A Story of Beauty and the Beast (Chapter 3)

PicsArt_07-14-03.42

A Story of Beauty and the Beast (Chapter 3)

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan (Seventeen), Hwang Ahreum (OC), & Others

Romance

PG-15

Chaptered

Previous :

Chapter 1 | Chapter 2

“Aku berharap kau tidak menilai seseorang hanya dari luarnya saja.”

-oOo-

Beberapa menit setelah Ahreum selesai mandi, terdengar ketukan di pintu kamarnya.

“Ya?”

“Ahreum, boleh aku masuk?”

Ahreum mengenali suara itu. Ia tersenyum. “Masuklah, Jisoo.”

Pintu kamar Ahreum terbuka, dan Jisoo masuk dengan wajah khawatir. “Kau sudah tidak apa-apa?” tanyanya lembut sambil menutup pintu.

Ahreum hanya mengangguk singkat, membuat Jisoo yang melihatnya menghembuskan nafas lega.

“Aku mencarimu kemana-mana. Ternyata Jeonghan sudah membawamu ke sini,” ujarnya sambil terkekeh pelan. Jisoo duduk di kursi meja rias, sementara Ahreum terduduk di ujung kasurnya.

“Maaf tadi aku meninggalkanmu sebentar. Aku tidak kuat jika mandi terlalu malam. Tubuhku ini rentan flu, kau tahu.”

Ahreum menjadi ikut tersenyum melihat wajah Jisoo yang juga tersenyum jenaka. Menurutnya, Jisoo benar-benar tipikal orang yang menyenangkan. Laki-laki itu benar-benar baik  bertolak belakang sekali dengan Jeonghan.

“Jisoo ….”

“Iya?”

Boleh aku bertanya?”

Jisoo menatap gadis itu bingung, namun ia tetap tersenyum. “Sure.”

“Kenapa kau bisa tahan berteman dengan laki-laki terkutuk itu?”

“Laki-laki terkutuk?” tanya Jisoo mengulangi kata-kata Ahreum. “Maksudmu Jeonghan?”

Ahreum tertawa pelan. “Memangnya siapa lagi?”

Ya, jangan bilang begitu,” Jisoo tertawa sambil menjitak pelan kepala Ahreum. “Ia tidak terkutuk. Rumor yang kau dengar itu tidak benar, jangan dipikirkan.”

“Oh ya?”

“Mmm.”

“Lalu soal yang menjadi lawan mainnya akan mendapatkan sial itu …?” tanya Ahreum kembali. Ia ingat, Sooyoung pernah bercerita padanya soal gadis malang yang bernama Jihyun. Gadis itu menjadi lawan main Jeonghan saat pentas drama.

Seusai pentas, gadis itu mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia kehilangan penglihatan—dan tentunya membuat seisi universitas mereka heboh. Tidak hanya Jihyun saja. Masih ada beberapa gadis lagi yang mengalami kejadian serupa, dan semuanya merupakan lawan main Jeonghan.

“Ah, itu. Well, seharusnya kau tahu kalau teman-teman kita memang banyak yang suka membuat gosip. Termasuk rumor-rumor itu. Aku mengakui kalau gadis-gadis malang itu, seperti Jihyun, Hyeri dan yang lainnya …, mereka memang pernah menjadi lawan main Jeonghan semua. Tapi, tidak ada bukti kalau kesialan yang menimpa mereka itu kesalahan Jeonghan. Cobalah pikirkan dengan logika, Ahreum.”

Ahreum terdiam mendengar penjelasan Jisoo, lalu ia mengerutkan dahi bingung. Ia masih tidak yakin. “Lalu, bagaimana kau bisa menarik kesimpulan kalau kecelakaan yang menimpa Jihyun itu bukan kutukan dari Jeonghan?”

Well, berita seperti apa yang kau dengar soal kecelakaan Jihyun?”

Ahreum mencoba mengingat-ingat apa yang pernah diceritakan Sooyoung padanya. “Kejadiannya tengah malam. Jihyun sedang mengendarai mobil, lalu ia ditabrak oleh pengemudi mobil yang mabuk dari arah samping.”

Jisoo tersenyum sekilas mendengarnya. “Kau salah. Kejadiannya tidak seperti itu.”

“Lalu?”

“Satu hal yang harus kau ingat adalah, ayah Jihyun adalah seorang jaksa penuntut umum yang kaya raya. Coba tebak? Kau pintar, Ahreum.”

