A Story of Beauty and the Beast (Chapter 2)

PicsArt_07-14-03.42

A Story of Beauty and the Beast (Chapter 2)

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan (Seventeen), Hwang Ahreum (OC), & Others

Romance

PG-15

Chaptered

Previous :

Chapter 1

“Memangnya siapa yang bisa mencintai Si Buruk Rupa sepertiku?”

-oOo-

Pagi hari yang cerah selalu menjadi kesukaan Ahreum setiap harinya, namun tidak dengan pagi yang ini. Park-songsaenim baru saja mengumumkan sebuah hal yang cukup mengejutkan.

Sepuluh hari ke depan, kuliah akan diliburkan karena universitas akan mendapatkan kunjungan dari universitas luar negeri, dan akan dilanjutkan dengan libur hari perayaan nasional, sehingga total libur mereka menjadi sepuluh hari berturut-turut.

Mungkin bagi siswa semester satu sampai enam, libur ini adalah berkat bagi mereka. Namun, tidak untuk siswa semester terakhir.

“Lalu bagaimana dengan latihan dramanya, Songsaenim?” tanya Ahreum.

“Kalian masih bisa berlatih sendiri-sendiri di rumah, kan? Lagipula, masih ada kurang lebih satu minggu setelah libur sebelum hari pentas.” Dosen itu berlagak tak peduli dan mendengus kesal. Sepertinya ia juga pusing akibat pengumuman mendadak yang baru saja tersebar.

Ahreum menatap tidak percaya pada dosennya itu. Bagaimana bisa tiba-tiba libur di saat-saat seperti ini? Ahreum membatin.

-oOo-

Siangnya, saat kuliah telah selesai, benar saja.

Jeonghan menunggu Ahreum di depan gerbang. Ahreum berjalan sedikit lebih cepat, dan pura-pura tidak melihat laki-laki itu.

Ya! Hwang Ahreum!”

Sialan. Ahreum mengumpat dalam hati.

Gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Jeonghan, yang tiba-tiba saja sudah berada tepat di sampingnya.

“Kau lupa janjimu kemarin?”

Ahreum mendengus. Ia menatap intens kedua manik Jeonghan. “Maaf, tapi kurasa aku tidak pernah berjanji apapun padamu. Bahkan aku belum mengiyakan ajakanmu kemarin.

“Masa bodoh. Ayo, ikut aku.”

Sontak Jeonghan langsung saja menggaet tangan Ahreum dan menariknya.

Ya! Jeonghan! Lepaskan!”

Tapi percuma saja. Tangan Jeonghan terlalu kuat untuknya. Ahreum tetap saja meronta-ronta, meskipun sebenarnya ia cukup yakin bahwa usahanya itu sia-sia. Setelah beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba saja ada sebuah mobil sedan hitam yang berhenti di hadapan mereka.

Seseorang berpakaian rapi keluar dari mobil dan membuka pintu bagian belakang. Jeonghan langsung saja mendorong Ahreum masuk, dan detik berikutnya ia pun ikut masuk ke dalam mobil.

-oOo-

Setelah kurang lebih lima belas menit, mobil sedan itu masuk ke pekarangan sebuah rumah mewah dan berhenti di depan sebuah pintu berukir. Ahreum dan Jeonghan keluar dari mobil, lalu mereka masuk ke dalam rumah itu. Saat itu juga, mereka langsung disambut oleh Jisoo dan Wonwoo.

“Kenapa kalian lama sekali?” Wonwoo yang tadinya berbaring di sofa langsung mengubah posisinya menjadi posisi duduk.

“Ahreum, kau tidak apa-apa?” Jisoo langsung berdiri sambil menghampiri Ahreum. Wajah gadis itu merengut namun pucat. Kentara sekali bahwa gadis itu kesal dan ketakutan di saat yang bersamaan.

“Kalian … kenapa di sini?” tanya Ahreum.

“Ah. Selama beberapa minggu ini, kami menginap di sini. Tujuan awalnya memang untuk latihan drama bersama. Yah, tapi hitung-hitung juga sekalian bersenang-senang,” jawab Jisoo sambil tersenyum.

Ahreum hanya ber-oh ria sambil memandang berkeliling. Sementara itu Jeonghan hanya membanting tasnya asal dan terduduk di sofa.

