A Story of Beauty and the Beast (Chapter 4)

PicsArt_07-14-03.42

A Story of Beauty and the Beast (Chapter 4)

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan (Seventeen), Hwang Ahreum (OC), & Others

Romance

PG-15

Chaptered

Previous :

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

Maaf. Aku benar-benar minta maaf …

-oOo-

“Bagaimana kalau kau kembali ke kamarmu dan tidur? Biar aku saja yang mencuci mangkuknya.”

Ahreum yang telah usai makan hanya mengerang malas. “Aku kekenyangan, Wonwoo. Tidak mungkin bisa tidur sekarang.”

Wonwoo hanya tersenyum melihat tingkahnya itu, lalu beranjak dari tempat duduknya untuk mencuci mangkuk.

“Wonwoo, kau mau menemaniku jalan-jalan sebentar?”

“Jalan-jalan?”

“Maksudku berkeliling. Jeonghan bilang kalau aku boleh berkeliling untuk sekedar melihat-lihat.”

Wonwoo tampak menimbang-nimbang sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk. “Baiklah. Tunggu sebentar.”

Tak sampai lima menit, Wonwoo dan Ahreum sudah keluar dari dapur dan berjalan mengitari rumah Jeonghan. Wonwoo mengajak Ahreum ke sebuah lorong yang dipenuhi dengan lukisan-lukisan dan barang-barang antik.

“Ayah Jeonghan adalah penggila seni, jadi jangan kaget,” ujar Wonwoo tiba-tiba.

Ahreum mengangguk-angguk tanda mengerti, dan ia berusaha berjalan dengan hati-hati agar tidak menyenggol dan memecahkan benda-benda porselen yang berjajar rapi di atas meja.

Setelah melewati lorong itu, mereka sampai di sebuah ruang yang meluas dan beratap tinggi. Di sebelah kanan, terdapat sebuah tangga yang bercabang menjadi dua. Namun, sesuatu menarik perhatian Ahreum.

Di balik tangga itu, terdapat sebuah pintu besar dari kaca yang ditutupi oleh tirai coklat keemasan.

“Apa yang ada di sana?”

Wonwoo menoleh ke arah yang ditunjuk Ahreum. “Oh, jangan pernah sekali-sekali ke sana.”

“Kenapa?”

“Itu pekarangan belakang. Aku yakin Jeonghan sudah mengatakannya padamu soal itu, kan?”

Ahreum terkesiap. “Ah, pekarangan belakang,” ujarnya sambil termanggut-manggut. “Aku ingin tahu, ada apa di sana?” Ahreum melangkah cepat mengitari tangga, dan kemudian langkahnya terhenti karena ia merasa ada yang menggenggam tangannya. Ia menoleh.

“Kau lupa kata Jeonghan? Kau tak boleh ke sana,” ujar Wonwoo pelan.

“Memangnya kenapa? Kenapa aku tak boleh ke sana?”

“Jeonghan tidak bilang, ya?” tanya Wonwoo heran. “Yah, pokoknya tidak boleh, Ahreum. Kau tidak mau ke atas saja? Di atas Jeonghan mempunyai satu ruangan yang penuh dengan buku-buku. Mirip perpustakaan kecil.”

“Benarkah?” tanya Ahreum antusias.

“Mmm. Kau suka membaca cerita klasik, kan? Ayo,” ajak Wonwoo yang merasa lega karena berhasil mengalihkan perhatian Ahreum.

Namun ia salah besar.

Wonwoo naik ke atas dengan berceloteh panjang lebar soal buku-buku yang dimiliki keluarga Yoon, namun ia tidak sadar bahwa Ahreum tidak mengikutinya.

Gadis itu mengurungkan niat untuk mengikuti Wonwoo, karena rasa penasaran terlalu besar yang menguasai otaknya. Ia berjalan ke arah pintu kaca itu dan membukanya.

