Again and Again (Part 2)

againandagain

Again and Again (Part 2)

story by Rosé Blanche

Cheng Xiao (WJSN) & Jun (Seventeen)

slight!Drama, Romance, Hurt/Comfort

PG-13

Twoshot

“Kurasa aku menemukan satu hal lagi. Satu hal yang membuatku jatuh cinta pada Wen Junhui.”

Previous :

Part 1

 

-oOo-

Apa yang akan dilakukan seseorang apabila rahasianya ketahuan? Malu? Kesal? Ingin kabur dan menghilang? Yang jelas, aku merasakannya sekarang. Namun, payahnya aku terlalu lemah untuk kabur.

Awalnya, aku dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan pasca kecelakaan, dan beruntung sekali tidak ada luka serius. Hanya beberapa bagian yang lecet dan memar. Tetapi, aku mulai muntah-muntah. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Para dokter dan Jun sempat bingung, hingga Jun memaksaku untuk diperika.

Dan akhirnya, aku ketahuan.

“Kenapa kau melakukannya?”

Tatapan intens Jun membuatku membeku sesaat. Suaranya begitu lembut dan miris, membuatku hatiku semakin berdegup tidak karuan. Akhirnya, aku menyerah. Lagipula, sudah kubilang tidak ada gunanya berbohong pada Jun.

“Karena aku adalah seorang model.”

.

.

.

Semua ini berawal dari beberapa bulan yang lalu. Ada seorang model baru asal Jepang yang memasuki agensi kami. Ia sangat cantik, dan setelah mengenalnya beberapa hari aku juga baru tahu kalau tubuhnya hanya berbobot lima puluh lima kilogram dengan tingginya yang mencapai seratus tujuh puluh delapan senti. Daebak.

Beberapa minggu awalnya, aku tidak terlalu peduli akan hal itu. Namun, lama kelamaan, aku menyadari satu hal.

Posisiku yang awalnya adalah model utama, menjadi bergeser akibat model baru itu. Jadwal pemotretanku juga menjadi berkurang. Melihat kenyataan yang ada, otakku mulai tak bisa berpikir jernih. Ada beberapa pikiran-pikiran negatif yang merasuki.

Bagaimana jika orang-orang lebih menyukai model itu daripada diriku? Bagaimana jika suatu saat posisiku diambil olehnya? Bagaimana jika aku kalah telak darinya? Dan yang terakhir, bagaimana jika aku kehilangan pekerjaanku?

Dan jika aku kehilangan pekerjaanku, bagaimana dengan adik dan nenekku? Dengan apa kami bertahan hidup? Pikiran-pikiran itu terus saja menghantuiku siang dan malam.

Hari-hari berikutnya, aku mencoba untuk mengurangi porsi makanku. Berawal dari makan tiga kali sehari, menjadi dua kali sehari. Lalu menjadi satu kali sehari, dengan tambahan minuman diet.

Kadang-kadang aku tidak tahan bila agensi sesekali memberi kami makanan enak. Contohnya seperti jajangmyeon atau japchae, dan jika aku sedang stress—aku bisa makan satu porsi penuh yang setara dengan porsi seorang laki-laki.

Itu mengerikan.

Dan apabila sudah terlanjur, aku akan langsung cepat-cepat pergi ke toilet dan memuntahkan semua yang telah kumakan dengan paksa. Ya, semuanya sampai tak bersisa. Karena yang ada dipikiranku hanyalah satu.

Aku tidak boleh kalah dari model Jepang itu.

Akhirnya, usahaku untuk mengeluarkan kembali setiap makanan yang kumakan itu menjadi kebiasaan. Hingga sampai suatu saat, aku hanya berani mengonsumsi minuman diet dan air putih saja. Tidak dengan yang lainnya.

Setelah beberapa lama terbiasa dengan keadaan seperti itu, aku mulai mengalami gejala-gejala aneh. Aku cukup senang beratku turun, namun ada sesuatu yang lain.