Ahreum masih kebingungan saat tiba-tiba ada sebuah pemikiran yang melintas di kepalanya, namun masih samar. Dengan ragu-ragu, ia akhirnya membuka suara.

“Ayah Jihyun … memutarbalikkan fakta?”

Exactly.” Jisoo menjentikkan jarinya sambil menatap intens Ahreum. “Jihyunlah yang mengemudi sambil mengebut. Ia juga melanggar lampu merah, karena ingin cepat sampai di rumah lalu tidur, tapi pada akhirnya ia menabrak mobil yang melintas. Setelah diperiksa, ternyata kadar alkohol dalam darahnya juga cukup tinggi, karena saat itu ia memang dalam perjalanan pulang sehabis minum-minum bersama teman-temannya. Luar biasa, kan?”

Ahreum hanya bisa menatap Jisoo sambil ternganga tanpa ada suara sekecil apapun yang keluar dari mulutnya. Apa yang baru saja dikatakan Jisoo itu sulit dipercaya.

“Adiknya sendiri yang bercerita padaku saat aku dan teman-teman yang lain mengunjungi Jihyun di rumah sakit. Kau sudah mengetahui ini, dan apa kau masih bisa berkata bahwa Jeonghan itu terkutuk?”

Ahreum masih berusaha mencerna setiap kata-kata Jisoo barusan. Jujur, ia ingin tidak percaya pada kutukan itu, namun ia masih ragu.

“Berikan aku bukti lain,” ujar Ahreum pada akhirnya.

“Bukti lain?” Jisoo mengangkat kedua alisnya, kemudian ia tersenyum. “Baiklah, bukti lain. Kau tahu Min Hyeri?”

Ahreum mengangguk. “Mantan kekasih Kim Mingyu, kan? Kudengar perusahaan ayahnya bangkrut dan ia harus berhenti kuliah karena tidak punya biaya.”

“Benar. Hampir semua murid menggosipkan kalau itu adalah kutukan karena ia menjadi lawan main Jeonghan. Tapi waktu aku bertanya langsung padanya, ia menjawab kalau penyebab kebangkrutan ayahnya itu karena penipuan. Ayah Hyeri ditipu habis-habisan oleh sahabatnya sendiri, dan orang itu sudah merencanakan penipuannya selama bertahun-tahun yang lalu. Apa masuk akal kalau menyalahkan Jeonghan?”

Ahreum terdiam sejenak dan berpikir. Memang jawabannya adalah tidak.

“Baiklah, aku percaya padamu,” ujar Ahreum sambil tersenyum. Jisoo juga ikut tersenyum mendengarnya.

“Omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku tadi,” protes Ahreum tiba-tiba.

“Hm?”

“Kenapa kau bisa tahan berteman dengannya? Memangnya kau tidak sering terkena amukannya?”

Jisoo menatap Ahreum sejenak, kemudian ia mendengus tertawa. “Kenapa aku bisa tahan dengannya?” ujarnya mengulangi pertanyaan Ahreum. “Entahlah. Hanya saja, kami sudah mengenal satu sama lain sejak kecil. Aku mengenalnya dengan sangat baik. Aku sudah terbiasa dengan kelakuannya, jadi tidak apa-apa. Meskipun ia tempramental, namun sebenarnya hatinya baik.”

“Baik? Baik darimananya?”

“Kau juga akan tahu sendiri nanti,” jawab Jisoo.

-oOo-

Seusai mengantarkan Ahreum, Jeonghan kembali ke kamarnya sendiri dan ia mendapati Wonwoo yang masih berdiri di ambang pintu. Ia balas menatap Wonwoo yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum geli.

“Kau kenapa, sih?” tanya Jeonghan sambil menerobos masuk.

Wonwoo menoleh ke arah Jeongan dengan senyum lebar yang tersungging sambil menggeleng. “Tidak, tidak apa-apa.”

Jeonghan yang sudah membaringkan dirinya di atas kasur kembali mengangkat kepalanya sedikit untuk sekedar melihat Wonwoo.

Ternyata senyum itu masih belum hilang juga dari wajahnya. Sambil merebahkan kembali kepalanya, Jeonghan mendengus tertawa dengan nada mengejek. “Kau mulai gila rupanya.”

