I Didn’t Know

 tumblr_o9q4x8tBdr1t9n75fo2_400.jpg

I Didn’t Know

story by Rosé Blanche

Wen Junhui (Seventeen), Cheng Xiao (WJSN), & Hong Jisoo (Seventeen)

Angst, Tragedy, Romance, Hurt

PG-13

Vignette

“Aku tidak tahu bahwa orang itu telah mengajariku cinta tidak hanya dari setiap teori yang keluar dari mulutnya, namun juga dari setiap perlakuan manisnya.”

Dulu, aku benar-benar tidak tahu.

Tidak tahu apa itu cinta, tidak tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang. Seseorang bilang padaku kalau cinta itu pengorbanan, dan cinta tidak mementingkan diri sendiri.

Tapi, tetap saja aku masih bingung—tidak mengerti. Aku masih tidak tahu apa itu cinta.

Dan yang jelas, aku tidak tahu bahwa ketidaktahuanku pada saat itu adalah satu hal yang menjadi penyesalan seumur hidupku. Bodoh.

Namanya Wen Junhui.

Ia hanyalah pemuda Cina biasa yang menjadi sahabatku semenjak taman kanak-kanak, hanya karena sebuah insiden cakar mencakar yang kulakukan bersama seorang anak laki-laki bertubuh gempal—yang jujur saja aku sudah lupa namanya siapa. Ia merebut boneka kesayanganku, dan aku langsung mencakarnya hingga ia juga balas mencakar. Dan singkat cerita, Junlah yang menjadi pahlawanku.

Dengan tubuhnya yang saat itu lebih kecil daripada tubuhku, apalagi dengan laki-laki gempal itu. Ia berdiri di tengah-tengah diriku dengan Si Gempal—memunggungiku sambil merentangkan kedua tangannya di depan laki-laki itu.

“Jangan sakiti Cheng Xiao!”

Setidaknya itulah kata-katanya yang selalu membuatku ingin senyum-senyum sendiri karena aku masih ingat—saat itu ia terlihat sangat keren sekaligus imut. Manis sekali.

Sejak itu kami berteman dekat. Segalanya kami lalui bersama, dan melewati waktu hanya berdua. Ia laki-laki yang baik dan aku sangat mengakui itu.

Pernah suatu kali aku tidak membawa buku pelajaran matematika—yang tentunya membuatku panik sendiri dalam hati. Jun yang duduk tepat di sebelahku, langsung meletakkan buku matematikanya di atas mejaku.

Tepat sebelum aku ingin protes, Kim-songsaenim sudah bertanya duluan pada seisi kelas siapa yang tidak membawa buku dan ia langsung mengangkat tangan—membuatnya harus berdiri di luar kelas selama dua jam penuh. Aku tidak heran kenapa ia bisa tahu meskipun aku tidak memberitahunya soal aku tidak membawa buku itu.

Karena ia tahu segalanya tentangku.

Pernah juga suatu kali, kami mengikuti lomba lari maraton satu sekolah. Jun ingin menjadi juara pertama, dengan alasan karena ia naksir dengana hadiahnya—sepasang sepatu lari keluaran terbaru. Awalnya aku heran kenapa ia begitu antusias, padahal aku yakin Jun bisa meminta orang tuanya untuk membelikannya.

Namun setelah kutanya, ternyata ia hanya ingin mencoba untuk memperoleh sesuatu dari hasil usahanya sendiri—tidak terus-terusan meminta pada orang tuanya.

Tapi, rencana Jun-ingin-menjadi-juara-pertama-karena-sepasang-sepatu-yang-ditaksirnya itu kandas begitu saja karena diriku. Menyebalkan, sungguh.

.

.

.

Di tengah-tengah maraton, tubuhku menjadi lemas dan kepalaku pusing berat. Baiklah, kuakui memang salahku. Salahku yang membaca novel sampai larut malam sehingga paginya aku tidak mendengar bunyi jam wekerku yang nyaring, dan pada akhirnya aku tidak sempat sarapan. Akhirnya aku hanya memilih untuk duduk di pinggir trotoar.

“Cheng Xiao?”

