A Story of Beauty and the Beast (Chapter 1)

PicsArt_07-14-03.42

A Story of Beauty and the Beast (Chapter 1)

story by Rosé Blanche

Yoon Jeonghan (Seventeen), Hwang Ahreum (OC), & Others

Romance

PG-15

Chaptered

“Bagaimana kalau Si Cantik dan Si Buruk Rupa?”

-oOo-

Ia dikutuk.

Setidaknya begitulah rumor yang terdengar di seluruh penjuru universitas drama dan teater tempat dimana Hwang Ahreum resmi tercatat sebagai salah satu mahasiswanya. Katanya, siapapun yang menjadi lawan main laki-laki terkutuk itu dalam drama, orang itu pasti akan mendapatkan kesialan. Dalam bentuk apapun.

Well, sebenarnya Ahreum tidak terlalu percaya akan hal-hal seperti itu, namun tidak dapat dipungkiri bahwa gadis berambut coklat itu juga agak takut dengannya.

Namanya Yoon Jeonghan.

Sebagian wajahnya selalu tertutupi dengan rambutnya yang panjang dan berantakan. Ia tipikal pendiam, namun tempramental. Karena itulah temannya tidak banyak. Ia juga pernah tidak lulus sekali, padahal ayahnya sendiri adalah pemilik universitas ini.

“Ahreum!”

Seketika itu juga, Ahreum tersadar dari lamunannya, berkat pundaknya yang baru saja ditepuk oleh seseorang.

“Kau sedang apa?”

Ternyata Mina yang memanggil, teman sekelas sekaligus sahabat Ahreum. “Kelas Park-songsaenim akan dimulai dua menit lagi. Kenapa jalanmu masih bisa seperti siput, sih? Ayo!”

Tanpa seijin sang empunya, Mina langsung saja menarik lengan Ahreum dan berlari menuju kelas teater mereka.

-oOo-

Ahreum mendengus kesal sambil terduduk di barisan kursi paling depan teater, tepat di sebelah kedua sahabatnya, Sooyoung dan Mina.

Sudah dua puluh menit lebih sejak ia menginjakkan kaki di sana, namun batang hidung Park-songsaenim belum juga nampak. Padahal, sejatinya guru itu akan selalu memberikan sanksi bagi siapa pun yang terlambat. Dan sekarang, bisa dilihat sendiri siapa yang tidak tepat waktu.

Selama beberapa minggu ini, para mahasiswa semester akhir akan mempersiapkan sebuah drama sebagai syarat akhir kelulusan mereka. Setiap kelas akan menampilkan sebuah drama yang nantinya akan dipentaskan besar-besaran secara bergilir. Penampilan mereka akan jatuh pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Kelas Ahreum kebetulan mendapatkan giliran terakhir dari tiga kelas. Tiap kelas juga akan mendapat masing-masing satu guru pembimbing, dan kelas Ahreum kebetulan saja mendapatkan Park-songsaenim.

Ahreum mengalihkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan, memerhatikan setiap gerak-gerik teman-temannya yang juga kebosanan. Ketika sampai pada barisan kursi ujung depan, pergerakan matanya terhenti.

Ahreum melihat tiga murid laki-laki di sana. Salah satunya Jisoo. Ia berdiri sambil bercakap-cakap dengan seorang kawannya yang sedang duduk, Jeon Wonwoo. Di sebelah Wonwoo, Ahreum dapat melihat seseorang yang sedang duduk sambil tertunduk.

Ia tidak ikut mengobrol dengan kedua temannya. Ahreum tidak dapat melihat wajahnya karena tertutupi dengan rambut, namun Ahreum tahu bahwa ia adalah Yoon Jeonghan.

Ya, sudah hampir satu tahun Ahreum berada di kelas yang sama dengan laki-laki itu, namun Ahreum belum pernah sekalipun berbicara dengannya.