Wonwoo ikut tertawa. Ia berjalan mendekati Jeonghan. “Lalu setelah ini apa?”

“Hm?”

“Apa yang akan kau lakukan?”

Jeonghan mengerutkan dahinya, tampak berpikir. “Entahlah. Aku juga bingung.”

Mereka sama-sama terdiam sejenak, sampai akhirnya Wonwoo mendapatkan sebuah ide.

“Jeonghan.”

“Apa?”

“Ajaklah dia makan malam.”

Jeonghan mengubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk. Ia menyipitkan matanya memandang Wonwoo. “Bagaimana caranya?”

“Bagaimana caranya? Hanya tinggal mengajaknya saja apa susahnya, sih?” celoteh Wonwoo.

“Maksudku … bagaimana cara mengajaknya?”

Wonwoo mendengus kesal. “Bicaralah baik-baik dengannya. Jangan bersikap seolah-olah dia adalah bawahanmu yang bisa seenaknya kau perintah. Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Kau harus bisa mengendalikan emosimu.”

-oOo-

Ahreum masih ayik mengobrol dengan Jisoo ketika ia kembali mendengar pintu kamarnya yang diketuk. “Ya?” sahutnya.

Di balik pintu, Jeonghan sudah berpenampilan rapi dengan kemeja putih berlengan panjang yang lengannya digulung sampai setengah dan juga celana panjang hitam. Rambutnya juga diikat, membuatnya terlihat lebih rapi dari biasanya.

Wonwoo juga telah memesan makanan dari restoran berbintang lima dan makanan itu sudah diantar, sehingga kini yang tersisa hanyalah tinggal mengajak ‘Si Tuan Putri’.

Jeonghan berdiri sambil mengernyitkan dahinya, berusaha mencari kata-kata apa yang pantas. Dengan wajah putus asa, ia menoleh ke kanan, dimana Wonwoo sedang menatapnya sambil menyandar pada tembok dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Bagaimana ini?” bisik Jeonghan pada Wonwoo. Wonwoo hanya menggerakkan kepalanya sebagai bentuk isyarat, dan Jeonghan langsung mengerti.

“Ah—Ahreum?”

“Jeonghan?” Ahreum menatap ke arah pintu dengan pandangan tidak percaya. “Itu Jeonghan?” bisiknya pada Jisoo, dan Jisoo hanya mengangguk mengiyakan. Ahreum kembali menatap pintu dan membuka mulutnya untuk menjawab, namun tidak jadi.

Sementara itu di luar, karena tidak ada jawaban, Jeonghan berdeham dan melanjutkan kalimatnya. “Ahreum, ayo kita makan malam,” ujarnya.

Di dalam kamar, Ahreum terheran-heran. Ia ingin menerima ajakan itu, namun ia juga masih marah pada Jeonghan. Ia menoleh ke arah Jisoo. Jisoo hanya menyunggingkan senyum sambil mengangguk ke arah pintu, memberi isyarat pada Ahreum agar menerima ajakan Jeonghan.

“Tidak.”

Tanpa disangka-sangka, Ahreum menolak ajakan itu, yang membuat senyum manis Jisoo luntur seketika. Sementara itu di luar, Jeonghan juga sama terkejutnya dengan Jisoo. Hatinya mulai terasa panas sekarang. Memang dasar orang tempramental.

“Ahreum, cepatlah keluar sekarang atau—”

Kalimat Jeonghan terpotong karena tiba-tiba saja Wonwoo menyenggolnya sambil menyeringai. “Sabarlah sedikit!” bisik Wonwoo.

Jeonghan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, berusaha meredam emosinya yang sempat naik.

“Ahreum, maukah kau makan malam denganku?” tanya Jeonghan dengan nada suara yang jauh lebih lembut–atau lebih tepatnya dipaksakan agar terdengar jauh lebih lembut.

“Tidak.”

“Ayolah, Ahreum. Kau tidak lapar? Aku hanya ingin mengajakmu makan malam ber—”

“Kubilang tidak. Terima kasih.”

See?” desis Jeonghan pada Wonwoo sambil menunjuk ke arah pintu kamar Ahreum. “Ya, keluarlah dan makan malam denganku sekarang.”

“Kau tuli? Aku bilang tidak!”

Jisoo yang tadinya duduk di sebelah Ahreum langsung membelalak dan berlari ke arah pintu, dan mengunci pintu itu seusai Ahreum mengatakan dua kalimat terakhirnya.