Ketika pintu itu terbuka, Ahreum terperangah. Pekarangan belakang rumah Jeonghan sangat luas, dengan berbagai pohon yang memiliki macam-macam warna, patung air mancur, lampu-lampu kecil yang cantik, dan ada beberapa bangku kayu disana.

Di tengah-tengah, terdapat sebuah pohon raksasa dengan paviliun kecil yang berada tepat dibawahnya. Ahreum mulai melangkahkan kakinya menuju paviliun tersebut.

Tiba-tiba saja, Ahreum mendengar suara gemerisik pelan dari balik sebuah pohon. Karena ingin tahu, ia mendekati pohon itu walaupun ia merasa agak takut juga.

Ketika jarak Ahreum dengan pohon itu sudah semakin dekat, ia berusaha melihat makhluk gerangan apakah yang sedang bergerak-gerak di baliknya.

Namun, perasaan takutnya lenyap begitu saja ketika ia melihat pemandangan apa yang terpampang di depannya.

Tiga ekor anjing berukuran sedang langsung menyambut Ahreum dengan gonggongan mereka sambil mengibas-ngibaskan ekor.

Ahreum tidak dapat menahan senyum karena saking gemasnya terhadap tiga anjing yang lucu itu. Ia berjongkok dan mengelus salah satunya. Ahreum masih bingung, mengapa Jeonghan melarangnya datang ke sini.

Namun, lamunannya tersebut tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja, sosok yang menjulang tinggi sudah berdiri di depannya, dan alhasil kedua mata Ahreum membelalak dibuatnya.

Jeonghan.

Laki-laki itu menatap Ahreum geram. Meskipun gelap, Ahreum tetap saja tahu bahwa wajah laki-laki itu menyiratkan kemarahan yang amat sangat.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jeonghan dengan nada dingin. Terdapat penekanan di setiap kata-katanya. Jelas sekali bahwa ia marah.

Ahreum langsung berdiri dan mundur selangkah. Kakinya gemetaran, dan jantungnya sudah berdegup tidak karuan sekarang. Wajahnya pun berubah menjadi pucat lagi.

“Ma—maaf. Aku tidak bermaksud—” Ahreum tidak dapat melanjutkan kalimatnya, karena tenggorokannya terasa tercekat, saking ketakutannya.

“Kau sadar apa yang bisa saja terjadi karena ulahmu ini, hah?!” bentak Jeonghan.

“Aku … aku minta maaf, Jeonghan. Aku benar-benar min—”

“Masuk ke dalam.”

“Jeonghan, aku—”

“CEPAT KEMBALI MASUK KE DALAM!”

Tanpa Jeonghan sadari, ia berteriak sangat keras pada Ahreum tepat di depan wajah gadis itu. Ahreum tersentak kaget dan langsung berbalik, berlari masuk ke dalam rumah Jeonghan. Kakinya gemetaran, hingga ia hampir terjatuh saat berlari.

Sudah selesai.

Cukup sampai di sini saja, dan Ahreum tidak mau berurusan dengan Jeonghan lagi. Ia sudah tidak tahan.

Ahreum menyesal, seharusnya ia mendengarkan kata-kata Mingyu waktu itu. Dan sekarang, persetan sudah dengan dramanya. Besok ia akan menghubungi Park-songsaenim agar beliau segera menggantinya dengan gadis lain, ia sudah tidak peduli lagi.

Saat masuk ke dalam, Ahreum berpapasan dengan Wonwoo.

Ya! Ahreum!”

Gadis itu tidak mempedulikan panggilan Wonwoo, dan ia langsung saja berlari ke arah kamar dan mengambil tas serta seragamnya. Setelah itu, ia langsung cepat-cepat turun dan berlari ke arah pintu keluar. Wonwoo pun mengejarnya.

“Ahreum, kau mau kemana?” teriak Wonwoo.