Ahreum masih memandangi laki-laki itu ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara pintu teater yang dibuka dengan sentakan cepat. Di ambang pintu, berdiri seorang pria paruh baya yang terengah-engah.

“Maaf, saya terlambat.”

Satu teater menjadi hening seketika, dan para murid langsung mengambil masing-masing tempat duduk setelah memberi salam. Park-songsaenim berjalan ke arah depan dan mengambil posisi duduk di atas panggung.

“Baiklah, kalau begitu langsung saja kita mulai,” ujarnya masih sambil mengatur nafas. “Jadi, apa sudah ada rekomendasi? Cerita apa yang akan kalian tampilkan?” Para murid saling bertatapan satu sama lain, dan pada akhirnya ada satu murid yang mengangkat tangan.

“Ya, Park Sooyoung?”

Songsaenim, bagamana jika memakai cerita yang sudah jadi? Cerita klasik misalnya?” tanya gadis itu takut-takut.

Park-songsaenim terdiam sejenak, kemudian pandangan matanya beralih pada murid-murid yang lain. “Bagaimana menurut kalian? Kalian setuju?”

Kebanyakan dari mereka mengangguk, termasuk Ahreum. Sejak kecil, Ahreum sudah menyukai cerita-cerita klasik. Kini, pandangan Park-songsaenim kembali ke Sooyoung.

“Jadi, ada cerita klasik yang menurutmu pantas untuk dipentaskan?”

Sooyoung langsung mengangguk. “Bagaimana kalau Si Cantik dan Si Buruk Rupa?”

Ahreum yang duduk bersebelahan dengan Sooyoung langsung menoleh dan mengerutkan dahinya. Dengan tidak yakin, ia bertanya, “Maksudmu, Beauty and the Beast?”

Sooyoung balas menatapnya dan mengangguk dengan senyum tersungging di bibirnya, namun Ahreum masih ragu. Bukannya ia tidak menyukai dongeng itu, ia menggilainya bahkan. Namun bagimana dengan murid yang memerankannya?

“Apa tidak terlalu susah?” tanya Ahreum lagi. “Maksudku kostumnya …”

“Kita akan memainkan make up dan body painting di sini. Soal kostum, well … memang agak susah, terutama untuk Si Buruk rupa dan para pegawai istananya yang juga dikutuk itu. Tapi … susah bukan berarti tidak mungkin, kan?”

Benar juga, pikir Ahreum. Maybe it’s not an easy task, but definitely worth it. Kostum yang bagus akan memberikan nilai tambah, tentu saja. Ahreum mengerti apa maksud Sooyoung. Gadis itu hanya ingin menampilkan yang terbaik agar mereka semua bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.

“Lalu siapa yang cocok menjadi Si Buruk Rupa?” tanya Ahreum kemudian.

Well, ada Yoon Jeonghan, kan?”

Dan alhasil, kedua mata Ahreum langsung membelalak tatkala mendengar jawaban sahabatnya yang lugu nan polos itu.

“Kurasa penampilan dan karakter Jeonghan sudah cocok untuk Si Buruk Rupa. Hanya perlu sentuhan body painting.”

Ahreum yakin bahwa semua murid di sana tahu bagaimana karakter Si Buruk Rupa dalam dongeng. Tempramental salah satunya. Mereka semua juga sudah pasti tahu bagaimana penampilan Si Buruk Rupa.

Dan dengan Sooyoung yang berbicara seperti itu tadi, berarti sama saja gadis itu mengatakan bahwa Yoon Jeonghan tidak jauh beda dari karakter fiksi tersebut.

Setelah Sooyoung berkata begitu, Ahreum langsung menoleh takut-takut ke arah Jeonghan, khawatir apabila Jeonghan akan mengamuk atau tersulut emosi. Murid-murid yang lain juga sama terkejutnya dengan Ahreum, dan kebanyakan dari mereka juga langsung menatap Jeonghan.

