Solidarité Féminine

Cekob95WIAADkBL.jpg

Solidarité Féminine

story by Rosé Blanche

Kim Yewon (GFriend) & Kim Sojung (GFriend)

Family

G

Ficlet

“The first time you fall in love, it changes you forever and no matter how hard you try, that feeling just never goes away.”
-Nicholas Sparks-

Yewon berbeda, teman-temannya mengakui itu.

Jika pasalnya seorang gadis ditanya siapakah cinta pertamanya, kemungkinan besar gadis itu akan menyebutkan nama ayahnya atau nama seorang laki-laki.

Tapi, Yewon berbeda.

Cinta pertamaku? Sojung-unnie.”

Kenapa bisa? Itulah yang selalu menjadi pertanyaan di benak teman-teman Yewon.

Kepribadian kakak satu-satunya Yewon yang begitu dingin hingga keberadaannya bisa membuat orang-orang di sekitarnya bergidik. Sojung hampir tidak pernah tersenyum, menampakkan tawanya apalagi. Padahal, banyak orang yang mengatakan kalau parasnya itu cantik. Sayang sekali.

Oh, dan jangan lupakan juga sifat Sojung yang tempramental dan galak. Melakukan salah sedikit saja? Habislah orang itu.

Namun, tiap kali Yewon ditanya apa alasan memilih si psikopat Kim Sojung sebagai cinta pertamanya, ia hanya mengulum senyum sambil berlalu pergi.

Ia beranggapan, kalau teman-temannya itu hanya belum tahu saja.

.

-oOo-

.

Seoul, 18 September 2002

Unnie, ayo main!”

“Tidak.”

Bibir mungil Yewon menjadi semakin mengerucut tatkala menerima penolakan dari sang kakak. Dari ujung ruangan, Yewon mengalihkan pandangannya kepada beberapa kelompok anak-anak lain yang sedang asyik membangun menara balok, bermain rumah-rumahan dengan boneka barbie mereka, saling melempar bola, dan masih banyak lagi.

Sudah semenjak empat hari yang lalu ia dan sang kakak mulai datang ke tempat penitipan, tetapi mereka sama sekali belum berkenalan dengan anak-anak yang lain, hanya para pengasuh saja.

Yewon ingin bergabung dengan mereka, jujur saja. Namun, ia kembali melihat Sojung yang menyendiri di pojokan, masih dengan tampang dingin dan sinisnya.

Sejatinya, Yewon memang ingin ikut bermain, tetapi ia takut. Ia menunggu si kakak untuk maju terlebih dulu.

Unniiiieeeee…” Yewon mulai merengek.

Memasang tampang galaknya kembali, Sojung mulai mengerutkan alisnya.

Ya! Kubilang aku tidak mau! Kalau kau mau main, main saja sana sendiri! Aku disini, kok. Kau tidak akan kutinggal, tenanglah.”

Sojung tidak mengerti, begitulah pemikiran Yewon. Akhirnya Yewon melepaskan lengan baju Sojung yang sedari tadi ditarik-tariknya.

Kemudian, masih dengan wajah yang kusut karena merengut, ia berjalan mendekati sekelompok anak yang sedang membangun menara balok yang tingginya hampir melebihi Yewon.

“Boleh aku ikut bermain?”

Anak laki-laki gempal yang sedang berusaha menaruh sebuah balok di puncak menara sambil berjinjit—terkejut seketika mendengar suara Yewon.

Anak itu menarik kembali balok yang dipegangnya dan menoleh dengan cepat, sedangkan lengan kirinya tanpa sengaja menyenggol balok yang berperan menjadi penyangga menara.

Dan sudah jelas sekali apa yang terjadi selanjutnya.

Suara jatuhnya balok-balok yang memekakkan telinga tersebut sudah menarik atensi dari seluruh penjuru ruangan dalam waktu sepersekian detik. Banyak dari mereka yang hanya bisa melotot melihatnya, bahkan melongo—apalagi Yewon.

Wajah Yewon langsung pucat, mengetahui bahwa runtuhnya menara yang tak berdosa itu merupakan kesalahannya. Terlebih lagi ketika anak laki-laki tadi menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Yewon artikan, Yewon menjadi semakin takut dan—

“Kok kau menjatuhkannya, sih?! Membangunnya sampai tinggi begini itu susah tahu!”