Aku sering mengalami pusing dan mual tanpa mengenal tempat, waktu, ataupun keadaan sekitar. Kulitku juga menjadi kering, dan rambutku mulai rontok sedikit demi sedikit. Karena merasa gelisah, akhirnya aku pergi ke dokter—dan disitulah aku mengetahui semuanya.

Aku mengidap anorexia nervosa.

Dokter menyarankanku untuk ikut terapi, namun aku menolak. Selain biayanya yang sangat mahal, aku juga harus mengorbankan pekerjaan dan sekolahku. Pada akhirnya, aku hanya merahasiakan ini dari semua orang—bahkan adik dan nenekku sendiri.

Sejak itu, aku mulai mencoba untuk makan. Makanan pertama yang kumakan setelah pulang dari rumah sakit itu adalah bubur ayam buatan nenekku. Nenek sering membuatkanku bubur itu sebelum aku debut menjadi model, karena aku benar-benar menyukainya.

Namun, sepertinya itu sudah tidak berlaku lagi—bukannya selera makanku sudah berubah, kuakui bubur itu tetap enak seperti dulu—namun sekarang aku tidak bisa. Ketika buburnya sudah habis setengah, tiba-tiba saja perutku bergejolak.

Aku langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutku, tanpa memaksakannya terlebih dulu.

Sejak itu, selalu saja begitu. Makanan apapun yang kumakan, pasti akan kumuntahkan meskipun aku tidak mau memuntahkannya.

Lalu, bagaimana dengan cokelat yang diberikan Jun di ruang kesehatan hari itu?

Sama saja.

Setelah kami keluar dari ruang kesehatan, aku meminta Jun untuk menungguku sebentar sementara aku ke toilet. Di toilet, aku menumpahkan seluruh cokelat yang tadinya mengisi perutku itu. Dan aku tidak memberi tahu Jun tentunya.

“Dimana?”

Suara itu membuyarkanku dari lamunanku. Aku menatap Jun yang berdiri di samping ranjang UGD dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang memerah.

“Apanya?”

“Dimana pikiranmu selama ini? DIMANA, HAH?!”

Untuk yang pertama kalinya, Jun menyentakku. Memang iya, sakit. Aku melakukan itu semua hanya karena aku ketakutan, dan aku juga tidak dapat berpikir sehat. Namun, itu semua tidak dapat menjadi alasan. Memang akulah yang salah, jelas.

Tiba-tiba saja, kurasakan kedua lengan yang melingkari tubuhku—membawaku dalam dekapan hangatnya.

“Maaf …” ujarnya pelan. “Maaf karena membuatmu menangis. Aku tidak bermaksud membentakmu seperti itu, Xiao. Maaf.”

Menangis?

Oh, aku baru menyadarinya. Sejak kapan air mata ini turun?

“Aku mengerti. Kau hanya mengawatirkan nenek dan adikmu. Tapi kalau sampai begini, malah lebih parah, kan? Kau harus menjalani rawat inap dan ikut terapi karena berat badanmu turun drastis. Dengan begitu, mana bisa kau pergi ke sekolah? Kerja apalagi.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jun memang benar. Aku saja yang tidak berpikir panjang. Karena dengan begini, semuanya hancur sudah. Bodoh.

Akhirnya aku hanya menenggelamkan wajahku di bahu Jun, sambil masih terisak tentunya. Dapat kurasakan juga jemarinya yang menepuk-nepuk kepalaku perlahan sambil bibirnya membisikkan kata-kata yang membuatku merasa lebih tenang.

Yah, perlakuan manis Jun memang tak ada habis-habisnya. Dan perlakuan itu selalu berhasil meluluhkan hatiku. Kini tak ada lagi yang dapat kulakukan selain menangis dan membalas pelukan Jun.

-oOo-

“Xiao?”

Ya, Cheng Xiao. Kau kenapa?”

