tak dapat dihindarinya tatkala melihat Jisoo yang berhenti mengunyah sambil melirik diam-diam ke arah meja Seungyeon. Ternyata Jisoo juga menguping, sama seperti dirinya.

“Kalau boleh berharap, aku ingin lamarannya seperti yang ada di video itu.”

Ia cekikikan, tetapi tidak dengan teman-temannya yang mendengus.

“Kasihan yang nanti akan melamarmu, tahu,” ujar mereka.

Seungyeon tertawa melihat mereka. “Tadi aku bilang kalau boleh berharap, kan?”

“Serius, Seungyeon.”

Gadis itu berdecak tatkala melihat tampang teman-temannya yang sedang tidak bisa diajak bercanda.

“Iya, iya …”

Seungyeon kembali menautkan alisnya sambil berpikir. Beberapa sekon terlewat, dan ada sebuah senyuman yang kembali terukir di bibirnya.

“Kalau begitu, aku ingin dilamar di hari saat salju pertama turun.”

Well, setidaknya Jisoo berhasil mengabulkan keduanya, pikir Seungcheol.

Ia kembali teringat, betapa bahagiannya ekspresi Seungyeon saat membaca tulisan yang terbentuk di gedung kantor tadi, bahkan ia sendiri pun sempat terperangah saat melihatnya.

Ia lega karena kini perkataannya pada Seunyeon tadi telah terbukti—bahwa Jisoo benar-benar mencintainya, dan Jisoo mempunyai cara tersendiri dalam menyampaikan perasaannya itu.

Seungcheol teringat akan perkataan Jisoo sendiri semasa SMA, ketika ia sedang dilanda dilema ketika harus memilih jurusan untuk kuliah.

Orang-orang selalu berkata bahwa di dalam hidup ini, banyak sekali pilihan-pilihan yang ada, dan kita harus dapat menentukan pilihan kita sendiri dengan benar. Because our life is a result of the choices that we make.”

Tentunya Seungcheol merasa bahwa Seungyeon beruntung karena ia memilih untuk menyatakan perasaannya pada hari itu. Meskipun awalnya gadis itu hanya main-main, namun siapa yang tahu akan kelanjutannya?

Gadis itu tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada Jisoo, namun ia memilih untuk mempertahankannya. Sebuah pilihan yang bagus, pikir Seungcheol.

Di gedung tadi, terpampang sebuah kalimat sederhana yang sudah diucapkan banyak pria di dunia ini, namun masih sangat berarti untuk para wanita mana saja yang menerimanya—termasuk Seungyeon.

Will You Marry Me?

fin.
-oOo-

Advertisements

7 thoughts on “Choice

  1. Sebelumnya aku mau kenalan dlu, haloo… Aku Gecee dari line 99… Anggap saja blogwalker nyasar yg td sempet main ke page profilemu dlu tp tdk tau mau memperkenalkan diri dmn hehehe… Salam kenal ya 🙂

    Kemudian aku mampir ke fic mu dan tertarik pas liat fic ini karena castnya yaitu seungcheol sama jisoo, yash mereka berdua itu ultimate biasku di svt…
    Pas awal2 aku baca ini aku kira bakal berakhir sedih, pembawaan curahan hati seungyeon nya bagus bgt, serasa baca curhatan sendiri 😄 tapi aku suka banget sama endingnya! Ternyata fic ini berakhir manis bgt dan kyaaaaa hong jisoo is such a sweet guy!
    Rasa ke-abang-an seungcheol pun kerasa bgt di sini…

    Sekian saja cuap cuap dariku… Salam kenal lagi dan keep writing ya 🙂

    Liked by 1 person

  2. Pingback: Perfection | ROSÉ BLANCHE

  3. AAAAAAAAAAAAAAARRRGH TUH KAN TUH KAN TUH KAN RACHEL SELALU DEH BIKIN MOOD-KU JADI NANO-NANO BEGINI HUWAAAAAAAAAAAA T_T Katakan alamatmu di mana, ntar kukasih hadiah vespa xD Tapi serius, aku dibuat senyum-senyum baca fic ini, meskipun awalnya sedih, well percaya gak percaya, karakternya Sungyeon kok berasa “aku banget!” Dan apalah Jisoo di sini yg sosweet-nya Naudzubillah barakallah lahir batin pujiku sembah sujud dunia akhirat ya ghofar ya khohar :’v Kirain tulisan di apartemen itu “Happy Aniv” atau “Choi Seungyeon”, ternyata “Will You Marry Me” YA TUHAN PERAWAN MANA YG GK BAPER BACA GINIAN T_T Apalagi aku bacanya pas mau lebaran, wah wah wah mudah-mudahan berkah, plusnya lagi si Joshua tuh ultimate biasku di Sebong kyaaaaaaaaaaaaaa xD

    Eskup oppa goals banget deh di sini aw! Sayangnya aku gk punya kakak cowok huwaaaaaaaa jadi iri sama sungyeon. Udah punya kakak baik, pacar sosweet pula haduuuuuuuuuh dedeq meleleh :’v Dan sebenernya aku masih kepingin cuap-cuap soalnya jiwa ini masih berbaper ria baca epilog-nya, apalagi endingnya itu loh berasa dibawa terbang sungguhan sama Johua ya tuhan……………..

    Liked by 1 person

    • JIYOOOOO❤
      Huhuuu sorry for the late reply:”)

      LOH MAU DONG VESPA😂 AKU DI SURABAYA JIII KAM HIR KAM HIR VESPANYA AKAN KUTERIMA DENGAN SENANG HATI😂😂😂

      Jiiii thankyou banget buat cuap”nya huahahah dan thankyou juga udah mampir dan ninggalin jejakk^^

      Aku padamu Jiiiii~~~❤❤❤

      Like

      • Serius kamu di Suroboyo??? Btw aku arek Malang ehe ❤ ❤ ❤ Monggo vespanya bisa diambil di hatinya Mingyu //lalu minggat// Eh jujur ya, sebenarnya aku suka lho sama tulisan kamu. Meskipun gk semuanya sempet aku baca (cuma beberapa aja yg ada nama bias) tapi aku selalu ikutan hanyut (ciaelah)

        Liked by 1 person

  4. Seriusann😂
    Oh ya??? Yeeyy deket dong brartiii hehe❤❤❤
    Nggak mau yg dari Mingyu, maunya yg dari Jiyo aja:3 /ah elah
    Sebenernya ini masih banyak kurangnya juga, mesti byk” belajar lagi, tapi thankyou ya udah sukaa^^

    Like

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s