“Kau … tinggal sendirian?” Yang ditanya hanya menatap Ahreum dengan datar.

“Ya.”

“Lalu Yoon-songsaenim? Ah, maksudku … ayahmu?”

“Tinggal di rumah lain.”

“Memangnya kau tidak—”

“Kau ini kenapa cerewet sekali sih?” Tiba-tiba Jeonghan memotong pertanyaan Ahreum sambil memelototinya. “Dari pada kau terlalu banyak berbasa-basi, lebih baik kita segera mulai saja latihannya.”

Ahreum membeku mendengar perkataan Jeonghan, dan Jisoo yang melihatnya menjadi tidak tega pada gadis itu. “Ya, Jeonghan. Jangan seperti itu pada Ahreum. Santailah.”

Sedetik kemudian Jeonghan menyipitkan matanya, balas menatap Jisoo.

“Kau diam saja, bisa?” Jeonghan menghela nafas kesal, lalu mengobrak-abrik tasnya untuk mencari naskah. Setelah mendapatkannya, ia langsung berdecak.

“Ahreum. Kemarin kau dengar sendiri kata-kata Park-songsaenim, kan? Sekarang cepat lakukanlah.”

Jeonghan sama sekali tidak menatap Ahreum, ia hanya terduduk sambil mengangkat naik kedua kakinya ke atas sofa, dan membolak-balik lembaran naskah secara asal.

Ahreum hanya menatapnya diam sambil menghela nafas. Menurut ajaran keluarga Ahreum, sikap itu benar-benar tidak sopan dan bahkan bisa dikategorikan kurang ajar.

Memang Ahreum ingat dengan baik apa yang dikatakan pembimbingnya itu kemarin. Mengajari Jeonghan. Baiklah, ia bersedia, namun tidak seperti ini caranya.

“Ahreum, ce—”

“Tidak.”

Entah apa yang merasukinya sehingga Ahreum mempunyai keberanian berkata seperti itu, namun masa bodoh untuknya sekarang. Laki-laki ini sudah benar-benar keterlaluan.

Jeonghan memajukan kepalanya dan kembali menyipitkan mata menatap Ahreum. “Apa kau bilang?”

“Aku bilang tidak.”

“Kau tidak mau?”

“Aku tidak mau, kecuali jika kau mengatakan ‘tolong’,” jawab Ahreum sambil menatap tajam Jeonghan, meskipun sebenarnya degup jantungnya sudah tidak beraturan karena rasa takut yang menggerayapinya.

Mendengar itu, Jeonghan mengangkat kedua alis dan sedetik kemudian ia menyunggingkan sebuah senyuman angkuh di wajahnya. Ia berdiri sambil membanting naskah yang ada di genggamannya ke lantai, membuat nyali Ahreum semakin ciut.

Ia berjalan mendekati Ahreum yang masih dengan posisi duduknya, kemudian Jeonghan membungkuk dan menjajarkan posisinya dengan Ahreum. Ia menuding Ahreum dengan jari telunjuknya tepat di depan wajah gadis itu.

“Kalau kau tidak mau …,” ujar Jeonghan dengan nada mengancam. “Kau tidak akan keluar dari rumah ini, sampai kau melakukan apa yang dikatakan Park-songsaenim.”

Setelah itu, Jeonghan menegakkan tubuhnya kembali dan berjalan ke arah tangga. Ahreum ternganga sambil menatapnya, lalu ia terkekeh pelan. “Ya, jangan main-main Jeonghan.”

Jeonghan yang tengah menaiki tangga menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Ahreum. “Siapa bilang aku main-main?” Saat itu juga, jantung Ahreum serasa berhenti berdegup. Matanya membelalak menatap Jeonghan, dan ia langsung berdiri saat itu juga.

Ya, Jeonghan! Kau gila?”

Sedangkan Jeonghan hanya diam saja dan menatap Ahreum datar. Tidak ada ekspresi apapun.

Ya, bagaimana kalau ibuku mengawatirkanku?”

“Kau tinggal sendirian. Rumah ibumu jauh dari apartemenmu. Jangan pikir aku tidak tahu.”

Mendengar itu, wajah Ahreum merah padam. Bagaimana laki-laki ini bisa tahu?

“Lalu, kalau tidak keluar … bagaimana dengan kuliah?”

“Kuliah? Kuliah libur sepuluh hari, kan?”