Namun, laki-laki itu ternyata tidak berkutik sedikitpun, ia hanya menoleh ke arah Sooyoung sambil melemparkan tatapan tajam. Mungkin karena ada Park-songsaenim, jadi ia tidak berani macam-macam, pikir Ahreum.

“Bagaimana, Yoon Jeonghan? Kau mau?” tanya Park-songsaenim. Jeonghan hanya mengendikkan bahunya tak peduli, dan itu langsung dianggap sebagai tanda bahwa ia setuju oleh Park-songsaenim.

Ahreum langsung menyenggol lengan Sooyoung, kemudian berbisik pada gadis itu. “Ya, di akhir ceritanya, Si Buruk Rupa berubah jadi pangeran tampan, kan?”

“Mmm. Lalu kenapa?” balas Sooyoung polos.

Well, kau pasti mengerti maksudku, Sooyoung,” ucap Ahreum sambil memutar bola matanya.

“Ah, itu. Mudah saja. Ganti pemeran bisa, kan?” jawab Sooyoung asal. Ahreum terdiam mendengar itu. Ia hanya mengendikkan bahunya tak peduli.

“Lalu, siapa yang akan jadi Si Cantik?” tanya Park-songsaenim lagi.

Semuanya terdiam, tidak ada yang berani untuk mengangkat tangan. Mereka semua sudah tahu tentang rumor itu. Mengangkat tangan berarti sama saja dengan mengorbankan diri sendiri, kan? Karena itu Ahreum juga hanya diam saja.

“Kalau tidak ada yang mengajukan diri, saya akan menunjuk kalian secara acak.”

Tetap tidak ada suara, dan juga tidak ada tangan terangkat. Ahreum berdoa dalam hati supaya dirinya tak terpilih—dan ia juga bisa melihat Sooyoung yang menunduk menyembunyikan wajahnya dibalik poninya yang panjang, sedangkan posisi duduk Mina semakin merosot, berharap agar Park-songsaenim tidak melihatnya. Sepertinya mereka juga berharap hal yang sama dengan Ahreum.

“Baiklah kalau begitu,” ujar Park-songsaenim. Mata pria itu menjelajah ke setiap tempat duduk, dan akhirnya ia menunjuk salah satu gadis. “Kau. Kau yang akan memerankan Si Cantik.” Semua murid termasuk Ahreum dan Jeonghan menoleh ke arah yang ditunjuk Park-songsaenim.

Im Nayeon. Gadis berparas cantik yang memiliki kemampuan akting lumayan hebat.

Namun, ada satu fakta yang tidak diketahui oleh Park-songsaenim, bahwa Nayeon takut setengah mati dengan Jeonghan.

Ahreum ingat beberapa bulan yang lalu, Nayeon sempat dimaki habis-habisan oleh Jeonghan, karena ia tidak sengaja menumpahkan air ke pakaian laki-laki itu.

Nayeon tetap diam tak bergeming, namun Ahreum dapat melihat bahwa tangan dan kaki gadis itu mulai gemetaran. Wajahnya langsung pucat, sehingga Ahreum tak sampai hati melihatnya. Sementara teman-teman Nayeon sedang berusaha menenangkannya, tiba-tiba Ahreum berdiri.

“Ya, Hwang Ahreum?” tanya Park-songsaenim.

Ahreum bingung, matanya tidak berani membalas tatapan teman-teman sekelasnya yang sekarang sedang tertuju padanya. “Ma—Maaf, Songsaenim. Bolehkah saya menggantikan … Nayeon?”

Semua murid dalam teater itu langsung terperangah melihat Ahreum. Bukan karena gadis itu dianggap tidak tahu diri karena tampak seperti hendak merebut peran orang lain, namun baru kali ini ada gadis yang mau mengajukan diri untuk menjadi lawan main Yoon Jeonghan.

Park-songsaenim memiringkan kepalanya dan menatap Ahreum. “Yah, saya tidak akan keberatan apabila Im Nayeon juga tidak keberatan. Bagaimana menurutmu, Im Nayeon?”