“Tidak, sudah cukup. Aku tidak tahan lagi denganya!” balas Ahreum berteriak. Ia berlari ke arah gerbang, namun ia tidak bisa membukanya, karena pagar itu memerlukan kode sandi agar bisa terbuka.

“Sialan!” gerutu Ahreum sambil memukul-mukul gerbang itu. Ia sudah hampir menangis sekarang.

“Ahreum ….” Wonwoo berjalan mendekati gadis itu. Niat awalnya hanyalah ingin menenangkan Ahreum, namun kenyataan berkata lain dan segalanya menjadi serba salah.

Ya! Wonwoo, kau tahu kode sandinya, kan?”

“Hah?” mata Wonwoo melebar mendengar pertanyaan Ahreum.

“Cepat bukakan! Bukakan gerbang sialan ini!”

Wonwoo terdiam mematung, bingung apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi, ia teringat dengan Jeonghan, namun di sisi lain ia juga kasihan dengan Ahreum.

“Kenapa diam saja? Cepatlah, Wonwoo!” teriak Ahreum sambil mengguncang-guncang lengan laki-laki yang berdiri di hadapannya itu.

“Ahreum, ini sudah lewat tengah malam, nanti kalau ada ap—”

“Masa bodoh, aku tidak peduli!”

Ahreum mulai menangis sekarang. Akhirnya Wonwoo menghembuskan nafas berat, ia tidak mempunyai pilihan lain. Jarinya menekan beberapa tombol angka di gerbang tersebut, dan otomatis gerbang itu terbuka. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Ahreum segera berlari keluar, meninggalkan Wonwoo yang hanya bisa menatapnya dengan pandangan pasrah.

-oOo-

Jam tangan Ahreum sudah menunjukkan pukul satu lebih lima belas menit dini hari, dan ia cukup sadar kalau pada jam-jam ini sudah hampir tidak mungkin untuk menemukan taksi di jalanan, apalagi bus.

Ia melihat sekelilingnya. Ahreum ingin menelepon seseorang, namun baterai ponselnya habis. Lengkap sudah. Terpaksa ia harus berjalan kaki.

Ahreum sampai di sebuah gang kecil, yang menurutnya merupakan jalan pintas agar cepat sampai ke apartemennya. Saat melintasi gang tersebut, timbul sejumput rasa takut dalam hati Ahreum.

“Tidak apa-apa, Ahreum. Tidak apa-apa …,” bisiknya pada diri sendiri. “Ini lebih baik daripada harus menetap bersama makhluk itu.”

Ia terus berjalan, semakin lama semakin cepat karena ia sudah merasa tidak tenang, padahal ia sendiri juga tidak tahu kenapa. Dan sedetik kemudian, benar saja.

Ahreum melihat sekelompok pria berpenampilan preman yang sedang duduk di bangku pinggir jalan dengan beberapa botol minuman keras.

Sebagian dari botol-botol itu telah kosong. Mereka tertawa-tawa keras sambil sesekali menegak minumannya. Ahreum mengumpat dalam hati dan hendak berbalik, berharap agar preman-preman itu tidak menyadari kehadirannya.

“Hei! Nona!”

Sialan, umpatnya dalam hati.

Ahreum berdiri terpaku di tempat, tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia menoleh, dan jantungnya terlonjak kaget karena tiba-tiba mereka sudah berjarak hanya satu meter dari tempatnya berdiri.

“Sendirian?” tanya seorang pria dengan tattoo naga di lengan kirinya. Ia nyengir lebar, menunjukkan sederet gigi yang kuning tak terawat, membuat Ahreum mengernyit saat melihatnya. Ahreum tidak menjawab.

“Daripada sendirian, bagaimana kalau kita bermain-main sedikit?”

Ahreum membelalak tatkala kata-kata itu memasuki indera rungunya. Ia ingin lari sekencang mungkin detik itu juga, hanya saja kakinya terasa seperti terpaku dengan tanah.