Suara itu. Suara khas yang sangat kukenali. Aku menengadahkan kepalaku dan melihat sesosok pemuda Cina yang tengah menatapku dengan kedua manik coklatnya.

“Kukira kau sudah jauh di depan, Jun?”

Laki-laki itu menggeleng. “Wajahmu pucat dari tadi pagi, jadi aku memerhatikanmu terus dari belakang. Kau tidak apa-apa?”

Saat itu juga ingin rasanya aku menjitak kepalanya keras-keras, namun aku tidak bisa bangun dari dudukku. Dan pada akhirnya aku hanya memelototinya sambil berteriak, “Ya! Dasar bodoh! Bagaimana dengan sepatu—”

“Kau pikir aku akan lebih mementingkan sepatu ketimbang Xiao-ku?”

Ya, selalu saja seperti itu. Kalau diingat-ingat, dari dulu selalu Jun yang pertama kali mengulurkan tangannya padaku saat aku sedang kesusahan atau tertekan, lalu membuatku luluh akan setiap kata-kata dan perlakuan manisnya.

Dialah yang selalu ada untukku. Kupikir itu termasuk salah satu hal yang membuatku tidak bisa lepas darinya semenjak kecil.

Satu hal yang kusenangi adalah, ia melakukan itu semua dengan tulus. Tahu darimana? Terlihat dari sorot matanya. Aku mengenalnya cukup lama dan aku paham benar bahwa Jun bukan tipikal orang yang bisa berbohong.

Ia tidak bisa. Sama sekali.

“Kau kenapa? Wajahmu pucat.”

“Aku belum sarapan,” jawabku.

Dan alhasil kalimat itu membuatku terkena semprotannya. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada gunanya berbohong pada Jun. Karena selain tidak bisa berbohong, ia juga terlalu cerdik untuk dibohongi.

Saat itu aku tidak bisa berdiri, jadi ia menggendongku di punggungnya dan membawaku ke ruang kesehatan, sambil mengomeliku di sepanjang jalan. Meskipun begitu, aku tahu kalau ia tidak benar-benar marah. Hatinya terlalu baik.

Jun melanjutkan lari maratonnya sesudah membawaku ke ruang kesehatan, dan coba tebak?

Ia berada di urutan paling terakhir. Dan sudah jelas sekali siapa yang menyebabkan semua kekacauan ini, namun ia sama sekali tidak pernah menyalahkanku.

.

.

.

Saat lulus sekolah menengah akhirpun, kami masih bersama. Kami berdua mendaftar di universitas yang sama di Seoul dan beruntung kami berdua diterima. Alhasil, kami pindah dari Shenzhen ke Seoul. Cukup jauh memang.

Memang universitasnya sama. Namun, kami mengambil jurusan yang berbeda, dan itu membuat kami agak jarang bertemu. Kami memiliki kesibukan masing-masing, yang membuat hubungan kami menjadi sedikit renggang.

Meskipun begitu, tidak berarti hubungan kami terputus begitu saja. Kami masih cukup sering bertemu dan mengobrol, walau tidak sesering dulu.

Seperti malam itu contohnya.

Malam yang membuatku hampir gila karena frustasi.

Jun mengajakku untuk sekedar minum teh di sebuah kedai sembari mengobrol santai. Ia menumpahkan segala beban pikirannya padaku—baik masalah uang bulanannya yang habis untuk membelikan Soonyoung hadiah ulang tahun atapun masalah kuliahnya, dan aku hanya menjadi pendengar setianya sambil sesekali memberikan masukan untuk masalah-masalahnya.

Kami berada di sana sampai kedai tutup, lalu kami berjalan kaki pulang.

“Cheng Xiao.”

“Iya?”

“Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan.”

Aku mengangkat kepalaku, dan dapat kulihat dengan jelas bahwa gedung apartemenku sudah berada di depan mata—hanya tinggal beberapa meter lagi berjalan untuk mencapai pintu gerbangnya.

Sudah kubilang Junhui itu baik. Bila kami pergi keluar berdua, ia tidak akan membiarkanku pulang sendirian. Ia akan selalu memastikan agar aku sampai di apartemenku dengan selamat, barulah setelah itu ia pulang.

“Jadi belum habis juga?”