Akhirnya dua orang yang meneleponku satu jam yang lalu datang juga. Sebenarnya, aku tidak berniat untuk memberitahu penyakitku ini pada siapa-siapa selain nenek dan adikku.

Namun, pukul satu tadi Chayoung meneleponku, karena minggu lalu kami memiliki janji bahwa hari ini kami akan makan es krim di kedai baru dekat sekolah—yang tentunya kulupakan. Pada akhirnya, Chayoung dan Seungyeon tahu juga.

Awalnya, aku tidak ingin memberi tahu mereka agar mereka tidak khawatir. Tetapi Jun memaksaku untuk berkata jujur pada sahabatku sendiri. Memang ia benar, sih.

“Take your time, Xiao.

Jun mengacak-acak rambutku pelan, lalu berjalan meninggalkan kamar rawat inapku. Ia sempat membungkuk sedikit saat berpapasan dengan Chayoung dan Seungyeon—lalu setelah pintu tertutup, Chayoung dan Seungyeon berjalan mendekatiku.

“Kau sakit apa, Xiao? Kenapa bisa sampai begini?”

Ya, sejak kapan memangnya? Kenapa kau tidak bilang-bilang kalau kau dirawat inap?”

Mendapat pertanyaan-pertanyaan yang beruntun itu membuat kepalaku semakin pusing saja. Aku meminta maaf pada mereka berkali-kali karena sudah menyembunyikan penyakitku sejak lama.

Seungyeon sempat memasang wajah cemberut saat mendengar itu, namun raut wajahnya kembali normal saat aku berkata bahwa aku hanya tidak ingin mereka khawatir.

Aku menceritakan semuanya pada mereka. Semuanya.

Mulai dari model Jepang itu sampai aku yang ketakutan setengah mati hingga tidak berpikir panjang dengan apa yang telah kulakukan dan juga penyakitku. Tiba-tiba saja Chayoung memelukku.

“Aku tahu kau menderita, Xiao,” ujarnya. “Tapi aku juga percaya, Cheng Xiao bukanlah seorang gadis yang mudah menyerah. Iya, kan?”

Setelah itu Seungyeon ikut bergabung, dan kami bertiga sama-sama terisak untuk yang kesekian kalinya sejak pertama kali kami mengenal satu sama lain.

Mereka berdua memanglah yang terbaik. Aku bersyukur karena telah dipertemukan dengan mereka.

“Kau akan baik-baik saja, Xiao. Kau masih punya kami berdua. Lain kali, kau bisa menceritakan masalahmu pada kami, tanpa perlu khawatir,” ujar Chayeoung. “Itulah gunanya teman, Xiao.”

“Jangan takut. Kau pasti bisa sembuh. Fighting!”

Aku tertawa kecil mendengarnya, dan mereka berdua tersenyum menatapku dengan mata yang masih basah.

“Ah, tadi itu Jun, kan?” tanya Seungyeon tiba-tiba. Aku hanya mengangguk, lalu dengan wajah keheranan ia melanjutkan,“Ia sudah menolakmu seperti itu dan sekarang ia ada di sini untuk menjagamu? Uhm, maksudku—”

“Iya. Dia sudah menolakku seperti itu dan sekarang dia ada di sini untuk menjagaku. Kenapa?”

“Kok kalian tidak canggung?” tanya Seungyeon lagi.

Aku menghela nafas pelan dan tersenyum. “Kami memutuskan untuk melupakan hari itu dan kembali berteman. That’s it. Aku tidak ingin hubunganku dengan Jun rusak hanya karena aku menyatakan perasaanku saja.”

“Apa… tidak terasa sakit?”

“Eh?”

“Jika sudah begini, apa kau tidak merasakan sakit tiap kali melihat Jun?”

Aku terdiam. Selama ini aku berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya baik-baik saja asalkan hubunganku dengan Jun tidak rusak, namun ternyata kenyataan memang berbeda.