“Lalu, bagaimana dengan—”

Ahreum tidak jadi melanjutkan pertanyaannya, karena ia melihat bahwa Jeonghan sudah naik ke atas tanpa mengacuhkannya lagi. Ia menghembuskan nafas keras-keras dan kembali terduduk sambil menutupi wajahnya. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Wonwoo dan Jisoo yang melihat itu merasa iba, namun mereka juga bingung harus berbuat apa. Jisoo beranjak berdiri dan duduk tepat di samping Ahreum. Saat itu juga Jisoo tersadar.

Gadis itu menangis, meskipun ia sama sekali tidak bersuara.

Dengan pelan, Jisoo menepuk-nepuk punggung Ahreum, namun Ahreum tetap saja tidak berkutik. Jisoo menoleh ke arah Wonwoo dan memajukan dagunya ke arah tangga. Tanpa Jisoo harus berkata apa-apa lagi, Wonwoo sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

-oOo-

Setelah menaiki tangga, Jeonghan langsung masuk dan membanting pintu kamarnya, lalu melemparkan tubuhnya ke kasur tanpa berganti pakaian. Tak lama kemudian, ia mendengar suara ketukan pintu.

“Apa?” sahutnya.

“Ini Wonwoo. Boleh aku masuk?”

Karena tidak ada jawaban, akhirnya Wonwoo menganggap jawabannya sebagai ‘iya’ dan langsung masuk. Ia menatap Jeonghan yang tengah terlentang di atas kasur sambil memejamkan matanya.

Ya, Jeonghan. Kau tidak perlu seperti itu padanya.” Wonwoo berjalan ke arah kasur Jeonghan dan duduk di ujungnya.

Mendengar ucapan itu, Jeonghan langsung membuka matanya dan terduduk. “Kau tadi lihat sendiri kalau ia yang memulai, kan?”

“Oh ayolah, Jeonghan. Jangan kekanakan,” batin Wonwoo. “Bersikap seperti ini jelas tidak akan membantu apa-apa. Kau tahu sendiri bahwa kali ini kau harus lulus, kalau kau ingin bertemu dengan ibumu. Jangan pernah meremehkan ayahmu, Jeonghan.”

Jeonghan menatap Wonwoo sesaat, dan beberpa detik kemudian pandangannya melembut. “Lalu aku harus bagaimana?” tanyanya dengan nada pasrah.

“Barusan kau dengar sendiri bahwa gadis itu tidak mau mengajariku. Dan kau juga tahu bahwa aku sangat payah di adegan-adegan yang mengandung unsur romance dalam drama. Karena—”

“Karena kau tidak pernah merasakan jatuh cinta dan tidak pernah ada gadis yang mencintaimu,” sahut Wonwoo memotong. “Kau sudah mengatakan itu ratusan kali, Jeonghan.”

Jeonghan hanya bisa tersenyum miris menanggapinya.

“Memangnya siapa yang bisa mencintai Si Buruk Rupa sepertiku? Bahkan ibuku juga tidak.”

Wonwoo berdecak kesal mendengarnya. “Ya, bagaimana kau bisa beranggapan seperti itu, sementara kau sendiri sudah tidak pernah bertemu dengannya selama lima belas tahun terakhir?”

“Jelas. Ia sama sekali tidak pernah menelepon. Tidak pernah memberikan kabar, apalagi menanyakan kabarku.”

“Itu tidak membuktikan apa-apa, Jeonghan,” sahut Wonwoo. “Mungkin ibumu punya alasan tersendiri.”

Kali ini Jeonghan hanya diam. Ia merenung, mengingat-ingat kejadian lima belas tahun yang lalu, dimana ibunya meninggalkannya yang masih berusia enam tahun. Meninggalkannya bertiga bersama dengan sang ayah dan kakak. Ia pergi begitu saja, dan Jeonghan tidak tahu alasan pastinya sampai sekarang.

Jeonghan tidak tahu dimana ibunya saat ini, ataupun bagaimana keadaannya. Hanya ayahnya saja yang tahu, namun sayang—pria itu tidak mau memberitahunya. Ayahnya akan mengijinkan Jeonghan untuk bertemu dengan sang ibu jika Jeonghan bisa lulus dengan nilai memuaskan—masuk ke tiga besar lebih tepatnya.

