Rough

rough-1

Rough

story by Rosé Blanche

Kim Mingyu (Seventeen) & Lee Mijoo (Lovelyz)

Romance

PG-15

Ficlet

“At that time, I will hold your hand in this cruel world.”

Ia pasti sedang jatuh cinta.

Itulah yang selalu ada dipikiranku dulu saat ia sedang duduk sendirian di sudut kelas, sedangkan kedua irisnya menerawang ke luar jendela, menatap sesuatu dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.

Kupikir ia sedang memperhatikan anak-anak basket yang sedang berlatih di lapangan. Mungkin ia sedang jatuh cinta pada salah satu anggota tim basket itu.

Namun itu hanya pemikiranku dulu saat kami mulai memasuki tahun kedua SMA kami, dan ternyata aku salah besar.

Kenyataannya sudah berbeda sekarang. Disinilah kami semua, berkumpul di aula sekolah yang setiap sudutnya dipenuhi oleh suara riuh dan tawa para siswa sambil menunggu acara kelulusan untuk segera dimulai.

“Aku menyukaimu.”

Dia Lee Mijoo, sahabatku sejak kecil. Entah sejak kapan aku merasakan ini, but she’s like someone special to me. Aku jatuh cinta padanya, namun aku tak pernah memberitahunya.

Kurasa tidak perlu, karena sekarang aku masih hanyalah seorang anak SMA biasa yang akan lulus hari ini. Dan disinilah ia, berdiri di depanku sambil menautkan jari-jari tangannya. Dan … apa ia baru saja menyatakan perasaannya kepadaku?

“A—Apa?” tanyaku spontan.

“Aku menyukaimu, Mingyu.”

Untuk sejenak, aku merasa seakan-akan dunia di sekitarku memudar, hanya Mijoo yang menjadi fokus pandanganku. Oh Tuhan, katakanlah bahwa aku sedang bermimpi. Sesuatu di dalam dadaku berdesir kuat dan wajahku sudah terasa panas sekarang.

Namun, ada sesuatu yang … entahlah. Jujur, aku senang perasaanku terbalas. Namun, satu hal. Aku tidak bisa sekarang.

“Lalu? Apa yang kau inginkan?” tanyaku sambil memasang wajah datar. Ia terdiam sesaat, dan kemudian mengerutkan alisnya samar. “Menjadi … kekasihmu?”

Aku mendengus pelan dan bertanya kembali, “Lalu bagaimana kalau aku tidak menginginkannya?”

Oke, memang mungkin ini pertanyaan yang agak kejam karena pasti gadis manapun akan merasa terintimidasi apabila mereka sedang berada di posisi Mijoo sekarang. Namun, bukannya aku mau menolak. Aku mempunyai maksud lain.

Dan sepertinya, gadis ini cukup terkejut mendengar jawabanku. Ia melebarkan kedua matanya dan hanya terdiam. Mulutnya mulai terbuka, namun tak ada suara yang keluar.

Akhirnya, aku berkata, “Bukan begitu. Aku tidak menginginkannya, karena seharusnya laki-laki lah yang menyatakan perasaan mereka. Bukan perempuan.”

Mijoo tampak tertegun sejenak, namun sedetik kemudian ia mendengus tertawa. “Lalu apakah sekarang kau akan—”

“Benar, aku akan melakukannya, tapi tidak sekarang,” sahutku memotongnya.

Seperti yang kukatakan tadi, aku mencintainya, dan semua orang pasti ingin memberikan yang terbaik bukan untuk orang yang mereka cintai? Begitu pula denganku.

“Kenapa?”

Setelah sekian detik, akhirnya ia mengeluarkan suaranya lagi. Suaranya lirih, namun wajahnya tetap tersenyum dengan lemahnya.

Aku pun memegang kedua bahunya dan menatapnya dalam-dalam. “Kau bisa berharap apa dariku sekarang? Aku hanyalah seorang anak laki-laki berusia delapan belas tahun yang baru saja lulus SMA, yang masih tidak jelas akan jadi seperti apa nantinya.”

Ya. Itulah alasannya. Jujur, aku takut.