Tiba-tiba saja cengiran di wajah pria itu hilang, digantikan dengan wajah dingin.

“Ambil semua barang-barangnya,” perintah preman itu lagi pada anak buahnya.

Sementara uitu, wajah Ahreum berubah menjadi semakin pucat ketika dilihatnya orang-orang itu mendekat. Apalagi saat salah satu preman itu menarik tasnya.

“Kalau mau, perkosa saja anak ini sekalian. Kurasa dia lumayan, kan?”

“Tidak, Ahjussi! Tolong jangan!” Ahreum berteriak, namun tidak ada satupun dari pria-pria itu yang memedulikannya. Dan dalam sekejap, Ahreum sudah dikeroyok. Ahreum berusaha melawan, meskipun ia tahu bahwa usahanya itu sia-sia.

Ahreum dapat melihat lengan pakaiannya yang sudah sobek akibat perlakuan dari preman-preman itu. Ia berteriak minta tolong, namun hal itu malah membuat sang preman marah.

“BERISIK!” teriak salah satunya, karena kesal dengan jeritan Ahreum yang melengking. Preman itu mengeluarkan sebuah pisau dan mengangkatnya, mengarahkannya pada tubuh Ahreum. Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat, sudah pasrah dengan semua yang akan terjadi.

Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba saja terdengar sebuah teriakan.
Teriakan seorang pria.

Ahreum membuka matanya perlahan, dan didapatinya sebuah pemandangan yang mengejutkan. Ternyata yang berteriak adalah yang memegang pisau tadi.

Seseorang di belakangnya tengah menarik rambutnya dan membanting wajahnya ke tanah. Preman-preman lain yang sedari tadi memegangi Ahreum kini beralih untuk menghajar orang yang berani-beraninya mencari masalah dengan mereka.

Ahreum awalnya tidak dapat melihat dengan jelas, namun ketika orang itu terkena paparan sinar lampu jalan—gadis itu hanya bisa menganga.

Yoon Jeonghan.

Laki-laki itu melawan preman-preman tersebut dengan tangan kosongnya, melayangkan pukulan bertubi-tubi pada wajah mereka. Saat itu Ahreum membeku di tempat, dan wajahnya semakin pucat melihat aksi pengeroyokan Jeonghan.

Ahreum menghitung, setidaknya ada sekitar enam atau tujuh orang. Mata Ahreum tertuju pada Jeonghan yang mendapat pukulan keras di kepalanya, namun laki-laki itu segera membalas dengan mendorong si preman sampai terjatuh dan menginjak pipinya.

Saat itu juga, Ahreum melihat orang yang membawa pisau tadi—berdiri tepat di belakang Jeonghan sambil memegang pisau yang sama—bersiap untuk menusuknya.

“JEONGHAN, AWAS!” Tanpa disadari, teriakan itu sudah keluar dengan sendirinya dari mulut Ahreum.

Mendengarnya, dengan sigap Jeonghan langsung menoleh ke belakang dan bergerak menghindar dari serangan pisau itu. Namun, ia agak terlambat.

Pisau itu mengenai lengannya, membuat darah Jeonghan tercetak dengan jelas di kemeja putih yang ia kenakan. Jeonghan sempat meringis sedikit, namun ia tidak tinggal diam. Ia menendang orang itu tepat di perutnya sehingga orang itu jatuh terlentang.

Tidak selesai sampai di situ. Saat Jeonghan berbalik, preman yang lainnya mulai beraksi. Ada yang melayangkan pisaunya dengan membabi buta, sedangkan yang lainnya memukul Jeonghan telak di wajah dengan kepalan tinju mereka, sehingga menciptakan pemandangan yang sangat mengerikan bagi Ahreum.

Tanpa ia sadari, tiba-tiba air matanya menetes, dan hatinya terasa sangat sakit. Ia pun mulai terisak.