Saat itu juga Nayeon menatap Ahreum dengan tatapan apakah-kau-serius-mau-melakukannya dan langsung dibalas dengan tatapan ya-aku-akan-baik-baik-saja milik Ahreum.

“Ba … baiklah,” jawab Nayeon dengan wajah yang masih pucat.

Tanpa Ahreum sadari, seseorang yang memerhatikannya sedari tadi, menatap Ahreum dan Jeonghan dengan pandangan kecewa sekaligus benci.

-oOo-

Ahreum berdiri di balik pintu toilet sambil memegangi kepalanya. Astaga, bodoh bodoh bodoh bodoh! Ia meringis mengingat kejadian tadi. Namun apa daya, Ahreum juga tidak tega melihat Nayeon yang sebegitu ketakutannya.

Setelah beberapa menit, ia keluar dari toilet dan langsung disambut dengan Sooyoung dan Mina. Kedua gadis itu sudah membuka mulut hendak berbicara, namun Ahreum langsung menyahut.

“Iya, iya. Aku tahu aku memang bodoh. Tolong jangan diungkit-ungkit lagi,” ujarnya dengan nada miris.

Mina menghela nafas sambil tersenyum geli. “Tidak apa-apa. Bisa saja Jeonghan tidak seburuk yang kau bayangkan?”

Ahreum hanya mendengus menanggapinya. Ia menatap Mina tidak percaya. “Tahu dari mana?”

Lagi-lagi Mina hanya tersenyum sambil menaikkan bahu. “Mungkin saja.”

-oOo-

Sudah setengah jam berlalu, dan Jeonghan masih belum saja mampu mengucapkan dialognya dengan benar.

Park-songsaenim mengatakan bahwa Jeonghan kurang menjiwai perannya. Padahal, mereka semua sudah diberi waktu beberapa hari untuk membuat naskah dan berlatih secara individu, namun menurut Ahreum laki-laki itu sepertinya sama sekali tidak berlatih.

“Jeonghan,” panggil pria paruh baya tersebut. “Kalau kau tidak bisa, saya bisa menggantimu dengan—”

“Jangan!”

Seluruh pandangan mata langsung tertuju ke arah sumber suara itu, yang tidak lain lagi adalah Jeonghan sendiri. Seketika ruangan menjadi hening. Ahreum juga ikut heran melihat Jeonghan yang tiba-tiba seperti itu.

“Maaf, saya akan berusaha lagi.”

Park-songsaenim terdiam sejenak menatap laki-laki itu. Kemudian, tiba-tiba ia menjentikkan jari. “Kenapa kau tidak berlatih bersama saja dengan Hwang Ahreum?”

Sontak kedua mata Ahreum berhasil membulat sempurna akibat kalimat yang baru saja menerobos telinganya barusan.

“Ia pintar dalam berakting. Nilainya juga selalu masuk dalam barisan tiga tertinggi. Kenapa kau tidak belajar darinya saja?”

Ahreum hanya bisa menatap Park-songsaenim sambil ternganga. Kemudian pandangannya beralih ke arah Jeonghan, yang masih diam mematung di tempatnya.

“Hwang Ahreum, kau tidak keberatan bukan?”

Ahreum terdiam sesaat. Ia menatap Park-songsaenim, lalu menatap Jeonghan. Entah mengapa, tiba-tiba saja ada sedikit perasaan iba melihat laki-laki itu. Akhirnya, Ahreum mengangguk.

-oOo-

Di tengah-tengah latihan, Ahreum sempat izin ke toilet. Setelah ia keluar ternyata sudah ada orang yang menungguinya di depan sambil menyender pada dinding. Orang itu menatap Ahreum dengan tajam sehingga gadis itu risih dibuatnya.

“Kau sedang apa?” tanya Ahreum.

“Menunggumu. Apa lagi?”

Ahreum terdiam sejenak menatap laki-laki berpostur jangkung itu. “Kenapa menungguku?” tanyanya lagi.