Namun, bagaimana Jeonghan bisa melakukannya? Bahkan tahun lalu saja ia harus mengulang kelas.

“Jeonghan, kau merasa bahwa ibumu tidak menyayangimu. Tapi kenapa kau masih ingin menemuinya?”

Jeonghan terdiam sebentar menatap Wonwoo, dan tiba-tiba ia tersenyum kecil. Ia beranjak berdiri, berjalan ke arah lemari dan mencari kausnya. “Entahlah. Kurasa bagaimanapun juga ia masih tetap ibuku.”

Mendengar jawaban itu, Wonwoo tersenyum. Ia menatap Jeonghan yang sedang mengganti kemeja seragamnya dengan kaus polos. “Wah, Si Buruk Rupa punya hati juga ternyata.”

“Diamlah,” sahut Jeonghan datar. Ia melempar kemejanya ke sembarang arah dan kembali terduduk di atas kasurnya. “Kembali ke topik awal. Sekarang aku harus bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Ayolah, kau itu peka. Aku yakin kau mengerti, Wonwoo,” ujar Jeonghan sambil memegangi kepalanya. “Ahreum–ia sangat cantik, kuakui itu. Dan … well, just look at me.”

Wonwoo menyipitkan matanya. Ia berusaha mengumpulkan segala asumsi yang memenuhi otaknya, dan kemudian dengan tidak yakin ia bertanya, “Kau merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa mencintaimu?”

Jeonghan hanya terdiam, masih memegangi kepalanya.

“Yah, kalau begitu sudah jelas sekali jika kau harus mengubah sikapmu pada Ahreum. Dan jangan ‘menawannya’ seperti ini.”

“Tidak, tidak bisa. Sudah terlanjur, Wonwoo. Kalau aku melepaskannya, bagaimana jika ia kabur? Bagaimana jika ia meminta Park-songsaenim untuk mengganti dirinya dengan gadis lain?” jawabnya. Namun, setelah mengucapkan itu, kedua mata Jeonghan melebar karena terkejut akan ucapannya sendiri.

Wonwoo pun memicingkan matanya pada Jeonghan. Sejenak terjadi keheningan, sampai akhirnya Wonwoo yang bersuara duluan.

Ya, kau sebegitu keberatannya kalau Ahreum diganti, eoh?” tanya Wonwoo sambil tersenyum menggoda Jeonghan. “Jadi, kau mulai tertarik dengannya?”

Jeonghan membelalak setelah mendengar ucapan Wonwoo itu, namun sedetik kemudian ekspresinya sudah kembali datar. “Oh, diamlah. Tidak, pokoknya aku tidak mau.”

Wonwoo tersenyum kecil melihat kawannya itu. “Kalau begitu, setidaknya buatlah ia nyaman di sini. Ia ketakutan kau tahu?”

Jeonghan menatap Wonwoo bingung. “Ahreum … takut denganku?”

Wonwoo mengangguk. “Tadi ia menangis setelah kau naik.”

Mendengar jawaban itu, Jeonghan menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Sudah kuduga.”

“Maka dari itu ubahlah sikapmu, Jeonghan. Belajarlah bersikap lembut padanya.”

Jeonghan mengalihkan pandangannya–menatap ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore.

“Dimana Ahreum?”

“Kurasa masih di ruang tamu tadi, bersama dengan Jisoo.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jeonghan segera keluar dari kamarnya dan menuruni tangga meninggalkan Wonwoo.

Jeonghan melihat gadis itu tengah duduk di sofa ruang tamu sambil melipat kedua lengannya di depan dada dan memejamkan matanya.

Apa ia tertidur? Jeonghan bertanya-tanya dalam hati. Ia melangkah mendekat ke arah Ahreum, namun ketika jaraknya sudah cukup dekat, tiba-tiba saja kedua mata gadis itu terbuka.

Ahreum mengerjap dan menatap Jeonghan. Gadis itu tidak berkata apa-apa, namun Jeonghan dapat melihat bahwa kedua mata Ahreum masih menyiratkan ketakutan, dan wajahnya juga sembap.

Jeonghan maju selangkah, namun gadis itu sedikit tersentak dan menggeser posisi duduknya menjadi sedikit menjauh dari Jeonghan—walaupun tidak terlalu kentara. Melihat itu, Jeonghan hanya menghela nafas.

