The Funeral

5a7e1f57f843975049aca63bf0272f1f

The Funeral

story by Rosé Blanche

Kim Mingyu (Seventeen), Choi Seungcheol [Seventeen] & Kang Yiseul [OC]

AU, Romance, Hurt

PG-13

Vignette

“Tidak ada yang bisa merubah kenyataan bahwa aku mencintainya.”

Matahari pagi tak henti-hentinya memancarkan sinar hangat. Aroma bunga yang semerbak menyeruak ke dalam hidung. Kerumunan orang berbalutkan setelan serba hitam satu persatu mulai masuk ke rumah duka. Di depan ruangan, berdiri deretan karangan bunga dan ucapan-ucapan dukacita.

Dengan memakai setelan yang serba hitam juga, aku melangkahkan kakiku masuk. Pandanganku langsung tertuju ke depan ruangan, dimana terdapat sebuah peti yang tertutupi oleh bunga-bunga krisan putih. Sebuah pigura foto dengan pita hitam pun ikut menghiasinya, memampangkan paras cantik yang kini telah tiada.

Aku berdiri di belakang tiga orang wanita yang sedang berbaris di depan peti, menunggu giliran untuk meletakkan bunga.

Setelah itu, mataku berkeliaran di setiap sudut ruangan, mencari sesosok pria yang sudah lama tak kujumpai. Tak lama kemudian, aku menemukannya.

Hyung?”

Orang yang kupanggil itu sontak menoleh, dan langsung tersenyum tipis saat matanya bertatapan denganku. Ia mengulurkan tangannya yang langsung kujabat.

“Terima kasih sudah datang, Mingyu.” Ia tersenyum, namun dapat kulihat dengan jelas, rasa sakit itu masih ada di matanya. Aku tersenyum menanggapinya dan mengangguk singkat.

“Aku turut berdukacita, Hyung. ”

Namanya Choi Seungcheol, senior yang lebih tua dua tahun dariku—kami berkuliah di universitas yang sama. Kami saling mengenal lewat sebuah klub basket.

Setahun setelah kami mengenal, aku baru sadar akan satu hal.

Ia jatuh cinta dengan seorang gadis seangkatannya dari klub fotografi—Kang Yiseul, yang tidak lain adalah senior yang dekat denganku saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah akhir. Dunia memang sempit, bukan?

“Duduklah dulu, aku harus menyapa tamu lain,” ujar Seungcheol. Ia berbalik pergi dan aku langsung mengambil tempat duduk di tengah-tengah, menunggu acara untuk dimulai.

-oOo-

Sudah setengah jam sejak seorang pendeta maju ke depan dan mengutarakan rangkaian kata yang jujur saja—aku tidak paham. Aku mengantuk, namun kepalaku pusing akibat dari aroma semerbak bunga yang memenuhi ruangan.

Aku tidak dapat mendengarkan ucapan pendeta itu lagi dengan jelas, sampai kudengar nama Choi Seungcheol disebutkan. Kedua mataku langsung terbuka dan dalam sekejap rasa kantukku hilang entah kemana.

Seungcheol yang duduk di baris bangku paling depan langsung berdiri dan maju. Ia membawa sebuah pigura foto, yang beberapa detik kemudian kusadari bahwa pigura itu memajang foto pernikahannya. Pernikahan tiga tahun yang lalu.

Seungcheol meletakkan pigura itu dan berdiri di belakang mimbar. Sempat terjadi keheningan sejenak sebelum Seungcheol membuka mulut.

“Selamat pagi,” ujarnya. “Saat ini, aku berdiri disini karena ingin bercerita sedikit. Dan jika cerita ini mungkin membuat kalian merasa agak tidak nyaman, aku minta maaf.”

Aku mengernyitkan dahiku, berusaha menebak-nebak apa yang akan dibicarakan Seungcheol.

“Pertama kali aku bertemu dengan Kang Yiseul adalah pada saat masa orientasi delapan tahun yang lalu, saat kami mulai masuk kuliah. Penampilannya menggelikan saat itu. Topi kertas, rambut dikuncir tiga, balon-balon yang mengelilingi pinggangnya, sampai keplek namanya yang terbuat dari kardus. Saat itulah aku mengetahui namanya.” Seungcheol tersenyum menghela nafas sejenak, kemudian kembali melanjutkan.