Orang itu tidak lagi bersandar di dinding, melainkan berjalan ke arah Ahreum dan berdiri tepat di hadapannya. “Kenapa kau tadi menawarkan diri?”

“Hah?”

“Kenapa kau tadi menawarkan diri menjadi Si Cantik?”

Ahreum menghela nafas pelan. “Memangnya kenapa, Mingyu?” Ahreum menatap balik laki-laki yang sedang memandangnya dengan kesal itu.

“Kau tahu rumornya, kan? Kau ingin mendapat kesialan seperti gadis-gadis mantan lawan mainnya itu? Tolonglah, Ahreum. Aku tidak ingin—”

“Kenapa kau peduli sekali, sih?” Ahreum menyipitkan matanya menatap Mingyu.

“Kau tahu jawabannya, Ahreum. Aku menyukaimu. Aku peduli padamu. Cukup sekali saja aku kehilangan Hyeri. Aku juga tidak mau kehilanganmu.”

Kim Mingyu.

Ya, Ahreum memang sudah tahu, bahwa laki-laki yang populer di kalangan para gadis itu menyukainya sejak beberapa bulan yang lalu.

Sudah berkali-kali Mingyu menyatakan perasaannya pada Ahreum, namun gadis itu selalu menolaknya. Alasannya sederhana. Ahreum tidak memiliki perasaan apa-apa pada Mingyu.

Mantan kekasih Mingyu—Min Hyeri, dulu pernah menjadi lawan main Yoon Jeonghan sekali. Padahal saat itu, Mingyu sudah melarangnya, namun Hyeri tidak menurut.

Tak lama setelah pementasan dramanya, keluarga Hyeri mendapatkan masalah yang harus membuat gadis itu berhenti kuliah, dan ia pergi menghilang begitu saja tanpa ada kabar, seperti dibawa terbang angin.

Dan Kim Mingyu tak henti-hentinya menyalahkan Jeonghan atas kejadian ini. Hampir semua murid tahu, bahwa Mingyu benar-benar membenci Yoon Jeonghan.

“Tapi, Min Hyeri itu kekasihmu. Se—”

“Mantan,” sela Mingyu.

“Baiklah, mantan kekasihmu. Sedangkan aku? Kau tidak punya hak untuk mengaturku, Kim Mingyu,” ujar Ahreum dengan nada kesal. Ia segera berbalik meninggalkan Mingyu.

“Kumohon, Ahreum. Jangan lakukan ini.”

Ahreum menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menghadap Mingyu dengan dengusan kesal. “Oh, astaga. Kau ini kenapa, sih? Cemburu? Kalau—”

“Ya! Ya, aku juga cemburu, kuakui itu. Aku tahu aku tidak punya hak untuk cemburu, namun aku terlalu menyukaimu Ahreum. Itulah alasan kenapa aku juga peduli padamu.”

Mata Ahreum melebar mendengar jawaban Mingyu. Ia terdiam sejenak kemudian tatapan matanya melunak, dan ia menatap Mingyu dengan sebuah senyuman tipis.

“Baiklah. Terima kasih untuk perasaanmu itu. Tapi maaf. Aku sendiri yang tadi meminta pada Park-songsaenim untuk menggantikan Nayeon. Aku tidak mungkin menarik ucapanku kembali, kan? Kumohon mengertilah, Mingyu.”

Setelah itu Ahreum benar-benar berbalik meninggalkan Mingyu, yang hanya bisa menatap punggung Ahreum dengan pandangan kosong.

-oOo-

Hari ini Ahreum pulang lebih terlambat dari biasanya, karena ponselnya yang tiba-tiba saja menghilang—atau lebih tepatnya ia sendiri yang lupa menaruh benda berbentuk persegi panjang itu dimana. Beruntung ia menemukannya di dalam teater. Saat hendak keluar dari ruangan, ia mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap di balik pintu teater.