“Aku tak mengharapkan apapun darimu, Mingyu. Aku hanya menginginkan dirimu. Itu saja cukup,” sahutnya.

Aku hanya menggeleng pelan sambil tersenyum penuh arti ke arahnya. “Tidak bisa begitu, Mijoo.”

“Tapi kenapa?”

Aku hanya bisa menghela nafas. Kurasa ia memang belum mengerti. “Mijoo, dengarkan aku baik-baik …”

“Tapi kenapa, Mingyu? Kau tak perlu berpikir jauh sampai kesana. Sudah kubilang, dirimu saja sudah cukup—”

“Tidak, Mijoo …. Tidak bisa—”

“Ayolah, Mingyu. Kita masih SMA. We’re just seventeen, remember? Kau tak usah—”

“Demi Tuhan, kita lulus hari ini!”

Tanpa sadar, aku telah meninggikan suaraku, membuatnya langsung bungkam. Sebersit perasaan sakit melintas dalam hatiku saat aku berteriak padanya. Namun untuk beberapa saat, hanyalah keheningan yang menyelimuti kami.

Gadis itu menatapku dengan lirih dan berbalik tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Entah kenapa, aku menarik tangannya kembali. Tubuhnya berbalik menghadapku dan spontan aku langsung memeluknya. Ia sedikit meronta, namun gagal. Tak peduli beberapa pasang mata yang menatap kami, aku tetap tidak melepaskan pelukanku.

“Maaf.”

Mijoo tetap saja diam.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud—”

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, aku dapat merasakan kepalanya yang mengangguk dalam pelukanku. Namun, ia tetap tidak mengatakan apa-apa.

Mungkin, inilah saat untuk memberitahunya. Yah, sebenarnya ada satu alasan lagi.

“Mijoo,” panggilku.

“Aku akan bersekolah di Inggris.”

Seketika itu juga ia melepaskan diri dari pelukanku, dan kini kubiarkan. Ia menatapku dengan pandangan tidak percaya.

“Apa?”

“Aku mendapatkan beasiswa untuk belajar bisnis dan ilmu manajemen disana.”

“Be—Berapa lama?”

“Mungkin sekitar empat tahun atau lebih. Entahlah ….”

“Selama itukah?”

Aku hanya mengangguk pelan. “Kuharap kau mengerti, Mijoo.” Kini aku meraih kedua tangannya. “Karena itu, maukah kau menungguku?”

Mijoo masih terlihat ragu. Namun beberapa saat kemudian, ia tersenyum lemah dan mengangguk. “Sure. I will.

Jawaban itu membuatku lega seketika. “I promise, I will come back to you not as a boy, but as a real gentleman. At that time, I will hold your hand in this cruel world.

Sudah kubilang, aku mempunyai alasan tersendiri. Aku memang tidak pernah berkata padanya bahwa aku mencintainya, namun kuharap ia bisa mengerti. Aku berharap, meskipun kami akan terpisahkan oleh jarak dan waktu, perasaan kami berdua tidak akan berubah.

Promise me this, I hope you don’t change. Just smile at me then like you do now.

Nah, kurasa ia akan menumpahkan air matanya setelah ini. Mijoo memang sangat mudah terbawa perasaan. Ia mudah menangis, namun tidak apa-apa. Aku mengenalnya dengan baik, dan ia memang seperti itu.

Mijoo semakin mengeratkan kedua tangan kami yang saling bertautan, berusaha untuk tidak menangis. Namun sedetik kemudian, ia memancarkan senyumannya. Senyum yang paling kusukai darinya. Senyum yang selalu memancarkan ketulusan dan kehangatan. Ia mengangguk.

I promise you, Mingyu.”

Dan kali ini, spontan aku merengkuh tubuhnya kembali ke dalam pelukanku. Aku mencintainya, sungguh. Namun, kurasa aku tidak dapat mengatakannya dengan semudah itu sekarang. It’s rough, isn’t it?

Tapi tidak apa-apa. Kurasa aku hanya butuh waktu sedikit lagi, sampai ia sendiri bisa benar-benar melihatku, sebagai seorang pria yang benar-benar tulus mencintainya.

fin.


**inspired by GFriend – Rough

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s