“Singkat cerita, kami saling mengenal. Awalnya aku berpikir bahwa ia hanyalah seorang gadis lugu biasa yang pintar dan berwajah cantik. Namun aku salah. Ia adalah gadis biasa dengan hal-hal luar biasa yang memenuhi dirinya. Kadang ia bersikap lucu dan konyol, bahkan gila saat bersama dengan teman-temannya, namun ia bisa menjadi dewasa saat keadaan menuntut.”

Mendengar itu, aku mengangguk-angguk kecil. Memang benar apa yang dikatakan Seungcheol. Sejak SMA, Kang Yiseul memang sudah seperti itu. Cantik. Pintar. Hatinya pun baik. Sebuah sosok yang sempurna.

“Jujur saja, awalnya aku hanya kagum. Namun entah sejak kapan—tanpa kusadari, aku sudah terlalu jatuh ke dalam pesonanya. Tapi susah sekali bagiku untuk mendapatkan perhatian Yiseul. Akhirnya aku hanya bisa memikirkan satu hal. Menjadi rivalnya.”

Tunggu dulu. Apa?

“Nilai Kang Yiseul selalu berada di posisi pertama. Karena itu, aku belajar mati-matian. Suatu saat, akhirnya nilaiku bisa mengalahkan nilai Yiseul. Dan benar saja, rencanaku cukup berhasil. Ia tidak terima,” lanjut Seungcheol sambil tertawa kecil.

“Singkat cerita, akhirnya kami menjadi dekat akibat hal rival itu— Yah, aku tidak akan menceritakan detail dari kisah kami karena aku tidak bisa, maaf. Lalu kami menjadi sepasang kekasih setelah dua tahun saling mengenal. Masa-masa itu, adalah masa-masa dimana aku mulai menemukan beberapa sisi lain dari dirinya.”

Sisi lain? Well, aku tidak pernah tahu. Sisi lain seperti apa memangnya?

“Contohnya, saat kami pulang bersama menaiki bus. Ia tertidur di sepanjang perjalanan, namun bukan itu masalahnya. Ia mendengkur. Dengkurannya keras, sampai-sampai semua orang di bus memerhatikan kami.”

Orang-orang yang hadir di rumah duka ini mulai tertawa, namun aku hanya bisa ternganga. Kang Yiseul? Mendengkur? Oh, astaga.

“Ia adalah wanita yang sopan dan berskiap manis di depan banyak orang, tapi tolong jangan tanyakan bagaimana sikapnya saat hanya ada dia dan aku. Misalnya saja, soal tertawa. Ia tertawa dengan sopan, sambil menutup mulutnya dengan tangan di depan orang lain. Nah, di depanku? Kuakui tidak beda jauh dari nenek sihir.”

Saat itu juga, ruangan duka ini dipenuhi oleh tawa dari tamu-tamu yang hadir.

“Dan pernah sekali itu saat kami sedang menonton televisi di rumahnya, tiba-tiba saja ia menguap dengan sangat lebar tanpa menutup mulutnya dengan tangan. Lalu aku bertanya padanya, ‘Yiseul, kau pernah lihat kuda nil?’ Ia mengangguk, dan aku melanjutkan, ‘Kau mirip dengannya.’ Itu adalah saat pertama kalinya ia menendang perutku.”

Tamu-tamu yang hadir kembali tertawa. Aku memandang Seungcheol sejenak dan kemudian aku ikut mendengus tertawa.

“Meskipun begitu, ia masih menjadi gadis termanis yang pernah kutemui,” lanjutnya sambil tersenyum. Aku dapat melihat mata Seungcheol yang menatap lembut foto pernikahannya, lalu mengusapnya pelan.

“Lalu, setelah kami menikah. Aku mengira bahwa tidak ada lagi yang lebih buruk dari caranya menguap dan juga dengkurannya. Dan ternyata, aku menemukannya lagi di setiap pagi saat waktunya kami bangun tidur.”

Mataku melebar memandang Seungcheol. Bangun … tidur?