“Sakit. Tentu saja sakit. Tapi aku terlanjur jatuh cinta dengannya, jadi mau bagaimana lagi?”

Senyum mirislah yang tersungging di bibirku saat itu, membuat Chayoung dan Seungyeon menatapku dengan kasihan. Oh astaga, aku berharap orang-orang bisa berhenti memandangku seperti itu.

“Jun memberitahumu alasan kenapa ia menolakmu?”

Aku mengangguk lagi. “Iya. Ia mempunyai kekasih. Nayeon-unnie. Kita sempat berkenalan dengannya, bukan?”

Seketika mata Chayoung membulat kaget, sementara Seungyeon mengerutkan keningnya dan tampak berpikir. Aku tidak tahu kenapa raut wajah mereka seperti itu, namun aku merasa seperti ada yang tidak benar.

“Masa?” tanya Chayoung tidak percaya.

“Iya. Memangnya kenapa, sih?”

Chayoung masih memasang wajah bingung sambil menatap Seungyeon yang masih tampak berpikir—gadis itu mengarahkan kedua bola matanya ke atas sambil mengernyitkan dahinya. Terjadi keheningan sejenak, sebelum Chayoung kembali membuka suara.

“Kupikir kekasih Nayeon-unnie itu Seungcheol-sunbae?”

Apa?

Apa aku tidak salah dengar?

“Nah, barusan aku juga berpikir seperti itu!” Seungyeon langsung balas menatap Chayoung.

“Makanya aku tadi heran, Xiao. Karena mantan ketua klub dance itu adalah kekasih Seungcheol-oppa. Sudah sejak setengah tahun yang lalu. Baru saja kemarin kakakku itu merayakan hari jadi mereka.”

Aku masih tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja menerobos indra pendengaranku. Kami bertiga saling bertatapan satu sama lain, masih bingung tentunya.

“Apa Nayeon-unnie… selingkuh?” tanya Seungyeon hati-hati.

“Entahlah, tapi kurasa ia tipikal gadis baik-baik. Lagipula, bisa jadi Jun yang berbohong,” jawab Chayoung. “Bagaimana menurutmu, Xiao?”

Bagaimana menurutku?

Tentu saja aku tidak tahu. Tapi, Jun juga bukan tipikal pembohong.

Bagaimanapun juga aku harus bertanya pada Jun, dan mencari setiap kepastian yang ada.

-oOo-

Empat hari telah berlalu dan aku belum juga menanyakannya pada Jun. Aku takut dengan kemungkinan apa yang akan terjadi pada Jun bila aku bertanya. Bagaimana kalau Nayeon-unnie benar-benar mendua?

Aku tahu ini sangat bodoh, namun aku tidak ingin menyakiti perasaannya. Aku tahu Jun bukan pembohong, tapi bagaimana kalau kali ini kenyataan berbalik? Dan bila ia berbohong pun apa pula alasannya?

Damn, this is so complicated.

Selama empat hari juga, aku mulai menjalani terapi. Terapi yang membuatku ingin langsung mati saja rasanya. Aku tahu ini pikiran bodoh dan egois, namun terapi ini benar-benar membuatku menderita. Dokter menyuntikkan obat ke kedua lenganku minimal satu kali sehari. Infus itu juga. Tangan kiriku sampai bengkak dibuatnya.

Selama empat hari, dokter juga memaksaku untuk makan setelah obat disuntikkan. Namun, hasilnya sama saja. Aku tidak bisa menelan makananku tanpa memuntahkannya kemudian. Makanan jenis apapun itu—bahkan makanan yang biasanya enak sekalipun.

Sampai pada hari ketiga, aku sudah tidak tahan. Aku tahu ini kekanakan, namun aku sempat memberontak ketika para perawat hendak menyuntikkan obat lagi. Aku berteriak-teriak pada perawat-perawat itu layaknya orang gila—namun aku memang merasa sudah gila saat itu.