Dan benar saja. Tidak sampai satu detik, pintu itu sudah digedor keras-keras dari luar, dan Jeonghan juga berusaha membuka pintu itu dengan kasar. Namun usahanya sia-sia.

“Keluar dan makan malam sekarang!”

“Sudah kubilang aku tidak mau!”

YA! AHREUM! KEL—hmpppppfffhhh!”

Ketika Jeonghan sudah mulai berteriak seperti itu, Wonwoo langsung membekap mulut Jeonghan dengan sebelah tangan dan menyeret tubuh Jeonghan untuk menjauh dari pintu.

Namun, tanpa disangka-sangka Jeonghan malah menggigit tangan laki-laki itu sampai Wonwoo mengaduh kesakitan. Setelah berhasil melepaskan diri, ia menoleh ke arah Wonwoo.

Wonwoo sudah membuka mulut hendak protes soal bekas gigitan dan air liur Jeonghan yang masih terpampang jelas di tangannya, namun Jeonghan menyahut duluan.

Well, tidak apa-apa kalau ia tidak mau. Namun dengarkan aku, Wonwoo. Kalau ia tidak mau makan denganku, maka ia tidak usah makan sama sekali!”

Seusai berkata begitu, Jeonghan langsung berjalan meninggalkan Wonwoo lalu memasuki kamarnya dan membanting pintu keras-keras.

Di kamar lainnya, Ahreum dan Jisoo jelas sekali bisa mendengar apa yang baru saja diteriakkan oleh Jeonghan. Ahreum masih terduduk dan merengut, sementara Jisoo berdiri sambil menempelkan telinganya pada pintu, memastikan bahwa Jeonghan sudah benar-benar pergi.

Ketika ia sedang menempelkan telinganya, tiba-tiba saja pintu diketuk dan itu membuatnya terkejut setengah mati.

“Ahreum, boleh aku bicara denganmu sebentar?”

Mendengar suara itu, Jisoo menoleh pada Ahreum. Matanya menyiratkan pandangan bertanya apakah-aku boleh-membukakan-pintu dan Ahreum pun mengangguk. Akhirnya Jisoo membuka pintunya.

“Jisoo? Apa yang kau la—”

“Sekedar mengobrol dengan Ahreum, sampai Jeonghan datang dan … begitulah,” jawab Jisoo datar.

Wonwoo hanya sekedar mengangguk dan kini pandangannya beralih ke arah Ahreum. “Ahreum, kau baik-baik saja?”

Yang ditanya menengadahkan kepalanya menatap sosok Wonwoo yang masih berdiri di ambang pintu. Gadis itu hanya mengangguk singkat.

“Mukamu pucat,” ujar Wonwoo. “Kau tetap tidak mau menerima tawarannya?”

Ahreum menggeleng. “Tidak, terima kasih. Aku sudah cukup muak dengan sikapnya.”

Mendengar itu, Jisoo dan Wonwoo saling berpandangan. Jisoo mendekati Ahreum, dan duduk di sampingnya. “Yah, mungkin saja kau hanya belum melihat sisi baiknya, Ahreum. Setidaknya, berilah ia kesempatan.”

Mendengar perkataan Jisoo, Ahreum hanya bisa tertunduk lemas. Sisi baik? Mananya yang sisi baik? Ia sama sekali tidak bisa melihat dimanakah sisi baik dari seorang Yoon Jeonghan. Atau mungkin, ia hanya belum bisa melihatnya? Atau memang Jeonghan yang sengaja tidak menunjukkannya? Entahlah.

-oOo-

Malamnya, Ahreum tidak bisa tidur. Ia kelaparan, jelas.

Alhasil, ia membuka pintu kamarnya pelan-pelan dan melihat sekeliling. Sebagian besar lampu sudah dimatikan, dan tidak ada siapa-siapa. Semuanya sudah tidur, pikirnya. Akhirnya Ahreum mengendap-endap di tengah kegelapan dan menuruni tangga tanpa suara.

Ketika Ahreum membuka pintu dapur, Ahreum hampir saja memekik saking terkejutnya. Dilihatnya sosok yang tengah bersandar di meja dapur, dan ia sudah pasti membangunkan sesisi rumah jika saja ia terlambat mengetahui bahwa sosok itu hanyalah Wonwoo.