“Aku sering bangun lebih awal darinya. Jika kalian bertanya kenapa, jawabannya adalah karena setiap pagi ia selalu mengeluarkan gas alamnya. Selalu ada dua kemungkinan jika aku terbangun. Kalau bukan karena bunyinya, tentu saja aromanya.”

Saat bagian itu, aku ikut tertawa. Jujur, aku sama sekali tidak menyangka akan hal itu.

“Itu adalah sedikit dari ceritaku dan Kang Yiseul. Aku mengenalnya selama delapan tahun, namun aku merasa telah mengenalnya seumur hidup. Ia manis dan baik. Sangat baik. Dalam kurun waktu yang dapat dihitung ini, ia seakan-akan telah memberikan selamanya untukku.”

Ketika Seungcheol mengucapkan kalimat itu, satu ruangan langsung diselumuti oleh keheningan.

“Aku ingat. Saat itu, dokter berkata, ia tidak mungkin akan bertahan lebih dari satu minggu. Aku melihatnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kulitnya pucat, dan rambutnya sudah hampir habis. Jika hanya melihatnya saja, jujur rupanya sangat berbeda dengan Kang Yiseul yang dulu. Namun saat aku menggenggam tangannya, mengobrol dengannya … aku lega karena aku tahu bahwa Kang Yiseul-ku tidak berubah.”

Suara Seungcheol mulai terdengar serak dan tercekat. “Saat itu pula, aku berharap. Aku berharap bisa menggantikan posisinya itu. Mengambil seluruh rasa sakitnya, kalau bisa.”

Matanya mulai memerah, dan aku bisa menebak bahwa ia akan menangis sebentar lagi. Seungcheol mengusap matanya, lalu menghembuskan nafas berat.

“Aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada Kang Yiseul, dan aku tidak akan pernah bosan mengakuinya meskipun sampai berkali-kali. Tidak ada yang bisa merubah kenyataan bahwa aku mencintainya.”

Laki-laki itu mulai meneteskan air matanya.

“Aku mencintai segala hal darinya, termasuk beberapa sisi lain dari Yiseul yang tadi. Sekarang, setiap kali aku akan tidur, dan setiap pagi pula, aku akan merindukannya. Aku akan merindukan segala hal darinya, bahkan hal-hal yang terkecil sekalipun.”

Satu ruangan menjadi hening, dan dapat kulihat beberapa teman-temanku mulai ikut menteskan air mata mereka. Dan mungkin saja aku akan menyusul. Mungkin.

Shes truly my everything. My beauty. My life. My amazing woman. And no one in this earth who could ever replace her in my heart.

Aku mengira itu adalah kalimat terakhir dari Seungcheol, sebelum beberapa detik kemudian ia melanjutkan lagi.

“Dan untuk yang terakhir, aku hanya ingin menyampaikan sebuah kalimat sederhana ini untuk Kang Yiseul.”

Terjadi keheningan sejenak. Ia menyeka air mata yang telah membasahi pipinya dan menunduk. Matanya menatap kembali foto pernikahannya—atau lebih tepatnya menatap Kang Yiseul di foto itu.

“Kang Yiseul …”

Air mataku akhirnya tak dapat tertahankan lagi, namun aku tidak peduli. Aku menatap Seungcheol sambil tersenyum.

Ah, sepertinya aku tahu apa yang akan di sampaikannya.

.

.

.

Aku mencintaimu.”

fin.

Advertisements

6 thoughts on “The Funeral

  1. Lagi lagi aku nangis baca ff buatan author Rose.. :’ sumpah author Rose ini author favorit aku :’ aku suka bgt sama semua ff buatan author-nim.. 🙂 salam kenal ya.. Aku Rani Anggraeni 03L. Kalo boleh aku pengen kenal sama Author Rose 🙂

    Liked by 1 person

  2. Lagi lagi aku nangis baca FF buatan author Rose T-T sumpah, author itu author favorit aku.. aku suka bgt semua FF yg author Rose buat :’ salam kenal, Aku Rani Anggraeni 03L. Kalo boleh, aku pengen kenal author Rose 🙂

    Liked by 1 person

  3. Pingback: of Father’s Love and Those Memories | ROSÉ BLANCHE

  4. Pingback: [SVT FREELANCE] – [Vignette] Of Father’s Love and Those Memories | SEVENTEEN FANFICTION INDONESIA

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s