“Kumohon, hentikan …,” isaknya dengan suara pelan.

Jeonghan yang sedari tadi melawan mulai terlihat kehabisan tenaga, namun laki-laki itu tetap tidak menyerah. Ia balas memukul dan menendang preman-preman itu, hingga kebanyakan dari mereka jatuh tersungkur dan tidak sadarkan diri.

Jeonghan beralih menatap satu-satunya preman yang masih sanggup berdiri dengan tatapan tajam. Preman itu membelalak ketakukan melihat Jeonghan, dan satu detik kemudian ia sudah lari pontang-panting.

Ahreum menatap Jeonghan yang terengah-engah, dan tiba-tiba saja Jeonghan juga balas menatap Ahreum lemah.

“Ah—reum…” bisik Jeonghan terlampau pelan.

Meskipun begitu, Ahreum masih bisa mendengarnya. Dan dalam sekejap, Jeonghan ambruk ke tanah—membuat Ahreum terkesiap dan langsung beranjak dan berlari menghampiri Jeonghan.

“Jeonghan!” teriak Ahreum.

Ia panik luar biasa. Dilihatnya lengan Jeonghan yang mengeluarkan banyak darah. Bahkan di wajah dan lehernya, juga ada beberapa sayatan yang jelas terlihat.

Tetesan air mata mulai turun—Ahreum menangis sejadi-jadinya.

Yah, meskipun ia tadi berkata bahwa ia tidak ingin berhubungan dengan Jeonghan lagi, namun melihat Jeonghan yang tidak berdaya seperti ini membuat hatinya kelu.

Ahreum menatap Jeonghan, dan ia tahu apa yang harus diperbuatnya. Ia melingkarkan lengan Jeonghan yang tidak terluka di pundaknya, dan membantunya berjalan. Beruntung lokasi mereka masih belum terlalu jauh dari rumah Jeonghan.

-oOo-

Jeonghan mengernyit kesakitan saat ia tersadar. Perlahan membuka mata, dan ia dapat melihat Ahreum yang sedang terduduk di sampingnya.

“Ahreum, ap—AWW!!!” Jeonghan berteriak kesakitan dan segera menarik lengannya dengan sekali sentakan.

“Kemarikan lenganmu. Bisa infeksi kalau tidak dibersihkan,” ujar Ahreum. Jeonghan yang masih belum terlalu sadar sepenuhnya—kini mulai melihat ke sekeliling.

Memangnya sejak kapan ia ada di rumah kembali? Seingatnya, ia tadi berlari keluar mengejar Ahreum dan …. Ah, ia ingat sekarang. Preman-preman sialan itu.

Jeonghan mengalihkan pandangannya ke depan, dan di sana didapatinya Jisoo yang sedang terduduk di sofa. Di dekat Ahreum, ia bisa melihat Wonwoo yang sedang menyiapkan kotak obat. Mereka berdua menatapnya dengan pandangan khawatir.

“Sini, biar kubersihkan,” ujar Ahreum seraya menarik lengan Jeonghan dengan hati-hati.
“Pelan-pel—YA! SAKIT TAHU!” teriak Jeonghan sambil melotot ke arah Ahreum dan menarik lengannya lagi.

“Kenapa teriak-teriak, sih? Tidak akan terlalu sakit kalau kau tahan sedikit. Sekarang diamlah.”

“Ini semua juga gara-gara kau. Tidak akan seperti ini kalau kau tidak kabur begitu saja!”

“Aku tidak akan kabur kalau kau bisa mengontrol emosimu dan tidak berteriak-teriak seperti tadi hingga membuatku ketakutan setengah mati.”

Ahreum balas melotot ke Jeonghan, membuat laki-laki itu membeku. “Sekarang diamlah,” ujar Ahreum.

Ahreum mulai membersihkan luka-luka Jeonghan perlahan dengan air hangat, meskipun ia kasihan juga melihat laki-laki itu harus merintih kesakitan.