“Ikut aku.”

Ahreum menatap Jeonghan heran. “Ke—Kemana?” tanyanya pelan.

“Ke kamarmu.”

“Kamar?” Ahreum menjadi semakin bingung sekarang. “Kau akan tinggal disini dan aku yakin kau tidak akan nyaman tidur di ruang tamu,” balas Jeonghan.

“Ta—Tapi …”

“Memangnya kau ingin tidur di sini?” tanya Jeonghan. Nada bicaranya berubah kembali menjadi dingin dan tajam.

“Tidak, tidak! Ba … baiklah, aku ikut ….”

Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Jeonghan segera berjalan menaiki tangga, diikuti oleh Ahreum di belakangnya. Mereka melewati pintu kamar Jeonghan yang masih terbuka, dan disana ada Wonwoo. Ahreum sempat menoleh sebentar ke arah Wonwoo, dan laki-laki itu membalasnya dengan senyuman.

Ternyata, kamar Ahreum berjarak kurang lebih belasan meter dari kamar Jeonghan. Mereka berdua masuk dan Jeonghan menyalakan lampunya. Kamar tersebut cukup besar bagi Ahreum.

“Untuk pakaian, kau boleh memakai pakaian yang ada di lemari itu,” ujar Jeonghan sambil memajukan dagunya ke arah sebuah lemari besar di samping kasur.

Ahreum membuka mulut hendak bertanya, namun ia takut akan membuat Jeonghan emosi lagi, maka dari itu ia kembali menutup mulutnya dan tidak jadi bertanya. Di saat yang bersamaan, Jeonghan melihat gadis itu dan ia mengerti.

“Kamar ini sebenarnya adalah kamar kakak perempuanku. Pakaian di lemari itu juga adalah pakaiannya semua, sengaja ditinggal di sini kalau-kalau ia sesekali berkunjung. Kurasa ia tak akan keberatan jika pakaiannya dipinjam sesekali. Oh, dan kalau kau bertanya dimana ia sekarang, jawabannya adalah di Milan. Kerja.”

Sontak Ahreum langsung menatap Jeonghan dengan pandangan heran. Itu adalah perkataan terpanjang dari Jeonghan yang pernah ia dengar. Ahreum berjalan masuk dan menatap berkeliling, sementara Jeonghan masih bersandar di ambang pintu.

Well …, Ahreum?”

Ahreum menoleh dan mendapati Jeonghan yang masih memegangi pintu. Ia manatap Jeonghan dengan pandangan bertanya.

Jeonghan menggigit bibir bawahnya, memikirkan apa yang hendak diucapkannya. Ia harus membuat gadis itu nyaman, kan? Akhirnya ia menatap Ahreum kembali.

“Anggap saja rumah sendiri. Kau boleh berkeliling untuk sekedar melihat-lihat, itupun kalau kau mau.”

Ahreum hanya mengangguk pelan menanggapinya—meskipun ia juga heran dengan sikap dingin Jeonghan yang dirasanya tiba-tiba hilang entah kemana.

“Tapi, jangan ke pekarangan belakang.”

Seketika Ahreum mengerutkan dahinya bingung. “Kenapa?” Ahreum memberanikan diri untuk bertanya, namun Jeonghan tidak menjawabnya dan langsung menutup pintu dari luar, meninggalkan Ahreum yang masih berdiri terpaku di tempatnya.

Nah, apalagi sekarang? Ternyata Jeonghan benar-benar serius soal ia tidak boleh pulang ke apartemennya. Dan sekarang Ahreum harus berusaha keras agar bisa bertahan menghadapi Yoon Jeonghan, Si Buruk Rupa.

Well, apa kabar, Ahreum? Sepertinya hari ini memang bukan harimu.

tbc.
-oOo-

*This story is inspired from a classic fairy tale by Jeanne-Marie Leprince de Beaumont,
Beauty and the Beast.

Advertisements

8 thoughts on “A Story of Beauty and the Beast (Chapter 2)

  1. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 3) – ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 4) – ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 5) – ROSÉ BLANCHE

  4. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 6) – ROSÉ BLANCHE

  5. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 7) | ROSÉ BLANCHE

  6. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 8) | ROSÉ BLANCHE

  7. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9) | ROSÉ BLANCHE

  8. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Last Chapter) | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s