Tersadar karena hampir membuat seseorang jantungan, Wonwoo segera menyalakan lampu dapur. “Kenapa, Ahreum?” tanya Wonwoo lembut.

“Kau sendiri … apa yang kau lakukan di sini?”

“Tidak bisa tidur. Kau? Kelaparan?”

Ahreum hanya menunduk dan tersenyum kecil. “Begitulah.”

Wonwoo tersenyum geli melihat Ahreum. “Kau tahu,” ujarnya. “Kupikir aku hampir saja membuang-buang makanan hari ini. Jeonghan juga tidak makan omong-omong. Jadi aku dan Jisoo yang berusaha mati-matian menghabiskan makanannya. Tapi anak itu malah sakit perut dan muntah. Ia tidak enak badan sekarang,” lanjut Wonwoo. Ia terkekeh pelan melihat ekspresi Ahreum.

“Jisoo muntah?”

“Iya.”

“Ma—Maafkan aku,” ucap Ahreum sambil menunduk, merasa agak bersalah.

Wonwoo hanya tertawa kecil sambil membuka kulkas. “Tidak apa-apa, Ahreum,” ujarnya. “Kau mau makan apa?”

“Apa saja boleh,” jawab Ahreum.

Tak lama kemudian, Wonwoo mengeluarkan semangkuk buah-buahan yang telah dipotong-potong. “Bagaimana dengan salad? Aku yakin kau memusuhi makanan berat bila sudah tengah malam begini.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Kebanyakan gadis seperti itu.”

Ahreum mengangguk-angguk pelan. Ia memperhatikan Wonwoo yang tengah membuatkan salad untuknya sambil memikirkan sesuatu.

“Wonwoo ….”

“Mmm?”

“Aku masih heran. Kenapa laki-laki baik-baik seperti kalian bisa berteman dekat dengan Jeonghan?” Ahreum mengulangi pertanyaan yang dilontarkannya ke Jisoo tadi.

Wonwoo yang tengah selesai membuatkan salad memasukkan bahan-bahan kembali ke dalam kulkas, lalu berjalan ke arah Ahreum sambil membawa mangkuk yang berisi buah-buahan itu. Ia terduduk di samping Ahreum.

“Sederhana,” jawab Wonwoo. “Karena jujur saja, ia juga orang baik-baik.”

Ahreum yang baru saja mulai makan langsung berhenti mengunyah dan menatap Wonwoo heran. “Masa? Baik apanya, sih?”

Ya, telanlah dulu itu baru bicara,” sahut Wonwoo. “Yah, aku tidak peduli kata orang lain.

Yang aku tahu selama delapan belas tahun mengenalnya, dia itu orang baik. Hanya saja ia kurang bisa mengontrol emosinya. Atau lebih tepatnya, ia bersikap begitu sebagai bentuk pelampiasan.”

“Pelampiasan?”

“Nanti kau juga akan tahu sendiri kalau memang sudah waktunya,” sahut Wonwoo sambil tersenyum.

Wonwoo menatap tepat di kedua mata Ahreum yang masih menyiratkan kebingungan, dan Ahreum balas menatapnya.

“Ahreum,” panggil Wonwoo. “Aku berharap kau tidak menilai seseorang hanya dari luarnya saja.”

Menilai dari luar? pikir Ahreum.

Ahreum membuka mulut hendak membantah, namun tidak jadi. Ia memang belum mengenal Yoon Jeonghan sepenuhnya seperti Wonwoo dan Jisoo, dan ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap pada Jeonghan sekarang.

Tapi Wonwoo bilang, ia akan mengetahuinya kalau memang sudah waktunya, bukan? Kalau begitu, Ahreum akan menunggu.

Menunggu waktu yang tepat untuk menguak sebuah kepastian.

tbc.
-oOo-

*This story is inspired from a classic fairy tale by Jeanne-Marie Leprince de Beaumont,
Beauty and the Beast.


How is it so far?
Mind to review? Thankyou^^

Advertisements

7 thoughts on “A Story of Beauty and the Beast (Chapter 3)

  1. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 4) – ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 5) – ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 6) – ROSÉ BLANCHE

  4. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 7) | ROSÉ BLANCHE

  5. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 8) | ROSÉ BLANCHE

  6. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9) | ROSÉ BLANCHE

  7. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Last Chapter) | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s