Jeonghan menatap Ahreum kembali dan berkata, “Aku tidak akan marah kalau kau tidak datang ke pekarangan belakang.”

Ahreum terdiam, tangannya berhenti membersihkan luka Jeonghan. Memang, dalam hati ia agak merasa bersalah untuk itu. Hanya saja ia tidak dapat membendungi rasa penasarannya yang terlampau kuat.

“Aku minta maaf soal itu. Aku … benar-benar minta maaf,” Ahreum bergumam pelan.

Jeonghan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Aku juga minta maaf karena sudah membuatmu ketakutan. Dan maaf juga soal aku yang tidak langsung memberitahumu waktu kau bertanya soal pekarangan belakang itu.”

Tanpa disangka-sangka, Jeonghan meminta maaf pada Ahreum, membuat gadis itu melebarkan kedua matanya.

“Aku melarangmu ke sana, karena dua dari tiga anjing itu terkena rabies. Aku juga baru mengetahuinya kemarin-kemarin, dan aku belum sempat membawanya ke dokter. Aku hanya takut kau digigit, karena kuperhatikan mereka menjadi lebih agresif dari biasanya. Itu saja.”

Ahreum ternganga mendengar kata-kata Jeonghan barusan. Entah perasaan apa yang muncul dalam dirinya. Sakit? Mungkin. Merasa bersalah? Sangat.

“Ma—maaf…,” bisik Ahreum. Suaranya terlampau pelan dan mulai gemetaran. “Maaf. Aku benar-benar minta maaf….”

Jeonghan menoleh, dan matanya membelalak melihat Ahreum yang terisak. Sebulir air mata jatuh dari mata gadis itu.

Ya, ya! Ja—jangan menangis, Ahreum. Tidak apa-apa…,” ujar laki-laki itu. “Sudahlah, tidak apa-apa. Tenanglah….”

Jeonghan yang tiba-tiba panik berusaha menenangkan Ahreum. Tangannya yang tidak terluka diulurkan untuk menghapus air mata gadis di hadapannya itu. Tersadar, kepala Ahreum terangkat dan kemudian ia mulai mengusap sendiri kedua matanya.

“Omong-omong, terima kasih.”

“Hm?”

“Terima kasih, karena sudah menyelamatkanku tadi,” jawab Ahreum pelan. Jeonghan terdiam sesaat, dan pandangannya ke Ahreum menjadi meredup.

“Sama-sama,” balas Jeonghan.

“Kenapa kau tidak bilang saja dari awal soal anjingmu itu?” tanya Ahreum lagi.

“Karena aku mengira kalau kau itu adalah gadis-lugu-penurut-anti-pembangkang, jadi aku merasa tidak perlu saja,” jawab Jeonghan santai.

Ahreum sempat melongo mendengar jawaban Jeonghan, dan sedetik kemudian ia mendengus tertawa. “Jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya saja, Jeonghan.”

Tiba-tiba Ahreum terkejut akan perkataannya sendiri. Ia menatap Jeonghan, dan Jeonghan balas menatapnya dengan bingung.

“Kenapa?” tanya Jeonghan seraya mengangkat sebelah alisnya.

Ahreum kini tersadar. Perkataannya barusan mengingatkannya pada perkataan Wonwoo yang kini telah terbukti dengan jelas.

Aku berharap kau tidak menilai seseorang dari luarnya saja.”

Meskipun tempramental, galak, dan berpenampilan berantakan, Jeonghan ternyata mempunyai sisi yang baik juga, yang terkubur jauh di dalam hatinya.

Banyak orang yang tidak bisa melihatnya, karena kebanyakan dari mereka hanya melihat bungkusnya saja, tanpa berusaha mengoreknya lebih dalam lagi.

Yah, Ahreum harus mengakui kalau Wonwoo telah membuka jalan pikirannya.