Rasanya terlalu sakit. Depresi? Tentu.

Junlah yang berhasil menenangkanku.

“Jangan seperti ini, Xiao. Aku tahu kau kesakitan, tapi setidaknya bertahanlah sedikit lagi. Uang yang sudah dikeluarkan untuk pengobatanmu ini cukup banyak. Jika terapimu dihentikan sampai saat ini saja, apa tidak sayang?”

Seperti sihir, perkataan itu sukses membuatku bungkam dan hanya tangisan frustasilah yang menjadi kelanjutannya.

Sekarang ini, aku sedang berada sendirian di ruang rawat inap. Nenek sedang belanja di toko roti bawah—sedangkan Qian, Jun, Chayoung dan Seungyeon bersekolah. Karena pegal, aku merubah posisi berbaringku menjadi posisi duduk dengan sandaran beberapa bantal.

Aku tidak tahu rupaku seperti apa—sudah dua hari terakhir aku tidak mandi dan tidak bercermin. Aku menatap lenganku yang bengkak karena bekas suntikkan. Aku meraba kulitku perlahan—sangat kasar rupanya. Ya, anorexia nervosa membuat penderitanya mengalami kulit kering.

Panik—itulah yang mulai kurasakan saat ini.

Aku juga teringat, sudah dua hari terakhir aku tidak menyisir dan merapikan rambutku. Karena kulihat tidak ada sisir di dekatku, akhirnya aku menyisir rambutku dengan jari-jari tangan.

Yang terjadi selanjutnya membuatku terkejut setengah mati—dan bertambah panik tentunya.

Setelah aku menyisir, di tanganku ada segumpalan besar rambut coklat. Posisi dudukku menegak, dan saat aku menoleh ke bantal—terlihat beberapa jumput rambut yang tertinggal di sana. Kupegang kepalaku, dan aku dapat merasakan beberapa bagian yang pitak.

Mengerikan.

Saat itu juga, kusadari mataku menjadi kabur, lalu ada cairan bening yang keluar dari pelupuk mataku. Aku benar-benar ketakutan sekarang.

Siapa saja, tolong aku.

Kumohon …

“Xiao? Kau menangis?”

Suara itu sukses membuatku menoleh dan kudapati Jun yang berdiri sambil masih memegangi gagang pintu yang baru saja dibukanya. Ia masih mengenakan seragam dan membawa tas sekolahnya.

Ya, bukankah selalu saja Jun? Entah ini kebetulan atau apa, namun kenapa ia selalu muncul di saat aku membutuhkan uluran tangan? Apa Tuhan yang mengirimkannya?

“Kau kenap—oh, dear.”

Jun langsung mengerti begitu melihat tumpukan bantal serta apa yang ada di genggaman tanganku.

“Jun, tolong aku …. Aku harus bagaimana?”

Aku menyadari suaraku yang sudah seperti orang tercekik. Jun sempat terdiam sejenak, dan selama beberapa detik ia tampak seperti berpikir. Sesekali ia menggigit bibirnya dan menghela nafas.

“Apa satu makanan yang paling kau sukai?”

Aku mendengus pelan mendengarnya. “Setiap hari para perawat sudah menyuguhiku makanan yang kusukai dan hasilnya tetap saja—”

“Kumohon jawab saja, Cheng Xiao! Aku sudah tidak bisa memikirkan hal yang lebih baik!” Jun sedikit meninggikan suaranya, namun bukan itu yang kukhawatirkan.

Mata Jun mulai memerah, dan suaranya seperti tercekat. Oh, jangan bilang ia akan menangis karena frustasi denganku. Kalau begitu, sudah dipastikan memang tidak ada pilihan lain.

“Baiklah,” ujarku. “Kue sacher buatan ibuku.”

Mata Jun agak melebar sesaat, namun ia berusaha agar tampak senormal mungkin.

“Oh, kue cokelat asal Austria itu? Kau punya resepnya?” tanyanya pelan.