“Tidak apa-apa. Bisa saja gadis itu orangnya, kan? Mungkin kau bisa cocok dengannya. Siapa tahu?”

“Diamlah.”

“Ingatlah kata-kata ayahmu. Ini demi dirimu juga, Jeonghan.”

Jeonghan?

Ahreum masih berdiri mematung di balik pintu sambil diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka. Kemudian, Ahreum mendengar suara dengusan kesal.

“Kau yakin?”

“Dengarkan aku, Jeonghan. Ahreum itu berbeda dari gadis-gadis lain. Dia—”

Belum sempat laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya, pintu teater terbuka dan di sana berdiri seorang gadis yang tengah melemparkan tatapan tajam ke arahnya.

Karena merasa dirinya dibicarakan, Ahreum langsung memutuskan untuk memberanikan diri keluar, dengan tujuan agar mereka berhenti.

Ahreum menatap Jisoo, Wonwoo dan Jeonghan secara bergantian, namun ia tidak mengatakan apa-apa. Ia langsung berbalik begitu saja, namun langkahnya terhenti saat ada suara yang memanggilnya.

Ya! Ahreum!”

Seketika itu juga Ahreum tersentak dan langsung menoleh ke belakang.

“Besok, waktu pulang. Latihan di tempatku. Kau harus datang, mengerti?”

Seusai mengatakannya, Jeonghan langsung saja berbalik, berjalan meninggalkan Ahreum yang masih berdiri ternganga di tempatnya. Jisoo dan Wonwoo sempat menoleh ke arah Ahreum sebentar, membungkuk sedikit sambil tersenyum lalu berlari menyusul Jeonghan.

Apa-apaan dia?

Berantakan, tempramental, dan kini Ahreum harus menambahkan satu lagi di dalam daftar catatannya untuk Yoon Jeonghan. Tidak punya sopan santun. Jelas. Ahreum menggelengkan kepalanya sambil mendengus kesal. Ia berjalan menuruni tangga sambil masih memikirkan perkataan Jeonghan yang masih terngiang-ngiang di kepalanya.

Seperti apa sebenarnya Jeonghan, apakah laki-laki itu memang seburuk yang ia bayangkan atau tidak, ia tidak tahu dan ia juga tidak mau tahu untuk sekarang ini. Yang jelas, Ahreum hanya belum tahu saja kalau hari-harinya akan berubah total mulai dari sekarang.

Karena Jeonghan, tentu saja.

tbc.
-oOo-


*This story is inspired from a classic fairy tale by Jeanne-Marie Leprince de Beaumont,
Beauty and the Beast.

**‘Ahreum’ is a Korean given name which means ‘beauty’.


Halo. Sebelumnya, mau kasih review sedikit.

Jadi ini emang terinspirasi dari ceritanya Beauty and The Beast yang dipake ama Disney, versinya Jeanne-Marie Leprince de Beaumont. Sebagian alur ceritanya emang mirip, tapi plotnya Rachel sendiri ya yang bikin:)

Awalnya cuma mau bikin oneshot atau twoshot, tapi rasa-rasanya kurang, akhirnya jadilah chapter. Udah selesai bikin sampai chapter terakhir sih, jadi tinggal ngirimnya aja, hehe.

Mind to review? Thanks before^^

Advertisements

9 thoughts on “A Story of Beauty and the Beast (Chapter 1)

  1. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 3) – ROSÉ BLANCHE

  2. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 2) – ROSÉ BLANCHE

  3. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 4) – ROSÉ BLANCHE

  4. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 5) – ROSÉ BLANCHE

  5. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 6) – ROSÉ BLANCHE

  6. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 7) | ROSÉ BLANCHE

  7. Pingback: a Story of Beauty and the Beast (Chapter 8) | ROSÉ BLANCHE

  8. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Chapter 9) | ROSÉ BLANCHE

  9. Pingback: A Story of Beauty and the Beast (Last Chapter) | ROSÉ BLANCHE

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s