Aku meliriknya sambil tertawa, dan ia hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.

“Kenapa lagi, Jun?”

Laki-laki itu berjalan mendekat, hingga jarak kami hanya berkisar sekitar dua jengkal. Ia menatapku intens, namun lembut. Tatapan yang selalu kusukai selama ini.

“Jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, apa yang akan kau lakukan?”

Speechless.

Itulah satu kata yang mendeskripsikan keadaanku saat Jun berkata begitu. Aku hanya terdiam sambil terus menatap kedua matanya yang memiliki tatapan dalam, hingga aku merasa seperti jatuh ke dalamnya. Entahlah, namun terasa seperti ada sesuatu yang menari-nari di dalam dadaku saat itu juga.

“A—Aku tidak tahu ….”

Itulah jawabanku pada akhirnya. Jawaban yang bodoh memang, namun Jun hanya tersenyum lembut sambil menghela nafas pelan. Setelah itu hanya keheninganlah yang menyelimuti kami.

“Tunggu. Apa ini?”

Jun tiba-tiba saja membuka suara, sambil mengarahkan tangannya ke leherku. Pandanganku mengikuti arah gerak tangannya, dan saat itu juga aku langsung merutuki diriku sendiri. Ada satu hal yang dengan sangat bodohnya kulupakan.

“‘J’?” tanya Jun sambil menyentuh kalung perak yang melingkar di leherku. Liontin kalung itu berbentuk sebuah huruf. Huruf ‘J’ lebih tepatnya. Seketika itu wajahnya berubah menjadi cerahdan itu merupakan sebuah pertanda buruk.

“Huruf ‘J’? ‘J’ untuk ‘Jun’?” tanyanya lagi, masih dengan senyum tersungging di bibirnya.

“Apa kau memiliki perasaan yang sam—”

“Bukan ….”

Suaraku terlampau pelan, hampir menyerupai bisikan malah. Dan sedetik kemudian aku baru menyadari bahwa bisikanku cukup lirih. Hei, ada apa denganku ini?

Jun sendiri juga langsung bungkam, lalu memasang senyuman yang kentara sekali dipaksakan.

“Lalu?”

Aku tidak yakin. Aku tidak ingin menjawabnya, namun di satu sisi aku merasa bahwa ia perlu tahu. Cepat atau lambat, ia juga pasti tahu, kan? Seperti yang tadi kubilang, tidak ada gunanya berbohong pada Jun.

“Jisoo,” jawabku pada akhirnya. “Hong Jisoo.”

Jun mengerutkan dahinya, dan sedetik kemudian ada sesuatu yang terpancar dari kedua maniknya. Apa itu, saat itu aku tidak tahu. Kaget? Bingung? Atau … terluka?

“Sejak kapan?”

Jun kembali tersenyum sambil menatapku dengan lembut, dan entah kenapa ada sesuatu yang seperti tercabik-cabik dalam diriku yang melihatnya seperti itu.

“Tiga hari yang lalu.”

.

.

.
Ya, tiga hari yang lalu.

Tiga hari yang lalu, Hong Jisoo menyatakan perasaannya padaku di sebuah kafe. Saat itu aku berpikir. Aku yang sama sekali tidak tahu apa itu cinta, tidak tahu seperti apa rasanya mencintai seorang pria selain ayahku sendiri, tidak tahu bagaimana rasanya menjalin sebuah hubungan–mulai berpikir bahwa tidak ada salahnya mencoba.

Untuk diriku, praktek biasanya lebih ampuh daripada teori. Pemikiran yang konyol memang, tapi begitulah nyatanya.

Lagipula, Jisoo orang yang baik. Aku juga cukup mengakui ketampanannya. Ia ramah dan sangat menghormati wanita, terutama ibunya. Itulah alasan kenapa aku menerima Jisoo, meskipun sebenarnya aku tidak pernah merasakan apa-apa saat bersamanya.

.

.

.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Jun tiba-tiba. Ia tertawa, namun suaranya mulai terdengar lirih. “Kau sudah lupa padaku, eoh?”

Nah, ini dia. Tawa munafik Jun yang mulai keluar.