“Ibuku selalu menakar bahan-bahannya dengan takarannya sendiri. Dan ibuku selalu membuatnya tanpa resep.”

“Kau tidak tahu resepnya?”

Aku menggeleng pelan. “Memangnya untuk apa resepnya?”

“Tentu saja aku yang akan membuatkannya untukmu, Xiao,” jawabnya. “Kau lupa kalau aku ini calon chef nomor satu di Korea dan Cina?”

Aku hanya tersenyum sekilas menanggapinya, sebelum ia melanjutkan, “Lalu, apa ada yang membuat kue sacher itu berbeda dari kue sacher pada umumnya?”

“Ada,” jawabku. “Aku tahu ini agak aneh, tapi ibuku selalu menambahkan potongan-potongan buah beri ke dalam coklatnya.”

Jun tersenyum dan menepuk pelan pundakku. “Oke. Tunggulah, aku akan kembali lagi nanti malam.”

Dengan begitu, Jun melangkahkan kakinya keluar.

-oOo-

Malamnya, aku merasa keadaanku tidak kunjung membaik. Kepalaku sakit setengah mati, dan bengkak di tanganku juga semakin ngilu. Para perawat datang sambil membawa makan malam, namun aku hanya menggeleng saat salah satu perawat hendak menyuapiku. Jujur, aku sudah bosan mual-mual dan muntah terus-terusan.

“Aku ingin mati …”

Rasanya aku ingin meneriakkan kata-kata itu di hadapan semua orang yang ada dalam kamarku saat ini—para perawat dan termasuk juga nenek serta Qian. Tidak tahu diri memang, hanya saja susah rasanya untuk bertahan. Dan entah kenapa, yang keluar hanya berupa cicitan pelan.

“Aku ingin mati saja…”

“Cheng Xiao.”

Kami semua menoleh, dan di ambang pintu sudah berdiri Jun yang terengah-engah seperti habis berlari. Ia memberi isyarat pada seluruh perawat untuk keluar terlebih dahulu, disusul oleh nenek dan Qian. Sehingga, kini hanya ada kami berdua di dalam kamar.

“Apakah hidup adalah sesuatu yang sebegitu tidak berartinya untukmu?”

Aku tidak menjawab, dan aku juga tidak ingin menjawab. Tentu saja bukan seperti itu maksudku.

“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu sementara ada sekian banyak orang di luar sana yang berjuang mati-matian untuk hidup, hah?!”

Kini, lagi-lagi air mata ini menetes. Sepertinya, berada dalam situasi seperti ini bersama Jun membuat diriku menjadi seseorang yang cengeng, eh? Sebenarnya bukan karena Jun berteriak padaku, namun karena perkataannya benar.

Jujur saja, aku ingin. Aku juga ingin berjuang untuk hidup. Masih ada banyak hal yang ingin kujalani. Namun, semuanya terasa sangat sulit dan menyakitkan.

“Kumohon bertahanlah, Xiao.” Raut wajah Jun mulai melembut.

“Pikirkanlah juga Qian dan nenekmu. Jika kau tidak ada, bagaimana dengan mereka? Bagaimana jika mereka berdua dikirim ke panti? Tidak kasihan?” lanjutnya lagi sambil tersenyum tipis.

“Pikirkanlah juga seisi sekolah. Pikirmu bagaimana perasaan mereka jika primadona sekolah mereka menghilang begitu saja?” Tepat saat Jun berkata begitu, aku memukul pelan bahunya dan ia tertawa kecil.

“Pikirkan juga Chayoung dan Seungyeon. Mereka sayang padamu, Xiao. Pikirkanlah, banyak orang yang mencintaimu. Kenapa kau tak ingin berjuang hidup demi mereka?”

Mendengarnya membuat dadaku sesak. Jika pernyataannya memang benar, bagaimana dengan dirinya sendiri? Apakah ia termasuk satu dari antara orang-orang itu? Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, namun aku tidak tahan lagi.

“Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintaiku?”

Kedua mata Jun melebar, namun sedetik kemudian ia mengerti—terlihat dari raut wajahnya berubah. Dan seharusnya aku juga harus mengerti apa yang akan dilontarkannya.

“Maafkan aku. Maaf,” ujarnya pelan.

“Tidak perlu meminta maaf, Jun. Bukan salahmu jika kau mecintai Nayeon-unnie. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, kau tahu?”

Well, munafik.

Namun kata-kataku barusan memang ada benarnya, kan? Aku tidak bisa bersikap egois lagi. Sudah cukup.

“Tidak, bukan begitu. Aku minta maaf karena telah membiarkanmu melewati rasa sakit itu sendirian,” ujarnya pelan. “Dan aku juga minta maaf, karena aku terlambat menyadarinya.”

Aku percaya, dahiku sudah pasti berkerut setelah mendengar kata-kata Jun barusan. Bingung, kutatap Jun dengan penuh tanya.

“Meskipun begitu, sekarang aku tahu satu hal,” ujarnya kembali. Ia menggenggam pelan tangan kananku—yang membuatku agak mengernyit karena ada luka bekas suntik yang masih membengkak dan meninggalkan bercak keunguan di sana.

Namun, aku tidak terlalu memedulikannya. Yang menjadi fokus pandangku saat ini, hanyalah kedua manik milik Jun seorang.

“Aku—Wen Junhui ini—mencintai Cheng Xiao.”

.

.

.

Apakah aku sedang bermimpi? Katakanlah bahwa aku sedang bermimpi sekarang. Tapi ini bukan mimpi, kan? Karena rasanya seperti dibawa terbang ke langit.

Tapi, tunggu dulu. Masih ada satu hal yang mengganjal.

“Bagaimana dengan Nayeon-unnie? Dia kekasihmu, kan?”

Jun yang mendengarnya langsung mengerutkan alisnya, yang membuatku juga menjadi ikut-ikutan bingung. Kenapa ia seperti itu?

“Kekasih? Nayeon? Sejak kapan?”

“Kau sendiri yang bilang waktu itu! Waktu di ruang kesehatan!” ujarku dengan suara meninggi.

Jun tampak berpikir-pikir sejenak sambil menyipitkan kedua matanya. Beberapa detik kemudian, kedua mata itu melebar dan,

Ya, aku tidak pernah mengatakan kalau dia itu kekasihku! Aku hanya bilang kalau ada seseorang yang waktu itu mengisi hatiku, yaitu Nayeon-nuna. Namun, aku berkata begitu bukan berarti ia lantas menjadi kekasihku, Cheng Xiao!”

Tidak bisa bersuara, tetapi hanya menatap Jun sambil melongo. Berarti yang dimaksud Jun waktu itu hanyalah cinta diam-diam?

Oh, ya ampun. Mau ditaruh dimana sekarang mukaku?

“Lalu, apa kau tahu soal Seungcheol-sunbae? Ia—”

“Kekasih Nayeon? Ya, aku tahu. Kau ingin bertanya aku patah hati atau tidak? Patah hati, tentu saja,” sahut Jun datar.

“Dan saat aku sedang bingung dengan perasaanku sendiri, tiba-tiba saja kau datang. Ya, kau datang dan mengisi hari-hariku. Kau telah mengobati perasaanku yang tadinya hancur. To be honest, Xiao—kau telah menyatukan kembali hatiku yang tadinya sempat retak,” lanjutnya.

Ketika kalimat terakhir itu terucap, aku masih ragu harus percaya atau tidak. Karena, seperti yang kukatakan tadi—ini semua terasa seperti mimpi.