Tiba-tiba saja, seorang anak laki-laki lain langsung menghampiri Si Gempal dengan wajah yang beringas sambil mendorong Si Gempal.

“Bukan salahku! Aku ‘kan kaget karena dia!” balas Si Gempal sambil menunjuk Yewon.

“Jelas-jelas kau yang menjatuhkannya!”

“Bukan, kok!”

“Bohong! Dasar tukang bohong!”

Dengan wajah yang kentara sekali menahan tangis, anak laki-laki itu langsung melempar Si Gempal dengan balok yang mendarat tempat di badannya.

Tanpa bisa menahan emosinya lebih lagi, Si Gempal langsung balas melempar anak laki-laki tadi dengan balok juga.

Dan beberapa detik berikutnya, terjadilah perang saling lempar melempar balok antara kubu Si Gempal dengan kubu anak laki-laki tadi.

Nyali Yewon bertambah ciut setelah melihatnya, meskipun sudah ada beberapa pengasuh yang berjalan mendekat untuk melerai mereka.

Ketakutannya itu menyebabkan kakinya terlalu kaku untuk bergerak. Kini wajahnya semakin pucat berlinangkan air mata. Pipinya mulai tertarik ke bawah, dan seketika itu juga ia ingin memanggil satu-satunya orang andalannya.

Un … unnie ….

Tapi apa daya, Yewon terlalu ketakutan sampai-sampai yang keluar hanya berupa cicitan yang mirip suara tikus yang baru saja terperangkap. Ia sudah membuka mulutnya lagi, hendak mengeluarkan raungan tangis yang ditahannya sejak tadi, hingga—

YA! KALIAN!”

Atensi satu ruangan langsung berpindah dari perang balok itu ke pojok ruangan, dimana satu-satunya saudara kandung Yewon sedang memasang wajah yang tampak seperti hendak membunuh seseorang.

Kim Sojung berjalan mendekat, dan kini yang berwajah pucat berganti menjadi Si Gempal dan anak laki-laki tadi, sedangkan sisanya hanya melongo menatap Sojung.

Dalam sekali raih, Sojung langsung menggenggam lengan Yewon erat-erat, lalu menatap kedua bocah laki-laki di depannya dengan mata berapi-api sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan hidung mereka secara bergantian.

“Dengarkan aku,” ujar Sojung geram, membuat bulu kuduk kedua anak itu semakin merinding.

“Sampai balok itu mengenai adikku ini, kalian akan berurusan denganku. Dan jangan harap kalian bisa pulang ke ibu kalian masing-masing dengan selamat. Mengerti?”

Ancaman Sojung yang bernada dingin dan penuh dengan penekanan di setiap kata-katanya itu berhasil membuat seluruh penjuru ruangan menganga, tak terkecuali para pengasuh dan juga Yewon—yang pada akhirnya tidak jadi menangis.

Karena yang menangis meraung-raung berganti menjadi kedua bocah laki-laki itu.

“Huh, cengeng.” Sojung mencibir pelan. “Yewon, kau main boneka saja sama anak-anak perempuan di sana itu. Daripada main sama anak-anak ingusan ini.”

Yewon masih menganga, bahkan setelah Sojung melepaskan genggaman tangannya dan kembali berjalan ke pojok ruang, lalu duduk di sebuah kursi kecil sambil menopangkan dagunya dengan tangan di atas meja.

“Sudah, main sana!”

Yewon masih tidak bisa mengalihkan tatapan takjubnya dari kakaknya itu, dan hal itu membuat Sojung makin bingung tentunya.

Dan di saat yang bersamaan, kata-kata ancaman Sojung kepada anak-anak itu terngiang-ngiang di pikiran Yewon. Meskipun dingin dan galak, ternyata kakaknya itu masih sayang dan peduli terhadapnya. Terbukti dengan perlakuan Sojung barusan.

Pada akhirnya, Yewon tersadar.

Untuk kali pertama, ia telah merasakan yang namanya jatuh cinta.

fin.
-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s