Ahreum menoleh ke arah Wonwoo yang kini tengah duduk di samping Jisoo, dan laki-laki itu membalas tatapannya dengan senyum penuh arti.

Ahreum balas tersenyum, dan kemudian ia mulai melanjutkan untuk mengobati Jeonghan. Kini ia beralih ke wajah Jeonghan yang juga terkena beberapa sayatan.

“Kalian kenapa, sih?” tanya Jeonghan yang masih kebingungan, apalagi setelah melihat Ahreum dan sahabatnya itu saling melempar senyuman. Ahreum yang masih tidak bisa menghilangkan senyuman itu dari wajahnya hanya menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

Ahreum menyibakkan rambut-rambut berantakan Jeonghan yang menutupi wajahnya dan menatap laki-laki itu telak di mata. Setelah itu, ia terperangah sendiri.

Wajah Jeonghan.

Oh, astaga.

Memangnya sejak kapan Jeonghan menjadi setampan ini? Atau mungkin karena wajah Jeonghan yang selalu tertutupi dengan rambut, sehingga membuat Ahreum tidak pernah menyadarinya?

Yang jelas, wajah itu membuat senyuman Ahreum luntur seketika, dan wajahnya mulai memerah. Jantungnya berdetak tidak karuan, sampai-sampai ia takut kalau Jeonghan bisa mendengarnya.

Ahreum langsung cepat-cepat berdiri, dan melemparkan kain basah yang sudah diperasnya ke arah Jeonghan.

“Sisanya bersihkan saja sendiri,” ujar Ahreum pelan tanpa menatap Jeonghan.

Sesudah itu, ia langsung berlari menaiki tangga, dan sempat tersandung sedikit ketika ia sudah hampir mencapai lantai atas–menyebabkan ketiga laki-laki yang tengah menatapnya tersentak kaget. Entah apa yang terjadi dengannya, hingga membuatnya salah tingkah seperti itu.

Ya! Ahreum, kenapa…,” Jeonghan tidak jadi melanjutkan kalimatnya, karena dilihatnya Ahreum sudah menghilang di balik dinding. Masih dengan tatapan bingung, ia beralih menatap kedua sahabatnya itu. “Dia kenapa, sih?”

Wonwoo dan Jisoo saling berpandangan dan melemparkan senyuman yang tidak mengerti oleh Jeonghan. “Kurasa kau akan lulus tahun ini,” ujar Wonwoo sambil terkekeh pelan.

Jeonghan hanya dapat mengerutkan kedua alisnya menatap Wonwoo, masih saja tidak mengerti dan gagal paham.

Sementara itu, di dalam kamar, Ahreum terduduk sambil masih berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia menghela nafas perlahan, berusaha mengingat segala hal yang telah terjadi selama dua puluh empat jam terakhir. Segalanya terasa bagaikan ilusi yang nyata bagi dirinya.

Sepertinya setelah ini, Ahreum akan menghubungi Sooyoung, dan berkata bahwa Jeonghan tidak memerlukan peran pengganti untuk menggantikannya saat Si Buruk Rupa berubah menjadi pangeran.

Karena sekarang, Ahreum mengetahui satu hal lagi tentang Jeonghan yang tidak diketahui orang lain.

.

.

.

Bahwa sebenarnya, Jeonghan itu lebih tampan dari pangeran negeri dongeng mana pun.

tbc.
-oOo-

*This story is inspired from a classic fairy tale by Jeanne-Marie Leprince de Beaumont,
Beauty and the Beast.


Everyone has their own good sides. So, don’t judge people by their covers.

Mind to review?

Thankyou^^

Advertisements

6 thoughts on “A Story of Beauty and the Beast (Chapter 4)

  1. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 5) – ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 6) – ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 7) | ROSÉ BLANCHE

  4. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 8) | ROSÉ BLANCHE

  5. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9) | ROSÉ BLANCHE

  6. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Last Chapter) | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s