“Tapi bagaimanapun juga, aku masih belum terlalu bisa melupakan gadis itu meskipun aku mulai menaruh perasaan padamu. Aku benar-benar minta maaf. Saat itu aku menolak perasaanmu, karena aku tidak ingin aku menjadikanmu sebagai tempat pelampiasan. Aku minta maaf, Xiao. Aku terlalu terlambat menyadarinya.”

Tiba-tiba Jun menarik kedua bahuku untuk lebih mendekat padanya, lalu mendekapku perlahan.

“Melihatmu yang seperti ini, aku tersadar. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Dan rasa sakitmu sekarang—seandainya saja aku bisa menggantikanmu,” lanjutnya. “Aku berharap aku bisa, Xiao. Maafkan aku.”

Kini air mataku tak bisa tertahankan lagi. Kukira, aku sudah tidak punya harapan. Namun, mengetahui fakta yang baru saja keluar dari mulut Jun—I could burst into tears for being too happy.

“Aku juga mencintaimu, Jun.”

Setelah beberapa saat, kami melepas tautan kami. Kemudian, Jun berjalan ke arah meja dan mengambil sebuah kotak yang tadi ia bawa.

“Makanlah.”

Jun membuka kotak itu, dan di dalamnya berdiri sepotong besar kue sacher buatannya.

Aku menatapnya, lalu menatap kue sacher itu. Kemudian aku menatap Jun lagi. Aku takut muntah.

“Mungkin rasanya tidak persis sama, tetapi cobalah untuk memikirkan ibumu saat memakannya,” ujar Jun.

Memikirkan ibuku?

Aku menatap kue sacher itu lagi. Teringatlah orang-orang yang selama ini begitu menyayangiku dan juga keinginanku untuk sembuh—sehingga kuputuskan untuk memakannya. Jun mengambil garpu, lalu menyuapiku perlahan.

Saat itu juga, aku teringat akan ibuku. Merasakan betapa aku merindukan kehadirannya. Mengingat setiap kasih sayang yang pernah ia berikan.

Enak.

Ini benar-benar enak. Meskipun rasanya tidak sama persis dengan buatan ibuku, kuakui kue sacher ini sangatlah enak. Dengan memakannya, aku benar-benar merasa seperti ibuku ada di sini—menemaniku tentunya.

Akhirnya, aku menangis lagi.

Kali ini berbeda, karena yang ada bukan lagi tangis kesedihan, namun tangis haru. Jun memang benar-benar hebat. Aku tidak tahu bagaimana cara ia membuatnya, namun kurasa aku menemukan satu hal lagi.

Satu hal yang membuatku jatuh cinta pada Wen Junhui.

“Terima kasih, Jun.”

-oOo-

Dan lima bulan kemudian, aku sembuh total. Rambutku kembali tumbuh, dan berat badanku kembali normal. Beruntung aku masih bisa bekerja di agensiku, dan semua itu berkat Tuhan yang telah menyembuhkanku melalui Jun sebagai perantara.

Dan sekarang, aku dapat berjalan dengan langkah yang begitu ringan tepat di sebelah Jun, sambil menggandeng lengannya dan tertawa lepas.

Ia tidak terlalu populer di sekolah. Ia tidak dikejar-kejar oleh banyak gadis. Ia tidak begitu menarik perhatian banyak orang. Ia hanyalah seorang laki-laki biasa dengan kepribadian hangat yang bisa membuat hatiku luluh.

Dan entah sudah berapa kali aku mengatakan ini. Aku jatuh cinta kepadanya, dan aku tidak menyesal mencintainya. Saat aku mulai merasa lelah dengan percintaan yang rumit ini, disaat otakku memaksa untuk meninggalkannya, hatiku seolah berkata yang sebaliknya. I just can’t.

Sebesar apapun rasa lelahku, berapa kalipun aku telah menyerah—namun pada akhirnya aku akan jatuh cinta lagi kepadanya.

Lagi dan lagi.

fin.

-oOo-

Advertisements

5 thoughts on “Again and Again (Part 2)

  1. Pingback: I’ll Be There | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s