“Omong-omong, jangan lupa pajak jadiannya,” lanjutnya lagi. Hah, bisa-bisanya ia berkata begitu sekarang, padahal air matanya mulai menetes.

Ya, air matanya sudah jatuh.

“Jun?”

Aku menjadi panik, dan menyentuh wajahnya dengan sebelah tangan. Jun langsung cepat-cepat mundur selangkah, lalu mengusap pipinya yang basah terkena air mata.

“Ma—Maaf. Ini hanya efek angin, mataku jadi kering.”

Aku tidak memedulikan alasan bodohnya itu. Yang kupertanyakan pada saat itu adalah, apakah rasanya sesakit itu apabila cinta tak berbalas? Karena selama belasan tahun aku mengenal Jun, ia jarang sekali menangis.

Dan satu hal lagi. Kenapa hatiku juga terasa sakit?

“Maafkan aku, Jun.”

Hanya itulah yang bisa kukatakan padanya. Ia menggeleng, lalu menatapku dengan kedua matanya yang masih basah sambil tersenyum. Tiba-tiba saja ia menarikku ke dalam pelukannya.

“Aku harap kau bahagia, Xiao,” bisiknya. “Kalau saja suatu saat kau merasa tersakiti olehnya, ingatlah. Masih ada aku di sini. Kau bisa datang padaku kapan saja.”

Dan seketika itu juga, hatiku terasa seperti meledak. Jantungku juga berdetak tak karuan, sampai-sampai aku takut kalau Jun bisa mendengarnya.

“Jadilah gadis yang baik-baik untuk Jisoo. Jangan nakal. Ya?”

Jun melepaskan pelukannya lalu mengacak-ngacak rambutku. Biasanya aku akan selalu berteriak protes apabila Jun melakukan itu, namun kini aku bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun. Mulutku terlalu kaku untuk mengeluarkan suara. Tanganku seperti membeku, dan kakiku rasanya seperti tertancap paku ke tanah.

Tiba-tiba saja, air mata Jun mulai jatuh lagi, dan kali ini lebih deras daripada sebelumnya. Ia menunduk dan isakannya sangat jelas terdengar.

“Jun, aku—”

“Maaf, aku pulang dulu.”

Ia segera berlari ke arah penyebrangan jalan yang sudah sangat sepi sambil masih terisak. Ia langsung berlari menyebrangi jalan itu tanpa memencet tombol untuk pejalan kaki terlebih dahulu, karena toh tidak ada kendaraan yang melintas sama sekali.

Ya, tidak ada.

Tidak ada, sampai tiba-tiba saja ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, yang berbelok ke arah jalan yang dilewati Jun dengan tikungan yang sangat tajam.

BRAK!

.

.

.

Saat itu, aku tidak tahu.

Aku tidak tahu, bahwa kehilangan seseorang yang berharga ternyata sesakit ini.

Aku juga tidak tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir. Malam terakhir untuk melihat senyuman lembut milik Jun seorang. Malam terakhir untuk mendengar tawa khasnya. Malam terakhir untuk melihatnya menangis. Malam terakhir untuk merasakan pelukan dan kehangatannya.

Dan yang paling kusesali adalah, saat itu aku tidak tahu bahwa ternyata aku telah jatuh cinta pada Jun. Pantas saja hatiku sakit tak karuan. Tanpa kusadari aku telah mencintainya, disaat aku kebingungan dengan apa yang namanya cinta. Bodoh, kan?

Padahal selama ini ada seseorang yang selalu berada di dekatku, yang selalu mengajariku apa arti cinta. Orang yang selalu berkata bahwa cinta itu adalah pengorbanan. Orang yang selalu berkata bahwa cinta itu tidak mementingkan diri sendiri. Yang sangat kusayangkan adalah, saat itu aku masih tidak tahu.

Aku tidak tahu bahwa orang itu telah mengajariku cinta tidak hanya dari setiap teori yang keluar dari mulutnya, namun juga dari setiap perlakuan manisnya. Kuakui ia telah berhasil–meskipun mungkin aku terlambat menyadarinya.

.

.

.

Ya, dialah Wen Junhui, Si Pemuda Cina manisku.

fin.

-oOo-

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s